Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Memasuki Sarang Monster
Sepatu hak tinggi merah marun itu melangkah keluar dari taksi.
Hira berdiri tegak di trotoar yang lebar. Ia mendongak, menatap gedung pencakar langit berlapis kaca gelap yang menjulang tinggi hingga menembus awan pagi.
Bangunan kantor cabang yang kemarin ia taklukkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan gedung raksasa ini.
Kantor Pusat Perusahaan Induk.
{Gedung ini... luar biasa besar. Apakah kita benar-benar bisa bertahan di sini?}
Suara jiwa Hira yang asli bergema pelan di dalam kepalanya. Nada suaranya menyiratkan kekaguman yang bercampur dengan sedikit kecemasan.
Hira merapikan kerah blus hitam elegan yang ia kenakan hari ini. Sebuah senyum miring terukir di bibirnya yang dipulas merah gelap.
{Tutup mulutmu dan nikmati saja pemandangannya. Semakin besar gedungnya, semakin besar tikus yang bisa kita buru di dalam sana.}
Hira melangkah masuk melewati pintu putar otomatis.
Lobi utama itu sangat luas. Lantainya terbuat dari pualam putih bersih tanpa segores pun cacat. Puluhan karyawan berpakaian sangat rapi berlalu-lalang dengan langkah cepat. Tidak ada staf biasa yang berani berjalan santai di area ini.
Hira berjalan lurus membelah keramaian lobi. Dagu wanita itu terangkat sempurna. Posturnya memancarkan dominasi yang membuat beberapa karyawan secara refleks menggeser tubuh mereka, memberikan jalan baginya.
Ia mengabaikan deretan lift umum yang dipenuhi antrean panjang. Langkah kakinya mengarah langsung ke sudut lobi yang dijaga oleh dua petugas keamanan berbadan tegap.
Sebuah lift dengan pintu berlapis perak berdiri terisolasi di sana.
"Maaf, Nyonya. Lift ini hanya untuk jajaran Direksi Eksekutif Pusat dan pemegang akses khusus," ucap salah satu petugas keamanan sambil mengangkat tangannya untuk menahan langkah Hira.
Hira tidak menjawab. Ia merogoh saku blusnya dan mengeluarkan kartu hitam tanpa logo yang diberikan oleh Teran Honigan kemarin.
Hira menempelkan kartu itu ke panel pemindai di dinding lift.
Sebuah bunyi klik pelan terdengar. Layar kecil di atas panel itu menyala terang.
[Akses Diterima. Selamat Datang, Eksekutif Independen.]
Mata kedua petugas keamanan itu langsung membelalak lebar. Mereka berdua buru-buru menundukkan tubuh dalam-dalam, menyadari bahwa wanita di hadapan mereka memegang otoritas yang melampaui direktur biasa.
Pintu perak itu terbuka. Hira melangkah masuk dan menekan tombol angka lima puluh lima.
Lift bergerak naik dengan kecepatan tinggi, sama sekali tidak menimbulkan suara bising.
Hira menatap pantulan dirinya di pintu perak tersebut. Matanya menyorotkan ketajaman yang sempurna. Tidak ada sedikit pun penyesalan tentang hari kemarin. Reza dan Anita kini hanya sekadar debu di bawah sol sepatunya.
Pintu lift terbuka.
Lantai lima puluh lima ini sangat sunyi. Tidak ada deretan meja kubikel staf. Hanya ada karpet tebal, lukisan mahal di dinding, dan beberapa pintu kayu ganda yang menjulang tinggi.
Leo sudah berdiri menunggunya tepat di depan pintu lift. Asisten berkacamata itu menundukkan badannya dengan sangat sopan.
"Selamat pagi, Bu Hira," sapa Leo dengan suara yang sangat teratur. "Pak Teran sedang memimpin rapat dewan komisaris di lantai puncak, jadi beliau menugaskan saya untuk menyambut Anda hari ini."
"Selamat pagi, Leo," balas Hira santai. Ia melangkah keluar dari lift. "Di mana ruanganku?"
"Silakan ikuti saya."
Leo berjalan mendahului Hira menyusuri lorong panjang. Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu solid di ujung koridor dan membukanya lebar-lebar.
Hira melangkah masuk.
Ruangan itu dua kali lebih besar dari ruangan Anita di kantor cabang. Dindingnya terbuat dari kaca transparan yang langsung menghadap pemandangan kota. Sebuah meja kerja berbahan batu marmer hitam mendominasi bagian tengah ruangan. Tidak ada tumpukan dokumen. Hanya ada satu set komputer super tipis dan sebuah tablet digital di atasnya.
"Ini adalah ruang komando Anda, Bu Hira," Leo menjelaskan sambil berdiri di ambang pintu. "Akses kartu hitam Anda terhubung langsung ke seluruh sistem pengawasan, data keuangan internal, dan brankas digital perusahaan. Anda tidak memiliki atasan lain selain Pak Teran."
Hira berjalan mendekati meja marmer hitam tersebut. Ia mengusap permukaannya dengan ujung jari. Dingin dan keras.
"Target pertamaku," Hira berbalik menatap Leo. "Direktur Operasional Logistik. Pria bernama Darmawan."
"Benar," jawab Leo sigap. "Beliau menguasai seluruh jalur distribusi pengiriman perusahaan kita. Data yang Anda minta sudah saya siapkan di layar monitor."
"Bagus. Kau boleh pergi, Leo."
Leo menunduk sekali lagi dan menutup pintu ruangan itu.
Hira menarik kursi kulit di balik meja dan duduk. Ia menyilangkan kakinya, lalu menyentuh layar monitor.
Layar itu menyala, menampilkan berkas profil yang sangat detail.
[Profil Target: Darmawan - Direktur Operasional Pusat. Usia: 52 Tahun. Status: Tersangka Penggelembungan Dana Distribusi Ekspedisi Angkutan Berat.]
Hira membaca barisan angka di layar itu dengan cepat. Jari-jari lentiknya menggeser halaman dokumen digital tersebut.
{Lihat angka-angka ini. Sangat berantakan.}
Alter ego Hira mendecak pelan di dalam pikirannya.
{Dia melaporkan penyewaan seratus truk logistik tambahan setiap bulan, tapi laporan masuk dari gudang penerima tidak menunjukkan adanya lonjakan kapasitas barang.}
Hira menopang dagu dengan satu tangan. Matanya menyipit tajam.
Darmawan jelas memalsukan jumlah armada logistik dan mengantongi sisa anggaran sewa truk tersebut ke dalam kantongnya sendiri. Kasus yang sangat klasik. Persis seperti yang dilakukan Anita, hanya saja dalam skala miliaran rupiah yang jauh lebih besar.
"Pria ini terlalu percaya diri," bisik Hira pada dirinya sendiri.
Hira mengambil tablet digital dari atas meja. Ia menekan beberapa tombol untuk melacak jadwal Darmawan pagi ini.
[Jadwal Terkini: Rapat Evaluasi Armada Logistik - Lantai 40. Pukul 09:00.]
Hira melirik jam tangan peraknya. Pukul sembilan lebih sepuluh menit.
Ia berdiri dari kursinya. Tidak ada gunanya mengumpulkan data diam-diam di ruangan ini. Ia lebih suka menyerang mangsanya secara langsung, mematahkan leher mereka saat mereka sedang merasa paling berkuasa.
Hira berjalan keluar dari ruangannya menuju lift. Ia menekan tombol lantai empat puluh.
Sepatu hak tinggi merah marunnya kembali mengetuk lantai saat pintu lift terbuka di area divisi operasional.
Berbeda dengan lantai eksekutif yang sunyi, lantai empat puluh ini dipenuhi oleh lalu-lalang staf pria berbaju lapangan, suara dering telepon yang bersahutan, dan tumpukan kardus dokumen di beberapa sudut.
Hira berjalan lurus melewati mereka semua. Postur tubuhnya yang elegan dan tatapan matanya yang sangat mematikan membuat beberapa staf langsung membeku di tempat dan berhenti berbicara.
Ia berhenti tepat di depan sebuah ruang kaca besar yang ditutupi oleh kerai dari dalam. Suara bentakan keras terdengar samar menembus kaca tersebut.
Hira mengulurkan tangan dan langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk.
Di dalam ruangan, Darmawan berdiri berkacak pinggang di ujung meja rapat. Pria paruh baya bertubuh tambun itu memiliki wajah yang merah padam. Tiga orang manajer duduk menunduk di hadapannya dengan ekspresi ketakutan.
"Kalian ini tidak becus bekerja!" bentak Darmawan dengan suara serak. "Saya sudah bilang, manipulasi saja laporan kerusakan truk nomor lambung B-402! Jangan sampai pusat curiga kenapa biaya servis kita bengkak bulan ini!"
Darmawan menghentikan teriakannya saat menyadari pintu ruangannya terbuka.
Pria paruh baya itu menoleh. Matanya menatap Hira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rahangnya mengeras, merasa otoritasnya dilecehkan.
"Siapa kamu?!" Darmawan menunjuk Hira dengan spidol di tangannya. "Staf baru? Berani-beraninya kamu masuk ke ruang rapat saya tanpa mengetuk pintu! Keluar!"
Hira tidak melangkah mundur. Ia justru berjalan santai memasuki ruangan itu dan menutup pintu di belakangnya.
"Saya tidak biasa mengetuk pintu yang sebentar lagi akan saya segel, Pak Darmawan," jawab Hira dengan nada suara yang sangat tenang.
Darmawan mengerutkan keningnya. Pria itu menurunkan tangannya yang memegang spidol.
"Apa maksudmu?" suara Darmawan mulai merendah, namun masih dipenuhi arogansi. "Kamu salah masuk lantai, Nona. Ini wilayah operasional. Kamu tidak punya wewenang berdiri di sini."
Hira menarik sebuah kursi kosong di dekat pintu. Ia memegang sandaran kursi itu dengan satu tangan, menatap langsung ke dalam mata Darmawan tanpa berkedip.
"Saya memiliki semua wewenang yang saya butuhkan," balas Hira pelan. Sebuah senyum miring perlahan muncul di wajah cantiknya. "Terutama wewenang untuk bertanya... di mana Anda menyembunyikan empat puluh truk logistik hantu yang Anda laporkan ke divisi keuangan bulan lalu?"
Ruang rapat itu seketika menjadi sunyi senyap.
Ketiga manajer yang duduk di sana langsung saling berpandangan dengan wajah pucat pasi.
Darmawan mematung di tempatnya. Spidol di tangannya terlepas dan jatuh membentur meja kayu dengan suara keras.
"K-kamu..." Darmawan menelan ludah dengan susah payah. Matanya bergerak liar, mencoba mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang berdiri di hadapannya ini.
Hira mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia membiarkan layar ponsel itu menyala tepat di saat sebuah pesan masuk berbunyi.
[Pesan Masuk: Perintah Eksekusi Diterima. Seluruh gudang logistik sektor utara telah dikunci oleh tim audit independen.]
Hira menatap Darmawan yang kini mulai berkeringat dingin.
"Pesta baru saja dimulai, Pak Darmawan," ucap Hira dengan suara lembut yang sangat mematikan. "Mari kita lihat, seberapa lama Anda bisa mempertahankan arogansi Anda."
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪