NovelToon NovelToon
Kemelut Ego

Kemelut Ego

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:348
Nilai: 5
Nama Author: Pandutmia

Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teka-teki yang Terungkap

POV F

Sepeninggal Dira dari taman tadi tidak membuatku beranjak untuk mengejarnya. Aku malu, merasa tidak memiliki nyali dan solusi apapun. Bagaimana ia menjalani kehidupannya selama ini? Sedangkan orangtuanya sendiri pun juga tidak tahu keberadaan Dira dimana. Atau, mereka hanya pura-pura tidak tahu di depanku?

Aku teringat sesuatu, kuambil ponsel dan menelepon Dira. Tentu dengan nomor yang berbeda karena nomorku yang biasanya sudah diblokir lebih dulu olehnya. Tersambung beberapa kali namun tidak juga diangkat. Aku tahu Dira pasti sudah waspada dengan nomor-nomor baru yang menghubunginya, sehingga wajar jika dia sulit menerima telepon dariku saat ini.

Setelah beberapa saat akhirnya teleponku terhubung, sesegera mungkin kukatakan aku ingin menemuinya. Namun, tepat seperti dugaan, dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya berkata sudah kembali pulang tanpa memberitahu dimana keberadaannya saat ini. Beruntung, ada suara orang lain di sampingnya yang menyebutkan suatu lokasi.

“Mbak turun Jombang, kan? Ini sudah sampai terminal, lho.” Seru suara seorang perempuan.

Clue pertama terungkap, Jombang. Ya, sepertinya aku tahu dimana Dira saat ini berada. Sekian tahun mengaguminya tentu membuatku tahu siapa saja orang-orang terdekatnya. Aku sudah memiliki bekal untuk melacaknya, namun ternyata teleponku masih terhubung dan hanya terdengar suara berisik yang tak begitu jelas. Sayang jika telepon ini kumatikan, siapa tahu ada petunjuk yang lebih jelas sehingga aku bisa menemui Dira secepatnya.

Berpuluh menit berlalu, aku masih setia dengan ponselku, menanti clue selanjutnya. Hingga kudengar ada suara percakapan yang cukup jauh namun lumayan jelas karena suasana di sekitarnya lebih hening dari sebelumnya.

“Nanti Mbak Raras minta dijemput jam berapa?” dari suaranya seperti suara seorang pria.

“Indah selesai pengajian jam berapa kira-kira, Mas?”

“Biasanya jam setengah delapan mbak, kadang juga lebih.”

“Ya sudah jemput jam 8 aja ya, Mas. Saya tunggu.”

“Siap, Mbak. Saya pulang dulu kalau gitu.”

Percakapan dua orang itu selesai, dan suasana menjadi lebih hening. Aku menekan ponselku lebih kuat ke telinga supaya dapat mendengar lebih jelas. Dan ternyata malah suara Dira yang muncul.

“Halo,” ucap Dira terbata.

“Dira. Ra, apa benar kamu di Jombang? Rumah Indah? Indah teman kos kamu dulu?” Aku sengaja menyerbunya dengan beberapa pertanyaan, takut jika telepon terputus tiba-tiba.

Dan benar, telepon langsung terputus. Dira memilih tak menjawab pertanyaanku dan mematikan ponselnya, mungkin juga setelah ini ia blokir nomorku seperti yang sudah-sudah. Tapi, setidaknya kali ini aku sudah menemukan setitik petunjuk untuk menemuinya, bahkan mungkin ini bisa dikatakan sebagai petunjuk kunci. Jombang dan nama Indah tadi terdengar begitu jelas di indra pendengaranku.

Apa aku mengenal Indah? Tentu saja iya, aku mengenalnya sebagai teman satu kos Jeni dan Dira. Indah termasuk kawan yang paling dekat dengan Dira karena mereka berasal dari satu angkatan dan jurusan yang sama, berbeda dengan Jeni yang berbeda angkatan dan berbeda jurusan.

Terlintas satu nama yang harus kutemui saat ini juga. Dia adalah Irwan, suami Indah. Kami saling mengenal saat sering tak sengaja bertemu di kosan gadis pujaan kami masing-masing. Jika dikatakan akrab, maka tentu saja kami sangat akrab. Irwan seusia denganku sehingga kami sering terlibat obrolan seru. Saat Irwan dan Indah menikah pun aku dan Jeni turut hadir di pesta pernikahan mereka. Begitu pula saat pernikahan Farhan dan Dira, kami tetap bertegur sapa meski hatiku sedang tidak baik-baik saja kala itu.

Sebenarnya aku memiliki kontak telepon Irwan, namun aku memilih untuk langsung saja ke kantornya setelah menunaikan shalat Magrib terlebih dahulu. Semoga Irwan masih berada di tempat itu dan benar-benar mau membantuku.

Letak kantor Irwan berada tak jauh dari kantorku, setidaknya itu yang kuketahui terakhir kali saat kami tak sengaja bertemu 7 bulan lalu, saat kantor polisi tempat Irwan bekerja mengadakan sebar takjil berbuka puasa di jalan raya.

Tepat dugaanku, Irwan masih terlihat bercengkerama dengan kawan-kawannya sesama polisi di depan ruangan yang bertuliskan ruang dokumen. Seakan menyadari kedatanganku, Irwan langsung menghampiriku yang tengah berjalan ke arahnya.

“Fariq, apa kabar?” sambutnya ramah. Kami saling bersalaman.

Kubalas basa-basinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kesibukannya. Tak lama, seakan mengetahui maksudku yang ingin berbincang empat mata, Irwan langsung mengajakku ke sebuah rumah makan di seberang kantornya.

Irwan memesan seporsi nasi rames berlauk rendang daging dan es teh, sedang aku hanya memesan secangkir kopi hitam.

Kami berbincang kembali, dan kuutarakan pula apa yang tengah menjadi kegelisahanku sedari tadi. Awalnya aku sempat ragu apakah harus jujur pada Irwan atau sebaliknya. Namun karena aku tidak ingin menjadi pecundang untuk yang kedua kalinya, maka kuceritakan saja kemelut yang tengah menghampiriku saat ini. Ya, aku menceritakan semuanya, termasuk tentang perbuatanku terhadap Dira.

Diluar dugaan, Irwan mendengarkan penuturanku dengan seksama tanpa ekspresi kesal ataupun marah. Apakah Irwan sudah mengetahui ini sebelumnya? Atau, Irwan hanya tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri? Entahlah, tapi aku bersyukur setidaknya mimik wajah Irwan yang masih tetap tenang menandakan bahwa ia bersedia membantuku.

“Sebenarnya aku sudah tahu masalah ini, Riq.” Ucap Irwan sambil meletakkan gelasnya kembali.

“Indah yang memberitahuku. Malam itu, tidak biasanya ada tamu datang ke rumah, seorang wanita, dalam kondisi kacau dan pucat pula. Aku tahu Dira dan Indah bersahabat, tapi penampilan Dira saat itu benar-benar membuatku penasaran tentang apa yang sedang dia alami. Awalnya Indah bungkam, tapi karena aku bersedia berjanji untuk tidak menceritakan pada siapapun dan tidak bereaksi berlebihan maka Indah pun menjelaskan semuanya. Jujur, seketika aku marah, marah sekali karena aku kira kamu balas dendam pada Dira. Rencanaku waktu itu saat kembali ke Surabaya, aku langsung menemui kamu untuk menyelesaikan masalah itu secepatnya. Tapi Indah melarang, Dira ingin menenangkan diri dulu rupanya, belum siap jika harus banyak orang yang tahu tentang peristiwa malam itu, juga belum siap untuk bertemu kamu.” Terang Irwan. Pantas saat bertemu denganku tadi dia langsung semangat menerima ajakanku untuk berbincang empat mata.

“Jadi, Dira memang sengaja menenangkan diri?” tanyaku terbata.

Rasa bersalahku semakin besar mendengar penuturan Irwan. Kondisi Dira yang pucat malam itu pasti sangat mengkhawatirkan, dan dia nekat pergi seorang diri karena takut denganku. Seandainya aku jadi Irwan, pasti sudah kuhajar pria bernama Fariq malam itu juga. Namun, nyatanya Irwan bukan tipe pria bermental bar-bar, ia sangat memahami keinginan Dira sebagai orang yang paling berhak menentukan hukuman untukku.

“Banyak pertimbangan yang dipikirkan Dira. Dia tidak bisa membayangkan jika kedua mertuanya juga orang tuanya tahu tentang kejadian itu. Lagipula dia juga masih shock, dan masih ingin memutuskan semua dengan kepala dingin, bukan dengan emosi. Makanya dia memilih untuk ke rumah kami,” Irwan menjelaskan posisi Dira saat itu. Sungguh, aku ingin segera bersujud di kaki Dira. Di titik paling rendah saja ia masih tetap memikirkan perasaan orangtuaku. Padahal jika dipikir kembali, ia berada di titik itu akibat perbuatanku.

“Lalu bagaimana kondisi Dira saat ini?” tanyaku. “Apa dia baik-baik saja?” aku memastikan.

“Bukannya kamu bertemu Dira tadi siang? Menurutmu bagaimana keadaannya?” Irwan balik bertanya.

Astaga, aku sampai lupa jika tadi siang aku sempat bertemu Dira. Ya, Dira baik-baik saja secara fisik. Hanya tangannya yang tak henti terkepal saat berbincang denganku. Bisa jadi dia sangat tertekan, bagaimanapun Dira lah yang paling tahu kronologi malam itu karena aku dalam kondisi mabuk.

“Dira bisa ke kota ini berarti dia sudah siap secara mental untuk bertemu kamu ataupun Farhan. Setidaknya itu yang aku dengar dari Indah,” lanjut Irwan.

“Wan, maaf sebelumnya. Apakah aku boleh ikut ke rumahmu malam ini? Aku ingin bertemu Dira, aku belum sempat meminta maaf padanya. Aku benar-benar merasa bersalah, Wan. Karena aku, dia jadi banyak mengorbankan kebahagiaannya. Dia jadi mengasingkan diri, dan...”

“Ia juga bercerai dari dari Farhan.” Aku terkejut mendengar penuturan Irwan barusan. Cerai? Apa benar mereka bercerai? Siapa yang menceraikan siapa?

“Kamu belum tahu berita itu?” tanya Irwan, aku menggeleng.

“Besoknya setelah Dira sampai di rumahku, Farhan menjatuhkan talaknya. Ia beralasan Dira keluar rumah tanpa seijinnya, hal itulah yang membuat Farhan tega menceraikan Dira tanpa mencari tahu penyebab kepergian istrinya dari rumah.” Tutur Irwan. Aku menghela nafas dalam-dalam, lengkap sudah penderitaan Dira. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula. Keinginanku untuk menemuinya di rumah Irwan semakin kuat, aku harus segera menemui wanita itu atau aku harus dihantui rasa bersalah yang tak kunjung usai.

Aku mengusap wajahku kasar. Sejak hari itu aku memang memutuskan untuk tidak lagi pergi ke kantor, aku sudah enggan bertemu adikku dan kekasih barunya. Dan lagi fokusku kala itu memanglah mencari Dira. Berkali-kali aku datang ke Madiun tapi tetap saja keluarganya tidak memberi informasi apapun mengenai Dira. Hingga suatu ketika ibu dan pamannya mengajakku berbicara serius.

Irwan memanggil namaku agak keras, rupanya aku tengah melamun sampai tidak sadar bahwa ia memanggilku berkali-kali. Lamunan tentang pertemuanku dengan keluarga Dira seketika buyar.

“Mumpung belum terlalu larut, gimana kalau kita berangkat sekarang?” ajak Irwan.

Aku menimang kembali tawaran Irwan. Bagaimanapun ini tidak bisa disebut masalah sepele. Jangan sampai kehadiranku malam ini membuat Dira histeris dan membuat orang di sekitar rumah Irwan mengerumuni kami.

“Besok saja, Wan, aku kesana sendiri. Rumah kamu masih di alamat yang dulu kan?” akhirnya kuputuskan berangkat sendiri keesokan harinya.

“Iya masih di tempat yang waktu itu. Jadi benar ini kamu kesana sendiri besok pagi?” Tanyanya lagi.

“Iya aku rasa lebih baik besok pagi saja, Wan. Ini sudah malam, takutnya malah merepotkan kamu sekeluarga dan juga Dira.” Jawabku.

“Baiklah kalau begitu, Riq. Maaf ya aku nggak bisa nemenin kamu lama-lama, takut kemalaman sampai rumah.” Ucap Irwan ramah. Ia bersiap mengemasi barang-barangnya sebelum meninggalkan meja.

“Semoga kali ini kamu berhasil, ya.” Irwan menepuk pundakku saat kami berada di parkiran motorku. Selanjutnya ia pamit dari hadapanku.

Bukan tanpa sebab Irwan berucap demikian. Kami sama-sama pria dan cukup akrab dulu, sehingga ia tahu bagaimana perasaanku terhadap Dira. Ya, Irwan tahu bahwa aku menyukai Dira, bukan Jeni seperti yang disangkakan penghuni kontrakan Dira kala itu.

Kuhirup nafas mendalam, aku harus segera beristirahat malam ini karena besok pagi aku akan berjumpa Dira. Entah bagaimana reaksi Dira, yang pasti keinginanku untuk segera menemuinya semakin kuat. Semoga esok menjadi hari keberuntunganku, mendapatkan maaf Dira juga mendapat restu untuk bisa menghubunginya setiap saat. Semoga. 

 

1
Desi
seru sekali kk
Pandutmia: terima kasih kak, ditunggu update bab selanjutnya ya kak 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!