NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7_Desa terkutuk part akhir.

Jeritan Arga menggema memecah malam.

"AAAAAA... TOLONG...!" teriaknya, dengan wajah dipenuhi kepanikan, matanya membelalak, dan urat-urat di lehernya menegang saat berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan-tangan busuk itu.

Namun tak ada seorang pun yang datang.

Semakin keras ia berteriak, semakin sunyi hutan itu terasa.

Puluhan makhluk bermata merah kini berdiri melingkar. Kepala mereka bergerak patah-patah, seolah tulang leher mereka telah lama remuk. Senyum robek di wajah mereka semakin melebar.

"Hihihihihi..."

Tawa mereka terdengar lirih, tetapi mampu membuat dada Arga sesak hingga sulit bernapas.

Tangan-tangan dari dalam tanah terus menarik tubuhnya sedikit demi sedikit menuju gerbang Desa Kalibiru.

"Lepaskan aku... aku mohon..." isak Arga, dengan wajah dipenuhi air mata, bibirnya bergetar hebat, sementara kedua tangannya mencengkeram tanah yang perlahan berubah menjadi lumpur hitam berbau anyir.

Tiba-tiba...

Wanita tua berkafan itu kembali mengangkat tangannya.

Seluruh makhluk di hutan langsung berhenti. Suasana menjadi sangat hening. Bahkan suara jangkrik pun lenyap.

Wanita itu melangkah perlahan mendekati Arga.

Setiap langkahnya meninggalkan bekas telapak kaki yang mengeluarkan darah segar.

Saat jaraknya tinggal beberapa langkah, kain kafan yang menutupi wajahnya perlahan tersingkap sendiri.

Arga memekik keras.

"Ti... tidak mungkin!" teriaknya, dengan wajah pucat pasi dan mata yang hampir keluar dari rongganya.

Wajah wanita tua itu...

Bukan wajah manusia. Kulitnya dipenuhi retakan seperti tanah kering. Di balik retakan itu, ribuan belatung putih keluar masuk tanpa henti. Rongga matanya kosong. Hanya kegelapan pekat yang bergerak seperti hidup.

Namun yang paling mengerikan...

Di dahinya terdapat sebuah wajah lain. Wajah seorang gadis kecil yang terus menangis sambil berbisik.

"Pulanglah... temani kami..."

Tangisan itu berubah menjadi tawa. Lalu seluruh wajah di tubuh wanita itu ikut tertawa bersamaan.nSuara mereka bercampur menjadi jeritan yang memekakkan telinga.

Arga menutup telinganya.

"Diam... diam...!" teriaknya, dengan wajah penuh keputusasaan, napasnya tersengal, dan tubuhnya menggigil tanpa henti.

Wanita tua itu berhenti tepat di hadapannya.

Ia mengangkat telapak tangannya yang kurus. Perlahan menyentuh dahi Arga.

Seketika...

Arga melihat sesuatu.

Bukan lagi hutan. Bukan lagi malam. Melainkan sebuah desa yang ramai.

Anak-anak berlarian. Orang-orang tertawa.

Lalu...

Langit berubah merah.bSatu per satu penduduk desa diseret makhluk-makhluk hitam ke tengah lapangan.

Mereka menangis. Memohon.bNamun seseorang berjubah hitam terus mengucapkan mantra.

Api hitam muncul dari dalam tanah. Seluruh penduduk dibakar hidup-hidup. Jeritan mereka mengguncang langit. Tak seorang pun selamat.

Sebelum mati... Mereka bersumpah.

"Setiap seratus tahun... kami akan mengambil satu jiwa agar penderitaan ini tidak pernah berakhir..."

Penglihatan itu menghilang. Arga terjatuh sambil terengah-engah.

"A... aku tidak ingin mati..." lirihnya, dengan wajah dipenuhi air mata dan tubuh yang sudah tak memiliki tenaga.

Wanita tua itu menyeringai.

"Kau sudah memasuki gerbangnya. Tidak ada seorang pun yang pernah keluar." katanya dengan suara mengerikan.

Tiba-tiba tanah di bawah tubuh Arga retak. Retakan itu semakin lebar.bDari dalamnya muncul ribuan tangan busuk yang langsung mencengkeram seluruh tubuhnya. Mereka menarik Arga ke dalam kegelapan.

"Tidak...! Tolong...! Siapa pun...!" jerit Arga, dengan wajah dipenuhi ketakutan yang tak lagi bisa disembunyikan.

Tubuhnya perlahan tenggelam. Mulai dari kaki. Pinggang. Dada. Hingga hanya kepalanya yang masih terlihat.

Di saat-saat terakhir...

Ia melihat seluruh makhluk penghuni hutan berlutut menghadap wanita tua itu. Mereka serempak mengucapkan satu kalimat.

"Tumbal telah diterima..."

Senyuman wanita tua itu semakin lebar.

Lalu...

Tanah menelan kepala Arga sepenuhnya.

Hening.

Tak ada lagi suara. Tak ada lagi jeritan. Kabut kembali menutup seluruh jalan menuju Desa Kalibiru.

Keesokan paginya...

Seorang pencari kayu melewati jalan yang sama.

Ia menemukan sepeda motor Arga masih berdiri di pinggir jalan. Mesinnya telah dingin. Kuncinya masih tergantung. Helm Arga tergeletak di tanah.

Namun...

Tak ada jejak kaki. Tak ada bekas perkelahian. Tak ada tubuh. Seolah Arga menghilang begitu saja.

Penduduk sekitar hanya saling berpandangan. Tak seorang pun berani mendekat.

Kakek penjaga warung yang semalam memperingatkan Arga hanya menundukkan kepala. Dengan mata berkaca-kaca ia berbisik pelan.

"Aku sudah bilang... jangan pernah masuk ke Desa Kalibiru." bisiknya pelan.

Ia lalu mengambil seikat bunga melati. Meletakkannya di tepi jalan.

"Bukan kamu yang pertama... Dan... bukan pula yang terakhir."

Malam berikutnya...

Kabut kembali turun..Di antara pepohonan, terdengar langkah kaki seseorang.

Perlahan muncul sesosok pria dengan pakaian penuh tanah. Kepalanya tertunduk. Kulitnya pucat membiru.

Saat wajahnya terangkat...

Itu adalah Arga.

Kedua matanya telah berubah merah menyala. Senyumnya robek hingga ke telinga.

Dengan suara yang bukan lagi suara manusia, ia berbisik kepada setiap orang yang melewati jalan itu.

"Masuklah... Kami... sudah lama menunggumu..."

Lalu tawa panjang memenuhi hutan.

"Hahahahaha..."

"Hehehehehe..."

"Hihihihihi..."

Dan sejak malam itu, setiap orang yang menghilang di sekitar Desa Kalibiru mengaku mendengar suara seorang pemuda memanggil nama mereka dari balik kabut.

Tak seorang pun yang mengikuti suara itu pernah kembali.

TAMAT.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!