Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.
Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —
Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Giok Perekam
Setelah Ping Yue dan Ru Shun pergi, suasana di ruangan itu perlahan berubah menjadi lebih berat. Adipati Wu Ling menarik napas panjang, wajahnya menjadi serius seketika. Ia menatap Ye Hu dengan tatapan yang penuh perhatian namun juga penuh kekhawatiran.
"Saudara Ye Hu," ucap Adipati pelan namun tegas. "Beberapa waktu lalu, kau memintaku menyelidiki siapa yang meracunimu. Dan kau mencurigai bahwa pelakunya berasal dari dalam keluargamu sendiri. Aku sudah menugaskan orang-orang terbaikku untuk mengawasi kediaman Keluarga Ye sejak saat itu. Aku percaya, jika seseorang menyembunyikan kejahatan, suatu hari nanti pasti akan melakukan kesalahan."
Adipati berhenti sejenak, lalu melanjutkan. "Beberapa hari yang lalu, ada sosok bertopeng yang masuk ke kediaman Keluarga Ye secara diam-diam. Orang kepercayaanku yang sedang berjaga segera mengikutinya, naik ke loteng, dan mengintip dari balik celah atap. Dia membawa sebuah benda — Giok Perekam. Semua percakapan di dalam kamar utama itu terekam dengan sempurna."
Ye Hu mengerutkan dahi. "Lalu mengapa Tuan Adipati tidak memberitahuku sebelumnya?"
"Saat itu kau sedang bermeditasi menutup diri di ruang tungku," jawab Adipati. "Dan bukti ini terlalu penting untuk disampaikan kepada siapa pun selain dirimu sendiri. Aku tidak ingin ada risiko bocor sebelum waktunya."
Ia mengeluarkan sepotong batu giok persegi berwarna putih susu yang memancarkan cahaya lembut dari lengan bajunya. "Ini Giok Perekam tingkat tinggi. Hanya perlu meneteskan setetes esensi darah milikmu untuk memutarnya."
Ye Hu menerima benda itu. Dengan satu gerakan jari, ia mengiris sedikit ujung jarinya dan meneteskan setetes darah ke atas permukaan giok itu. Lalu meletakkan Giok itu keatas meja. Seketika itu juga, cahaya putih menyebar ke udara, membentuk bayangan gambar dan suara yang jelas di atas meja — seakan mereka sedang berdiri langsung di dalam kamar itu.
Di dalam gambar, terlihat Nyonya Liu duduk di kursi utama, dan sosok bertopeng perak berdiri di hadapannya. Semua percakapan terdengar jelas tanpa satu kata pun yang hilang.
Ye Hu mendengar semuanya. Tentang bagaimana ia bukan anak kandung Ye Ba maupun Nyonya Liu, melainkan bayi yang dititipkan dua puluh tahun lalu oleh seorang tokoh yang sangat hebat. Tentang rencana Nyonya Liu meracuni Pil Penguat Sumsum buatan Bayangan Hitam sendiri, agar dantiannya hancur. Tentang keterlibatan Bayangan Malam sejak awal. Tentang perintah Nyonya Liu kepada adiknya untuk membunuhnya di Rumah Bunga Indah, dan bagaimana semua upaya pembunuhan itu gagal berulang kali.
Hening menyelimuti ruangan itu saat gambar itu perlahan memudar dan hilang.
Mu Yan tanpa sadar merangkul lengan Ye Hu, matanya berkaca-kaca. Rasa kasihan yang mendalam menyelimuti hatinya — orang yang paling ia percayai, ibu yang membesarkannya selama bertahun-tahun, justru adalah orang yang paling ingin mengambil nyawanya.
Wu Jing menatapnya dengan wajah pucat, tangannya meremas ujung bajunya erat-erat. Ia tidak menyangka kebenaran itu begitu kejam dan menyakitkan.
Di dalam hati Ye Hu, perasaan sedih dan marah menyatu menjadi satu — meskipun ia tahu bahwa tubuh ini bukanlah tubuh aslinya, dan ia adalah Xuan Ling yang telah hidup ribuan tahun, namun rasa pengkhianatan itu tetap terasa nyata dan membakar dadanya. Selama ini ia menganggap mereka keluarga, namun ternyata ia hanyalah anak titipan yang ingin dibuang saat tidak lagi berguna.
"Giok Perekam ini hanya bisa diputar sebanyak tiga kali, setelah itu Giok ini akan rusak. " ucap Adipati memecah keheningan. "Aku sudah melihatnya sekali, dan tadi baru kali kedua. Simpanlah baik-baik, dan tontonlah untuk ketiga kalinya saat kau benar-benar membutuhkannya sebagai bukti."
Ye Hu mengangguk pelan, menyimpan giok itu dengan hati-hati di dalam lengan bajunya. "Terima kasih, Tuan Adipati. Tanpa bantuan dan ketegasan Tuan, misteri ini mungkin tidak akan terungkap selamanya. Hutang budi ini tidak akan kulupakan."
"Tidak perlu berterima kasih," jawab Adipati lembut. "Kau pantas mengetahui kebenaran itu." namun di hati Adipati telah bersyukur karena telah memberikan jasa untuk Ye Hu.
Mu Yan menatapnya dengan lembut. "Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Adik Ye Hu? Apakah kau akan kembali ke kediaman Keluarga Ye?"
Ye Hu menggeleng perlahan. "Belum saatnya pulang. Aku akan meditasi terlebih dahulu, ada beberapa hal terputus karena adanya pelelangan dan setelah itu pergi ke Toko Obat Sumber kembali ke sini dan bermeditasi di ruang tungku Balai Pelelangan sambil memikirkan langkah selanjutnya."
Namun jauh di dalam hatinya, di lautan kesadaran Xuan Ling, satu keputusan besar telah bulat. Sudah saatnya.
Sudah saatnya meninggalkan Keluarga Ye. Kini tidak ada lagi yang mengikat dirinya, tidak ada lagi urusan keluarga. Sudah saatnya meninggalkan Kota Awan. Tempat ini terlalu kecil untukku. Aku tidak akan pernah bisa berkembang sejauh yang kuinginkan jika hanya berdiam di kota kecil ini seperti semut yang terperangkap di dalam gua.
Ia mengangkat kepala, dan seketika itu juga tatapannya berubah — bukan lagi tatapan seorang pemuda yang mencari jati diri, melainkan tatapan seorang penguasa yang pernah berdiri di puncak dunia.
Aku adalah Xuan Ling. Aku pernah menjadi Kaisar di Spirit Realm dan Di Immortal Realm, hampir semua makhluk yang kuat takluk di bawah kakiku. Kota Awan ini hanyalah debu kecil di telapak kakiku. Tidak ada rantai yang bisa mengikat seorang Dewa yang telah kembali.
Kekuatan di dalam dadanya bergetar pelan, seakan menanggapi tekad itu. Langkah kakinya di masa depan bukan lagi sekadar bertahan hidup, melainkan menuju kembali ke tempat yang seharusnya ia tempati — di puncak alam semesta.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari, bahwa di sudut ruangan yang paling gelap, di udara di atas kepala mereka, ada sosok roh tak kasat mata yang melayang diam mendengarkan setiap kata yang terucap. Sosok itu mendengar semuanya — pengakuan Ye Hu, kebenaran tentang kelahirannya, hingga tekadnya untuk kembali ke puncak dunia.
Setelah merasa cukup mendengar, roh itu perlahan bergerak, melayang menembus dinding batu tanpa hambatan, dan menghilang ke arah distrik penginapan kota itu.
Di dalam sebuah kamar penginapan yang sederhana namun bersih, seorang pemuda sedang duduk bersila bermeditasi di atas kasur jerami. Pakaiannya sederhana, namun wajahnya begitu rupawan dan matanya memancarkan kebijaksanaan yang sulit dijelaskan. Ia tampak belum berusia tiga puluh tahun, namun ada kedalaman yang menandakan bahwa ia telah hidup jauh lebih lama dari itu.
Roh itu melayang masuk melalui jendela yang tertutup, lalu perlahan menyatu dan masuk ke dalam tubuh pemuda itu.
Ini adalah teknik Pemalas Sukma, teknik yang dapat melepaskan roh nya pergi dari tubuhnya. Hanya waktunya terbatas sebelum jiwanya rusak.
Tiba-tiba mata pemuda itu terbuka. Cahaya keemasan berkilat sejenak di manikam matanya sebelum meredup kembali menjadi tatapan yang tenang dan dalam. Ia menghela napas panjang, seakan melepaskan beban yang berat.
"Dia sudah tumbuh dewasa… dan dia sudah ingat siapa dirinya," gumam pemuda itu pelan, namun suaranya bergetar karena haru. "Dua puluh tahun. Akhirnya hari itu tiba."
Pemuda itu adalah orang yang dua puluh tahun lalu menolong Ye Ba di jalan perbatasan, membantai suku Tanduk Merah seorang diri, dan menitipkan bayi itu kepadanya — bayi yang kini bernama Ye Hu. Dan yang paling menakjubkan, wajahnya sama persis seperti dua puluh tahun yang lalu. Tidak ada satu kerutan pun yang bertambah, tidak ada tanda penuaan sedikit pun. Waktu seakan berhenti berputar baginya.
Ia berdiri dan melangkah ke jendela, menatap ke arah Balai Pelelangan yang terlihat samar di kejauhan.
"Kau sudah kembali, Xuan Ling. Aku akan menyelesaikan urusanmu di dunia fana ini. "