NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:50.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

​

​Sinar matahari pagi menerobos tipis melalui tirai ruang makan, membiaskan pendar lembut di atas meja. Sarapan berlangsung dalam keheningan yang kaku. Devan dan Deka menghabiskan bagian mereka dengan tenang, meski lirikan mata si kembar sesekali tertuju dingin ke arah Bian. Bian sendiri tampak terburu-buru, beberapa kali melirik jam tangan mewahnya seolah ada hal besar yang tak sabar ingin ia eksekusi hari ini.

​"Bunda, Devan sama Deka berangkat sekolah dulu ya," pamit Devan seraya berdiri dan mencium punggung tangan Husna dengan penuh takzim. Deka menyusul di belakangan, melakukan hal yang sama.

​"Hati-hati di jalan, bawa mobilnya jangan mengebut," pesan Husna lembut sembari mengusap bahu kedua putranya.

​Ketika kedua remaja itu melewati Bian, mereka hanya menyapa singkat sekadar formalitas, tanpa hangat yang biasanya ada. Bian hanya mengangguk canggung, berusaha mengabaikan jarak yang makin membentang antara dirinya dan anak-anaknya.

​"Na, kita berangkat sekarang? Pakai mobil Mas saja ya?" tawar Bian seraya meraih kunci sedan hitamnya.

​Husna tersenyum tipis, menggeleng halus. "Tidak usah, Mas. Aku bawa mobilku sendiri saja. Nanti setelah dari lokasi proyekmu, aku harus langsung ke gudang distribusi bahan bangunan untuk mengecek laporan pasokan bulanan."

​Bian sempat tertegun, namun kemudian mengangguk setuju. "Ya sudah kalau begitu. Kita irit-irigan saja ke lokasinya."

​Husna melangkah menuju garasi. Pagi ini, ia tampil dengan gaya khasnya: sangat bersahaja, namun memancarkan aura kelas atas yang tak terbantahkan. Ia mengenakan atasan tunik potong lurus berwarna nude dipadu celana kulot bermaterial sutra katun premium. Sepintas, pakaian itu terlihat simpel tanpa motif mencolok, namun potongan jahitan dan kejatuhan kainnya memperlihatkan kualitas kelas wahid. Lebih dari itu, hijab syar'i polos yang melilit anggun di kepalanya terbuat dari serat sutra organik impor sehelai kain yang harganya mencapai jutaan rupiah dan hanya dipahami oleh orang-orang yang mengerti dunia fashion tinggi.

​Husna tidak pernah merasa perlu memamerkan kekayaannya lewat logo merek yang mencolok. Keanggunannya terpancar dari ketenangan dan keaslian kualitas dirinya.

​Dua unit mobil mewah itu membelah jalanan kota yang mulai padat hingga akhirnya tiba di kawasan komersial berkembang di pusat kota. Lokasi proyek swalayan cabang kedua itu berdiri di atas lahan yang sangat strategis, tepat di hook persimpangan jalan utama.

​Husna turun dari mobilnya, membetulkan letak tas tangannya, lalu menyapu pandangan ke sekeliling. Bangunan dua lantai yang sedang dalam tahap finishing itu berdiri megah. Ukurannya jelas jauh lebih besar dan luas dibandingkan toko swalayan cabang pertama yang dirintis Bian beberapa waktu lalu.

​Bian melangkah mendekati Husna dengan dada terbusung bangga. Senyum puas terukir lebar di wajah pria berkepala empat itu.

​"Bagaimana, Na?" tanya Bian dengan nada penuh kemenangan. Tangannya terentang menunjuk ke arah fisik bangunan. "Lebih besar hampir dua kali lipat dari cabang pertama. Lahan parkirnya luas, aksesnya hidup 24 jam. Mas mengatur konsepnya supaya lebih modern, mengincar pasar anak muda dan keluarga muda di sekitar sini."

​Husna memperhatikan detail konstruksi dengan pandangan tajam seorang pengusaha senior. Ia tahu persis berapa estimasi sewa lahan di area ini, berapa modal kerja yang terserap, dan seberapa besar biaya operasional yang harus ditanggung setiap bulannya.

​"Konsepnya bagus, Mas. Skala bangunannya memang cukup ambisius untuk ukuran cabang kedua," komentar Husna tenang, menjaga suaranya tetap netral.

​"Ini bukti kalau Mas bisa berdiri dan membesarkan lini bisnis baru ini, Na," ujar Bian jumawa. Pria itu terbuai oleh pencapaiannya sendiri, benar-benar lupa bahwa jaringan supplier barang yang memberikan tenor pembayaran lunak di swalayan ini bisa ia dapatkan karena reputasi dan koneksi nama besar Husna di belakang layar.

​Matahari pagi mulai terasa menyengat. Bian membetulkan kerah kemejanya yang sedikit basah oleh keringat, lalu mengedarkan pandangan ke area sekitar bangunan yang masih riuh oleh suara tukang kayu dan semen.

​"Kita bicara di sana saja yuk, Na. Mumpung agak sepi," ajak Bian seraya menunjuk ke arah dua unit mobil mereka yang terparkir sejajar di bawah naungan pohon rindang di tepi area proyek. Di samping mobil mereka, terdapat sebuah bangku taman kayu berukuran panjang yang dipasang sementara oleh pengembang.

​Husna mengangguk pelan, menyelaraskan langkahnya di samping Bian.

​Mereka berdua duduk di bangku kayu panjang itu. Angin pagi berhembus tipis, menggoyahkan dedaunan dan menghadirkan keheningan sejenak di antara mereka. Di hadapan mereka, dua mobil milik mereka berdiri gagah, memantulkan bayangan dua manusia yang telah melewati puluhan tahun suka dan duka bersama.

​Bian berdehem beberapa kali. Jemarinya saling bertautan, memilin ujung kemejanyasebuah gestur gelisah yang sangat dihafal oleh Husna. Binar percaya diri dari pameran bisnis tadi perlahan berganti menjadi raut tegang.

​"Na..." panggil Bian, suaranya mendadak berubah berat dan sarat akan beban.

​"Iya, Mas? Ada apa?" Husna menoleh, menatap suaminya dengan pandangan yang teduh, seolah tak ada prasangka apa pun di dadanya.

​Bian menarik napas panjang, mengumpulkannya di paru-paru sebelum menghembuskannya perlahan. Pria itu menatap lurus ke arah bangunan swalayan barunya, mencoba meminjam keberanian dari simbol kesuksesannya itu.

​"Pernikahan kita sudah berjalan lebih dari dua puluhan tahun, Na," buka Bian pelan. "Kita sudah punya Devan dan Deka yang makin dewasa. Kamu wanita yang sangat baik, mandiri dan... hampir tidak punya cela sebagai seorang istri."

​Husna diam, mendengarkan kalimat pembuka yang begitu klise dari seorang pria yang sedang bersiap membenarkan kesalahannya.

​"Tapi, Na..." Bian menoleh, menatap langsung ke mata Husna. "Kadang dalam perjalanan hidup seorang pria, ada hal-hal di luar kendali yang hadir tanpa direncanakan. Rasa yang tumbuh tanpa bisa ditahan."

​Husna tetap bergeming. Wajahnya bak telaga tenang yang tak terhempas angin.

​"Mas merasa... ada kehampaan yang selama ini tidak Mas sadari," lanjut Bian dengan nada yang makin emosional, terbuai oleh imajinasi romantismenya sendiri. "Sampai akhirnya Mas bertemu dengan seseorang. Dia... seorang wanita yang memberikan Mas rasa dibutuhkan kembali. Rasa cinta yang jujur, yang membuat Mas merasa hidup lagi di usia Mas yang sekarang."

​Bian memegang kedua jemari Husna yang terlipat di atas pangkuannya. Matanya memancarkan kombinasi antara rasa bersalah dan obsesi yang dalam.

​"Mas tahu ini berat buat kamu, Na. Tapi Mas tidak mau bermain di belakangmu secara haram," ujar Bian dengan nada yang diatur sedemikian rupa agar terdengar bijaksana. "Mas ingin meresmikan hubungan ini secara sah. Mas... ingin meminta izin kepadamu untuk menikahi Salma."

​Kalimat itu akhirnya terucap. Mengudara di antara bisingnya suara mesin konstruksi di depan mereka.

​Bian menahan napas, bersiap menghadapi respons yang paling ekstrem dari istrinya tangisan histeris, makian atau lemparan amukan dari wanita yang telah menemaninya dari nol.

​Namun, Husna tidak melakukan semua itu.

​Husna perlahan menarik tangannya dari genggaman Bian dengan gerakan yang sangat halus namun tegas. Ia membetulkan posisi hijab jutaan rupiahnya yang tertiup angin, lalu menegakkan punggungnya. Tidak ada satu tetes pun air mata yang keluar dari sudut matanya. Wajahnya tetap anggun, teduh, dan luar biasa dingin.

​Husna menatap suaminya lurus-lurus, menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan sebuah senyuman yang seketika membuat bulu kuduk Bian meremang.

​"Menikahi Salma, Mas?" tanya Husna halus, seolah sedang mendiskusikan harga bahan bangunan di pasar.

​"I-iya, Na..." jawab Bian gagap, mendadak kehilangan kepercayaan dirinya melihat ketenangan istrinya yang tak biasa. "Mas harap kamu bisa bijaksana memahami perasaan Mas."

​Husna mengangguk pelan, membuang pandangannya sejenak ke arah bangunan swalayan megah di depan mereka, lalu kembali menatap Bian.

​"Aku akan beri izin," ucap Husna singkat.

​Bian terbelalak. Matanya membelalak tak percaya. "Kamu... kamu serius, Na? Kamu tidak marah?"

​"Aku serius, Mas," lanjut Husna dengan suara yang makin tenang dan sarat akan penekanan. "Tapi, sebuah izin dan tahta di dalam rumah tangga ini ada harganya. Dan harga itu mutlak."

​Husna memajukan posisinya, menatap dalam-dalam pria di hadapannya yang baru saja masuk ke dalam perangkap yang ia siapkan.

​"Aku punya syarat," kata Husna. "Dan kalau kamu atau wanita itu menolak satu poin saja dari syarat ini... maka jangan pernah bermimpi kamu bisa melangkah menuju pernikahan itu dengan tenang."

​Bian menelan ludahnya yang terasa pahit. Rasa lega yang sempat mampir di dadanya seketika menguap, berganti dengan rasa waswas yang mendalam menantikan kata-kata berikutnya dari sang Ratu.

1
Naufal hanifah
bagus ceritanya
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍
susi ana
aku geli sama istilah "niat jantan" dr Rafli..... lucu banget 😂
falea sezi
wahh uda end ternyata si bapak durjana
Noey Aprilia
Akhir tragis buat sng pngkhianat....
btw,srius end kk????
mksh crtanya,aku otw crtamu yg lain...💃💃💃
blcak areng: terima kasih Kak
total 1 replies
Muft Smoker
ceritanya seperti biasa ,,
bagus dan banyak pelajaran ny
Muft Smoker
waaah udh tamat kak ,,

yx seburuk-buruk ny kelakuan manusia di saat Dy berpulang tetap harus d lakukan yg terbaik ,,
bian udh menyadari dan menyesali perbuatan ny ,, ,,

terimakasih buat cerita ny kali ini kak ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
semangat dan sukses selalu buat kk ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,,
karya terbaru ny udh msuk list aq ,,
total 2 replies
Muft Smoker
kn emnk udh jdi ibu ny kak 🤭🤭😁😁🫰
T🥀007
lanjut
Nieta Poedjo
kartu hitam = black card
bukan
kartu hitam black card
Nieta Poedjo
katanya berhijab, kok ada kalimat anak rambut?
katanya sdh nikah, kok ada kalimat calon ibu?
Muft Smoker: 👌👌👌👌😁😁😁😁
total 3 replies
Noey Aprilia
Buah ksbaran husna d msa lalu,akhrnya ktmu jg dgn kbhgiaan...
slain syng sm dia,jg syng sm ank2nya....
Noey Aprilia
Mkin meranalh nnti sng mntan...
smntra mntan istri mkin sukses plus nkah lg sm orng brkuasa,dia msh ttp jd gmbel.....😛😛😛
Muft Smoker
semangat truuus kak ,,

lanjuut kak ,,

akhirnya Bu Husna menemukan org yg tepat ,,
semoga bahagia truss keluarga kalian ,,
Muft Smoker
kak sbnrnya yg kk sypa ,, Dita tita atau Devan deka ,,
kn yg menikah dluan pak Rafli ,,
Rahmawati Amma
awalnya ceritanya menarik tapi setelah aku baca sengaja loncat di bagian bab 38an aku udah malas bacanya pada hal aku ingin melihat bian menderita dan husna walaupun janda tapi berkelas dan tambah sukses tak taunya kawin lagi jadi malas baca soalnya bosan yg cerita cerai tapi kawin lagi😔😮‍💨
Rahmawati Amma
maaf thor saya ke luar dari novelmu paling malas klu ceritanya gini awalnya saya emang suka ceritanya tapi melihat babnya saya langsung berhenti ku kira ngak bakalan kawin lagi soalnya anaknya udah pada remaja tak tahunya malahan kawin lagi sama aja mantan suaminya gila s***n## kukira habis cerai dia akan menjadi lebih sukses dan menjadi janda elegan tak taunya gini ceritanya maaf thor aku keluar maaf tidak beri bintang full😔😢🙏
Muft Smoker
laki2 kayak pak Rafli 1 banding 100000000 ,, bnr2 langka ,,
Rahmawati Amma
pembalasan berkelas🤣🤣🤣
Noey Aprilia
D saat yg lain lbh suka pmer hrta dmi pujian,tp mas rafli lbih mmilih k tnah suci dmi niat yg suci jg....salut plus mkin mnghormati dia krna skapnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!