TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toxic and Control* *BAB 8: Sisi Sempurna yang Tertolak
*Toxic and Control*
*BAB 8: Sisi Sempurna yang Tertolak*
Malam hari di apartemen mewah milik Rama, pencahayaan temaram dari lampu gantung bergaya industrial tidak mampu meredakan atmosfer pekat yang dibawa oleh Rian Pradifta.
Di atas sofa kulit berukuran besar, Rama dan Rangga sedang asyik menatap layar televisi besar, jemari mereka bergerak lincah menekan tombol stick game konsol yang sedang menampilkan pertandingan balap mobil yang sengit.
Namun, Rian sama sekali tidak menyentuh permainan itu. Cowok itu duduk bersandar dengan satu kaki bertumpu di atas lutut lainnya, menatap kosong ke arah langit-langit apartemen yang tinggi. Pikirannya masih tertahan pada kejadian di perpustakaan tadi siang. Kalimat penolakan mentah-mentah dari Kinara Jose terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang enggan berhenti.
Rian memikirkan alasan kenapa Kinara menolaknya. Apa yang sebenarnya kurang dalam dirinya?
Tampan? Iya, wajahnya memiliki pahatan rahang yang tegas dengan hidung mancung sempurna. Kaya? Jelas, dia adalah pewaris tunggal yayasan sekolah dan gurita bisnis Pradifta Group. Populer? Satu sekolah memujanya. Berkuasa? Tidak ada yang berani membantah satu pun perintahnya di Garuda Nusantara. Tinggi? Dengan tinggi badan mencapai 188 sentimeter, dia memiliki postur tubuh yang sangat ideal. Badan sehat dan atletis? Rian melirik sekilas ke arah cermin besar di sudut ruangan, bayangan dirinya yang hanya mengenakan kaus kutang hitam memperlihatkan otot-otot perut yang tersusun rapi dan bidang dada yang kokoh berkat latihan fisik yang keras.
"Kira-kira apa yang kurang dariku?" tanya Rian tiba-tiba, memutus keheningan dengan suara baritonnya yang berat.
Rama dan Rangga spontan menghentikan permainan mereka. Pertanyaan tak biasa itu membuat keduanya menoleh serentak.
"Rian, aku dengar tadi siang kamu nembak anak kelas dua di perpustakaan tapi ditolak?" ucap Rama berusaha menahan tawa yang nyaris meledak dari sudut bibirnya. "Siapa perempuan yang berani menolak pesona dari Tuan Muda Pradifta?"
Rangga yang duduk di sebelah Rama langsung menyenggol lengan temannya itu. Dia mencondongkan tubuh, lalu berbisik di telinga Rama, namun volume suaranya sengaja dibuat cukup keras agar bisa didengar oleh Rian. "Aku dengar siswi yang berkacamata tebal, yang waktu itu datang ke basecamp dan membuat keributan."
"Gadis jelek yang waktu itu menampar wajah Rian?!" suara Rama pecah seketika. Tawa yang sejak tadi dia tahan kini lolos begitu saja hingga membuat konsentrasinya buyar. Rama menoleh sepenuhnya ke arah Rian dengan mata membelalak tidak percaya. "Demi apa, Yan? Kamu beneran ditolak sama si cupu itu? Di depan umum?!"
Rangga ikut menggelengkan kepalanya sembari menaruh stick game ke atas meja. "Apa kamu benar-benar tertarik secara romantis pada gadis itu? Sampai membuang Silla yang baru dua bulan kamu pacari?"
Rian terdiam sejenak, seolah sedang menimbang-nimbang jawaban yang tepat di dalam kepalanya. Tatapan mata elangnya tampak dingin dan datar.
"Aku rasa tidak," jawab Rian perlahan. Sebuah senyuman miring yang sarat akan arogansi terukir di wajah tampannya. "Aku hanya penasaran dan tidak suka penolakan. Semakin dia menolak, semakin aku menginginkannya. Akan kupastikan dia merangkak untuk menghangatkan ranjangku."
Rama mendengus geli mendengar penuturan sahabatnya yang terkenal gila kontrol itu. "Seleramu aneh, Yan. Kalau aku... aku mau pelayan cantik di Aston Club itu yang menghangatkan ranjangku."
Saut Rama dengan binar mata bergairah saat membayangkan sosok pelayan seksi bergaun beludru hitam yang mereka temui semalam. Baik Rama maupun Rangga, keduanya sama sekali belum tahu bahwa Kinara Jose si murid cupu di sekolah dan Nara sang pelayan cantik di Aston Club adalah orang yang sama.
_Sret!_
"Jangan macam-macam dengan pelayan itu!" ancam Rian tiba-tiba.
Dengan gerakan secepat kilat, Rian sudah berpindah tempat dan langsung meraih kerah kaus Rama dengan cengkeraman yang teramat kuat. Sepasang mata elang Rian berkilat penuh amarah yang pekat, memancarkan aura protektif yang begitu agresif hingga membuat Rama membeku di tempatnya.
Rama melongo bingung, menatap tangan Rian yang mencengkeram erat leher bajunya sebelum beralih menatap wajah Rian yang mendadak mengeras. "Rian, lepas. Kamu kenapa, sih?" tanya Rama tak mengerti. "Bukannya kamu sedang mengejar murid cupu di sekolah? Apa kamu mau mengincar pelayan di Aston Club juga?"
Rian tidak melepaskan cengkeramannya seketika. Dia menatap tajam langsung ke manik mata Rama, memberikan penekanan mutlak yang tidak menerima bantahan apa pun.
"Pokoknya jangan sentuh keduanya," desis Rian dengan suara rendah yang sarat akan ancaman berbahaya.
Rian melepaskan kerah baju Rama dengan sentakan kasar, membuat sahabatnya itu terdorong sedikit ke belakang. Cowok gila kontrol itu kemudian meraba saku celananya, mengambil ponsel yang berisi dokumen digital kiriman bawahannya tadi siang. Di layar itu, tertera daftar murid laki-laki sekolah yang berani mendekati Kinara.
"Dia bilang... dia sudah punya orang yang dia suka," lanjut Rian dingin, mengalihkan pembicaraan kembali ke urusan Kinara. "Dan aku benci berbagi."
Rian menyambar jaket bomber hitamnya yang tersampir di sandaran sofa. Sisi dominan dan posesif dalam dirinya sudah tidak bisa ditahan lagi. Rian melirik Rama dan Rangga yang kini merapikan pakaian mereka dengan raut wajah serius. "Rama, hubungi anak-anak geng futsal kelas sebelas. Rangga, cari tahu jadwal latihan klub debat besok pagi. Kita bersihkan kerikil-kerikil tidak berguna ini dari Garuda Nusantara."
Sementara itu, di belahan tempat lain yang dipenuhi gemerlap lampu malam, atmosfer kontras sedang melingkupi Aston Club. Musik remix bertempo cepat berdentum keras, menggetarkan lantai dansa yang dipadati manusia.
Di antara hiruk-pikuk itu, Kinara sedang bekerja seperti biasa. Malam ini dia tidak mengenakan gaun beludru hitamnya lagi. Sebagai gantinya, dia memakai seragam baru berupa setelan jumpsuit satin berwarna hijau zamrud dengan potongan kerah tinggi yang elegan. Rambut palsunya pun diganti dengan model bob pendek berwarna hitam legam berponi rata, membingkai wajahnya yang dipoles riasan tajam bertema smokey eyes. Penampilan baru ini membuatnya terlihat seperti wanita karier yang dewasa, sangat jauh berbeda dari citra Kinara si anak beasiswa.
Tempat ini memang bukan tempat yang aman untuk gadis seusianya, tetapi semua ini terpaksa dia lakukan demi ibu yang terbaring sakit di rumah sakit. Hanya di kelab malam mewah inilah dia bisa mendapatkan upah besar dalam waktu singkat untuk membiayai pengobatan medis yang mahal.
Walaupun bekerja di tempat hiburan malam, Kinara tidak pernah sekali pun tergoda untuk mencicipi minuman keras yang aromanya pekat menyengat di setiap sudut ruangan. Prinsipnya sangat kokoh. Tugas dia di tempat ini hanya mengantarkan pesanan minuman ke meja-meja pelanggan, bukan menjual diri. Dia selalu menundukkan kepala dan menjaga jarak profesional dengan setiap tamu yang dia layani.
Meski begitu, lingkungan yang liar membuat Kinara tidak luput dari bahaya. Malam ini saja, sudah beberapa pelanggan mabuk yang mencoba menggodanya, mengedipkan mata, bahkan menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk mengajaknya melakukan hal yang tidak-tidak di ruang privat.
"Hei, Cantik. Temani aku minum malam ini, nanti kutambah tips dua kali lipat," goda seorang pria paruh baya bertubuh tambun sembari mencoba meraih pergelangan tangan Kinara.
Kinara dengan gerakan taktis langsung menarik tangannya mundur, memasang wajah datar yang dingin. "Maaf, Tuan. Tugas saya hanya mengantarkan pesanan Anda. Permisi," tolak Kinara tegas dan tanpa ragu.
Pria mabuk itu sempat meradang dan hendak berdiri untuk menarik paksa pakaian Kinara, namun langkahnya langsung terhenti kaku. Dua orang penjaga berbadan besar dan kekar dengan pakaian serba hitam mendadak sudah berdiri tegap di belakang Kinara, memberikan tatapan mengintimidasi yang sangat dingin.
Di Aston Club, para pelanggan tidak bisa memaksa atau berbuat semena-mena karena sistem pengamanan untuk karyawan di sini tergolong cukup bagus dan ketat. Manajemen sangat menjaga keselamatan para pekerja wanita dari pelecehan. Kalau ada tamu yang nekat berbuat keributan atau melanggar batas, mereka tidak akan segan-segan langsung diseret keluar dari kelab oleh para penjaga berbadan besar itu tanpa memandang status sosial mereka.
Kinara menghela napas lega di balik riasan tebalnya setelah pria mabuk itu mengurungkan niat dan kembali duduk dengan dongkol. Dia berbalik menuju meja bar untuk mengambil pesanan selanjutnya. Berhasil lolos dari gangguan tamu kelab malam ini membuatnya sedikit tenang, namun kepalanya kembali berdenyut nyeri saat teringat ancaman Rian di perpustakaan tadi siang.
Kinara tahu, ancaman Rian jauh lebih berbahaya dan manipulatif daripada sekadar pria mabuk di kelab ini. Dan besok pagi di sekolah, permainan gila dari sang tuan muda penguasa sekolah akan benar-benar dimulai.
--
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk