Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meja Anggur yang Terlalu Jujur
Kalau ada satu hal yang kupelajari dari hidup sebagai villainess selama dua hari, itu adalah: benda mati jauh lebih jujur daripada bangsawan.
Gelas tidak berbohong. Kain lap tidak membuat drama. Meja tidak pura-pura pingsan saat terpojok. Sayangnya, benda mati juga tidak bisa berdiri di ruang sidang dan berkata, “Yang Mulia, pelakunya adalah gadis yang senyumnya terlalu manis itu.”
Jadi aku harus menjadi juru bicara bagi meja, gelas, dan kain lap bernoda lili.
Masalahnya, kain lap itu baru saja dicuri oleh pelayan Saintess.
Lebih tepatnya, "diamankan secara mencurigakan" di tengah kepanikan pingsannya Seraphina.
Lucien membawa Seraphina keluar ruangan dengan wajah gelisah. Para pelayan berlari mengikuti. Pengawal menjadi kacau. Petugas bukti sibuk menyelamatkan segel dokumen. Mira sibuk berbisik, "Nona, apakah kita boleh bertepuk tangan karena berhasil membuat suasana lebih kacau?"
Aku menjawab, "Tidak. Kita sedang menjadi tersangka utama. Jangan memberi mereka alasan tambahan."
Cassian berdiri di sampingku. "Anna membawa kain itu."
"Saya lihat."
"Anda ingin mengejarnya?"
Aku menatap dua pengawal yang masih menjaga pintu. "Dengan status tahanan, gaun kusut, dan reputasi seperti wabah? Tentu saja. Apa yang bisa salah?"
Cassian memiringkan kepala. "Sarkasme Anda membaik."
"Terima kasih. Hampir mati memang meningkatkan kualitas humor."
Kami tidak bisa mengejar Anna secara terang-terangan. Namun Cassian, sebagai Duke Utara yang memiliki kemampuan tidak masuk akal untuk membuat aturan tunduk kepadanya, memberi perintah singkat kepada salah satu pengawalnya.
"Ikuti pelayan itu. Jangan terlihat. Jangan sentuh dia. Laporkan ke mana ia pergi."
Pengawal itu menghilang tanpa suara.
Aku menatap Cassian. "Anda membawa pengawal bayangan ke istana?"
"Saya Duke North."
"Lagi-lagi alasan itu."
"Masih berlaku."
Sementara menunggu laporan, kami diizinkan memeriksa ruang pesta tempat kejadian. Lucien tidak ada karena mengurus Seraphina. Aneh sekali, saat kekasih utama pingsan, tunangan yang akan dieksekusi jadi punya waktu bebas. Terima kasih, drama.
Ruang pesta sangat besar, indah, dan membuatku ingin menangis karena bersih sekali dibanding sel penjara. Lampu kristal menggantung di langit-langit. Tirai merah keemasan jatuh dari jendela tinggi. Meja-meja sudah dirapikan, tetapi beberapa tanda pesta masih tertinggal: kelopak bunga, bekas lilin, dan noda anggur di lantai.
Aku berdiri di tengah ruangan, mencoba mencocokkan tempat ini dengan potongan ingatan Evangeline.
Aroma lili.
Gelas kristal.
Sarung tangan putih.
Tawa lembut.
Rasa sakit di dada.
Aku menutup mata. "Mira, meja Evangeline di mana?"
Mira menunjuk ke sisi kanan. "Di sana, Nona. Dekat pilar. Waktu itu Nona marah karena tempat duduk Nona tidak tepat di samping Putra Mahkota."
"Tentu saja dia marah. Prioritasnya sangat sehat."
"Nona dulu berkata jarak lima meja adalah penghinaan emosional."
"Evangeline butuh terapi."
"Apa itu terapi?"
"Tempat orang bicara agar tidak melempar vas."
Mira tampak kagum. "Dunia Nona yang sekarang diingat pasti sangat maju."
Aku hampir tersedak. Cassian melirikku, dan aku langsung pura-pura batuk.
Kami mendekati meja Evangeline. Hiasannya mawar merah, seperti catatan denah. Tidak ada lili. Aku menyentuh tepi meja, lalu cepat-cepat menarik tangan saat pengawal berdehem.
"Tidak menyentuh bukti," katanya.
"Meja ini masih bukti?"
"Semua yang disentuh Lady Evangeline berpotensi menjadi bukti."
"Kalau begitu wajah Anda juga berpotensi karena Anda menatap saya dari tadi."
Mira mengeluarkan suara seperti anak ayam tercekik. Cassian menutup mulut dengan cangkir tehnya. Pengawal itu merah padam dan memutuskan melihat lurus ke depan.
Aku berjongkok di dekat lantai, tanpa menyentuh apa pun. Di bawah meja ada bekas goresan kecil pada kayu.
"Mira, apakah meja ini dipindah setelah pesta?"
"Sepertinya tidak, Nona."
Cassian ikut memperhatikan. "Goresan itu baru."
Aku menatap arah goresan. Meja tampaknya pernah digeser sedikit, mungkin beberapa jari dari posisi semula.
"Jika seseorang ingin menyembunyikan racun di bawah kain meja," kataku, "dia harus mendekat ke meja. Tapi kalau terlalu banyak orang melihat, dia butuh alasan. Misalnya menggeser meja, menjatuhkan sesuatu, atau membersihkan tumpahan."
Mira mengangkat sendoknya. "Atau pura-pura mencari sendok?"
Aku menatapnya. "Mira, jika suatu hari kamu menjadi detektif, semua kasus akan berubah menjadi peralatan makan."
"Terima kasih, Nona."
"Itu bukan pujian."
Aku berjalan ke meja Seraphina. Hiasannya lili putih. Terlalu banyak lili. Aromanya masih menempel di kain dekorasi, membuat dadaku sedikit sesak.
Cassian memperhatikan. "Jangan terlalu dekat."
"Saya baik-baik saja." Aku berusaha terdengar tegar, padahal tubuh Evangeline jelas ingin pindah alam.
Di meja Seraphina, ada bekas noda anggur di dekat kursi. Aku menunduk. Noda itu mengalir ke arah luar meja, bukan ke arah dalam. Artinya gelas tumpah dari sisi kursi, bukan dari tengah meja.
"Saintess duduk di sini?"
Mira mengangguk. "Ya. Lalu beliau pingsan setelah minum anggur. Semua orang panik. Nona berdiri, lalu Putra Mahkota langsung menuduh Nona karena sebelumnya Nona bertengkar dengan Saintess."
"Apa yang diperdebatkan?"
Mira menggaruk pipi. "Nona bilang Saintess terlalu dekat dengan Putra Mahkota. Saintess bilang beliau hanya berbicara soal amal. Nona bilang amal tidak perlu sambil tersenyum seperti sedang memilih gaun pengantin."
Aku diam.
Sekali lagi, Evangeline asli membuat hidupku sulit dengan kemampuan verbalnya.
Aku membayangkan adegan itu. Evangeline marah. Seraphina tersenyum. Para bangsawan menonton. Lalu seseorang menukar atau menaruh racun. Ketika Seraphina pingsan, semua mata langsung mengarah pada Evangeline.
Terlalu mudah.
"Gelasnya," kataku. "Apakah gelas Seraphina ditukar sebelum dia minum?"
Mira berpikir keras. "Hamba tidak melihat. Hamba waktu itu sedang mengambil kipas karena Nona berkata ruangan terlalu panas untuk menahan kebodohan."
Aku memejamkan mata. "Evangeline benar-benar pekerja keras dalam menciptakan musuh."
Cassian berjalan ke pintu samping. "Pelayan yang saya lihat keluar malam itu lewat sini."
Aku mengikutinya. Pintu itu menuju koridor pelayan. Lebih sempit, lebih gelap, dan jelas bukan jalur utama tamu.
Di dekat ambang pintu, ada serpihan kecil kain putih tersangkut di paku.
Cassian mengambilnya dengan saputangan.
"Sarung tangan," katanya.
Aku mendekat. Serpihan itu berwarna putih, tetapi ada jahitan halus berwarna perak di tepinya.
"Apakah semua pelayan Saintess memakai sarung tangan dengan jahitan perak?" tanyaku.
Mira menggeleng. "Tidak. Hanya kepala pelayan pribadi Saintess. Kalau tidak salah, Anna."
Nama Anna kembali muncul.
Tidak lama kemudian, pengawal bayangan Cassian kembali. Ia berbisik pelan. Cassian mendengarkan tanpa ekspresi.
"Anna pergi ke kapel kecil di sayap timur," kata Cassian setelah pengawalnya mundur. "Dia menyembunyikan sesuatu di bawah patung Dewi."
Aku tersenyum. "Kain lap?"
"Kemungkinan."
Mira memucat. "Kita harus masuk kapel? Nona, kalau kita salah langkah di tempat suci, hamba takut Dewi melempar petir."
"Kalau Dewi benar-benar adil, petirnya seharusnya sudah menyambar orang yang menjebakku."
"Masuk akal. Tapi tetap saja, hamba takut."
Kami menuju kapel kecil dengan alasan memeriksa jalur pelayan. Pengawal kerajaan keberatan, tetapi Cassian mengucapkan kalimat sakti: "Saya bertanggung jawab." Entah bagaimana, semua orang langsung diam. Aku ingin sekali meminjam kalimat itu untuk kehidupan sehari-hari.
Kapel kecil itu sunyi. Cahaya matahari masuk melalui kaca patri. Patung Dewi berdiri di tengah, wajahnya lembut dan penuh belas kasih. Di bawah patung ada altar kecil berisi lilin.
Cassian menunjuk bagian belakang altar. Mira merangkak dengan sangat dramatis, seolah sedang menyusup ke sarang naga, lalu menarik kain putih yang diselipkan di bawah batu.
"Dapat!" bisiknya, terlalu keras untuk sebuah bisikan.
Kain lap itu masih berbau lili. Noda hijau di ujungnya lebih jelas di bawah cahaya.
Aku menatapnya. "Ini harus diamankan."
Cassian mengangguk. "Saya akan menyimpannya."
"Tidak."
Dia menatapku.
Aku menatap balik. "Anda memang sekutu, tapi saya baru mengenal Anda kurang dari dua hari. Kain itu tidak boleh hanya berada di tangan Anda."
Cassian tampak terhibur. "Lalu?"
Aku mengambil buku catatan dari Mira, merobek satu halaman, lalu membungkus serpihan kain sarung tangan putih dan sepotong kecil noda dari kain lap menggunakan saputangan.
"Kita bagi bukti. Anda pegang kain lap. Saya pegang serpihan sarung tangan. Mira pegang catatan lokasi penemuan."
Mira langsung memeluk buku catatannya seperti bayi. "Hamba menjadi penjaga bukti?"
"Ya. Jangan hilangkan. Jangan makan. Jangan pakai untuk bungkus roti."
"Hamba tidak pernah makan bukti, Nona."
Aku menatap sendoknya.
"Belum," tambahnya pelan.
Cassian tersenyum. "Anda mulai belajar tidak memercayai siapa pun sepenuhnya."
"Saya hidup di dunia yang menjadikan bunga sebagai senjata. Wajar."
Kami hendak keluar dari kapel ketika pintu tiba-tiba terbuka.
Lucien berdiri di sana.
Di belakangnya, Seraphina tampak sudah pulih. Tentu saja. Pingsannya hanya bertahan sepanjang adegan yang menguntungkan.
Di samping Seraphina berdiri Anna, pelayan bersarung tangan putih.
Wajah Anna pucat ketika melihat kami di dekat altar.
Lucien menatap tajam. "Apa yang kalian lakukan di sini?"
Aku berdiri tegak, menyembunyikan serpihan bukti dalam genggaman.
Mira berkeringat seperti sedang direbus.
Cassian menyesap teh. Ya, entah dari mana cangkir itu muncul lagi.
Aku tersenyum pada Lucien.
"Berdoa, Yang Mulia."
Seraphina memandangku lembut. "Lady Evangeline berdoa?"
Aku menoleh kepadanya.
"Tentu. Saya berdoa agar pelaku sebenarnya segera kehilangan akal dan membuat kesalahan."
Mata Anna melebar sedikit.
Kecil.
Cepat.
Tapi cukup.
Aku tahu sekarang.
Pelayan itu takut.
Dan orang yang takut biasanya tahu sesuatu yang seharusnya tidak ia ketahui.