NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: DINDING PERTAHANAN

Kling.

Denting sendok yang jatuh di atas piring porselen seolah menghentikan detik waktu di ruang makan. Udara di ruangan itu mendadak amat tegang dan mencekam.

Aluna membeku total. Jemari tangannya yang memegang cangkir susu gemetar hebat, menghantarkan rasa dingin yang menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Refleks, tangan kirinya bergerak cepat menarik kerah sweater-nya ke atas, mencoba menyembunyikan tanda merah memar di lehernya, tetapi usaha itu sudah terlambat. Ibu sudah melihatnya dengan jelas.

"Aluna, jawab Ibu!" intonasi suara Ibu meninggi, sarat akan getaran ketakutan dan kecurigaan yang selama ini berusaha ditahannya. Ibu berdiri dari kursinya, menatap Aluna lurus-lurus. "Tanda di lehermu itu apa? Jangan bilang itu cuma gigitan serangga!"

Ayah Danu yang sedang membaca koran digital mendadak meletakkan ponselnya. Dahi Ayah berkerut dalam, matanya bergantian menatap Ibu dan Aluna yang makin pucat pasi. "Ada apa, Ma? Kenapa berteriak pagi-pagi begini?"

"Lihat anak perempuanmu, Danu!" sahut Ibu dengan napas memburu, matanya mulai berkaca-kaca menahan emosi. "Ada tanda merah di leher Aluna! Tanda yang sama sekali bukan karena sakit atau digigit nyamuk!"

Aluna menunduk dalam-dalam. Air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. Tenggorokannya serasa tersekat, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri. Rahasia terlarang yang mereka sembunyikan rapat-rapat rasanya akan hancur berantakan detik ini juga.

Namun, di tengah kepungan bahaya yang hampir meledak itu, Devan tetap duduk di tempatnya dengan ketenangan yang luar biasa.

Tuk.

Devan meletakkan sendok dan garpunya secara perlahan di atas piring tanpa menimbulkan suara bising. Pria itu menyapu bibirnya dengan tisu napkin, lalu menegakkan punggungnya. Wajahnya yang tampan memancarkan raut dingin dan tegas—topeng kendali diri sempurna yang tak pernah gagal mengintimidasi situasi.

Devan memutar tubuhnya sedikit, memotong sudut pandang Ibu dari Aluna dan memasang dadanya sebagai benteng pelindung utama untuk adiknya.

"Ibu tidak perlu membentak Aluna seperti itu," suara Devan terdengar begitu rendah, mantap, dan sarat akan intonasi tegas yang membuat suasana mendadak menghening.

Ibu menatap Devan dengan dahi berkerut tajam. "Devan! Ini urusan Ibu sama Aluna. Kenapa kamu malah membela—"

"Kemarin malam Aluna kena alergi berat," potong Devan cepat tanpa sedikit pun keraguan atau nada gugup di suaranya. Devan menatap lurus ke dalam iris mata Ibu. "Kemarin sore di sekolah Aluna mencoba produk pelembap kulit baru temannya. Kulit lehernya langsung merah-merah dan gatal hebat sampai dia garuk terus semalaman. Devan sendiri yang ambilkan krim salep dari kotak obat buat dia."

Devan melirik Ayah Danu dengan raut tenang yang meyakinkan. "Kalau Ayah tidak percaya, salep alerginya masih ada di atas meja kamar mandi lantai atas."

Pernyataan Devan yang diucapkan dengan penuh rasa percaya diri dan tanpa jeda itu membuat kepanikan di mata Ibu perlahan goyah. Ibu menatap Aluna kembali, mencoba mencari celah kebohongan dari ekspresi putri tunggalnya.

Aluna, yang dengan cepat menangkap script penyelamatan dari Devan, mengangguk pelan dengan air mata yang menetes. "I-iya, Bu... leher Aluna gatal banget dari kemarin malam g-gara-gara cobain salep pelembap. Aluna malu bilangnya..."

Ayah Danu menghela napas panjang, merenggangkan ketegangan di dadanya. "Tuh kan, Ma. Kamu ini terlalu curigaan sama anak-anak. Kalau Aluna bilang alergi, ya berarti alergi. Jangan langsung menghakimi begitu di meja makan."

Ibu menghembuskan napas berat, perlahan kembali menduduki kursinya meski sisa keraguan di matanya belum sepenuhnya padam. "Ya sudah... nanti habis sarapan minum obat alergi. Lain kali jangan sembarangan pakai produk orang lain, Aluna."

"Iya, Bu..." bisik Aluna pelan.

Di bawah meja makan yang tertata rapi, tangan Devan yang hangat merayap turun, menggenggam erat jemari tangan Aluna yang dingin dan gemetar. Devan meremas jemari adiknya dengan lembut—sebuah penegasan rahasia bahwa di bawah ancaman sebesar apa pun, Devan akan selalu ada untuk melindunginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!