Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.
#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Buruk yang Menyebar
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Malam kedua tanpa tempat tinggal, Xiao Bai memutuskan menghabiskan tiga keping peraknya untuk menyewa kamar di penginapan paling murah di Kota Qingyun—Penginapan Bulan Sabit, bangunan kayu dua lantai di sudut pasar yang biasa disewa para pedagang kecil dan musafir yang lewat.
Ia melangkah masuk, lonceng kecil di atas pintu berdenting pelan. Di balik meja depan, seorang wanita paruh baya sedang mencatat sesuatu di buku besar, tanpa mengangkat kepala.
"Aku ingin menyewa kamar," kata Xiao Bai, meletakkan dua keping perak di atas meja—harga semalam yang sudah ia tanyakan sebelumnya dari papan tarif di luar. "Satu malam saja."
Wanita itu mengangkat wajah, dan seketika ekspresinya berubah. Ia menatap Xiao Bai dari ujung rambut hingga jubah compang-campingnya, lalu matanya menyipit seperti baru saja mengenali sesuatu.
"Tunggu sebentar," katanya, lalu berbalik memanggil ke arah dapur. "Suamiku! Kemari sebentar!"
Seorang pria bertubuh besar keluar dari balik tirai, mengelap tangan dengan kain lap. Begitu melihat Xiao Bai, alisnya langsung berkerut.
"Bukankah kau murid buangan Sekte Awan Sembilan itu?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi. "Tadi siang seorang pemuda bermarga Lin datang ke sini, memperingatkan seluruh penginapan di kota supaya tidak menyewakan kamar padamu."
Xiao Bai membeku. Lin Hai. Tentu saja.
"Katanya kau dibuang karena dantian cacat, dan sekarang jadi pengemis yang suka menipu orang dengan barang curian," lanjut si pemilik penginapan, nadanya semakin keras seolah ingin seluruh ruangan mendengar. "Dia bahkan bilang siapa pun yang menampungmu akan dianggap membangkang terhadap Sekte Awan Sembilan."
"Itu bohong," Xiao Bai berkata tegas, meski suaranya sedikit bergetar menahan amarah. "Aku hanya diusir karena bakat kultivasiku dianggap tidak ada. Aku tidak pernah mencuri apa pun."
"Benar atau bohong, bukan urusanku," potong wanita di balik meja, mendorong dua keping perak Xiao Bai kembali ke arahnya. "Sekte Awan Sembilan punya pengaruh besar di kota ini. Kami tidak mau penginapan kami masuk daftar hitam mereka hanya karena satu tamu. Silakan cari penginapan lain—atau lebih baik, cari kota lain."
"Tapi tarif kalian yang paling murah di kota ini. Aku hanya butuh satu malam untuk—"
"Kubilang, keluar." Suara pria itu kini mengeras, melangkah maju setengah badan seolah siap mengusir paksa jika perlu. "Jangan bikin susah orang lain. Sekarang pergi sebelum aku panggil penjaga kota."
Xiao Bai berdiri diam sesaat, menatap dua keping perak yang kembali tergeletak di atas meja—uang yang seharusnya cukup untuk atap dan kehangatan semalam, kini ditolak bukan karena nilainya, tapi karena nama yang melekat padanya.
Ia mengambil kembali uangnya, membungkuk sedikit—bukan tanda hormat, hanya kebiasaan lama yang sulit dihilangkan—lalu berbalik keluar tanpa berkata apa-apa lagi.
---
Di jalanan kota yang mulai sepi, gerimis kembali turun. Xiao Bai berjalan tanpa arah pasti, melewati satu-dua penginapan lain yang bahkan sudah memasang papan kecil di depan pintu: *"Tidak menerima murid buangan sekte."*
Cepat sekali, pikirnya. Belum genap dua hari, dan namanya sudah jadi semacam kutukan yang mendahului kedatangannya sendiri.
Ia berhenti di bawah kanopi sebuah kedai yang sudah tutup, bersandar ke dinding kayu sambil menatap langit yang gelap oleh awan hujan.
> **[Host, aku mendeteksi peningkatan tekanan emosional. Apakah kau ingin mendengar analisis strategis?]**
"Silakan," gumam Xiao Bai, terlalu lelah untuk menolak.
> **[Analisis: Lin Hai menyerang reputasi Host secara sistematis, bukan kekuatan fisik. Ini menunjukkan kesadaran bahwa Host, meski lemah secara kultivasi, berpotensi menjadi ancaman di masa depan—jika tidak, ia tidak perlu repot menyebarkan gosip ke seluruh kota hanya untuk seorang 'sampah'.]**
Xiao Bai terdiam, memikirkan kata-kata itu. Benar juga. Kalau ia benar-benar tak berarti, Lin Hai tak perlu bersusah payah memastikan seluruh kota menutup pintu baginya. Ketakutan itu, sekecil apa pun, adalah bukti bahwa jauh di lubuk hatinya, Lin Hai tahu ada sesuatu yang berbeda pada Xiao Bai malam itu di lapangan ujian.
"Biar saja ia takut," gumam Xiao Bai, menatap tetesan air yang jatuh dari ujung kanopi. "Ketakutan yang tidak beralasan hari ini, akan jadi ketakutan yang beralasan nanti."
Ia menyusuri jalan menuju pinggiran kota, ke arah gudang-gudang tua yang sudah lama tak terpakai—satu-satunya tempat yang mungkin belum tersentuh nama buruknya, karena di sana tak ada siapa pun yang peduli untuk bertanya siapa dirinya.
Cahaya keemasan Tungku Ekstraksi Surgawi di dalam dadanya berdenyut pelan dalam gelap, seolah menghitung mundur hari-hari sebelum sang pemiliknya benar-benar siap membalikkan keadaan.