Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Aduh aduh, ini rumah sakit lho!" ledek Imelda yang baru saja melangkah masuk bersama Robby, terkekeh geli melihat kemesraan dua orang di depannya.
"Tahu nih, ruangan UGD serasa milik berdua ya, Ren," timpal Robby ikut menggoda, membuat rona merah di pipi Tiyas seketika memerah pasrah.
Tak lama kemudian, seorang perawat masuk ke dalam ruangan membawa kapas dan alkohol.
Dengan cekatan, sang perawat melepas selang infus dari punggung tangan Tiyas yang sudah habis, lalu menempelkan plester kecil di sana.
Setelah memberikan lembar resep dan pesan agar Tiyas banyak beristirahat, perawat tersebut pamit keluar.
Tiyas baru saja hendak menurunkan kakinya dari tepi tempat tidur, tapi sebelum tumitnya menyentuh lantai, Narendra sudah lebih dulu membungkuk.
Tanpa aba-aba, Narendra membopong tubuh Tiyas ke dalam dekapannya secara bridal style.
"Naren! Ih, malu dilihatin orang!" bisik Tiyas kaget setengah mati, refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Naren.
"Biarin. Kamu masih lemes, nggak boleh jalan dulu," sahut Naren santai tanpa beban, sedikit pun tak berniat menurunkan Tiyas.
Melihat pemandangan itu, Imelda makin heboh sambil menepuk-nepuk bahu Robby.
"Padahal dia dulu mandiri banget lho, Rob! Apa-apa dikerjain sendiri, sok kuat. Sekarang kok manja banget, ya?" ledek Imelda dengan lirikan jahil yang ditujukan tepat pada Tiyas.
"Bukan manja, Mel," potong Naren cepat seraya melangkah keluar UGD dengan senyum bangga yang merekah.
"Tiyas cuma lagi menikmati haknya buat diratukan. Ya kan, Sayang?"
Tiyas hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang makin panas di dada bidang Naren, menahan tawa bercampur malu diiringi gelak tawa Imelda dan Robby yang berjalan mengekor di belakang mereka.
Sesampainya di mobil, Naren melandai-landaikan sandaran kursi penumpang depan agar Tiyas bisa bersandar dengan nyaman.
Dengan sangat hati-hati, Naren merebahkan dan memasang sabuk pengaman untuk Tiyas, memastikan tali pengaman itu melingkar pas tanpa menekan perut calon istrinya.
Sebelum menutup pintu, ia sempat mengusap lembut kening Tiyas.
Ia segera melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju ke rumah Tiyas.
Keheningan kabin hanya diisi oleh deru mesin halus dan napas Tiyas yang perlahan mulai teratur.
Narendra yang sesekali melirik Tiyas lewat kaca spion tengah akhirnya membuka suara.
"Apakah kamu memang sering pingsan?" tanya Naren dengan nada suara rendah penuh perhatian.
Tiyas menyandarkan kepalanya lebih dalam pada bantalan kursi, menatap lurus ke depan.
"Iya Naren, tapi itu dulu waktu sekolah. Sekarang nggak tahu kenapa kambuh lagi."
Narendra terdiam sejenak. Tangannya yang mencengkeram kemudi tampak mengencang, sementara tatapannya menajam menembus kaca depan.
Ada helaan napas berat yang keluar dari celah bibirnya, menciptakan keheningan yang mendadak terasa sedikit canggung di antara mereka.
Melihat respons dan keheningan Naren, pikiran buruk perlahan menyusup ke dalam benak Tiyas.
Ia menoleh pelan, menatap profil samping wajah Naren yang tampak serius.
"Apakah kamu menyesal mengajakku menikah, Naren?" tanya Tiyas lirih, ada nada ragu dan takut terselip dalam suaranya.
Narendra hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan itu.
Tatapannya tetap lurus menyapu jalanan, membuat hening di dalam mobil terasa semakin pekat dan menekan bagi Tiyas.
Rasa gelisah merayapi dada Tiyas, memicu ketakutan kalau-kalau kondisinya yang lemah justru menjadi beban bagi Naren.
Sesampainya di rumah, Narendra mematikan mesin mobil lalu bergerak cepat membukakan pintu.
Tanpa mengungkit pertanyaan tadi, ia kembali membopong tubuh Tiyas dengan lembut, membawanya masuk melintasi lorong rumah dan menaiki tangga menuju kamar.
Dengan amat hati-hati, ia merebahkan Tiyas di atas tempat tidur, melepas sepatu wanita itu, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi dada Tiyas.
Setelah merapikan selimut, Narendra tidak langsung pergi.
Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam erat tangan Tiyas yang terasa hangat, lalu menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu dengan sorot mata yang amat dalam dan sarat akan emosi.
"Tiyas, dengarkan aku baik-baik," ujar Narendra dengan suara rendah namun bergetar hebat.
"Penyesalan terakhir yang pernah ada di hidupku adalah saat aku bertahan pada hubungan yang salah dan membiarkan diriku dimanfaatkan. Tapi memilih kamu? Mengajak kamu menikah? Itu adalah keputusan terbaik dan paling membahagiakan yang pernah aku buat sepanjang hidupku."
Narendra mengusap lembut pipi Tiyas dengan ibu jarinya, membiarkan kehangatan tangannya menyalurkan ketulusan yang tak terbantahkan.
"Aku diam di mobil tadi bukan karena ragu atau menyesal, Tiyas. Aku diam karena aku merutuki diriku sendiri. Aku marah pada diriku karena belum bisa menjaga kamu dengan benar. Melihat kamu terkulai lemas dan pingsan di kamar mandi tadi membuat jantungku serasa berhenti. Rasa takut kehilangan kamu itu begitu nyata dan menyiksa."
Naren mengecup punggung tangan Tiyas lama, lalu menyandarkan keningnya di sana sejenak sebelum kembali menatap wajah Tiyas.
"Kasih sayangku ke kamu itu bukan cuma ada di saat kamu kuat, mandiri, atau ceria. Aku mencintai kamu satu paket, Tiyas—dengan segala kelebihanmu, juga dengan segala rasa sakit, kerapuhan, dan kondisi tubuhmu yang seperti ini. Jangan pernah berpikir kalau sakitmu adalah beban buat aku. Mulai hari ini dan seterusnya, tugas kamu adalah bersandar sama aku. Biar aku yang jadi pelindung dan tempat kamu pulang. Jadi, tolong, jangan pernah tanyakan hal itu lagi, ya?"
Air mata haru menetes perlahan di sudut mata Tiyas.
Kata-kata Narendra yang begitu tulus menyapu bersih seluruh keraguan di hatinya, menyisakan hangat yang membuncah indah di dalam dada.
Tiyas langsung memeluk tubuh Narendra dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu saat air mata bahagianya menetes basah.
Narendra membalas pelukan itu tak kalah hangat, mengusap punggung Tiyas dengan penuh kelembutan.
Tok, tok, tok!
Ketukan di pintu depan memecah keheningan kamar mereka.
"Assalamualaikum, Nduk," suara yang sangat akrab terdengar dari lantai bawah.
"Waalaikumsalam," balas Naren sedikit meninggikan suaranya.
Saat Tiyas hendak bergerak menyibak selimut, Naren menahan bahunya dengan lembut.
"Sudah, kamu jangan turun. Biar aku yang membuka pintunya."
Narendra bergegas melangkah turun dan membuka pintu utama.
Kedatangan kedua orang tua Tiyas membuat Naren tersenyum lega. Dengan penuh rasa hormat, Narendra menyalami kedua tangan ayah dan ibu Tiyas secara bergantian.
"Di mana Tiyas, Naren?" tanya Ibu Tiyas seraya menatap sekeliling dengan raut cemas.
"Tadi Imelda telepon Ibu, katanya Tiyas sempat dibawa ke UGD."
"Tiyas ada di kamar atas, Bu, Pak. Mari saya antarkan," ujar Naren sopan, mengarahkan kedua orang tua Tiyas naik ke lantai dua.
Begitu pintu kamar terbuka, sang Ibu langsung berlari kecil menghampiri Tiyas yang bersandar lemas di ranjang.
"Ya Allah, Nduk. Kamu kenapa bisa begini?"
Ibu memeluk Tiyas dengan erat, meraba dahi dan pipi putrinya yang masih sedikit pucat.
Tiyas tersenyum menenangkan, mengusap punggung ibunya.
"Tiyas nggak apa-apa, Bu. Penyakit lama, cuma darah rendahnya kambuh lagi karena capek."
Sementara sang Ibu sibuk menenangkan Tiyas, Ayah Tiyas berdiri di samping ranjang lalu menatap Narendra dengan raut wajah serius namun teduh.
"Narendra, bagaimana perceraian kalian? Apakah sidang tadi berjalan lancar?"
Narendra melangkah mendekat, berdiri tegak di samping Ayah Tiyas dengan penuh keyakinan.
"Alhamdulillah, Pak, Bu. Sidang perceraian kami berdua hari ini sudah selesai secara resmi di mata hukum. Kami sudah benar-benar terbebas dari masa lalu," penjelasan Narendra disampaikan dengan tegas dan lugas.
Naren menarik napas dalam-dalam, lalu menatap kedua orang tua Tiyas lurus-lurus.
"Dan, di depan Bapak serta Ibu hari ini, saya ingin menyampaikan niat tulus saya. Saya sudah melamar Tiyas untuk menjadi istri saya, dan Tiyas sudah menerimanya. Saya memohon restu dari Bapak dan Ibu agar diizinkan mendampingi serta menjaga Tiyas selamanya."
Ruangan hening sejenak. Ayah Tiyas menatap Naren lama, membaca kejujuran di mata pria itu, lalu beralih menatap Tiyas yang mengangguk pelan penuh kepastian.
Sang Ayah menghela napas lega, lantas menyunggingkan senyum hangat seraya menepuk bahu Narendra dengan mantap.
"Bapak dan Ibu setuju, Naren. Kami merestui kalian," ujar Ayah Tiyas mantap.
"Tapi, dengan satu syarat: kamu harus benar-benar sayang kepada Tiyas. Jangan pernah sakiti atau sia-siakan dia seperti yang dilakukan pria di masa lalunya."
"Saya berjanji, Pak, Bu," sahut Naren tulus dan tanpa ragu.
"Saya akan menyayangi dan meratukan Tiyas seumur hidup saya."
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘