Bermula dari benang kusut hubungan sang sahabat, seorang mahasiswi cantik nan manja yang merupakan calon guru itu justru terlibat cekcok dan saling sumpah serapah dengan kekasih sahabatnya yang sekaligus seorang perwira militer negri.
Alih-alih menjauh, kejadian tak mengenakan itu justru menjadi awal dari serentetan pertemuan yang menyatukan mereka pada sebuah takdir untuk saling mencinta di tengah rollercoaster nya perjalanan karir keduanya.
Siapa sangka justru pertemuannya dengan Panji membawa Ivy selangkah lebih dekat dengan cita-citanya yang sebenarnya....
Apakah ia akan membersamai Panji, mengukir lembayung di batas timur, ataukah mengejar mimpinya menjadi seorang model sukses di negri Paris?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Cewek sombong
Dan saat semua sudah bersiap bubar jalan dari posisi, Ivy merasa bagian cantelan tasnya dicekal seseorang dari belakang, sebab langkahnya itu tertahan oleh tas di punggung.
Ia menelan salivanya sulit, menoleh ke belakang dan nyatanya wajah tengil Panji sedang menatapnya, "sombong." Ia melepas cekalannya dari tas Ivy.
"Kamu tau, orang sombong cepat matinya." Panji memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana samping, lalu mengayunkan satu langkahnya mendekat seraya mencondongkan wajah, "kenapa wa saya ngga kamu jawab? Nomor saya kamu blokir? Hm?" tanya Panji mencecar, seperti seorang guru yang tengah memarahi anak didiknya saat ketauan mangkir ke kantin diantara jam pelajaran.
Sepasang netra yang pernah Ivy puji itu menatapnya lekat-lekat, tidak seperti sebelumnya yang sarat akan ancaman, kini ia lebih---friendly.
Wajah tegas itu masih terbingkai baret kebanggaan yang membuat kharisma seorang Teuku Pandjie Ikram tumpah-tumpah. Ivy menghela nafasnya, menegakan badan dan memberanikan dirinya membalas sang Panji, dengan tatapan ciri khas Pravita yang judes nan angkuh.
"Lo ngga perlu repot-repot buat menuhin janji salon itu. Ngga apa-apa...dengan kita ngga punya urusan lagi, itu udah cukup buat gue. Lagipula urusan Lo sama gue udah selesai sore itu kan? So, ngga ada alasan buat gue simpan nomor Lo."
Ivy, si gadis sombong ini berbalik bersiap bergabung dengan yang lain...Pandjie mendengus sumbang, menggelengkan kepalanya merasa jika gadis angkuh itu telah mencolek harga dirinya, membuatnya sedikit merasa---kesal. Yang benar saja! Di tolak dan dilepeh anak bau kencur begini? Lihat saja!
Bapak bupati sudah pamit undur diri, sementara untuk acara siang menuju sore, penyambutan sekaligus pemaparan proker anak-anak KKN di desa bersama warga, akan diwakilkan oleh pak Petrus.
Raudhah memanggil, "Vy! Ivy! Temenin Briel ngambil logistik!" sementara dirinya dan Arsa tengah mengobrol dengan pak Petrus dan komandan batalyon saat salah seorang personel unit lanal menghampiri untuk memasok kebutuhan para mahasiswa KKN selama di kota seribu sunset ini.
"Ah iya!" Ivy menatap Panji untuk yang terakhir lalu membetulkan tas di pundaknya sebelum akhirnya mengambil iPad dan menyusul Gabriel.
*Ha*! Panji mendengus berkacak pinggang, beraninya! Tak bisa jadi!
Ia berjalan menghampiri kapten Samudra yang kemudian mencalonkan diri untuk ikut mengantar logistik dan mahasiswa KKN ke desa Tanjung komodo.
Ivy berjalan lebih dalam bersama Gabriel dan danru unit cadangan yang kemudian disusul oleh timnya, "ada catatan keperluan kalian selama disini?" tanya nya lantas Ivy menyerahkan catatan tangan rapinya yang telah disusun oleh dirinya, Gabriel, dan Raudhah.
Melewati beberapa koridor dengan ruang-ruang kantor, lebih dalam melewati lapang, gedung berbeda dimana mess, pusat olahraga atau latihan tempur, gudang amunisi dan sebagian alutsista, sementara jauh disana dari pandangannya ada tempat ibadah dan fasilitas hidup lengkap, seketika jiwa dengkinya mencebik, "kenapa tidak membuat basecamp disini aja sih?!"
Lalu langkah mereka berbelok ke satu bangunan dimana lapang berpaving blok dengan beberapa pot tanaman berjejer, pemancar sinyal, mobil jeep terparkir, dan area kosong yang diisi oleh sistem hidroponik.
"Tunggu disini," ia mengangkat lembaran kertas lalu masuk.
Ivy mengeluarkan kipas kecil dari dalam tasnya, "gerah banget sumpah..." mengarahkan kipas ke arah wajah yang sedikit memerah.
"Lah anjirr, enakan disini kali. Kenapa kita ngga bikin basecamp disini aja sih. Toh kalo mau proker langsung cabut ke lokasi. Repot banget susah air susah fasilitas." Sependapat dengannya, Gabriel berucap hal yang ada di otak Ivy, "setuju sih."
Lalu Nanda yang berbicara, "tanyakan pada rumput yang bergoyang..."
Imel ikut tertawa bersama Gege, "sumpah ya. Gue mau lama lamain disini tau ngga, gue takut balik ke basecamp lah, semalem denger ngga sih suara klotak klotak di samping rumah. Ada desisan. Gue takut banget!"
Ivy mengangguk cepat, "sama. gue pikir Bumi lagi sariawan!"
Wahahahaha!
Namun derap langkah beberapa orang ikut menghampiri menyusul mereka.
"Enak aja. Gue tidur ngga inget apapun." Cebik Bumi.
"Ya ampun, jangan tidur terlalu lelap ngga sih, tau-tau besok Lo udah ada di perut komodo..." Ivy mendorong bahu Bumi.
"Wah, bener tuh! Komodo sering turun ke pemukiman. Hati-hati..." suara itu, Ivy menoleh.
"Aslinya pak?" Gege membulatkan matanya menanggapi ucapan Panji yang datang bersama Bara untuk membantu mengangkut barang.
Bara yang sekarang mengangguk, "sekali waktu, tapi ngga usah takut. Kunci aja pintu. Sebisanya tutup akses, jangan ada jalan buat masuk kadal besar itu, selalu waspada, sedia sesuatu yang berbau menyengat, misal kapur barus...nanti kita kasih tau juga cara buat menghindari."
Tapi Panji justru menggeleng sesekali ia menatap Ivy yang masih berwajah sengak padanya, "hati-hati komodo suka sembunyi diantara tumpukan daun, sampah, bersihkan sisa makanan, dia suka tempat-tempat begitu, apalagi kalo yang nyampah, sombong ngga ketulungan..." Panji membuat gerakan menggertak Ivy yang langsung berdesis, "iishhh!"
Gege justru tertawa, "ah si bapak bisa aja. Lucu---lucu..."
Sementara Ivy semakin mendelik sebal menatap Panji yang telah melipat baretnya dan menyelipkan di pundak seragam.
Barang-barang seperti kantung tidur, obat-obatan, peralatan keamanan dasar, dan peralatan survival, beberapa box ransum mereka dapatkan.
Bumi meneliti ransum makanan dengan berbagai rasa, tapi ada yang membuatnya heran, "Vy."
"Hm..." Ivy menceklis beberapa perlengkapan yang sudah masuk dan dipisahkan Gabriel, "Vy, sleeping bag 10."
Bumi celingukan pada Ivy dan Gabriel, "Gab, ini ngapa ransum kagak ada yang rasanya nendang, sedikasihnya apa request?"
Beberapa personel tentara termasuk Panji dan Bara serta Kelana yang membantu memasukan barang ke dalam Reo ikut menoleh.
"Gue request, sengaja. Kenapa? Ngga suka? Ngga usah makan." Sengak Ivy tanpa melihat Bumi.
Arsa tertawa melihat wajah tak terima sekaligus menyedihkan Bumi.
"Ah elah, yang pedes dong Vy, barang sebiji dua biji..."
"Mau tanggung jawab kalo sampe nanti Lo men cret-men cret? Ih sudii! Pengen pedes? Makan sambil gue omelin, mau?!" jawab Ivy.
Bumi memasang tampang masam, "lah, gue juga yang ngangkutin airnya, apa kabar sama air gue yang Lo pake creambath an?"
Bukan hanya Ivy, kini Gege yang sudah memasang sejumlah jepit di rambutnya agar tak lengket karena keringat sudah menimpali merasa tersindir juga, "ya elah, masih dibahas air setengah ember...gue ganti Bum, gue ganti ntar udah sampe ibukota, jangankan setengah ember, gue kirim satu mobil tanki!"
"Lah, disini air udah kaya emas Ge....lebih berharga dari apapun. Iyalah gue ngenes, jauh loh Vy, gue bawa 2,5 km tangan ampe merah, nahan puup... cuma buat rambut Lo doang ya ampun Vy....pake tanah kali cuci tuh rambut."
Dan perdebatan mereka ini justru jadi hiburan untuk mereka sendiri.
"Wah, kebagian susah air ya?" itu Kelana yang bicara diangguki mereka terkecuali Ivy yang merotasi bola matanya.
"Iya om." Jawab Raudhah, "lebih tepatnya sih jauh."
"Ntar nih duo manjalita suruh angkat air sendiri biar ngerasain susahnya abang angkut air..." sewot Bumi menepuk dadanya jumawa.
Gege sudah membuat gestur muntah, "wekkk abang konon." Sementara Ivy menghela nafasnya, sedang tak ingin berdebat lebih jauh, "iya abang....makasih ya atas kerja kerasnya bawain gue air buat creambath, besok-besok gue mandi langsung di penampungan biar abang earth ngga kesusahan."
"Hahaha anjirr abang earth."
Lalu selesai sudah pendataan barang dan mereka bersiap kembali, dimana satu persatu mahasiswa naik ke atas Reo.
Dan bagian Ivy serta Gege kembali memancing tawa karena mereka yang kesusahan naik.
"Buruan Vy, naik..." Nanda mengulurkan tangannya setelah Gege berhasil naik, tapi Ivy masih sedikit kesulitan untuk mencari pijakan, "haduhhh repot ah!"
Panji dengan inisiatifnya, yang entah datang dari mana si ide jahil itu tiba-tiba mengangkat badan Ivy untuk naik ke atas truk membuat Ivy terkesiap hampir berteriak, "eh!"
"Minta tolong, kata ajaib...yang merupakan fondasi etika komunikasi. Kalo ngga bisa ngga usah maksain, minta tolong bukan sesuatu hal yang bikin hina..." Gerakan kilat dan terlihat seperti mudah itu berhasil membuat Ivy naik ke atas lalu Panji, dengan gerakan sedikit melompatnya naik dengan mudah.
Panji menyeringai, sebab....Ivy terlihat tak berkutik saat di depan teman-temannya itu berbeda dengan Ivy yang akan galak jika hanya berdua.
Sadar dengan wajah yang terlihat syok sekaligus keruh Ivy, Panji justru berbisik lirih, "sama-sama."
Dan gerakan mengejutkan lainnya adalah, ketika truk reo yang baru saja ditumpanginya menyala dan mundur membuat badannya berguncang dan terdorong ke arah Panji yang ada di sebelahnya, benar-benar membuat Ivy semakin syok karena jaraknya yang seperti tiba-tiba nyosor ke arah wajah Panji.
Bahkan seruan yang lain turut menjadi latar suasana di dalam Reo. Berbeda dengan yang lain, dimana mereka sudah tertawa dan bercanda, suara Gege yang merengek, Arsa dan Bumi serta Gabriel yang cerewet bicara, Ivy justru merasakan kembali suasana aneh, hanya ada dirinya Panji dan keheningan yang perlahan menyergap.
.
.
.
.
sampe bawah, bang Nji g nongol 😢
alibi aja nyari sarapan, jauh bener lu nyari sarapan doank, sarapan mata ya nji 🤣🤣🤣🤣🤣
gua berdoa semoga para koruptor dan di hukum mati