NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Rasa yang Tak Terucap

Pertanyaan yang dilontarkan Valerius pada malam itu terus terngiang di telinga dan berputar-putar di dalam benak Elara sepanjang perjalanan kembali ke ruang istirahatnya. Selama ini, satu-satunya tujuan yang ia genggam erat, satu-satunya harapan yang membuatnya mampu melewati hari-hari yang asing dan penuh tantangan, hanyalah satu: kembali ke dunianya sendiri. Tempat di mana ia dilahirkan, tempat keluarganya tinggal, tempat di mana segala hal terasa akrab dan sesuai dengan logika yang ia pahami. Namun sejak mendengar pertanyaan itu, seolah ada dinding kokoh yang selama ini melindungi hatinya mulai retak perlahan. Jawaban yang dulunya terasa begitu jelas dan pasti, kini menjadi kabur, dipenuhi keraguan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Saat terbaring di atas alas tidurnya yang sederhana, menatap langit-langit ruangan yang remang diterangi cahaya bulan yang masuk lewat celah jendela kayu, pikirannya melayang jauh. Wajah Valerius terus muncul di dalam bayangannya—tatapan matanya yang dalam dan menenangkan, suaranya yang lembut namun tegas, senyumnya yang jarang ditunjukkan namun terasa begitu hangat, serta kebaikannya yang tak pernah ia duga akan diterima dari seorang penguasa tertinggi. Perlahan namun pasti, Elara mulai menyadari bahwa selama ini ia tidak hanya bertahan hidup di tempat ini; ia juga mulai memiliki alasan untuk merasa betah. Namun di sisi lain, akal sehatnya terus mengingatkan betapa lebarnya jurang yang memisahkan mereka: perbedaan kedudukan yang tak terhitung, aturan adat yang telah berlangsung ratusan tahun, serta kenyataan bahwa ia hanyalah orang asing yang datang dari dunia lain.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang tetap sama, namun terasa sangat berbeda bagi keduanya. Setiap kali Elara melangkah masuk ke ruang kerja Valerius, suasana yang tadinya hening dan kaku kini dipenuhi kehangatan yang tak terlihat namun terasa nyata. Ia tidak lagi hanya bertugas membersihkan dan merapikan ruangan; Valerius mulai memintanya untuk membantu menyusun catatan, membacakan bagian dari buku-buku kuno, bahkan sekadar duduk menemaninya saat ia sibuk menyelesaikan urusan kerajaan. Kadang kala, percakapan mereka berlanjut lama hingga matahari mulai condong ke barat, membahas segala hal—dari kebiasaan hidup, pandangan tentang keadilan, hingga hal-hal kecil yang terasa sepele namun terasa bermakna.

Namun kedekatan yang tumbuh perlahan itu tidak luput dari perhatian orang-orang di sekitar mereka. Di istana yang besar ini, berita menyebar secepat angin, dan setiap perubahan kecil takkan pernah terlewatkan oleh mata-mata yang selalu waspada.

Suatu pagi yang cerah, saat sinar matahari masuk melimpah menerangi seluruh ruangan, Elara sedang membantu menata kembali gulungan peta wilayah yang tersebar di atas meja kerja. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar tanpa diketuk terlebih dahulu. Masuklah Lady Seraphina, putri dari Adipati Agung—orang paling berkuasa setelah Raja di kerajaan ini. Ia telah lama dianggap oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai calon permaisuri yang paling tepat untuk mendampingi Valerius, sebuah rencana yang telah dibicarakan oleh para penasihat dan keluarga kerajaan sejak bertahun-tahun lalu. Di belakangnya, dua orang pelayan mengikuti sambil membawa nampan berisi teh harum dan kue-kue istimewa yang hanya disajikan untuk tamu kehormatan.

Senyum bangga yang terukir di bibir Seraphina perlahan memudar, digantikan oleh tatapan heran yang segera berubah menjadi dingin dan penuh kecurigaan saat melihat pemandangan di hadapannya. Gadis asing yang seharusnya hanya berkutat dengan pekerjaan kasar dan tinggal di sudut istana yang tersembunyi itu, kini berdiri begitu dekat dengan sang Raja, seolah memiliki hak yang sama seperti orang-orang terhormat lainnya.

“Maafkan kedatangan saya tanpa dipanggil, Yang Mulia,” ujar Seraphina dengan suara yang terdengar lembut dan merdu, namun tersirat nada ketidakpuasan yang samar. “Saya membawa teh melati pilihan dan kue madu kesukaan Anda, yang baru saja dibuat oleh koki istana pagi ini.”

Valerius hanya mengangkat wajahnya sebentar dari dokumen yang dibacanya, mengangguk singkat tanpa menunjukkan rasa senang atau terganggu. “Terima kasih, Seraphina. Kau boleh meletakkannya di meja samping.”

Saat Seraphina melangkah mendekat, matanya yang tajam langsung tertuju pada Elara yang segera menunduk dalam dan mundur sedikit menjauh. “Yang Mulia,” lanjutnya lagi, suaranya kini lebih pelan namun terdengar jelas di seluruh ruangan, “Saya perhatikan akhir-akhir ini gadis ini sering sekali berada di ruangan pribadi Anda. Bukankah tugasnya hanya membersihkan dan merapikan? Rasanya ia menghabiskan terlalu banyak waktu di tempat yang seharusnya hanya untuk urusan kerajaan dan orang-orang terpercaya.”

Sindiran itu terasa menusuk, namun Elara berusaha tetap tenang, menggenggam ujung roknya hingga jari-jarinya memutih. Ia tahu ia tidak berhak membela diri, dan nasibnya sepenuhnya tergantung pada keputusan Valerius.

Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Valerius telah menegakkan tubuhnya, dan suaranya berubah menjadi tegas dan berwibawa—suara yang biasa ia gunakan saat memimpin rapat besar atau menyampaikan keputusan penting bagi seluruh kerajaan.

“Elara berada di sini bukan karena keinginannya sendiri, melainkan karena aku yang memintanya tetap tinggal,” jawabnya dengan nada yang tidak terbantahkan. “Ia memiliki ketelitian dan pandangan yang berbeda, sehingga sangat membantuku dalam memahami tulisan-tulisan kuno yang sering kali sulit dimengerti. Selama ia menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak melanggar aturan, tidak ada siapa pun yang berhak mempertanyakan keberadaannya di sini. Bahkan kau pun tidak.”

Kata-kata itu membuat wajah Seraphina seketika memerah. Ia tertegun, tak menyangka akan mendapat jawaban sekeras itu dari Valerius hanya demi membela seorang pelayan. Ia menunduk dalam, menyembunyikan rasa malu dan amarah yang meluap di dadanya. “Baiklah, Yang Mulia. Saya hanya khawatir agar tidak ada hal yang tidak semestinya terjadi. Jika begitu, saya pamit dulu dan berharap hari Anda menyenangkan.”

Setelah Seraphina keluar dan pintu tertutup rapat kembali, suasana hening sejenak. Elara perlahan mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca karena rasa terima kasih sekaligus rasa cemas yang meluap. Ia melangkah mendekat dengan hati-hati.

“Yang Mulia… saya sungguh minta maaf karena membuat Anda harus berbicara seperti itu. Jangan sampai karena saya, hubungan Anda dengan keluarga bangsawan menjadi terganggu. Lady Seraphina memiliki pengaruh yang sangat luas di istana ini dan di seluruh kerajaan. Jika ia merasa tersinggung, ia bisa membuat banyak hal menjadi sulit—baik bagi Anda maupun bagi saya sendiri.”

Valerius tersenyum lembut melihat kekhawatiran itu. Ia berdiri dan melangkah mendekat, lalu dengan gerakan perlahan dan penuh kelembutan, meletakkan telapak tangannya di atas bahu Elara. Sentuhan itu sederhana, namun terasa begitu hangat hingga membuat seluruh tubuh gadis itu menegang seketika dan detak jantungnya berpacu jauh lebih cepat dari biasanya.

“Dengarkan aku baik-baik, Elara,” ujarnya dengan suara rendah namun tegas. “Ini kerajaanku, dan akulah yang memegang kendali atas segala sesuatu di dalamnya. Tidak ada pengaruh atau kekuasaan apa pun yang bisa membuatku bertindak bertentangan dengan apa yang kuanggap benar. Seraphina hanya merasa bingung dan cemburu melihat kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan yang telah dibangun orang-orang selama bertahun-tahun. Namun itu bukan alasan bagiku untuk membiarkan siapa pun menyinggungmu atau membuatmu merasa terancam. Selama aku masih berdiri di atas takhta ini, tempatmu di sini akan aman, percayalah.”

Mendengar kata-kata itu, rasa cemas di hati Elara perlahan berubah menjadi rasa tenang yang mendalam. Namun di sisi lain, ia pun semakin sadar bahwa kedekatan mereka ini tidak akan berjalan mulus tanpa hambatan. “Tapi Yang Mulia… bagaimanapun juga saya hanyalah pelayan, orang asing yang tidak memiliki kedudukan, keluarga, atau latar belakang yang bisa dibanggakan. Di mata semua orang di sini, keberadaan saya di sisi Anda hanyalah hal yang aneh dan tidak pantas. Saya takut suatu saat nanti, perasaan yang mulai tumbuh ini hanya akan membawa luka dan kesulitan bagi kita berdua.”

Valerius menarik napas panjang, lalu memegang kedua bahu Elara dan menatap matanya lurus, seolah ingin menyampaikan segala ketulusan yang ada di hatinya. “Elara, sejak hari pertama aku melihatmu tergeletak tak sadarkan diri di taman istana, aku sudah merasakan ada sesuatu yang berbeda pada dirimu. Kau datang dari dunia yang jauh, membawa ketulusan yang jarang sekali kutemui di lingkungan istana yang penuh kepura-puraan, intrik, dan perhitungan. Selama ini aku hidup di dalam batasan—sebagai raja, aku harus selalu terlihat kuat, tegas, dingin, dan tidak memiliki kelemahan. Namun semenjak kau ada di sini, untuk pertama kalinya aku merasa bisa menjadi diriku sendiri, tanpa harus mengenakan topeng atau berpura-pura menjadi orang lain.”

Ia menjeda sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, hampir berbisik. “Aku tidak lagi memandangmu hanya sebagai gadis asing atau pelayan yang aku pekerjakan. Seiring berjalannya waktu, perasaan di hatiku berubah. Aku mulai menantikan hari-hari saat kau datang ke ruangan ini, aku merasa lebih tenang saat kau ada di dekatku, dan aku mulai membayangkan bagaimana rasanya jika hari-hari seperti ini bisa berlanjut selamanya. Aku sadar akan segala rintangannya—perbedaan kedudukan, aturan adat, bahkan kemungkinan suatu saat kau harus kembali ke duniamu sendiri. Namun satu hal yang ingin kau ketahui: apa pun keputusan yang akan kau ambil nanti, apakah itu tetap tinggal atau melangkah pergi, perasaan ini tidak akan pernah berubah.”

Pengakuan itu meluncur keluar begitu saja, jujur dan tulus, seolah beban yang selama ini disembunyikan akhirnya terlepas. Elara tertegun, matanya berkaca-kaca, dan jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Selama ini ia berusaha mengabaikan rasa yang tumbuh di hatinya, berusaha menganggapnya hanya sebagai rasa kagum atau rasa terima kasih semata karena merasa tidak pantas. Namun kini, mendengar hal yang sama diucapkan oleh Valerius sendiri, ia tak lagi bisa menyembunyikan kebenaran yang ada di dalam dirinya.

Dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan, ia mengangkat tangannya perlahan dan menyentuh lengan Valerius dengan lembut. “Yang Mulia… rasanya sama persis dengan apa yang saya rasakan. Sejak hari itu, saat Anda tidak menghukum saya karena kecerobohan saya dan justru bersikap baik, hati ini perlahan terbuka. Saya pun mencoba mengabaikannya, saya pun merasa tidak pantas berdiri di sisi Anda, namun semakin lama semakin sulit untuk menyangkalnya. Saya takut, saya ragu, dan saya khawatir akan apa yang akan dikatakan orang lain. Namun jujur saja, saya sudah jatuh hati pada Anda.”

Senyum terukir lebar di wajah Valerius, senyum yang terasa begitu indah dan tulus hingga menerangi seluruh ruangan. Ia mengusap lembut pipi Elara dengan punggung jarinya. “Terima kasih telah jujur. Biarkan waktu yang menjawab segala keraguan kita. Kita jalani saja setiap hari yang ada, dan hadapi apa pun yang datang bersama-sama.”

Namun kehangatan dan ketenangan yang mereka rasakan saat itu tidak bertahan lama. Di balik pintu kayu yang tertutup rapat, sepasang mata tajam dan telinga yang waspada telah mendengar seluruh percakapan itu. Lady Seraphina yang ternyata tidak langsung pergi melainkan bersembunyi di balik dinding lorong, kini berdiri dengan wajah memerah penuh amarah dan kecemburuan yang membara. Di dalam hatinya, ia bersumpah pada dirinya sendiri—ia tidak akan membiarkan gadis asing itu mengambil tempat yang selama ini ia anggap sebagai miliknya. Sebuah rencana gelap mulai terbentuk di pikirannya, menandakan bahwa badai besar akan segera melanda kedamaian yang baru saja mereka rasakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!