Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi dari rumah suami
Aza segera berbalik, menyambar tas miliknya untuk naik ke atas, mengemasi semua barangnya untuk hengkang dari rumah ini. Ramdan yang belum siap kehilangan Aza sontak mengejar dari belakang, menepis kasar pegangan Mia dari lengannya, membuat wanita itu berdecak kesal.
"Aza tunggu, Aza!" seru Ramdan panik, berlari menaiki tangga.
Namun Aza sama sekali tak menoleh, ia terus berlari masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu dari dalam. Ramdan menggedor pintu kuat, berharap Aza mau mendengarkan penjelasannya. Namun sampai tangannya sakit mengetuk pintu terus menerus pun, Aza tidak ada tanda-tanda akan membuka pintu.
"Aza tolong dengarkan aku, Aza! Aku tidak akan menceraikan mu! Kamu tetap istriku Aza! Aku akan berlaku adil pada kalian berdua!" seru Ramdan dari luar.
Mendengar itu Aza semakin naik pitam. Padahal dia sudah menghamili wanita lain, tapi apa ini? Dia tidak ingin melepaskannya? Si bangsat tengik sialan itu?
Karena kesal Ramdan terus-terusan menggedor, Aza ambil vas bunga di samping nakas yang kira-kira seukuran genggaman tangannya, lalu melempar kuat ke arah pintu hingga pecah berhamburan. Mengejutkan Ramdan yang menempelkan daun telinganya pada pintu.
"Awss sial, sakit sekali telingaku." desis pria itu, "Aza mas gaakan menyerah Aza! Tolong dengarkan mas! Mas mohon jangan tinggalkan mas! Ini semua juga bukan keinginan mas Aza! Tolong buka pintunya dulu!"
Namun Aza sama sekali tak mendengarkannya, ia terus memasukkan baju-baju dan barang miliknya dengan kesal ke dalam koper.
"Aku tidak akan mendengarkan omonganmu, mas! Kita akan tetap bercerai!"
Makin kelabakan Ramdan disitu.
Kenapa jadi seperti ini?! Bukankah Aza sangat mencintaiku? Kenapa sekarang dia justru ingin berpisah denganku?! Arghhhh!! Aku tidak bisa menerima ini!
Tubuh Ramdan terjerembab ke belakang saat pintu tiba-tiba ditendang dengan kuat dari dalam. Ramdan yang melihat Aza keluar dengan menenteng koper itu langsung panik, berdiri cepat dari duduknya. Menahan tangan Aza yang hendak pergi dari sana.
"Aku mohon, Za jangan pergi! Kita selesaikan ini dengan kepala dingin yah! Walaupun aku menikahi Mia cintaku akan tetap untukmu, sayang! Walaupun kamu tidak bisa memberikanku keturunan aku akan—"
PLAKKK!!
Satu tamparan lagi mendarat di pipi Ramdan. Membuat ucapan pria itu terhenti. Menatap kosong wanita yang dulu menatapnya dengan tatapan penuh binar, kini menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Cukup, mas! Aku tidak mau dengar apapun lagi darimu! Aku akan tetap pergi. Dan akan mengurus perceraian kita secepatnya!"
Setelah mengucapkan itu Aza langsung berjalan cepat menuju tangga, menarik kopernya kuat. Sementara Ramdan terus memohon pada Aza, mengikuti langkahnya yang cepat itu, berusaha memegang lengan Aza, namun dengan cepat wanita itu tepis.
"Lepas, mas!" sentak Aza emosi. Kembali berjalan menuruni tangga.
Ramdan semakin kelabakan sendiri, sementara Aza terus berjalan melewati mereka semua tanpa sedikitpun menoleh.
"AZAA!!" Seru Ramdan histeris, namun segera di tahan oleh Mia dan keluarganya, membuat langkahnya terhenti.
"Buu...Aku masih mencintai Aza, bu!" seru Ramdan, matanya berkaca-kaca.
Namun Bu Ratna yang suka Aza pergi tentu menolak, menahan tangan Ramdan kuat.
"Cukup, Ramdan! Itu pilihan dia! Lagian dia nanti juga pasti mohon lagi ke kamu. Siapa memang yang mau nampung dia selain kamu?! Apa kamu tidak tau perjanjian apa yang kita lakuin dengan keluarganya yang gila uang itu?!"
Ramdan yang semula tantrum langsung diam. Ingatan kilas balik masa lalu tentang pernikahan mereka kembali terngiang di kepalanya.
*
"Pernikahan ini bagi kami adalah transaksi. Kau boleh membawa Aza, dan dia akan menjadi milikmu sepenuhnya. Dan jika kalian berpisah nantinya, kami tidak akan menerima kembali Aza."
*
Ramdan mengangguk-angguk. Dengan perjanjian itu, orang tua Aza pasti tidak akan menerima lagi kehadirannya. Karena sedari awal perjanjian, Aza sudah dijual menjadi istrinya dan mereka lepas tangan sepenuhnya.
"Ibu benar, Aza pasti akan kembali. Dia tidak punya tempat pulang selain aku." lirihnya penuh yakin.
Sementara Mia sedikit lega, setidaknya anak di kandungannya punya ayah, dan dia tidak perlu luntang-lantung mengurusnya sendirian.
Sementara Aza kini berjalan di trotoar sembari menarik koper miliknya lemah. Berjalan tak tentu arah dengan tatapan kosong dan air mata yang terus mengalir.
Ia tatap ke depan kosong, seperti tak ada gairah hidup sama sekali.
Bukan ini yang dia inginkan. Ia masih mencintai Ramdan, namun apa yang sudah mereka lakukan padanya kali ini benar-benar keterlaluan. Dan ia sudah tak bisa mentoleransi segala rasa sakit yang mereka berikan padanya.
Namun setelah ini, dia pun bingung. Kemana lagi ia akan berpulang? Keluarganya? Apa mereka masih mau menerimanya? Sementara selama dua tahun menikah, Aza tidak pernah mengunjungi keluarganya lagi karena larangan Ramdan.
Sejujurnya Aza takut. Takut kembali ke rumah penuh trauma yang menyiksa dirinya di masa lalu itu. Bagaimana jika nanti ayahnya menyakitinya lagi, bagaimana jika dirinya di pukul lagi. Bagaimana jika ibunya memakinya karena dirinya bercerai dan kembali menyusahkan mereka.
"Aku benar-benar tak punya tempat pulang sekarang."
Aza merasa putus asa, namun kembali ke pada Ramdan bukanlah pilihan yang harus ia ambil.
Sekarang Aza baru menyesali semuanya. Ia yang mengira akan hidup bahagia dan kecukupan dengan Ramdan. Justru di sandingkan dengan rasa pahit kehilangan yang menyiksa.
Kalau tau akan seperti ini, Aza tidak akan meninggalkan kariernya demi cinta. Tidak seharusnya dia langsung menikah saat lulus kuliah, dan berakhir tak memiliki apa-apa sekarang.
"Setidaknya aku harus melihat rumah meski sebentar."
Sesampainya di rumah, semua tampak sepi. Bahkan rumahnya seperti bukan rumah sekarang. Rumput sudah panjang, lantai teras berdebu dan banyak kotoran cicak di setiap sisi keramik.
"Kenapa sangat kotor begini?" lirih Azalea mengerutkan kening.
Dengan langkah tenang ia menaiki teras, membuka pintu ruang tamu yang tidak terkunci perlahan. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah puluhan botol alkohol berserakan di lantai. Serta botol-botol kaleng dan sampah rokok yang menumpuk.
"Ya ampun, kenapa ini?!" seru Aza panik.
Baru saja ia akan melangkah, sebuah balok kayu menghantam lengannya hingga Aza mengaduh kesakitan, refleks menoleh ke samping. Dimana disana, ayahnya tengah duduk sembari menatapnya tajam, hanya memakai kaos polos lusuh dan sarung kusut yang sudah jelek.
"Ba-bapak." lirih Azalea gemetar.
Sementara Ayah Aza berdiri, menatap tajam dirinya, "Baru berani pulang kamu, Aza?! Masih ingat orang tua kamu?!"
Tubuh Aza gemetar ketakutan. Ia kira dirinya akan siap menghadapi ini, ternyata saat berhadapan dengan ayahnya langsung. Dadanya kembali berdebar, nafasnya sesak, rasanya ia berat untuk sekedar menatap ayahnya.
"Ba-bapak...aku sudah bercerai."
Mendelik langsung sepasang bola mata pria itu, berjalan cepat mendekat mencengkram lengan Aza.
"Kau bercerai?! Bodohh! Jika kau bercerai maka bapak tidak akan mendapatkan lagi uang dari Ramdan!"