Clarisa Wijaya hanya punya satu tujuan ketika beasiswa itu datang, pergi sejauh mungkin dari kampung halaman demi masa depan yang lebih baik, meski itu berarti meninggalkan pelukan hangat orang tuanya dan aroma bebek panggang yang selalu menemani setiap perayaan keluarganya. Namun ibu kota tak semudah yang ia bayangkan. Kerja paruh waktu sebagai pelayan restoran, kamar apartemen sempit yang sunyi, dan air mata yang ditelan sendirian di malam-malam kangen rumah semua itu baru permulaan dari perjalanan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Semua berubah sejak seragamnya basah kuyup terkena cipratan motor seorang pemuda yang bahkan tak sempat menoleh untuk minta maaf. Siapa sangka, pemuda angkuh itu bernama Daniel rekan kerja barunya yang ternyata menyimpan rahasia besar: ia adalah pewaris tunggal pemilik restoran tempat mereka bekerja, menyamar sebagai pelayan biasa atas perintah orang tuanya sendiri. Dari kebencian dan kesalahpahaman, benih-benih cinta mulai tumbuh perlahan, diam-diam disaksikan oleh Nikol, sahabat setia Clarisa yang menyimpan perasaannya sendiri tanpa pernah berani mengungkapkannya. Namun cinta Clarisa dan Daniel harus melewati ujian demi ujian bullying dari geng kampus yang memandang rendah latar belakangnya, gosip yang menyudutkan, hingga konspirasi bisnis jahat yang nyaris merenggut nyawanya lewat semangkuk makanan beracun. Ketika kebenaran tentang identitas asli Daniel akhirnya terbongkar, Clarisa harus menghadapi ketakutan terbesarnya: mampukah cinta bertahan di tengah jurang status sosial yang begitu dalam antara gadis desa sederhana dan pewaris konglomerat kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menata hidup baru
Pagi pertama Clarisa di ibu kota disambut oleh suara klakson kendaraan yang bersahutan dari jalan raya, jauh berbeda dari kokok ayam yang biasa membangunkannya di kampung. Ia terbangun dengan tubuh yang masih terasa pegal akibat perjalanan panjang kemarin, dan sejenak merasa bingung mengapa langit-langit di atasnya terlihat begitu asing sebelum akhirnya menyadari bahwa ia sudah berada di kamar apartemen kecilnya sendiri.
Ia bangkit dari kasur tipis itu, meregangkan tubuhnya yang kaku, lalu berjalan menuju jendela kecil untuk melihat pemandangan di luar. Yang terlihat hanyalah gang sempit di antara gedung-gedung apartemen, dengan beberapa jemuran pakaian yang tergantung di balkon-balkon tetangga, dan suara motor yang lalu-lalang di kejauhan. Sangat berbeda dari pemandangan sawah hijau yang biasa menyambut paginya di kampung.
Clarisa menghela napas panjang, mencoba menyesuaikan diri dengan kenyataan baru ini. Ia tahu, hari-hari ke depan akan penuh dengan penyesuaian yang tidak mudah, namun ia bertekad untuk menjalaninya dengan sebaik mungkin.
Pagi itu, Clarisa memutuskan untuk berkeliling kompleks apartemen dan lingkungan sekitarnya, mencoba mengenal lebih jauh daerah yang akan menjadi tempat tinggalnya selama menuntut ilmu di kota ini. Ia berjalan menyusuri gang-gang kecil di sekitar apartemen, memperhatikan setiap sudut dengan saksama—warung makan kecil yang menjual nasi uduk di ujung gang, toko kelontong yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, dan sebuah laundry kiloan yang tampaknya cukup ramai dikunjungi.
Ia singgah sejenak di warung nasi uduk itu untuk sarapan pagi. Pemilik warung, seorang ibu paruh baya bernama Bu Ijah, menyambutnya dengan ramah begitu mengetahui bahwa Clarisa adalah penghuni baru di apartemen dekat warungnya.
“Baru pindah, Neng?” tanya Bu Ijah sambil menyendokkan nasi uduk ke atas piring.
“Iya, Bu. Baru kemarin sore sampai,” jawab Clarisa sambil tersenyum, merasa sedikit terhibur mendapat sambutan hangat dari orang asing di kota yang baru ini.
“Dari daerah mana asalnya?” Bu Ijah melanjutkan bertanya, tampaknya senang mendapat pelanggan baru untuk diajak mengobrol.
Clarisa pun menceritakan sedikit tentang asal usulnya, tentang beasiswa yang ia dapatkan, dan tentang keluarganya yang masih tinggal di kampung. Bu Ijah mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menganggukkan kepala dengan simpati.
“Wah, hebat sekali kamu, Neng. Jauh-jauh dari kampung demi sekolah. Orang tuamu pasti bangga,” ujar Bu Ijah sambil menyerahkan piring nasi uduk yang sudah siap disantap. “Kalau butuh apa-apa, tanya saja ke sini. Ibu udah lama tinggal di sini, tahu banyak seluk-beluk daerah ini.”
Kata-kata sederhana itu memberikan sedikit kehangatan di hati Clarisa yang masih dipenuhi kerinduan akan kampung halaman. Setidaknya, ia menyadari bahwa tidak semua orang di kota besar ini bersikap dingin dan acuh tak acuh seperti yang sempat ia khawatirkan sebelumnya.
Setelah sarapan, Clarisa melanjutkan perjalanannya menyusuri lingkungan sekitar, mencari lokasi-lokasi penting yang akan sering ia kunjungi—halte angkutan umum menuju kampus, minimarket terdekat, dan tentu saja, mencari tahu rute tercepat menuju kampus tempat ia akan menuntut ilmu.
Ia juga menyempatkan diri membeli beberapa perlengkapan tambahan untuk apartemennya—perlengkapan mandi, alat masak sederhana, dan beberapa bahan makanan pokok yang bisa disimpan untuk beberapa hari ke depan. Dengan uang saku terbatas yang ia bawa dari kampung, Clarisa harus pandai-pandai mengatur pengeluarannya agar cukup hingga ia mendapatkan penghasilan tambahan.
Sore harinya, sekembalinya ke apartemen, Clarisa mulai menata kamar kecilnya agar terasa lebih nyaman dan seperti rumah. Ia merapikan pakaian-pakaian yang dibawanya ke dalam lemari kecil yang tersedia, menata buku-buku pelajaran di atas meja belajar sederhana, dan menempelkan sebuah foto keluarga yang ia bawa dari kampung di dinding dekat tempat tidurnya.
Foto itu diambil beberapa bulan lalu, saat perayaan kelulusannya dari SMA. Dalam foto itu, terlihat Clarisa berdiri di antara kedua orang tuanya, tersenyum lebar dengan seragam sekolah yang masih ia kenakan. Setiap kali memandangi foto itu, Clarisa merasa seolah orang tuanya selalu berada di dekatnya, memberikan semangat dan dukungan meski jarak memisahkan mereka begitu jauh.
Ia juga menaruh kotak kayu kecil berisi beberapa surat dan kartu ucapan dari teman-teman kampungnya di atas meja, sebagai pengingat akan orang-orang yang menyayanginya di kampung halaman. Sedikit demi sedikit, kamar kecil yang semula terasa asing itu mulai bertransformasi menjadi ruang yang lebih personal, meski tetap tidak bisa menggantikan kehangatan rumah yang sesungguhnya.
Malam harinya, setelah selesai menata kamar, Clarisa duduk di depan meja belajarnya, membuka buku panduan mahasiswa baru yang diberikan pihak kampus. Ia mulai mempelajari jadwal orientasi mahasiswa baru yang akan dimulai dua hari lagi, serta informasi mengenai lokasi kampus dan berbagai fasilitas yang tersedia.
Di tengah membaca buku panduan itu, pikirannya melayang memikirkan tentang biaya hidup yang harus ia tanggung sendiri selama tinggal di kota. Meskipun beasiswa yang ia dapatkan mencakup biaya kuliah penuh, namun biaya hidup sehari-hari seperti makan, transportasi, dan kebutuhan pribadi lainnya harus ia tanggung sendiri. Uang saku yang diberikan orang tuanya sebelum keberangkatan tidak akan bertahan lama jika ia tidak segera mencari penghasilan tambahan.
Clarisa mengambil ponselnya, membuka aplikasi pencarian kerja yang telah ia unduh sebelumnya, mencoba mencari lowongan pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan jadwal kuliahnya nanti. Ia melihat beberapa lowongan di berbagai tempat—kafe, toko retail, dan beberapa restoran yang membuka lowongan untuk pelayan paruh waktu.
Salah satu lowongan yang menarik perhatiannya adalah sebuah restoran yang terletak tidak jauh dari area kampus, dengan jam kerja yang cukup fleksibel untuk disesuaikan dengan jadwal kuliah mahasiswa. Restoran itu bernama “Kedai Rasa”, sebuah restoran yang menurut deskripsinya cukup ternama di kalangan masyarakat sekitar karena kualitas makanan dan pelayanannya yang baik.
Tanpa berpikir panjang, Clarisa memutuskan untuk mengirimkan lamaran kerja melalui aplikasi tersebut, menyertakan data diri singkat dan alasan mengapa ia tertarik bekerja di restoran tersebut. Ia tidak menyangka, keputusan sederhana yang ia ambil malam itu akan membawa perubahan besar dalam hidupnya, mempertemukannya dengan orang-orang yang akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya di kota ini.
Sebelum tidur, Clarisa kembali menelepon orang tuanya untuk memberi kabar tentang aktivitasnya hari itu. Mendengar suara hangat kedua orang tuanya di seberang telepon, sedikit meredakan kerinduan yang masih menyelimuti hatinya. Meski jarak memisahkan mereka begitu jauh, Clarisa merasa bahwa dukungan dan doa orang tuanya akan selalu menyertai setiap langkah yang ia ambil di kota perantauan ini.
Malam itu, dengan hati yang mulai sedikit tenang dan penuh harapan akan hari-hari yang akan datang, Clarisa memejamkan mata, bersiap menghadapi babak baru dalam hidupnya yang akan dimulai esok hari—hari pertama orientasi mahasiswa baru di kampus yang telah lama ia impikan.
sesuai dengan rencana💪👍
semoga training yang diberikan orang tuanya segera berakhir 🤭😄
membantumu sehingga kamu gak merasa asing dan sendirian 😍
juga punya tekad yang kuat supaya punya kehidupan yang lebih baik..
semangat Clarisa 💪