Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamitan Tanpa Janji
Sore di Hani’s Atelier terasa tenang saat bayang-bayang mentari mulai memanjang di atas lantai keramik. Evita berdiri di dekat meja kasir, merapikan beberapa kain sampel dengan pikiran yang tak sepenuhnya fokus. Sejak pertengkarannya dengan Yunita beberapa malam lalu, suasana di rumah terasa hening dan dingin.
Denting bel pintu kaca berbunyi nyaring. Evita refleks mendongak. Namun, sosok yang melangkah masuk membuat gerakan tangannya terhenti sejenak.
Arvino berdiri di sana.
Tidak ada lagi celemek kedai, tidak ada akting kurir dengan bahasa baku yang berlebihan. Pemuda itu mengenakan kemeja kain polos yang bersih dan rapi. Sikap tubuhnya tegap, tatapannya tenang, dengan senyum sopan seorang kenalan biasa tanpa sisa-sisa godaan atau binar emosi yang berlebihan.
"Selamat sore, Mbak Vita," sapa Vino dengan nada suara yang begitu biasa, netral, dan terkontrol.
Evita menatapnya canggung. Perubahan sikap Vino yang mendadak amat formal dan "normal" ini justru membuat dada Evita berdesir aneh. Rasa bersalah yang sempat disuntikkan oleh kata-kata Yunita malam itu perlahan merayap naik.
"Sore, Arvino," sahut Evita pelan, berusaha menjaga suaranya tetap datar. "Ada perlu apa ke sini?"
"Saya mau minta izin ajak Yunita keluar sebentar, Mbak," jawab Vino sopan, tetap menahan posisinya dalam jarak yang sangat terukur. "Ada hal penting yang mau saya bicarakan sama dia."
Evita mengerutkan keningnya tipis. "Ke mana?"
"Cuma sebentar kok, Mbak. Nanti sebelum malam Yunita sudah saya antar pulang" ujar Vino tanpa menjelaskan detail tujuannya, namun nada bicaranya memancarkan kepastian yang membuat Evita tak punya alasan untuk melarang.
Yunita yang baru saja keluar dari ruang potong kain tampak terkejut melihat kehadiran Vino. "Vino? Ada apa?"
"Ayo keluar sebentar, Yun. Ada yang mau aku tunjukkan," ajak Vino lembut seraya tersenyum tipis pada teman seangkatannya itu.
Yunita menatap kakaknya sejenak, lalu mengangguk pelan. Sebelum melangkah keluar mengekor Vino, Yunita sempat melirik Evita dengan tatapan dingin yang masih tersisa.
Evita berdiri membatu di balik meja kasir. Ia menatap punggung Vino yang melangkah keluar membukakan pintu untuk Yunita dengan sangat santai. Tidak ada pandangan berlama-lama ke arahnya, tidak ada sindiran, dan tidak ada usaha untuk meminta perhatian seperti biasanya. Vino memperlakukannya murni seperti seorang "kakak dari temannya".
Rasa bersalah di dada Evita makin berdenyut nyeri. Apakah ucapan kerasnya dan kehadiran Pak Hendra kemarin benar-benar telah mematikan seluruh perasaan pemuda itu?
Motor bebek tua milik Vino membelah jalanan kota yang mulai teduh oleh naungan sore. Yunita yang membonceng di belakang hanya diam, bertanya-tanya dalam hati ke mana sahabatnya ini akan membawanya pergi.
Rasa heran Yunita memuncak saat Vino menghentikan kendaraannya di tepi sebuah kompleks pemakaman umum yang asri dan sepi. Vino turun, merapikan kemejanya, lalu menoleh pada Yunita.
"Ayo, Yun," ajak Vino pelan.
Mereka melangkah menyusuri jalan setapak di antara rerumputan hijau hingga berhenti di depan sebuah kijing batu nisan yang bersih. Di atas batu pualam itu terukir nama ayah Vino yang meninggal beberapa tahun lalu.
Vino berlutut perlahan di samping pusara. Ia membersihkan daun kering yang jatuh di sekitar batu nisan, lalu mengusap permukaannya dengan lembut. Yunita berdiri sedikit di belakangnya, menatap punggung Vino dengan dada yang mendadak terasa sesak.
"Ayah..." buka Vino pelan, suaranya terdengar begitu dalam dan pasrah di tengah kesunyian pemakaman. Ia berbicara lurus ke arah batu nisan, seolah sang ayah benar-benar berdiri mendengarkannya di sana.
"Vino datang mau pamit, Yah," lanjut Vino. "Minggu depan Vino mau pergi merantau ke Jogja. Vino dapat kesempatan buat belajar arsitektur dan kerja di studio besar di sana. Mas Danang sama Pak Wijaya yang bukakan jalannya."
Yunita menahan napasnya. Matanya membelalak lebar mendengar ucapan itu. "Jogja? Merantau?"
"Maaf ya, Yah, kalau Vino belum bisa jadi apa-apa," bisik Vino dengan getar halus di suaranya. "Vino sempat bodoh, sempat merasa rendah diri karena nggak punya harta buat dibanggakan. Tapi sekarang Vino sadar... kalau Vino mau diakui sebagai pria sejati, Vino harus berani nempa diri dari nol di kota orang. Vino janji bakal kerja keras di sana, jaga Ibu, dan pulang sebagai laki-laki yang sukses."
Vino menundukkan kepalanya dalam-dalam, memanjatkan doa singkat sebelum akhirnya bangkit berdiri. Ia memutar tubuhnya menghadap Yunita yang masih berdiri membeku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Yuk, Yun. Kita cari makan," kata Vino tenang, mengulas senyum tipisnya yang hangat.
Lampu petromak kuning temaram menerangi sebuah angkringan sederhana di pinggir jalan yang sepi. Asap tipis dari pembakaran sate usus dan nasi kucing membumbung pelan ke udara malam. Vino dan Yunita duduk berhadapan di atas tikar pandan yang terbentang.
"Vin... kamu beneran mau pergi ke Jogja?" tanya Yunita dengan suara parau, mengabaikan teh hangat di depannya.
Vino mengangguk pelan seraya menyeruput minumannya. "Iya, Yun. Kemarin Pak Wijaya kenalkan aku sama arsitek dari Jogja. Dia lihat buku sketsaku dan tawarkan aku kerja jadi asistennya sambil dibimbing ilmu rancang bangun. Ini kesempatan sekali seumur hidup."
"Kenapa... kenapa harus mendadak begini?" air mata yang ditahan Yunita sejak di pemakaman akhirnya menetes jua, membasahi pipinya. "Kenapa jalan hidupmu harus selalu seberat dan berliku ini, Vin? Dari dulu kamu harus kerja keras bantu ibumu, memendam cita-citamu... dan sewaktu kamu tulus suka sama orang, kamu malah diinjak-injak dan dibanding-bandingkan sama harta orang lain..."
Vino tertegun melihat Yunita menangis. Ia meraih selembar tisu lalu menggesernya pelan ke dekat tangan Yunita.
"Jangan menangis, Yun," tutur Vino lembut, tanpa ada rasa dendam sedikit pun di wajahnya. "Nggak ada jalan hidup yang sia-sia. Kalau Mbak Vita nggak ngomong tegas waktu itu, dan kalau aku nggak lihat Pak Hendra hari itu... mungkin sampai sekarang aku masih jadi bocah naif yang cuma bisa mimpi di dapur kedai."
Vino menatap lurus ke dalam mata Yunita, menyuarakan kedewasaannya yang telah matang. "Aku nggak benci sama Mbak Vita. Malah aku berterima kasih. Kejadian kemarin menyadarkan aku kalau cinta tanpa kemapanan dan harga diri itu cuma bakal jadi beban buat orang lain. Makanya aku harus pergi ke Jogja untuk membangun diriku sendiri."
Yunita mengusap air matanya kasar dengan punggung tangan. Di dalam hatinya yang paling dalam, Yunita menyadari satu hal: perasaan kagum dan cintanya pada Vino belum sepenuhnya padam. Melihat bagaimana pemuda ini berdiri tegap menghadapi kerasnya takdir tanpa meratapi nasib justru membuat rasa sayangnya makin mengendap dalam. Namun, Yunita tahu bahwa Vino kini berada di tingkat kedewasaan yang jauh melampaui mereka semua.
"Kamu bakal balik lagi ke Surabaya kan, Vin?" bisik Yunita lirih.
Vino tersenyum, sebuah senyuman yang tenang dan dipenuhi tekad yang tak tergoyahkan.
"Aku bakal balik, Yun," jawab Vino pelan. "Tapi bukan sebagai koki kedai berusia delapan belas tahun yang cuma bisa bawa wadah bekal. Nanti, begitu aku balik... aku bakal berdiri sebagai seorang pria yang nggak bisa diremehkan oleh siapa pun lagi."
btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍