Pernikahan megapahit antara Raden Mas Arya Sena Soerjoatmodjo dan Lilianne Prameswari Djojodiningrat murni dirancang demi menyatukan kerajaan bisnis dua keluarga old money. Tanpa cinta, Arya yang dingin dan angkuh memandang ikatan ini sebatas transaksi bisnis, sementara Lilianne tumbuh sebagai putri manja yang impulsif dan gemar berfoya-foya. Tinggal di bawah satu atap justru menyulut perang dingin dan benturan ego antara tradisi serta kebebasan. Namun, saat intrik korporasi mulai mengancam dinasti mereka, Arya dan Lilianne terpaksa bersatu, perlahan meruntuhkan tembok gengsi dan membuka hati satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
Kemenangan Lilianne dalam permainan dingin itu rupanya memicu gejolak dengki di hati Widya. Berdiri di sudut paviliun luar, netra wanita itu mengkilat sinis menyaksikan pergeseran kekuasaan di mansion. Widya merasa posisi yang bertahun-tahun ia jaga dengan mengabdi pada Arya Sena telah direbut paksa oleh seorang wanita asing yang baru saja masuk ke dalam dinasti. Melihat retakan emosional di antara Arya dan Lilianne usai insiden malam itu, Widya merasa inilah kesempatan emasnya untuk meruntuhkan posisi Lilianne sepenuhnya.
Keesokan harinya, sebuah acara jamuan malam penting yang dihadiri oleh para menteri dan investor asing dijadwalkan berlangsung di hotel bintang lima ibu kota. Sebagai nyonya rumah, Lilianne telah menyiapkan setelan jas tailor-made buatan perancang Milan dan dasi sutra eksklusif bernuansa dark navy di dalam walk-in closet untuk dikenakan Arya malam nanti.
Sore hari menjelang keberangkatan, saat Lilianne sedang mengawasi persiapan di area taman bawah, Widya menyelinap masuk ke area lantai dua dengan memanfaatkan celah kelenggangan pelayan muda. Dengan gerakan cepat dan amat rapi, Widya menukar jas mahal tersebut dengan setelan bernuansa berbeda, serta secara sengaja merusak serat dasi pilihan Lilianne menggunakan cairan khusus hingga benangnya terurai rusak di bagian simpul.
Tak lama kemudian, Arya Sena melangkah masuk ke dalam kamar utama untuk bersiap. Pria itu baru saja selesai mandi ketika mendapati pakaian kerjanya dalam kondisi cacat. Dahi Arya berkerut dalam, netra kelamnya menatap dasi sutra yang koyak di atas meja rias.
Tepat pada momen ketegangan itu, pintu kamar diketuk pelan. Widya melangkah masuk seraya membawa gantungan jas cadangan dalam bungkusan pelindung mahal—sebuah setelan klasik gaya lama yang biasa ia siapkan untuk Arya sebelum Lilianne datang.
"Mohon maaf melangkah masuk, Pak Arya," tutur Widya dengan nada suara yang sengaja dibuat paling lembut, sopan, dan memancarkan keprihatinan yang cermat. "Saya tadi bermaksud merapikan area luar, namun melihat ada kendala pada pakaian malam yang disiapkan Ibu Lilianne... sepertinya Ibu Lilianne kurang teliti memilih bahan atau stafnya tidak paham cara merawat kain kualitas tinggi."
Widya menyerahkan gantungan jas tersebut dengan bungkukan khidmat.
"Saya sudah menyiapkannya setelan cadangan favorit Bapak yang biasa saya urus," lanjut Widya dengan senyuman tipis yang sarat akan sindiran terselubung. "Bagaimanapun, untuk acara sepenting malam ini, Pak Arya membutuhkan penanganan yang benar-benar berpengalaman. Ibu Lilianne mungkin belum terbiasa dengan standar kebutuhan Bapak yang serba sempurna."
Arya berdiri tegap berbalut robe mandi hitamnya, menatap jas cadangan di tangan Widya, lalu beralih menatap dasi yang rusak di meja rias. Sudut bibirnya terangkat membentuk garis lurus yang membeku.
"Siapa yang memberimu izin masuk ke kamar ini, Widya?" suara Arya meluncur teramat rendah, begitu dingin hingga menghentikan senyum tipis di wajah kepala pelayan itu.
Widya tersentak tipis, matanya berkedip bingung. "M-maaf, Pak Arya... Saya hanya berniat membantu agar Bapak tidak mempermalukan diri di depan para tamu menteri karena kelalaian Ibu Lilianne—"
"Tinggalkan barang itu dan keluar," potong Arya tegas tanpa jeda, menatap Widya dengan pandangan mengintimidasi yang sangat kelam. "Saya tidak pernah meminta pertolonganmu untuk mengurusi pakaian saya lagi. Tegaskan batasanmu sebelum saya memindahkanmu keluar dari pelataran mansion ini sepenuhnya."
Wajah Widya memerah padam ditelan rasa malu yang membakar. "B-baik, Pak Arya... Mohon maaf..." desisnya pasrah seraya meletakkan jas cadangan itu dan bergegas mundur keluar kamar dengan kepala menunduk dalam.
Meskipun aksinya menegur Lilianne secara langsung lewat perantara pakaian gagal total, Widya tidak kehilangan akal liciknya. Dengki yang sudah menjalar di dadanya justru semakin memuncak. Ia beralih pada rencana kedua yang jauh lebih berisiko dan mematikan—sebuah jembatan intrik untuk menyiram bensin ke dalam kobaran api cemburu Arya Sena.
Dua hari setelah insiden pakaian, sebuah paket eksklusif tanpa nama pengirim mendarat di meja pengamanan depan mansion Soerjoatmodjo. Paket itu terbungkus rapi dalam kertas kraf premium berlogo salah satu toko buku langka ternama di London.
Widya, yang sengaja berjaga di area foyer lantai dasar, segera menyergap staf penerima tamu sebelum barang itu diantarkan ke kamar Lilianne.
"Biar saya yang serahkan paket ini pada Pak Arya," titah Widya tegas pada pelayan muda.
"Tapi Mbak Widya, itu atas nama Ibu Lilianne..." bisik pelayan itu canggung.
"Pak Arya yang minta seluruh dokumen dan paket atas nama Nyonya diperiksa terlebih dahulu setelah kejadian berita kemarin. Kamu mau disalahkan kalau ada barang berbahaya?" gertak Widya dingin.
Pelayan itu menyerahkan kotak tersebut tanpa berani memprotes. Widya menyunggingkan senyuman kelicikan yang teramat murni tatkala merogoh saku seragamnya, menyisipkan sebuah amplop kecil berwarna cream yang telah ia siapkan lewat koneksinya di luar. Amplop itu berisi lembaran surat bertuliskan tangan rapi dalam bahasa Inggris berkelas, sengaja dirancang agar tampak seperti pesan kerinduan tersembunyi dari Julian—pria dari masa lalu Lilianne di London.
Pukul tujuh malam, derum mesin Rolls-Royce milik Arya membelah pelataran mansion. Pria itu melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang masih diliputi kelelahan pasca-rapat panjang dan siksaan silent treatment dari istrinya yang tak kunjung mereda.
Saat Arya melangkah menyusuri lorong menuju ruang kerja pribadinya di lantai dasar, Widya sudah berdiri tegap di ambang pintu seraya memegang kotak eksklusif tersebut.
"Selamat malam, Pak Arya," sapa Widya penuh kesopanan yang dibuat-buat. "Ada paket pribadi yang baru saja tiba dari London untuk Ibu Lilianne. Namun karena pengirimnya tidak mencantumkan nama dan staf merasa ragu, saya rasa Bapak perlu memeriksanya terlebih dahulu."
Arya menghentikan langkahnya, melirik kotak di tangan Widya dengan dahi berkerut. "Dari London?"
"Benar, Pak. Dan ada surat menyertainya," ujar Widya seraya menyerahkan amplop cream tersebut ke tangan Arya, matanya mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah sang Presdir dengan kepuasan yang tersembunyi.
Arya mengambil amplop itu. Jemari kekarnya membuka lipatan kertas di dalamnya. Manik kelam Arya menyapu deretan kalimat bertuliskan tinta hitam di atas kertas porselen tersebut:
“To my dearest Lilianne,
I hope this rare edition finds you well in Jakarta. Distance and high walls may keep us apart for now, but memories of Hyde Park never fade. Until we can speak freely again.
> Yours always, J.”
Seketika itu juga, udara di koridor ruang kerja terasa membeku seratus derajat.
Darah Arya Sena serasa mendidih hebat di balik dadanya yang tegap. Manik kelamnya mengunci tulisan 'J' di akhir surat itu. Bayangan sosok Julian—pria tampan bertubuh tinggi yang menatap Lilianne dengan kerinduan di depan butik mewah beberapa hari lalu—kembali menghantam kepalanya bagai gada berat. Rasa cemburu yang liar, posesif mutlak yang terluka, serta rasa bersalah yang belum usai berpadu menjadi gelombang amarah baru yang teramat pekat.
Widya menahan napasnya, menyembunyikan senyum kepuasan yang membuncah tatkala melihat raut wajah Arya berubah menjadi begitu gelap dan menakutkan. Wanita bangsawan itu pikir dia bisa terus bersikap dingin di atas angin? Mari kita lihat seberapa bertahan dia malam ini, batin Widya kejam.
Arya meremas surat itu dalam genggaman tangannya hingga kertas mahal tersebut berantakan tak berbentuk.
"Di mana Lilianne sekarang?" tanya Arya. Suaranya meluncur sangat rendah, begitu berat dan sarat akan dominasi yang sanggup menggetarkan dinding mansion.
"Ibu Lilianne sedang berada di perpustakaan pribadi lantai dua, Pak..." jawab Widya cepat dengan bungkukan khidmat.
Tanpa mengindahkan Widya lagi, Arya berbalik arah. Langkah kakinya yang berat dan menghentak keras membelah marmer lantai dasar, melangkah cepat menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Rahangnya mengeras rapat, jemarinya mengepal di balik saku celana, siap menuntut penjelasan atas batas kesabaran yang baru saja dihantam oleh bayang-bayang masa lalu sang istri.
Sementara itu, di dalam perpustakaan pribadi yang tenang dan beraroma kayu jati, Lilianne duduk santai di sofa kulit dekat perapian. Gaun malam sutra bernuansa champagne gold mengayun anggun membungkus tubuh indahnya, jemari lentiknya sibuk membalik halaman buku sastra klasik.
Lilianne sama sekali belum menyadari bahwa perang dingin di antara mereka baru saja disiram amunisi fitnah yang siap memicu ledakan konflik jauh lebih emosional di bawah atap mansion Soerjoatmodjo.
Bersambung
i got you 🔥🔥🔥
ceritanya bagus berkelas 🔥🔥🔥