Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BATU LIRAEL
Istana Lirael berdiri di atas bukit yang menghadap ke laut, bangunan dari batu putih yang berkilauan terkena sinar matahari. Di dalamnya, udara sejuk dan berbau garam laut serta bunga-bunga tropis yang tumbuh di taman dalam istana. Namun suasana di ruang takhta tidak seindah bangunannya.
Ratu Seren — penguasa Lirael — duduk di atas takhta yang terukir motif ombak dan burung laut. Wanita itu cantik namun matanya penuh kelelahan dan ketakutan. Di sebelahnya berdiri seorang perwira Veyra yang sombong, dan di sisi lain, penasihat ratu — pria tua bernama Lord Valerius yang selalu tersenyum namun matanya tidak pernah ikut tersenyum.
"Kau berani masuk ke sini tanpa diundang?" tanya perwira Veyra itu kasar saat Zhoo dan teman-temannya dipersilakan masuk. "Kau tahu berapa banyak tentara yang sedang mencarimu?"
"Aku tahu," jawab Zhoo tenang. "Tapi Ratu Seren perlu mendengar kebenaran sebelum terlambat. Dan aku tidak takut berdiri di hadapan penguasa yang sah dari negeri ini."
Ratu Seren menatap Zhoo dengan tatapan bimbang. "Kau adalah Zhoo. Pemuda yang membuat seluruh benua terpecah. Beberapa menyebutmu pahlawan, yang lain menyebutmu perusak kedamaian. Apa yang kau inginkan dari negeriku?"
"Aku tidak menginginkan apa pun milikmu, Yang Mulia," jawab Zhoo dengan hormat. "Aku datang untuk memperingatkan. Raja Vereon tidak akan berhenti sampai ia menguasai setiap tanah, setiap kapal, dan setiap nyawa di benua ini. Saat ini ia meminta pajak dan menempatkan prajuritnya di pelabuhanmu. Tapi besok ia akan meminta kapalmu, prajuritmu, dan akhirnya ia akan meminta tahtamu sendiri."
"Kau berbohong!" bentak perwira Veyra itu. "Raja Vereon adalah pelindung kita semua!"
"Jika ia pelindung, mengapa ia memperlakukan rakyatmu seperti budak di gerbang kota?" tanya Elara maju, suaranya jernih dan tajam. "Jika ia pelindung, mengapa ratu yang sah ini duduk dengan tatapan takut setiap kali mendengar namanya? Pelindung tidak menakuti orang yang dilindunginya!"
Lord Valerius tersenyum tipis, lalu berbicara dengan suara lembut namun menusuk: "Kata-kata yang sangat manis. Tapi katakan padaku — apa yang bisa kau tawarkan sebagai gantinya? Pasukanmu kalah jumlah. Kau terus lari dari satu tempat ke tempat lain. Mengapa Ratu harus mempertaruhkan kerajaannya untuk seseorang yang bahkan belum bisa menjamin keselamatannya sendiri?"
Zhoo menatap penasihat itu lama, merasakan ada sesuatu yang salah di balik senyumnya. Namun ia tetap menjawab dengan tenang:
"Aku tidak menawarkan jaminan kemenangan, Yang Mulia. Aku hanya menawarkan satu hal — kesempatan untuk memilih. Kesempatan untuk memerintah negerimu sendiri, bukan atas perintah orang lain. Kesempatan untuk membiarkan rakyatmu hidup tanpa takut dipukul atau dirampas. Dan jika kita kalah... setidaknya kita kalah dengan harga diri yang utuh, bukan sebagai budak yang diam saja."
Ratu Seren terdiam lama, matanya menatap lantai batu. "Aku... aku tidak bisa memutuskan begitu saja. Vereon telah mengancam akan membakar seluruh pelabuhan dan armada kapal kami jika aku melawan. Tanpa kapal, Lirael mati. Tanpa perdagangan, rakyatku mati."
"Dan jika kau menunggu sampai ia mengambil kapal itu sendiri," kata Zhoo pelan namun tegas, "kau akan kehilangan keduanya — kapalmu dan rakyatmu. Karena ia tidak akan membiarkanmu memilikinya lebih lama dari yang ia butuhkan."
Saat itu juga, Lord Valerius berbisik sesuatu kepada Ratu Seren, dan Zhoo melihat perubahan kecil di wajah ratu — ketakutan yang semakin dalam. Ia menyadari sesuatu: penasihat itu bukan sekadar penasihat. Ia adalah mata dan telinga Vereon di istana ini.
"Kau harus pergi," kata Ratu Seren pelan, matanya tidak berani menatap Zhoo. "Jika ketahuan kau ada di sini... banyak yang akan mati. Pergilah."
"Yang Mulia..." Zhoo mencoba membujuk.
"Pergi!" suaranya meninggi, penuh keputusasaan. "Aku tidak bisa membantu! Aku tidak berani membantu! Biarkan aku tetap menjadi ratu yang tidak berarti asal rakyatku selamat!"
Zhoo menghela napas panjang, lalu membungkuk hormat. "Aku mengerti keputusanmu, Yang Mulia. Dan aku tidak akan menyalahkanmu. Tapi ingatlah — rasa aman yang kau beli dengan ketundukan itu tidak akan bertahan lama. Dan saat kau menyadari itu... kami akan ada di sini, menunggumu."
Saat mereka berjalan keluar istana, Arvin berbicara pelan: "Kita gagal di sini."
"Belum tentu," jawab Zhoo. "Ratu itu tidak tenang. Ia takut, bukan setia. Dan ketakutan itu bisa berubah menjadi kemarahan jika diberikan waktu yang tepat."
Namun mereka belum sampai keluar kota ketika seorang anak kecil berlari mendekati mereka, menyelipkan selembar kertas kecil ke tangan Zhoo lalu menghilang ke kerumunan. Zhoo membukanya dengan cepat. Tulisan tangan itu miring dan tergesa-gesa:
"Lord Valerius adalah mata-mata Vereon. Ratu dikepung. Para kapten kapal bersedia mendukungmu, tapi mereka takut bertindak tanpa ratu. Datanglah ke pelabuhan malam ini, di kapal Angin Utara. Ada yang ingin bicara denganmu tanpa diketahui siapa pun."
Tidak ada nama pengirimnya. Tapi Zhoo menggenggam kertas itu erat, matanya berbinar kembali.
"Kita tidak pergi," katanya tegas. "Kita tetap di sini malam ini. Karena ternyata, di tempat yang tampaknya paling gelap, masih ada orang yang berani menyalakan pelita."