NovelToon NovelToon
Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Aku Tak Butuh Duitmu, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: eli_wi

Tit... Tit... Tit...

"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.

Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.

Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sindiran

"Kamu dapat uang darimana, Aruna? Kok bisa beli nasi rendang 3 bungkus seperti ini," tanya Ibu Salma dengan tatapan bingungnya.

Ibu Salma terkejut melihat kedatangan Aruna dari pasar sambil membawa 3 bungkus nasi dengan lauk rendang. Padahal Ibu Salma tahu kalau Aruna sedang tidak memegang uang. Raut wajahnya juga berseri, seperti tidak ada beban sama sekali. Jika berjualan sayuran saja, Ibu Salma yakin kalau tidak cukup untuk membeli nasi dengan lauk rendang ini dan sembako. Bukan juga ini kebiasaan Aruna yang memilih jajan dibandingkan memasak sendiri.

"Aruna dapat rejeki nomplok, Bu. Pokoknya Ibu nggak usah khawatir, ini dari uang halal kok." ucap Aruna yang tak mau menceritakan kejadian pencopetan tadi.

"Syukur lah... Rejekimu dan Nasya biar bisa makan enak tanpa bergantung sama suami tidak tahu diri itu," ucap Ibu Salma sambil mengelus lengan Aruna.

"Rejeki Ibu juga dong. Ibu baik makanya dikasih makan enak," ucap Aruna sambil tersenyum. Beruntung sekali Aruna mendapatkan mertua seperti Ibu Salma. Sejak dulu, selalu membelanya dibandingkan Kafka.

"Ibu, rendangnya enak sekali." celoteh Nasya setelah selesai makan.

"Nanti sore, kita buat gulai ayam. Tadi Ibu sudah beli ayam dan bumbu untuk kita makan malam," ucap Aruna dengan mata berkaca-kaca.

Asyikkk...

"Kamu harus bangkit demi Nasya, Aruna. Ibu akan bantu kamu lepas dari Kafka yang dzalim itu. Walaupun dia anak kandung Ibu, tapi Ibu berada di pihakmu." bisik Ibu Salma yang kemudian memeluk Aruna dari samping.

Aruna balik memeluk Ibu Salma dengan erat. Dia yang sudah yatim piatu, begitu bahagia bisa menemukan sosok orangtua pada diri Ibu Salma. Wanita paruh baya itu juga tidak pernah mengeluh dan merepotkan dirinya. Bahkan saat Ibu Salma dalam kondisi kekurangan pun, beliau berusaha membantu Aruna. Selalu... Ibu Salma mengatakan tentang kewajiban orangtua Kafka untuk menafkahi dia dan Aruna.

"Nenek dan Ibu kok menangis? Uangnya habis ya buat beli rendang dan ayam untuk nanti sore," tanya Nasya dengan mata berkaca-kaca.

Eh...

"Enggak dong. Kami menangis karena terharu bisa makan dengan enak. Udah lama kita nggak makan enak begini," ucap Aruna yang kemudian membawa anaknya masuk dalam pelukannya.

"Benar ya? Bukan karena..."

"Bukan," sela Aruna yang tak ingin anaknya berpikiran macam-macam.

"Nanti kalau Aruna pergi, Ibu harus ikut. Aruna tidak akan membiarkan Ibu susah di sini," ucapnya pada sang mertua.

"Memangnya kita mau pergi kemana, Bu?" tanya Nasya yang mendengar perbincangan keduanya.

Ibu Salma sedikit terkejut dengan ucapan menantunya. Ibu Salma mendukung jika nanti menantunya bercerai dengan anaknya. Dia sendiri yang melihat kelakuan Kafka saja sudah muak. Namun dia tak menyangka kalau akan diajak pergi juga. Walaupun dalam hatinya ingin, tapi Ibu Salma tetap tidak enak hati. Dia tidak mau menjadi beban untuk Aruna yang ingin memulai kehidupan barunya.

"Pergi liburan kita bertiga," ucap Aruna sambil tersenyum.

"Kaya ke kebun binatang ya, Bu?" tanya Nasya lagi dengan mata berbinar cerah.

"Iya," Nasya langsung melepaskan pelukan Ibunya kemudian berjingkrak kecil karena akan diajak pergi liburan. Sedangkan Aruna dan Ibu Salma tertawa melihat tingkah lucu dari Nasya.

"Padahal sama kalian itu, udah lengkap. Istri yang baik dan cantik, sama anak lucu. Memang dasarnya tidak bersyukur itu si Kafka," ucap Ibu Salma yang merasa anaknya tidak mensyukuri hidupnya.

"Akan ada saatnya nanti Mas Kafka kena getahnya lalu sadar, Bu. Aruna yakin itu," ucap Aruna sambil tersenyum dan Ibu Salma menganggukkan kepalanya setuju.

"Setelah itu, dia akan hidup dalam penyesalan dan sadar bahwa semua orang sudah meninggalkannya." ucap Ibu Salma menambahi.

***

Sedangkan Kafka, dia memilih nongkrong di warung kopi bersama warga sekitar rumahnya. Dia sudah lama tidak melakukan itu karena sibuk. Kebetulan juga, dia diberikan libur satu hari dari kantornya. Walaupun bukan hari libur, ternyata di sana banyak juga Bapak-Bapak dan pemuda yang nongkrong. Walaupun sekedar untuk ngopi sebentar kemudian kembali bekerja.

"Mas Kafka tumben ada di rumah. Biasanya sibuk kerja," ucap Pak Karim yang rumahnya di dekat warung kopi.

"Dapat libur sehari, Pak. Kemarin habis dari luar kota soalnya," Kafka membanggakan dirinya yang bekerja di luar kota dan diberi jatah libur. Pasalnya di daerah itu, jarang sekali yang bekerja kantoran seperti dirinya.

"Makin sukses Mas Kafka ini. Pantas saja bisa beli mobil mewah juga," puji Pak Karim yang melihat mobil mewah di depan rumah Kafka tadi pagi.

"Iya, do'a anak dan istri. Bersyukur saya punya istri yang penurut dan mau diajak hidup sederhana. Makanya bisa nabung untuk beli mobil," Tak lupa Kafka membanggakan istri dan anaknya agar dirinya dicap sebagai seorang suami juga Ayah yang baik.

"Hidup sederhana itu sampai dua hari nggak bisa beli token listrik ya, Mas Kafka?" ceplos Ibu Fia yang rumahnya ada di seberang rumah Kafka.

Ibu Fia datang ke warung kopi untuk antar gorengan yang akan dititipkan. Mendengar ucapan Kafka, Ibu Fia langsung mendengus sebal. Dia kasihan dengan Nasya yang berulangkali merengek karena listrik mati. Bukan baru kemarin saja, tapi sudah beberapa tahun terakhir ini. Dia yang gaji suaminya kecil saja, masih cukup jika untuk membeli token listrik. Namun Kafka yang katanya manager, istrinya tidak mampu membeli token listrik.

"Gaji manager berapa sih? Lebih besar dari suamiku yang tukang bangunan kan ya?" lanjutnya dengan sindirannya.

"Wah... Memangnya benar Mbak Aruna sampai tidak bisa beli token listrik, Mas Kafka?" tanya Pak Karim pada Kafka untuk mengonfirmasi kabar dari Ibu Fia. Bahkan warga di sana juga langsung memasang telinganya lebar-lebar.

"Tentu nggak benar dong, Pak. Ibu Fia nih asal menyimpulkan saja," ucap Kafka berusaha untuk mengelak tuduhan Ibu Fia.

"Lalu benarnya seperti apa, Mas Kafka?" tanya Ibu Fia menatapnya dengan tatapan menyelidik.

"It..."

Tring... Tring...

Huft...

Diam-diam, Kafka menghela nafasnya lega. Dia juga bingung harus memberikan alasan apa tentang token listrik yang tidak diisi. Ini semua gara-gara Aruna yang tidak mau membeli token listrik pakai uangnya terlebih dahulu. Semua orang menatap Kafka yang memandangi ponselnya. Tiba-tiba ponselnya berdering membuat Kafka tidak jadi menjawab pertanyaan Ibu Fia.

"Saya ada telfon dari kantor. Permisi, semuanya." ucap Kafka memberikan alasan sambil memperlihatkan ponsel mahalnya. Tanpa menunggu jawaban, Kafka pun keluar dari warung kopi setelah membayar.

"Sok-sokan telfon dari kantor. Itu tadi aja namanya ada lope-lopenya kok," gerutu Ibu Fia sambil mendengus sebal.

"Lope-lope? Dari Mbak Aruna dong, Bu. Ya nggak papa kalau yang telfon istrinya sendiri," ucap Pak Karim menegur tetangganya itu.

Kayanya bukan, dari cem-cemannya itu.

Hush... Jangan menuduh sembarangan, Bu.

1
sunaryati jarum
Lha Cerai saja baru proses kok sudah mau dijodohkan
Penulis Eli: Hanya bercanda itu, kak 🙈
total 1 replies
E F
lanjutt thor💪😍
aku
bu salma dan bu lala ini kyk e mudanya bar2 sekali ya 🤣🤣 ceplas ceplos jg 🤣🤣
sunaryati jarum: Kalau sudah ketemu teman sekolah,lupa umur.Termasuk emak dan teman - sekolah .
total 1 replies
aku
dua duanya aja. gongin sama anak. 😁
Suwastika
wah...bener² ad udang d balik bakwan BS pas bgt🥰🥰
Muft Smoker
waaaah duo bestie pda garcep niih ,, tp yg pling garcep yx bu Salma 🤭🤭🤣🤣
aku
mamer dorong mantunya kenceng bgt yakk 🤣🤣 keburu amat 🤣🤣 ketok palu ja blm itu mantu 🤣🤣
E F
lanjutt thor💪😄😍
Muft Smoker
bu Salma semangat banget mau jodohin menantu ny ,,
😁😁😁😁
sunaryati jarum
Nah gitu tegas, segera visum untuk bukti.Dsn bukti perselingkuhannya sekalian
sunaryati jarum
Langsung lapor yang berwenang itu sudah penganiayaan berat mengarah pembunuhan
Puspa Sella
benci cara pikiran Aruna ini
Muft Smoker
penjara kan saja si Kafka. bu ,,
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
uphet
aduuuhhh Bu Salma d sangka mabok abis makan kecubung🤣🤣🤣
E F
tq thor🙏😍
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
aku
kayak mana gk mlongo wong kalimatnya gitu 🤣🤣🤣 aduh nenek ini 🤣🤣
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
makin seruu cerita ny
E F
😄😄
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
E F
lanjuttt thor💪😍
smangattt hempasssss cpttttt😄💪
INDRA
Ini Aruna sepupu Callie apa bkn Thor
Penulis Eli: bukan, kak. Cerita keluarga Roberto sudah selesai sampai Callie saja 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!