NovelToon NovelToon
Oh! Mantan Kekasihku

Oh! Mantan Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter
Popularitas:21.7k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.

Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayo Kita Semangat!

Gavin memberikan beberapa perintah kepada Sersan Baim sebelum melangkah menuju barak medis. Begitu pintu barak terbuka, semua tenaga medis, termasuk Dokter Ivan dan Dokter Tyas, langsung berdiri menyambut kedatangan sang komandan kompi.

​Gavin melepaskan topi yang dipakainya lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tatapannya sempat terkunci pada Hazel selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia beralih menatap Dokter Ivan.

​"Selamat pagi, Dokter sekalian," sapa Gavin dengan suara baritonnya yang berat dan serak.

​"Selamat pagi, Kapten. Bagaimana hasil pantauan di lapangan?" tanya Dokter Ivan langsung pada intinya.

​Gavin mengembuskan napas panjang, wajahnya mendadak berubah menjadi sangat serius. "Sayang sekali, jembatannya masih belum bisa dilewati sama sekali. Kondisinya jauh lebih buruk dari perkiraan saya," jawab Gavin.

​Mendengar hal itu, bahu Hazel seketika melemas. "Apakah kerusakannya parah, Kapten?" tanyanya ikut bersuara.

​Gavin menoleh sepenuhnya ke arah Hazel, sorot matanya melunak saat menjawab pertanyaan wanita itu. "Sangat parah, Dok. Debit air sungai memang sudah mulai turun, tapi arus bawahnya masih sangat kuat. Masalah utamanya adalah ada batang pohon besar yang hanyut dari hulu dan menghantam salah satu tiang pancang utama jembatan di sisi seberang, beberapa papan kayu lantainya lepas dan tali baja pengikatnya longgar, jembatannya miring dan bergoyang kalau kenal angin," jawab Gavin.

​Gavin menjeda kalimatnya sejenak lalu menatap para tenaga medis secara bergantian, "Jadi, mau tidak mau, para tenaga medis belum bisa pergi ke desa untuk melakukan pelayanan hari ini. Risiko keselamatannya terlalu tinggi, saya tidak akan mengizinkan satu pun dari kalian bertaruh nyawa di atas jembatan itu," tambahnya.

​"Aduh, sayang banget ya. Padahal warga di sana pasti sudah menunggu pengobatan gratisnya," sahut Suster Nayla dengan nada kecewa.

​"Iya, betul. Tapi keselamatan tim kita juga yang nomor satu, kita tidak boleh egois dan nekat," timpal Dokter Tyas dengan bijak.

​Gavin mengangguk setuju dengan ucapan Dokter Tyas, "Untuk sementara, sudah saya perintahkan tim saya untuk membawa peralatan berat dan material kayu baru ke lokasi. Proses perbaikan minimal memakan waktu dua sampai tiga hari jika cuaca terus cerah seperti ini. Jadi, selama waktu itu, kalian tetap siaga di pos komando saja," ucap Gavin.

​"Siap, Kapten. Kami mengerti," jawab Dokter Ivan mewakili tim medis.

​"Sersan Baim akan mengatur semuanya, kalau butuh sesuatu, langsung sampaikan ke dia," tambah Gavin.

Setelah memberikan instruksi, Gavin memakai kembali topinya. "Kalau begitu, saya permisi dulu untuk membersihkan diri dan kembali ke ruang komando," pamit Gavin.

​Sebelum benar-benar berbalik, Gavin sempat melemparkan seulas senyum tipis yang hampir tak terlihat oleh orang lain, khusus untuk Hazel.

​"Ya sudah, kalau begitu kita maksimalkan saja pelayanan di klinik dalam pos, prajurit yang baru kembali dari medan latihan atau yang kemarin ikut berjaga dan evakuasi pasti banyak yang kelelahan atau butuh vitamin. Suster Kinan, tolong bantu saya rapikan berkas pasien internal," ucap Dokter Ivan.

​"Siap, Dok," sahut Suster Kinan cekatan.

​Hazel kembali memfokuskan dirinya pada tumpukan botol obat di atas meja. Tangannya bergerak menyusun antibiotik, salep kulit dan beberapa suplemen makanan.

Dua hari kemudian...

Dua hari dilewati tim medis di dalam pos komando dengan rutinitas yang jauh lebih santai daripada biasanya. Karena akses ke desa seberang masih terputus total, Hazel dan rekan-rekannya hanya membuka pelayanan di dalam klinik internal pos.

Tugas mereka kali ini didominasi oleh pemeriksaan kesehatan para prajurit yang baru kembali dari medan latihan, menyuntikkan vitamin atau sekadar mengobati luka-luka ringan akibat gesekan semak berduri di hutan perbatasan.

Hubungan Hazel dan Gavin pun semakin membaik. Saat berpapasan, mereka tetap bersikap formal dan menjaga jarak. Di mana mereka cukup dengan saling pandang selama beberapa detik atau seulas senyum tipis yang tersamar, keduanya tahu bahwa mereka sedang berjalan di jalur yang sama dan bersiap untuk berjuang bersama.

Siang harinya, Sersan Baim berjalan tergesa-gesa memasuki barak medis dengan wajah bahagia. "Selamat sore, semuanya!" sapa Sersan Baim bersemangat, dengan melangkah tegap ke arah meja.

​"Selamat sore, Sersan. Ada apa?" tanya Dokter Ivan sambil meletakkan pena yang dipegangnya.

"Jadi begini, Dok. Pengerjaan jembatan gantung oleh anggota dan dibantu warga desa akhirnya selesai satu jam yang lalu. Tali baja penyangga sudah dikencangkan kembali, tiang pancang yang sempat dihantam batang pohon sudah diperkuat dan papan-papan kayu yang hanyut sudah diganti dengan yang baru. Kapten Gavin baru saja memeriksa langsung ke lokasi dan menyatakan jembatan sudah aman serta layak untuk dilalui!" jelas Sersan Baim dengan nada lega yang kentara.

​Mendengar hal itu, Hazel yang sedang menyusun kotak kasa steril langsung menoleh dengan mata berbinar. "Artinya, besok kita sudah bisa menyeberang untuk pelayanan di desa, Sersan?" tanya Hazel memastikan.

​"Iya, Dokter Hazel! Kapten Gavin memerintahkan agar tim medis malam ini melakukan persiapan untuk logistik obat-obatan, karena besok pukul tujuh pagi tepat, kita akan bergerak ke Desa. Rombongan akan dikawal langsung oleh Kapten Gavin dan satu tim patroli," jawab Sersan Baim.

"Syukurlah, terima kasih informasinya, Sersan. Kami akan segera bersiap," kata Dokter Ivan penuh semangat.

​Malam itu, barak medis mendadak sibuk kembali. Nuansanya terasa penuh energi, para tenaga media bahu-membahu mengepak obat-obatan ke dalam kotak-kotak kontainer plastik besar tahan air. Mereka memasukkan parasetamol, antibiotik, obat cacing untuk anak-anak, vitamin, salep kulit, hingga alat-alat pemeriksaan tensi dan gula darah.

​"Wah, akhirnya kita bisa jalan juga ya, Dok. Saya sudah kangen melihat anak-anak," celoteh Suster Kinan sambil merekatkan selotip besar pada tutup kotak obat.

​"Iya, Suster. Dua hari di pos terus rasanya badan malah pegal-pegal," sahut Suster Nayla seraya tertawa kecil.

​Hazel tersenyum manis mendengar obrolan mereka, sembari tangannya lincah mengecek daftar inventaris.

"Selama dua hari ini, aku tiba-tiba banyak bersyukur," ucap Dokter Tyas tiba-tiba.

"Maksud, Dokter?" tanya Suster Rara.

"Saya bisa merasakan fasilitas kesehatan dengan mudah, sedangkan warga disini harus susah payah untuk merasakannya. Padahal fasilitas kesehatan itu hak mereka sebagai warga negara, tapi mereka tidak mendapatkan itu," ucap Dokter Tyas.

"Miris ya, Dok. Kita yang tinggal di kota sering menyia-nyiakan fasilitas yang ada, sedangkan mereka yang disini selalu berharap fasilitas di daerah mereka," ucap Dok Edo.

Hazel tertegun mendengarnya dan kalimat-kalimat itu terasa menghunjam langsung ke lubuk hatinya, ia memandangi botol-botol vitamin di tangannya dengan tatapan sendu.

Selama ini, Hazel terbiasa dengan peralatan medis serba digital yang canggih. Namun di sini, di ujung garis perbatasan negara, sehat atau sakitnya seseorang sering kali harus dipertaruhkan lewat seutas tali baja jembatan gantung dan ramahnya cuaca alam.

​"Dokter Tyas benar," sahut Hazel pelan, membuat semua orang di barak medis menoleh ke arahnya dan Hazel pun memberikan senyum tipis, lalu melanjutkan kegiatannya memasukkan obat ke dalam kotak kontainer.

"Karena itulah alasan kenapa kita ada di sini sekarang," ucap Dokter Ivan.

​"Ayo kita semangat!" seru Suster Kinan.

"Semangat semuanya!" seru Dokter Ivan.

.

.

.

Bersambung.....

1
Indriani Kartini
jangan takut hazel ada babang gavin
Ceethra DeeNa
Lanjutt Kak
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak

Makasiiii Kak Cerita Sorenya
Sri Udaningsih Widjaya
Suka ceritanya kak
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Vie
ya bukanya tujuan mamah nya Hazel nyuruh ikut kesana kan untuk mempertemukan dan menjodohkan Hazel dengan komandan pasukan yang ada di sana... jadi gampang aja kali...
Raisha: jangan² ma²nya hazel memang dah tau kalo yg jadi komandan pasukannya itu Gavin,jadi dia sengaja nyuruh hazel ikut jadi sukarelawan ke sana tp caranya nyuruh yg gak di sukai hazel krn apapun yg hazel mau & impikan pasti gak di setujui oleh ma²nya...dan mungkin juga dah dari pertama mereka pacaran sebenarnya ma²nya dah setuju tp waktu itu mereka kan masih sekolah,jd ma²nya kurang suka kalo mereka pacaran,lom tau masa depan Gavin seperti apa

semoga aja kali ini, hubungan hazel & Gavin benar² di restui oleh Ma²nya hazel🤲😂
total 1 replies
Vie
iiihh jadi baper Gavin.... kamu mau gak jadi sama aku aja.. 🤭🤭🤭
Djuniati 123
lamuaaa kapten 2th...nikah siri sj skrg😁
Win wina
ayo semangat Thor up nya banyak 👍🥰
Indriani Kartini
lanjut thor suka bngt 😍😍😍
Alex
cieeeee
Ceethra DeeNa
Aku Menunggu Kamu Gaviiiiinnnnnnnnjjjjj
Ceethra DeeNa: Aku Menunggumu Gaviinnnnnnn
total 1 replies
gemar baca
suka dengan cerita ringan tapi juga mendebarkan 😂
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Vie
perasaan kamu tuh jatuh mulu dokter .. modus kali ya jatih biar bisa dipeluk2 sama Gavin 🤭🤭🤭
Vie: waduh ketebak ya kak... 😁😁😁😁 sssttt ah sekarang mah aku mau diem aja atuh... 🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Vie
masa seorang suster gelap.... kan harusnya berani... lihat mayat atau darah juga kan diharuskan berani... 🤭🤭🤭
Ceethra DeeNa
Lanjuttt Up Kak
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk

Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
elaretaa: Terima kasih Kak🥰🥰
total 1 replies
Djuniati 123
ciye ciyeee
Ceethra DeeNa
Lanjutttt Kak
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak
erviana erastus
karena gavin dulu dianggap berandalan .... gimana emkax hazel kalo tau Gavin yg skrng?
elaretaa: Gimana ya??? Gimana kalau author yg nggak merestui mereka🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sudah semua
elaretaa: Terima kasih Kak🥰🥰🥰
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasarrrr.. si halo dek!
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
cemburu bilang vin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!