Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Akbar maju satu langkah dan menatap wajah sombong Reyhan dengan tatapan mata yang luar biasa tenang namun mematikan.
"Sistem, aktifkan Kacamata Penilai Harta Karun sekarang juga," perintah Akbar di dalam hatinya tanpa suara.
Tiba-tiba saja, puluhan teks hijau menyala muncul melayang di atas setiap benda yang dipakai oleh para tamu di ruangan itu.
Akbar langsung memfokuskan pandangannya pada jam tangan emas mengkilap yang dipakai oleh Reyhan.
[Jam Tangan Emas Imitasi Merek Tiruan. Nilai Jual Pasar: Rp 500.000.]
Akbar sontak mendengus pelan dan tidak bisa menahan senyum sinisnya melihat fakta memalukan yang baru saja dibacanya.
"Kenapa kau senyum-senyum begitu gembel? Ada yang lucu dari wajah tampanku ini?" bentak Reyhan merasa tersinggung.
"Aku cuma merasa takjub saja melihat orang yang mengaku paling kaya di ruangan ini ternyata adalah penipu murahan," jawab Akbar dengan suara lantang.
Suasana ballroom yang tadinya dipenuhi suara tawa langsung berubah menjadi hening seketika.
Semua tamu lelang menoleh ke arah Akbar dan Reyhan karena kaget ada pemuda antah berantah berani menghina anak bos properti elit.
"Apa kau bilang barusan anak sialan? Berani-beraninya kau menyebutku penipu murahan!" teriak Reyhan dengan wajah merah padam.
"Kalau kau memang benar-benar kaya raya, kenapa kau datang ke acara elit ini memakai jam tangan emas palsu seharga lima ratus ribu perak?" tembak Akbar tepat sasaran tanpa ampun.
Jleb.
Reyhan seketika mematung kaku seperti disambar petir mendengar rahasia terbesarnya ditelanjangi di depan umum.
Dia memang sengaja memakai jam tiruan kelas atas malam ini karena jam emas aslinya sedang digadaikan untuk menutupi utang judinya.
Dia sangat yakin tidak ada satupun orang awam yang bisa membedakan jam palsu itu karena detailnya sangat rapi.
Tapi pemuda berpakaian biasa di depannya ini hanya dengan sekali lihat bisa menyebutkan harganya dengan sangat akurat.
"Kau... kau jangan memfitnahku sembarangan! Ini jam tangan Rolex asli seharga tiga ratus juta!" sangkal Reyhan gelagapan.
Reyhan buru-buru menyembunyikan tangannya ke belakang punggung dengan gerakan panik.
Clara yang memang ahli menilai barang antik langsung menajamkan matanya menatap pergelangan tangan Reyhan sebelum disembunyikan.
"Maaf Reyhan, tapi Mas Akbar benar, pantulan cahaya dari lapisan emas di jam tanganmu itu terlalu redup untuk ukuran emas dua puluh empat karat," potong Clara ikut mempermalukan Reyhan secara profesional.
"Itu jelas murni logam kuningan yang disepuh warna emas tiruan murahan dari pasar loak."
Mendengar validasi resmi dari penilai utama balai lelang, para tamu VIP langsung berbisik-bisik menatap Reyhan dengan pandangan jijik.
"Ya ampun, ternyata anak bos properti itu cuma modal tampang doang, jam tangannya saja palsu," bisik seorang wanita sosialita di meja seberang.
"Bikin malu keluarga besar saja kelakuannya, untung aku belum jadi menjodohkan anakku dengannya bulan lalu."
Wajah Reyhan kini berubah menjadi semerah tomat busuk menahan rasa malu yang menghancurkan harga dirinya hingga ke akar.
"Awas kau anak miskin, urusan kita belum selesai malam ini!" ancam Reyhan dengan suara bergetar pelan.
Reyhan langsung berbalik badan dan lari menuju toilet dengan langkah lebar untuk menyembunyikan wajahnya dari tatapan para tamu.
Akbar hanya tertawa kecil melihat kelakuan pengecut dari musuh sementaranya itu.
Ting.
Suara sistem bergema lembut di kepalanya.
[Tindakan dominasi mental di depan publik kalangan atas berhasil.]
[Tuan mendapatkan 20 Poin Hoki tambahan.]
"Kerja bagus sistem, kacamata ini benar-benar senjata mematikan untuk membungkam orang kaya sombong," puji Akbar puas dalam diam.
Teng teng teng.
Suara dentingan gelas dipukul pelan terdengar dari arah panggung utama ballroom tersebut.
Seorang pria paruh baya berkacamata tebal berdiri di mimbar panggung membawa palu kayu kecil di tangannya.
"Selamat malam para kolektor terhormat Jakarta, acara lelang eksklusif kita malam ini akan segera dimulai."
"Silakan duduk di kursi yang telah disediakan sesuai dengan nomor peserta Anda masing-masing."
Clara langsung membimbing Akbar menuju kursi barisan paling depan yang memang dikhususkan untuk tamu VVIP malam ini.
Akbar duduk dengan sangat nyaman di kursi empuk berlapis beludru merah tersebut.
"Barang pertama yang akan kita lelang malam ini adalah sebuah lukisan pemandangan karya maestro Eropa abad sembilan belas."
Dua orang petugas bersarung tangan putih membawa sebuah bingkai lukisan besar ke tengah panggung.
"Harga pembukaan dimulai dari lima puluh juta rupiah!" teriak sang juru lelang memecah keheningan.
Akbar langsung menatap lukisan itu menggunakan kacamata gaibnya untuk mengecek keaslian barang dari balai lelang mewah ini.
[Lukisan Pemandangan Reproduksi. Nilai Jual Pasar: Rp 12.000.000.]
"Jangan ada yang berani menawar Clara, itu cuma lukisan hasil salinan murahan," bisik Akbar pelan pada telinga Clara yang duduk di sebelahnya.
Clara langsung membelalakkan matanya kaget mendengar bisikan Akbar yang sangat percaya diri dan tanpa ragu itu.
"Mas Akbar yakin? Itu lukisan yang dinilai langsung oleh tim kurator senior kami dari luar negeri bulan lalu lho."
"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi cat minyak di ujung kanvas itu bahkan usianya belum genap sepuluh tahun," jawab Akbar santai sambil menyilangkan kakinya.
Beberapa tamu di belakang mulai mengangkat papan nomor mereka untuk menawar lukisan tersebut.
"Tujuh puluh juta dari Bapak di ujung sana!"
"Seratus juta dari Ibu bergaun biru muda di tengah!"
Reyhan yang baru saja kembali dari toilet dengan wajah ditekuk langsung mengangkat papannya tinggi-tinggi dengan sangat sombong.
"Dua ratus juta rupiah!" teriak Reyhan sengaja memamerkan uangnya untuk mengembalikan harga dirinya yang hancur tadi.
Tidak ada lagi yang berani menawar lebih tinggi dari angka gila yang disebutkan Reyhan barusan.
Tok.
Palu diketuk keras oleh juru lelang ke atas meja mimbar.
"Sah! Lukisan pemandangan jatuh kepada Tuan Reyhan dengan harga dua ratus juta rupiah!"
Reyhan tersenyum congkak dan melirik ke arah Akbar dengan tatapan menantang seolah berkata bahwa uangnya tidak berseri.
Akbar malah membalas tatapan menantang itu dengan gelengan kepala iba layaknya menatap orang terbodoh di dunia.
"Membeli barang rongsokan seharga dua belas juta dengan uang dua ratus juta, orang itu otaknya benar-benar diletakkan di dengkul," gumam Akbar sangat jujur.
Clara yang mendengar gumanan itu langsung terkikik pelan menahan tawanya sambil menutup mulut dengan punggung tangannya.
Acara lelang terus berlanjut menampilkan tiga barang perhiasan kuno yang harganya juga laku di kisaran ratusan juta rupiah.
Hingga akhirnya, suasana ruangan mendadak menjadi agak tegang saat sang juru lelang mengusap keringat di dahinya pakai sapu tangan.
"Hadirin sekalian, sekarang kita akan masuk ke acara puncak lelang bergengsi kita malam ini."
"Barang ini baru saja masuk ke brankas kami pagi ini, dan saya jamin Anda semua akan menahan napas melihatnya."
Sebuah kereta dorong kecil yang ditutupi kain sutra merah dibawa masuk ke tengah panggung oleh dua petugas keamanan.
Juru lelang itu menarik kain sutra merah tersebut dengan gerakan sangat lambat dan dramatis.
Sreeet.
Sebuah mangkok porselen berwarna putih bersih dengan ukiran halus memantulkan cahaya lampu sorot panggung dengan sangat indah.
Clara rupanya benar-benar sudah membersihkan mangkok itu dari segala debu dan lumpur kotor menggunakan cairan pembersih khusus tadi siang.
Kini mangkok yang tadinya terlihat seperti tempat pakan burung itu telah berubah kembali menjadi harta karun kekaisaran yang luar biasa menawan.