NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:442
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Yang Menimbun dan Yang Menertawakan

Keyakinan Vania bertahan bahkan ketika angin membawa debu masuk melalui celah jendela.

Pagi itu, Laras justru berada di pasar pakan bersama Wahyu dan Wati. Ia tidak membeli semua barang yang terlihat. Setiap karung dedak diperiksa bau dan kelembapannya. Jagung yang mulai berkutu ditolak. Hijauan kering hanya diambil dari pemasok yang bisa menunjukkan tempat penyimpanan.

"Kita butuh banyak. Mengapa tidak ambil yang murah ini?" tanya seorang pekerja sambil menunjuk tumpukan ampas.

Laras membuka satu karung. Bagian tengahnya hangat dan berbau asam. "Fermentasinya tidak terkendali. Kalau diberikan sekarang, kita mungkin punya stok penuh tetapi ternak sakit."

Ia membagi pembelian ke tiga pemasok agar kegagalan satu pengiriman tidak menghabiskan cadangan. Air minum dibeli dalam wadah tertutup, sedangkan air untuk mencuci kandang ditampung terpisah. Wahyu mengatur dua kendaraan kesatuan yang memang dialokasikan untuk kesiapsiagaan, bukan mengambil kendaraan operasi tanpa izin.

Di toko bangunan, Laras membeli terpal, kawat, paku, tali, dan lembar penutup tambahan. Pemilik toko menaikkan harga setelah melihat orang mulai panik.

"Harga kemarin masih tertulis di rak," kata Laras. "Kami ambil sesuai harga yang dipasang atau mencari toko lain."

Pemilik itu mencoba berdalih soal ongkos kirim. Laras meminta kuitansi dan nomor pengaduan perdagangan. Harga akhirnya dikembalikan tanpa keributan.

Wati berbisik, "Ibu selalu membawa orang kembali ke catatan."

"Ingatan bisa dipelintir. Tulisan lebih sulit."

Saat kendaraan mereka melewati kompleks, Bu Yuni sudah berdiri di ujung gang bersama beberapa tetangga. Ia mengangkat ponsel dan memotret terpal serta karung di bak belakang.

Tak lama kemudian, pesan muncul di grup WhatsApp.

Bu dokter memborong barang seperti dunia mau kiamat. Jangan-jangan supaya nanti bisa jual mahal.

Beberapa emoji tertawa mengikuti. Vania menambahkan komentar dari akun pribadinya.

Cuaca cuma angin biasa. Jangan ikut panik dan menghabiskan uang keluarga.

Bu Marni membalas paling cepat, memuji Vania karena lebih masuk akal daripada orang yang suka mencari sensasi. Ia bahkan memberi tahu dua kerabat bahwa Laras sengaja menakut-nakuti peternak agar terlihat penting.

Seorang ibu bertanya apakah sebaiknya mengambil air tambahan untuk bayi dan lansia. Bu Yuni menjawab dengan emoji tertawa, lalu menulis bahwa orang kota selalu berlebihan menghadapi angin. Namun beberapa menit kemudian, ia diam-diam menyuruh putra sulungnya membawa ember ke keran umum. Ketika ditanya, ia mengaku hanya sedang mencuci.

Kemudian pesan dari pengelola air muncul: pompa wilayah timur dapat dihentikan sementara bila listrik padam. Candaan di grup berkurang. Orang-orang yang masih mengejek mulai mengisi wadah tanpa mengaku mengikuti saran Laras.

Santi menunjukkan pesan itu kepada Laras ketika mereka tiba di peternakan. "Mau saya jawab dengan surat peringatan cuaca?"

"Kirim informasi resmi tanpa menyebut siapa pun. Setelah itu berhenti berdebat."

Santi mengunggah peringatan dari lembaga cuaca, nomor darurat, serta daftar persiapan rumah tangga tiga hari. Bu Endah meneruskan pesan yang sama dari akun pengurus keluarga. Sebagian warga mulai memeriksa atap. Sebagian lain tetap menertawakan.

Di peternakan, pekerjaan belum selesai. Terpal lama dilepas dan diperiksa. Yang masih kuat dipakai untuk sisi kandang, bukan atap utama. Kawat baru dipasang silang, bukan hanya diikat pada satu tiang. Saluran air diuji dengan menuangkan beberapa ember untuk melihat apakah alirannya benar-benar menjauh dari kandang.

Salah satu kendaraan pengiriman datang terlambat karena pohon kecil tumbang di jalan. Dua belas karung pakan terkena percikan hujan dari terpal bak yang robek. Laras meminta setiap karung dibuka untuk diperiksa, bukan langsung ditumpuk bersama stok kering.

Empat karung masih aman. Lima harus segera dijemur dan dipakai lebih dulu. Tiga lainnya sudah basah sampai bagian dalam dan dipisahkan untuk dikembalikan kepada pemasok.

"Kalau dicampur, tidak ada yang tahu mana yang mulai berjamur besok," jelasnya. "Satu tumpukan buruk bisa merusak seluruh gudang."

Santi mencatat nomor karung dan memotret kondisi saat diterima. Pemasok sempat menolak pengembalian, tetapi berhenti berdebat setelah melihat bukti waktu, kuitansi, dan foto terpal robek.

Air pertama justru kembali ke pintu barat.

"Kemiringannya salah," kata Pak Yohanes. "Kalau hujan deras, bagian ini jadi kolam."

Mereka menggali ulang sampai air mengalir ke parit utama. Laras lalu memeriksa gudang pakan. Karung disusun dengan lorong di tengah agar setiap tumpukan bisa diperiksa. Tanggal masuk ditulis besar, sehingga stok lama digunakan lebih dulu.

Pak Sutrisno berdiri di pintu sambil memandang semua perubahan. "Kita sudah menghabiskan dana cadangan hampir separuh."

"Kalau badai tidak datang, persediaan tetap dipakai selama kemarau. Terpal dan kawat juga bertahan lama," jawab Laras. "Yang kita beli bukan rasa takut. Kita membeli waktu."

Pak Yohanes mengetuk salah satu tiang. "Dan waktu sering lebih mahal setelah bencana."

Laras meminta Pak Sutrisno menyimpan seluruh kuitansi dalam berkas khusus. Setelah keadaan aman, setiap pembelian harus diaudit agar tidak ada orang menuduh bencana dipakai untuk mengambil keuntungan. Pak Sutrisno langsung menunjuk Santi dan satu petugas koperasi untuk saling memeriksa angka.

Wati mengikuti Laras dari kandang ke gudang sambil mencatat. Ketika petugas lain istirahat, ia masih mengulang daftar kelompok ternak.

"Kamu tidak perlu menghafal semuanya malam ini," kata Laras.

"Saya takut salah ketika listrik padam."

"Takut boleh. Karena itu kita pakai sistem. Lihat tanda warna dan bekerja dengan pasangan. Jangan menjadi pahlawan sendirian."

Menjelang sore, Bram menelepon dari penugasan singkat di luar kota. Sinyalnya terputus dua kali.

"Aku mungkin terlambat pulang," katanya. "Kesatuan menunggu perkembangan cuaca."

"Di sini hampir selesai. Jangan memaksakan perjalanan kalau jalan tidak aman."

Ada jeda. "Kamu juga jangan pulang sendirian. Wahyu tetap bersamamu."

"Baik, Mas Bram."

Setelah sambungan berakhir, Laras memeriksa motor. Ia tahu tangkinya penuh karena Bram. Namun langit di belakangnya telah berubah terlalu cepat. Matahari masih berada di atas, tetapi cahaya meredup seolah tertutup kain tebal.

Wahyu keluar dari gudang membawa senter. "Bu, petugas cuaca baru menaikkan status peringatan."

Suara guntur terdengar dari arah sabana. Bukan ledakan keras, melainkan getaran panjang yang merambat di tanah. Sapi-sapi mengangkat kepala serempak. Ayam berdesakan masuk ke tempat berlindung.

Di rumah Bu Marni, Vania masih berkata tidak ada yang perlu ditakutkan. Ia mengingat tahun lama ketika hujan baru datang beberapa minggu kemudian. Ia tidak memahami bahwa Laras telah mengubah terlalu banyak kejadian, termasuk orang yang melapor, ternak yang berpindah, dan keputusan yang memengaruhi seluruh kota.

Waktu yang ia ingat bukan lagi waktu yang sedang berjalan.

Laras menatap cahaya yang padam di belakang bukit. Debu bergerak seperti dinding rendah menuju kota.

"Amankan semua air," katanya kepada Wahyu. "Badai datang malam ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!