Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Dengan Pria Bule
Pikiran Anjani masih berkecamuk dengan angka, pasal-pasal hukum yang rumit, dan bayangan wajah Malik yang sinis. Langkah kakinya menyusuri trotoar Jakarta yang sibuk, namun dunianya sendiri terasa sepi dan jauh. Ia baru saja keluar dari sebuah kantor notaris setelah mengonsultasikan langkah hukumnya. Pikirannya melayang pada bagaimana caranya membuktikan transaksi fiktif di perusahaan Malik yang selama ini ia catat secara diam-diam.
"Harus ada celah," gumamnya pelan, matanya menatap kosong ke arah lampu lalu lintas yang masih berwarna merah.
Anjani melangkah maju saat lampu berubah menjadi hijau, namun pikirannya tertinggal di belakang. Ia bahkan tidak mendengar suara deru mesin mobil yang melaju kencang dari arah samping, seolah sang pengemudi tidak sabar menunggu giliran.
Ciiiitttt!
Suara gesekan ban mobil di atas aspal yang tajam memekakkan telinga. Anjani terpaku di tengah jalan, kakinya seolah membeku. Jantungnya berhenti berdetak saat ia melihat sebuah sedan hitam mengkilap berhenti tepat beberapa sentimeter di depannya. Angin dari laju mobil itu bahkan sempat mengibaskan helai rambutnya.
Sebelum Anjani sempat mengeluarkan suara atau bahkan sekadar bernapas, pintu sisi penumpang terbuka lebar. Seorang pria melangkah keluar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
"Are you insane?!" suara bariton yang berat namun terdengar cemas itu menggelegar di tengah bisingnya klakson kendaraan.
Anjani mendongak. Di hadapannya kini berdiri seorang pria yang tampak seperti lukisan yang hidup. Rambut cokelatnya tersisir rapi namun sedikit berantakan karena angin, bingkai wajahnya tegas dengan rahang yang kokoh. Namun, yang paling membuat Anjani tertegun adalah sepasang mata birunya—biru yang dalam dan jernih seperti lautan musim panas di Eropa, yang kini menatapnya dengan campuran antara kekesalan dan kekhawatiran yang mendalam.
Pria itu adalah Oliver Jones. Ia mengenakan setelan jas tailor-made yang tampak sempurna melekat di tubuh atletisnya. Kulitnya yang putih pucat khas pria Eropa tampak kontras dengan teriknya matahari Jakarta siang itu.
Anjani terdiam, masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang sempat melayang. "Aku... aku minta maaf. Aku tidak melihat..."
****
Oliver menghela napas panjang, merapikan sedikit kerah jasnya. Tatapannya yang tajam melembut saat ia menyadari bahwa wanita di depannya tampak jauh lebih rapuh dari yang ia kira. Wajah Anjani yang pucat, mata yang sembap, dan sorot matanya yang kosong membuat Oliver menarik kesimpulan bahwa wanita ini sedang mengalami hari yang sangat buruk.
"Kau bisa saja mati di sana, Nona," ujar Oliver, kali ini nadanya lebih tenang meski masih terdengar dingin. "Apa pun masalahmu, itu tidak sebanding dengan nyawamu."
Anjani menatap mata biru itu dengan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di dadanya. Seolah-olah, di tengah dunianya yang sedang runtuh, takdir baru saja mengirimkan sebuah anomali yang tak terduga. "Terima kasih," ucap Anjani lirih. Ia mencoba melangkah, namun kakinya terasa lemas. Ia pun limbung.
Dengan sigap, tangan Oliver terulur, menangkap lengan Anjani sebelum tubuh wanita itu menghantam aspal. Sentuhan hangat tangan Oliver di lengannya membuat Anjani tersentak, namun ia tidak memiliki tenaga untuk menepisnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Oliver. Tanpa menunggu jawaban, ia memapah Anjani masuk ke dalam mobil mewahnya.
Di dalam mobil yang sejuk dan beraroma kayu cendana itu, Anjani akhirnya bisa bernapas. Ia menatap ke luar jendela, membiarkan air mata yang tertahan sejak tadi jatuh tanpa izin. Ia merasa begitu hina, begitu rendah di mata dunia, sampai-sampai ia hampir kehilangan nyawanya di jalanan hanya karena lamunan tentang kehancurannya sendiri.
****
Oliver Jones, yang duduk di kursi pengemudi, tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia memperhatikan wanita di sampingnya yang sedang berusaha menyembunyikan tangisnya. Oliver bukanlah pria yang suka mencampuri urusan orang asing, namun ada sesuatu dalam sorot mata Anjani yang membuatnya merasa harus melakukan sesuatu.
"Namaku Oliver," ucapnya memecah kesunyian. "Dan aku baru saja pindah ke sini untuk membangun Jones Group. Aku tidak terbiasa melihat orang yang kuselamatkan dari kecelakaan justru menangis lebih keras daripada saat mereka hampir tertabrak."
Anjani tertawa sinis di tengah isakannya. "Mungkin karena mati terasa lebih mudah daripada menjalani apa yang harus aku jalani setelah ini."
Oliver menoleh, menatap Anjani dengan tatapan intens. "Masalah hukum atau masalah hati?"
Pertanyaan itu terasa sangat pribadi, namun entah mengapa Anjani merasa nyaman untuk jujur. "Keduanya. Dan juga pengkhianatan."
Oliver mengangguk pelan, seolah mengerti dunia tempat Anjani berpijak. Ia adalah seorang CEO, ia terbiasa dengan pengkhianatan di ruang rapat. "Dunia bisnis adalah tempat yang kejam, Nona. Jika kau disakiti, jangan menangis. Balaslah dengan sukses yang lebih besar. Itu adalah satu-satunya cara untuk membungkam mereka yang meremehkanmu."
Anjani menoleh ke arah Oliver. Tatapan pria itu tajam dan penuh keyakinan. "Bagaimana jika lawanmu adalah seseorang yang memiliki segalanya, sementara kau hanya memiliki abu dari sisa hidupmu?"
****
Oliver tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia perlihatkan. "Kau tidak tahu siapa aku, bukan? Jones Group tidak akan ada di sini jika aku tidak terbiasa menghadapi orang-orang yang merasa diri mereka memiliki segalanya. Mari kita katakan, aku punya ketertarikan pada orang-orang yang memiliki potensi tersembunyi."
Oliver menyalakan mesin mobil. "Di mana kau harus pergi? Aku akan mengantarmu."
Anjani ragu sejenak, namun ia mengangguk. "Ke kantor pengacara di blok sebelah."
Selama perjalanan singkat itu, tidak ada banyak percakapan. Namun bagi Anjani, kehadiran Oliver di sampingnya memberikan perasaan aman yang sudah lama hilang. Ia tidak tahu siapa pria ini sebenarnya—selain seorang bule tampan dengan ambisi yang besar—namun sesuatu dalam intuisinya mengatakan bahwa pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Saat mobil berhenti di depan gedung pengacara, Anjani bersiap untuk turun. Namun, Oliver menyerahkan sebuah kartu nama berwarna perak dengan logo minimalis Jones Group.
"Jika kau butuh bantuan profesional untuk... urusan yang lebih besar dari sekadar hukum," kata Oliver dengan nada yang misterius. "Hubungi aku. Mungkin kita bisa saling membantu."
Anjani menerima kartu nama itu. Jemarinya bersentuhan dengan jari Oliver, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "Terima kasih, Tuan Oliver. Aku akan mengingatnya."
****
Anjani keluar dari mobil, melangkah menjauh. Ia berbalik sekali untuk melihat mobil mewah itu melaju pergi, membelah hiruk pikuk Jakarta. Di tangannya, kartu nama itu terasa berat, seolah membawa harapan baru yang belum ia mengerti.
Di dalam mobil, Oliver menatap kepergian Anjani melalui spion tengah. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi asistennya. "Cari tahu segalanya tentang wanita barusan. Dia tampak seperti pion yang sangat menarik dalam permainan yang sedang kumainkan di kota ini."
Pertemuan di jalanan itu bukanlah sebuah ketidaksengajaan. Bagi Oliver, itu adalah peluang. Dan bagi Anjani, itu adalah pintu keluar dari neraka yang dibuat oleh Malik dan ibunya.
Malam itu, Anjani menatap kartu nama di atas mejanya. Ia tahu ia tidak bisa terus-terusan bersembunyi di rumah orang tuanya yang sempit. Ia harus membuat langkah besar. Dan mungkin, pria bermata biru yang muncul seperti pangeran di tengah kekacauan itu adalah kunci yang ia butuhkan.
Namun, ia tidak sadar bahwa di balik tawaran bantuan itu, Oliver Jones mungkin memiliki agenda yang jauh lebih kompleks. Sebuah kerja sama yang bisa membawa Anjani ke puncak kejayaan, namun juga bisa menenggelamkannya ke dalam bahaya yang lebih besar lagi.