Selama ini Mamaku nampak sehat-sehat saja, namun hari ke hari tubuh mama nampak kurus dan sakit-sakitan. Entah karena menahan sakit atau karena isu perselingkuhan Papa yang membuat Mama sakit.Tapi Mama tidak tahu siapa selingkuh Papa, yang sebenarnya ada di depan batang hidungku sendiri, ibarat musang berbulu domba itulah yang dihadapi keluargaku, dan aku baru tahu siapa selingkuh Papa setelah Mama tiada.
cerita ini sangat menarik penuh intrik dan pengkhianatan yang tak terduga datang dari orang terdekatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daesy.Rf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4. KERAGUAN ITU HILANG
Perkataan Bobby terngiang-ngiang dipikiran Dinar, dia tahu Bobby orangnya jujur lagian ngak ada kepentingan apapun bagi dia untuk mem fiknah Meta.
Perasaan itu terbawa sampai kerumah aku menjadi tidak enak, "Ngak mungkin Papa tega mengkhianati Mama" batinku berperang melawan antar logika dan hati.
Apakah Meta setega itu akan menganggu Papaku sedangkan dia terasa sudah menjadi keluarga.Aku yang sudah malam pulang waktu itu aku melihat Papa dan Mama ku sedang duduk nonton TV."
"Assalamualaikum"
"Waalaikum Salam,Eee Dinar udah pulang kamu Nak"
"Udah Malam Nak"
"iya Ma tadi Dinar ketemu Bobby kami makan dulu"
"Oooo jadi kamu sudah makan"
"Sudah Ma"
"Sampai dimana skripsi kamu Dinar"
"Udah Pembahasan Pa".
"Mudahan ini bisa tahun ini wisuda"
"Iya"
"Dinar kekamar dulu Pa,Ma" Dinar pergi berlalu menuju kamarnya"
Sesampainya dikamar Dinar duduk di tempat tidurnya.Hatinya masih kurang nyaman mendengar perkataan Bobby tadi di restoran.
"Ringggg"
"Ringggg"
Tiba-tiba telpon Dinar berbunyi didalam tas, Dinar buru-buru membuka tasnya dan mengambil telpon nya, terlihat di wallpaper Handphonenya bertulis nama Meta Bestie ku.
"Hallo Di"
"Ya Met"
"Kamu dimana"
"Dirumah"
"Ooh..aku mau kerumah kamu tadi ngantar oleh-oleh buat kamu tapi udah kemalaman, aku beli sesuatu untuk kamu, besok aja aku antar ya"
"Oh ya Di, kemarin aku ketemu sama Papa kamu di sana waktu aku makan di cafe, Papa kamu sedang duduk aku juga sedang disana bersama temanku"
Dinar tersentak menata duduknya, Ooh jadi kamu ketemu Papa aku kemarin. Di luar kota?"
"Iya malah Papa kamu traktir aku, kata Papa kamu dia sedang kontrol cabang disana"
"Oooh gitu"
"Iya Papa mengontrol kantor cabang"
"Udah ya Di, besok aku antar oleh-oleh buat kamu Ya"
"Assalamualaikum Dinar "
"Waalaikum salam"
Entah kenapa hati Dinar merasa plong dan lega dengan mendengar perkataan Meta di telpon tadi.
Dia merasa sudah suudzon dengan Meta dan Papanya. Dinar pun merasa lega dan tenang. Mendengar penjelasan Meta tadi ditelpon.
Apa yang dikatakan oleh Bobby memang benar bahwa kemarin Papa dan Meta makan di cafe. Dinar tak ingin memikirkan itu lagi karena semua sudah terjawab.
**
Besok paginya Meta datang kerumah Dinar Pagi-pagi sehabis lari pagi, karena memang hari itu Minggu.
"Assalamualaikum Dinar"
"Waalaikum Salam "
Terdengar suara pria menjawab Salam tersebut.
"Meta..?"
"Iya Mas"
"Ada apa kamu kesini"
"Siapa Pa"
"A..anu Ma,Meta"
"Ooo Meta"
Buk Bunga keluar menuju pintu dimana Pak Rudiansyah berada dan Meta.
"Dinar ada Tante?"
"Ada tapi dia sama Igbal pergi ke sport center"
"Oooo kalau gitu Meta titip ini buat Dinar tante semalam Meta udah telpon Dinar"
"Iya..iya...nanti Tante sampaikan"
"Kalau gitu Meta pulang dulu Tante..Om"
"Iya Meta"
Sepulang dari sport center Buk Bunga memberi oleh-oleh yang diberikan oleh Meta berupa dompet character kesukaan. Dinar.Dinar chat Wa ke Meta mengucapkan Terima Kasih dari sahabatnya itu.
**
Buk Bunga yang penasaran menunggu cek labornya nampak masih gelisah dengan setiap sebentar melihat Handphonenya.
"Dinar...jam berapa kata rumah sakit besok SMS dikirim hasil labor"
"Hari ini Ma, di No WhatsApp Mama"
"kok belum masuk Mama sabar saja pasti Masuk hari ini"
Sore hari ternyata SMS labor masuk aku dan mama membaca SMS itu, ternyata darah mama kental mengandung sesuatu dan Mama diminta kembali kerumah sakit untuk lebih jelas.
Apa mama mengalami pengentalan darah atau apa. Namun malam nya darah banyak Keluar.ndari hidung Mama yang tak henti, sementara Papa tak dirumah,.ku larikan Mama kerumah sakit dan Mama dirawat disana.
Papa kaget luar biasa dia tidak mengetahui istrinya sakit hanya sibuk dengan kerjaan. Pak Rudiansyah pergi kerumah sakit disana Buk Bunga dirawat di ICU karena kasus yang unik. Ada apa dengan Buk Bunga.
"Mama....maafkan Papa terlalu sibuk lupa memperhatikan Mama"
Buk bunga belum bisa dijenguk, Dut nangis melihat kondisi Mamanya.
pemeriksaan demi pemeriksaan telah dilakukan namun tidak ditemukan keanehan tapi darah Buk Bung aneh, akhirnya sampel darah nya dikirim ke labor pusat untuk pemeriksaan lanjut. Dua hari menunggu akhirnya hasil keluar.
Ternyata darah Mama kena racun Arsenik racun tak berbau, berlahan mematikan, sama seperti sianida yang Sudah merusak ginjal mama yang sudah hitam diracun.
Siapa dan bagaimana Mama bisa diracun, berlahan tapi pasti mengubah kesehatan Mama.
apa yang Mama lakukan hingga Mama diracun.
Mama dirawat dua hari, darah Mama dibersihkan tapi racun sudah menyebar sampai ke ginjal dan ada masalah di ginjal Mama. Aku sangat sedih kenapa ini bisa terjadi ada racun di darah Mama.
Padahal Mama selalu hidup sehat, tubuh Mama sangat lemah dan jaringan tubuh Mama sudah diserang racun sejak Lima bulan yang lalu dan ini cukup terlambat untuk mengetahuinya.
Saat Mama dibawa pulang Papa tak ikut menjemput karena Dinas luar kota, aku sangat serba salah kepada Papaku karena Mama sakit tapi Papa tak bisa izin dan membiarkan Mama dalam kondisi ini sendiri hanya kami anak-anak Mama.
Aku ingin melawan rasanya jika tak ingat ini adalah masa sulit kami, tapi Papa memang sedikit berubah dengan alasan seribu satu. Sekarang dirinya tak ingin berfikir Apa-apa kecuali menjaga kesehatan Mama lebih baik lagi.
Sesampainya dirumah Mama istirahat total tidak boleh mengerjakan apa-apa tapi dibantu oleh Bik Ani.Dinar gantian membantu Bik Ani semampunya.
Sehari-harian Dinar kini yang membantu kerja Mamanya, Mama berusaha juga melayani Papa dengan menghidangkan sarapan pagi dan hidangan makan malam.
Hari demi hari tubuh Mama semakin kurus, batuk mama semakin menjadi-jadi dan nampak pucat, aku tak focus menyelesaikan skripsiku,karena Mama harus kontrol setiap Minggu. Tak pernah Papa yang mengantarkan Mama, aku Dut dan Bik Ani.
Papa benar-benar berubah Seratus Delapan puluh Derajat, tidak lagi ada keharmonisan seperti dulu lagi yang kami rasa di rumah.Semua sibuk dan dingin.
"Papa. Sakit Mama semakin Parah nampak nya apakah tidak ada waktu Papa mengantar Mama ke Rumah sakit karena Dinar pun ingin menyelesaikan skripsi Dinar yang gantung.
"itu sudah kewajiban kami sebagai anak menjaga dan merawat Mamamu, Papa banyak kerja dan pergi keluar kota jadi tak bisa focus dengan Mama kamu. Kalau kamu sibuk mint tolong Bik Ani aja"
"Tapi Mama butuh Papa, Papakan suami Mama, sejak Mama sakit Papa sibuk sekali bahkan saat Mama dirawat Papa tidak bisa jemput Mama"
Dinar mulai memprotes Papanya yang kini tak seperti dulu.
"Sudah Kamu jalankan apa saja tanpa protes, kamu harus paham kondisi Papa, jangan protes"
Dinar hanya terdiam ,Pak Rudiansyah meninggalkan meja makan tersebut sedikit kesal diwajahnya karena diajar oleh anaknya.