Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Taruhan Tiga Serangan
Dua hari berlalu...
Wang Hao masih berada di tempat yang sama.
Kultivasinya kini semakin dalam dan padat di lapis ketiga. Setiap tetes energi spiritual yang tersimpan di lautan spiritualnya telah dimampatkan hingga batas maksimal, tanpa celah, tanpa cacat.
Pemahamannya terhadap Dao juga semakin meningkat, diperkuat oleh efek kursi rotan yang mempertajam konsentrasinya.
'Ini lumayan,' pikirnya. 'Kemajuan yang stabil, tidak terburu-buru, tapi hasilnya nyata.'
Matanya masih terpejam ketika suara langkah kaki tergesa-gesa memecahkan keheningan halaman kecil itu. Suara itu semakin mendekat, dan dari ritmenya Wang Hao sudah bisa menebak siapa yang datang.
"Tuan Muda Chen Nan!"
Seorang pelayan perempuan muncul di ambang pintu halaman dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya pucat, dan tangannya gemetar di sisi tubuhnya. Ia berhenti beberapa langkah dari Wang Hao, mencoba mengatur napasnya yang tidak teratur.
Wang Hao membuka matanya perlahan, menatap pelayan itu dengan sorot tenang yang sama sekali tidak berubah.
"Ada apa?"
"Tetua Huan Yue... dia datang lagi," kata pelayan itu dengan suara bergetar. "Sekarang dia berniat memutuskan untuk menarik perlindungan sekte atas Klan Sheng, jika tuan muda tidak ikut mereka. Dan ini... ini perintah langsung dari pemimpin Sekte Awan Ungu."
Keheningan sejenak.
Wang Hao tidak segera bangkit. Ia tetap duduk di kursinya, menatap langit mendung yang bergerak perlahan di atas kepalanya. Awan-awan kelabu bergulung-gulung, menandakan hujan mungkin akan turun hari ini.
Kemudian ia bangkit.
Gerakannya tetap tenang, tidak tergesa-gesa. Ia memasukkan kursinya ke dalam cincin ruang, lalu berjalan mengikuti pelayan itu menuju aula utama.
*****
Di aula utama, suasananya sudah sangat berbeda dari dua hari lalu.
Patriark Sheng duduk di kursi utamanya dengan wajah tegang dan tangan yang mencengkeram lengan kursi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Kedua tetua klan yang duduk di sampingnya juga menunjukkan ekspresi yang sama, campuran antara ketakutan dan kemarahan yang ditahan.
Di hadapan mereka, di kursi tamu utama, Huan Yue duduk dengan postur tegak dan ekspresi dingin yang tidak berubah sedikit pun. Kali ini ia tidak membawa pengawal, itu tidak perlu. Kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat seluruh aula dipenuhi tekanan energi spiritual yang mencekik.
Begitu Wang Hao melangkah masuk, Huan Yue langsung mengalihkan pandangannya ke arahnya. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Chen Nan," katanya dengan suara yang tenang namun tajam seperti ujung pedang. "Aku harap kau sudah mempertimbangkan tawaranku dengan baik. Karena kali ini, aku datang dengan keputusan final dari pemimpin sekte."
Wang Hao berjalan ke kursi kosong dan duduk tanpa menunggu undangan. "Saya mendengarkan."
"Pemimpin Sekte Awan Ungu telah memutuskan. Jika kau tetap menolak bergabung dengan kami, maka perlindungan sekte atas Klan Sheng akan dicabut hari ini juga." Huan Yue menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya tidak pernah lepas dari Wang Hao. "Kau tahu apa artinya itu? Tanpa perlindungan sekte, Klan Sheng akan menjadi sasaran empuk bagi klan-klan lain. Mereka akan dihancurkan, dan semua itu terjadi karena kau menolak bekerja sama dengan kami."
Patriark Sheng menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya semakin pucat, tetapi ia tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
Wang Hao menyilangkan kakinya. "Itu ancaman yang cukup berat."
"Ini bukan ancaman. Ini konsekuensi."
Keheningan sesaat.
Wang Hao menatap Huan Yue dengan sorot yang tetap tenang, lalu sudut bibirnya sedikit terangkat. "Bagaimana kalau kita bertaruh?"
Huan Yue menyipitkan matanya. "Bertaruh?"
"Anda menyerang saya tiga kali. Jika saya terluka dalam tiga serangan itu, saya bersedia ikut dengan Anda ke Sekte Awan Ungu, memberikan semua resep yang Anda inginkan, dan bekerja sebagai alkemis tamu di sana. Tanpa syarat apapun."
Huan Yue tidak langsung menjawab. Ia menatap Wang Hao dengan sorot yang penuh perhitungan. "Dan jika kau berhasil bertahan dalam tiga serangan tanpa luka?"
"Maka jangan lakukan pemaksaan lagi. Anggap saja Sekte Awan Ungu tidak pernah tahu mengenai diri saya. Perlindungan sekte atas Klan Sheng tetap berjalan seperti biasa, dan Anda tidak akan mengganggu saya atau siapa pun yang berhubungan dengan saya lagi."
Seluruh aula langsung dipenuhi oleh keheningan yang mencekam. Patriark Sheng menatap Wang Hao dengan mata membelalak, mulutnya terbuka sedikit seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar. Kedua tetua klan saling berpandangan dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
Huan Yue menatap Wang Hao lama sekali. Matanya yang dingin menelusuri setiap detail dari pemuda di hadapannya, seolah mencoba mencari tahu dari mana kepercayaan diri ini berasal.
Seorang kultivator Kondensasi Qi lapis tiga menantang seorang kultivator Pendirian Fondasi tahap menengah untuk bertahan dalam tiga serangan? Itu bukan keberanian. Itu bunuh diri.
"Kau yakin dengan taruhan ini?" tanyanya akhirnya.
"Saya yakin."
Senyum tipis muncul di wajah Huan Yue, senyum yang lebih menyerupai senyum seekor kucing yang baru saja menangkap tikus. "Baiklah. Aku terima taruhanmu."
Ia bangkit dari kursinya, lalu berjalan ke tengah aula. "Berdirilah, Chen Nan. Kita mulai sekarang."
Wang Hao bangkit dari kursinya dan berjalan ke tengah aula, berhenti sekitar lima meter di hadapan Huan Yue. Kedua tangannya tetap di belakang tubuhnya, posturnya santai, ekspresinya tenang.
"Tuan Muda!" suara Patriark Sheng akhirnya keluar, nadanya penuh kecemasan. "Ini gila! Dia kultivator Pendirian Fondasi! Kau tidak akan..."
"Diam," potong Huan Yue tanpa menoleh. "Ini urusan antara aku dan pemuda ini. Jangan ikut campur."
Patriark Sheng menggertakkan giginya, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Wang Hao menatap Huan Yue. "Silakan mulai."
Huan Yue mengangkat tangannya. Energi spiritual berkumpul di telapak tangannya, membentuk bola angin yang berputar dengan kecepatan tinggi. Suara desingan memenuhi aula, dan tekanan energi spiritual membuat para pelayan yang berdiri di sudut ruangan terhuyung mundur.
"Serangan pertama."
Huan Yue melepaskan bola angin itu. Serangan itu melesat lurus ke arah dada Wang Hao dengan kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti oleh mata biasa. Angin di sekitarnya berputar membentuk pusaran kecil yang bisa merobek daging dan tulang.
Wang Hao melangkah satu langkah ke kanan. Gerakannya sederhana, seperti seseorang yang menghindari batu yang dilempar ke arahnya. Bola angin itu melesat melewati samping bahunya, lalu mengenai dinding belakang aula, dan meledak.
Brakk!
Pecahan batu beterbangan. Sebuah lubang selebar kepala manusia menganga di dinding.
Wang Hao masih berdiri tenang, tanpa ekspresi sedikit pun. "Serangan pertama selesai."
Huan Yue menatapnya dengan mata yang sedikit menyipit. "Kau cukup cepat."
"Dua lagi."
Wajah Huan Yue sedikit menegang. Ia mengangkat kedua tangannya kali ini, membentuk segel tangan dengan jari-jarinya yang bergerak cepat. Energi spiritual berkumpul dalam jumlah yang jauh lebih besar, membentuk puluhan jarum es yang melayang di udara di sekelilingnya.
"Hujan Jarum Musim Dingin," katanya dengan suara dingin.
Puluhan jarum es itu melesat serentak ke arah Wang Hao dari berbagai sudut, menutup semua celah untuk menghindar. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada ruang untuk melangkah ke samping atau ke belakang.
Wang Hao tidak bergerak dari tempatnya. Ketika jarum-jarum itu hampir mencapai tubuhnya, ia menggerakkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat kecil dan sangat presisi. Ia memiringkan kepalanya ke kiri, jarum pertama lewat di samping telinganya. Ia menekuk lututnya sedikit, dua jarum lewat di atas kepalanya. Ia melakukan kayang, tiga jarum lewat di depan dadanya. Ia berdiri lagi, lalu mengangkat tangannya, empat jarum lewat di bawah ketiaknya.
Setiap gerakan dilakukan dengan presisi yang tidak mungkin dimiliki oleh kultivator biasa. Tidak ada satu pun jarum yang menyentuh kulitnya, tidak ada satu pun yang mengenai jubahnya.
Ketika jarum terakhir jatuh ke lantai dengan bunyi denting pelan, Wang Hao menegakkan tubuhnya kembali. Ekspresinya tetap sama. Tenang, dan datar.
"Serangan kedua selesai."
Huan Yue menatapnya dengan sorot yang kini benar-benar berbeda. Tidak ada lagi seringai meremehkan. Yang ada adalah keterkejutan yang ditutupi dengan sangat buruk. Dua serangan Pendirian Fondasi tahap menengah telah dilepaskan, dan pemuda Kondensasi Qi lapis tiga di hadapannya bahkan tidak terlihat kesulitan menghindarinya.
"Ini tidak mungkin," bisiknya pelan.
"Satu lagi."
Kata-kata itu keluar dari mulut Wang Hao dengan nada yang begitu tenang sehingga membuat Huan Yue merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Kemarahan. Bukan kemarahan karena dihina, melainkan kemarahan karena merasa tidak dianggap.
"Kau... kau hanya beruntung!" Huan Yue mengatupkan kedua tangannya. Energi spiritualnya meledak keluar, memenuhi seluruh aula dengan tekanan yang membuat lantai batu retak-retak. "Serangan ketiga tidak akan bisa kau hindari!"
Ia membentuk segel tangan terakhir, dan sebuah tombak es raksasa terbentuk di atas kepalanya. Tombak itu panjangnya mencapai tiga meter, ujungnya setajam silet, dan permukaannya dipenuhi oleh alur-alur energi spiritual yang berputar seperti pusaran. Seluruh ruangan bergetar.
Wang Hao menatap tombak itu. Matanya sedikit menyipit.
"Serangan ini..." ia bergumam pelan, "...mengandung niat membunuh."
Huan Yue tidak menjawab, dia sudah kehilangan ketenangannya. Kedua tangannya mendorong ke depan, melemparkan tombak es.
Wush!
Tombak es raksasa itu melesat dengan kecepatan yang jauh melampaui dua serangan sebelumnya.
Wang Hao menghela napas pendek.
Lalu ia melangkah satu langkah ke kanan, namun tombak itu mengubah arahnya, Wang Hao segera menunduk di detik-detik terakhir.
Wuushhh!
Tombak es itu lewat satu jari di atas punggungnya, begitu dekat sehingga ia bisa merasakan dinginnya es yang menusuk kulitnya. Tombak itu terus melesat, menghantam dinding belakang aula, dan meledak dengan suara yang mengguncang seluruh bangunan.
BOOOM!
Seluruh aula berguncang. Pecahan es dan batu beterbangan ke segala arah. Para pelayan menjerit dan berlindung di balik pilar. Patriark Sheng menutupi wajahnya dengan tangan. 'Wanita sialan.'
Ketika debu mulai menghilang, Wang Hao sudah berdiri di tempat yang sama. Tidak ada luka di tubuhnya, tidak ada goresan, dan tidak ada robekan di jubahnya. Bahkan rambutnya masih tertata dengan rapi.
"Tiga serangan telah selesai," katanya dengan suara tenang.
Huan Yue berdiri terpaku. Matanya menatap Wang Hao dengan sorot yang sulit diartikan, campuran antara kemarahan, keterkejutan, dan sesuatu yang menyerupai rasa takut. Tangannya masih terulur ke depan, posisi terakhir saat ia melepaskan tombak es itu.
"Bagaimana... bagaimana kau bisa..."
"Taruhan kita sudah selesai." Wang Hao menatapnya lurus. "Sekte Awan Ungu tidak pernah tahu mengenai diri saya. Perlindungan sekte atas Klan Sheng tetap berjalan. Dan Anda tidak boleh mengganggu saya lagi mulai sekarang."
Huan Yue menurunkan tangannya perlahan. Wajahnya kembali dingin, tetapi ada retakan kecil di balik topeng itu, retakan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
"Aku... mengerti." Suaranya terdengar lebih pelan dari sebelumnya. "Kau memang bukan pemuda biasa, Chen Nan."
Ia berbalik dan berjalan keluar dari aula. Langkahnya masih tegap, tetapi ada sedikit guncangan di bahunya, guncangan yang hanya bisa dilihat oleh mata yang sangat tajam.
Setelah suara langkah kakinya benar-benar menghilang, Patriark Sheng menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku tidak percaya... aku benar-benar tidak percaya apa yang baru saja kulihat."
Kedua tetua klan saling berpandangan dengan wajah yang masih pucat.
Wang Hao berjalan ke arah pintu. "Saya akan kembali ke halaman."
"Tunggu, Chen Nan," panggil Patriark Sheng. "Bagaimana kau bisa melakukan itu? Bagaimana kau bisa menghindari serangan seorang kultivator Pendirian Fondasi?"
Wang Hao berhenti sejenak, lalu menoleh sedikit ke belakang.
"Dengan melangkah."
Ia melanjutkan langkahnya, meninggalkan aula yang masih dipenuhi pecahan batu dan es yang perlahan mencair.