Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ryn yang Tidak Suka Putri Baru
Lampu-lampu rune padam begitu cepat hingga Aelora sempat mengira matanya yang bermasalah.
Sesaat sebelumnya ia masih melihat wajah Maura yang pucat, tangan Nira yang mencengkeram ujung roknya, dan para pelayan yang berdiri terpaku di antara tumpukan kain. Detik berikutnya, semua lenyap.
Kegelapan memenuhi ruangan.
Seseorang berbisik tepat di belakang Aelora.
“Orang yang masih berada di istana.”
Aelora berbalik sambil mengayunkan Piko.
Boneka itu menghantam sesuatu yang keras.
Terdengar suara tertahan, disusul bunyi benda jatuh dan umpatan pendek.
“Siapa di sana?” seru salah satu penjaga.
Pedang ditarik dari sarungnya. Cahaya ungu muncul pada mata kedua penjaga, tetapi sebelum mereka sempat bergerak, lampu-lampu rune kembali menyala satu per satu.
Ruangan terlihat sama seperti sebelumnya, kecuali seorang anak laki-laki kini berdiri di belakang Aelora sambil memegangi hidung.
Usianya mungkin sembilan tahun. Rambutnya hitam kebiruan, dipotong rapi sampai telinga. Sepasang tanduk pendek muncul di antara rambut, melengkung sedikit ke belakang. Ia mengenakan pakaian latihan berwarna kelabu dan sebuah jubah pendek dengan lambang serigala perak.
Di lantai dekat kakinya tergeletak sebuah batu kecil.
Batu pemadam rune.
Nira menunjuknya. “Ryn!”
“Apa?” Anak laki-laki itu menurunkan tangan dari hidung. “Aku cuma lewat.”
“Kau mematikan lampu.”
“Lampunya memang jelek.”
“Dan berbisik di belakang kami.”
“Aku bilang yang sebenarnya.”
Salah satu penjaga maju. “Tuan Muda Ryn, Anda tidak boleh menggunakan batu pembungkam di dalam sayap keluarga.”
Ryn mengangkat dagu. “Ayahku yang menyumbangkan batu-batu rune untuk sayap ini.”
“Bukan berarti Anda boleh mematikannya.”
“Kalau begitu minta ayahku menarik sumbangannya.”
Penjaga itu terlihat ingin menjawab, tetapi memilih diam. Ryn mungkin masih anak-anak, namun lambang serigala di jubahnya menunjukkan bahwa ia berasal dari salah satu keluarga tua Nocthara.
Aelora memandang Maura.
Perempuan tua itu belum bangkit dari lantai. Tatapannya tertuju pada Ryn, tetapi ketakutan di wajahnya berbeda dari rasa terkejut biasa.
“Kau tahu siapa yang mengambilku?” tanya Aelora.
Maura menundukkan kepala.
“Saya tidak seharusnya berbicara di tempat terbuka.”
“Tadi kau bilang orang itu masih berada di istana.”
“Saya tidak mengatakannya,” jawab Maura.
Aelora menoleh kepada Ryn.
Anak laki-laki itu menyilangkan tangan. “Aku yang bilang.”
“Kenapa?”
“Karena semua orang di sini suka menyimpan rahasia.” Tatapannya bergeser pada Maura. “Tapi kalau ada sesuatu yang hilang dari istana, biasanya pelakunya memang orang dalam.”
“Itu hanya dugaanmu?”
Ryn mengangkat bahu. “Lebih masuk akal daripada menyalahkan hantu.”
Nira mendekatinya dengan kedua tangan di pinggang. “Kau membuat kami takut.”
“Aku tidak membuatmu takut.”
“Aku hampir menendangmu.”
“Kenapa tidak?”
“Karena Aelora lebih dulu memukulmu dengan boneka.”
Ryn menatap Piko yang masih dipegang Aelora.
“Benda itu bau.”
Piko mengeluarkan bunyi pelan dari jahitan mulutnya.
Ryn mundur setengah langkah.
Aelora memeluk bonekanya. “Piko tidak suka kau.”
“Aku juga tidak suka dia.”
“Bagus. Berarti adil.”
Nira tersenyum puas.
Ryn memandang Aelora dari kepala sampai kaki. Tatapannya berhenti pada cincin Vesperion yang tergantung di lehernya.
“Jadi kau anak manusia yang diberi nama keluarga Raja.”
“Aku Aelora.”
“Aku tahu namamu. Seluruh istana membicarakanmu.”
“Kalau begitu kenapa bertanya?”
“Aku tidak bertanya.”
Aelora mulai memahami mengapa Nira terlihat ingin mendorongnya ke dalam kolam.
Maura bangkit dengan bantuan salah seorang pelayan. Sebelum pergi, ia menggenggam tangan Aelora sebentar.
“Jangan berjalan sendirian di lorong lama,” bisiknya. “Terutama setelah lonceng malam berbunyi.”
“Kenapa?”
Maura melirik Ryn dan para penjaga.
“Saya akan menjelaskannya saat keadaan lebih aman.”
Ia membungkuk, lalu pergi melalui pintu samping bersama dua pelayan.
Aelora ingin mengejar, tetapi pergelangan kakinya kembali terasa sakit. Ia berhenti dan melihat Maura menghilang di ujung lorong.
Satu rahasia lagi.
Semakin banyak orang mengatakan ingin melindunginya, semakin banyak pula hal yang mereka sembunyikan.
“Dia tidak akan bicara kalau ada penjaga,” kata Ryn.
Aelora menoleh. “Kau mengenalnya?”
“Semua orang mengenal Maura. Dia sudah bekerja di istana lebih lama daripada Orin.”
“Kenapa dia takut?”
Ryn memungut batu pemadam rune dari lantai. “Karena dia pernah bekerja untuk seseorang yang sudah mati.”
“Siapa?”
Ryn memasukkan batu itu ke dalam saku. “Aku tidak memberi informasi gratis.”
Nira mendengus. “Kau bahkan tidak tahu apa-apa.”
“Aku tahu lebih banyak darimu.”
“Kau cuma suka menguping rapat orang dewasa.”
“Dan kau suka menyelinap ke dapur.”
“Itu berbeda. Dapur punya makanan.”
Ryn mengabaikannya dan kembali menatap Aelora. “Kalau kau ingin tahu, ikut denganku.”
Kedua penjaga langsung berkata bersamaan, “Tidak.”
Ryn memutar mata. “Aku hanya mau ke halaman latihan.”
“Putri harus kembali ke kamarnya,” kata penjaga bertanduk.
“Aku belum mau kembali,” jawab Aelora.
Penjaga itu tampak kesulitan. “Tabib Eirna mengizinkan berjalan di taman, bukan mengikuti Tuan Muda Ryn.”
“Halaman latihan dekat taman,” kata Ryn.
“Lewat tiga lorong dan satu tangga.”
“Masih dekat kalau tahu jalan.”
Nira berbisik kepada Aelora, “Jangan percaya. Dia pasti mau membuat masalah.”
“Aku mendengar itu,” kata Ryn.
“Memang sengaja.”
Aelora memandang lorong tempat Maura pergi, lalu Ryn. Ia tidak yakin anak laki-laki itu benar-benar tahu sesuatu, tetapi rasa ingin tahunya sudah terlanjur bangun.
“Kenapa kau ingin aku ikut?” tanyanya.
Ryn menyentuh lambang serigala pada jubahnya. “Aku mau melihat apa yang membuatmu begitu istimewa.”
“Aku tidak istimewa.”
“Raja tidak pernah mengangkat anak asing menjadi keluarga.”
“Itu bukan urusanku.”
“Sekarang namamu Vesperion. Berarti semua orang harus membungkuk, memberimu kamar di sayap kerajaan, dan menempatkan empat penjaga di depan pintu.”
Aelora menatapnya. “Kau marah karena itu?”
“Aku tidak marah.”
Nira bersedekap. “Dia marah.”
Ryn menoleh tajam. “Diam.”
“Ayahnya ingin Ryn menjadi murid Raja,” lanjut Nira, seolah tidak mendengar. “Tapi Kael selalu bilang dia terlalu kecil.”
“Aku tidak terlalu kecil.”
“Kau dua tahun lebih besar dariku.”
“Dan empat tingkat lebih pandai.”
“Kau gagal ujian ilusi minggu lalu.”
“Itu karena gurunya curang.”
Aelora melihat telinga Ryn memerah. Anak itu bukan sekadar tidak menyukainya. Ia merasa sesuatu telah direbut.
Mungkin perhatian Kael.
Mungkin posisi yang selama ini ingin didapatkan keluarganya.
Aelora mengenal rasa itu. Ia pernah melihat anak-anak lain mendapat makanan, pelukan, atau pujian, lalu membenci mereka karena memiliki sesuatu yang tidak ia punya.
“Aku tidak meminta diangkat menjadi putri,” katanya.
Ryn menatap cincin di lehernya. “Tapi kau menerimanya.”
“Apa aku harus menolak tempat tinggal hanya supaya kau tidak kesal?”
Nira menutup mulut, gagal menyembunyikan tawa.
Ryn mengeraskan rahang. “Aku tidak kesal.”
“Kau sudah bilang.”
“Kalau begitu buktikan kau pantas berada di sini.”
Salah satu penjaga maju. “Tuan Muda—”
“Hanya permainan sihir,” potong Ryn. “Tidak ada senjata. Tidak ada luka.”
Aelora menatapnya. “Permainan apa?”
Ryn menunjuk halaman latihan melalui jendela di ujung lorong.
“Lingkaran bayangan. Anak-anak bangsawan memainkannya untuk menguji kendali sihir. Siapa yang keluar dari lingkaran lebih dulu kalah.”
“Aku tidak tahu caranya.”
“Aku akan mengajarimu.”
“Itu terdengar seperti perangkap,” kata Nira.
“Karena kau selalu kalah.”
“Aku pernah menang.”
“Kau melempar tanah ke mataku.”
“Itu strategi.”
Aelora melihat kedua penjaganya. “Kalau hanya permainan, boleh?”
“Putri baru sembuh,” jawab penjaga bertanduk.
“Aku hanya berdiri dalam lingkaran.”
Ryn tersenyum tipis. “Kalau dia takut, tidak perlu.”
Aelora tahu dirinya sedang dipancing.
Ia juga tahu menerima tantangan anak yang lebih tua saat tubuhnya belum pulih bukan keputusan cerdas.
Namun nama Vesperion terasa berat di lehernya. Semua orang di istana melihatnya sebagai anak manusia yang dibawa Kael dari hutan. Sebagian takut, sebagian curiga, dan sebagian lain mungkin berpikir ia mendapatkan semuanya tanpa alasan.
“Aku ikut,” katanya.
Nira menarik lengannya. “Aelora.”
“Hanya satu permainan.”
“Kael akan marah.”
“Kael sering marah.”
“Itu bukan alasan yang bagus.”
Namun Aelora sudah berjalan mengikuti Ryn.
Halaman latihan berada di sisi selatan istana.
Lantainya terbuat dari batu kelabu dengan garis-garis rune yang membentuk beberapa arena kecil. Rak senjata berdiri di bawah atap. Tidak jauh dari sana, sekelompok prajurit sedang berlatih menggunakan tombak, tetapi mereka menghentikan gerakan ketika melihat anak-anak datang.
Ryn memilih arena paling kecil.
Ia mengambil kapur hitam dan mempertebal garis lingkaran yang sudah ada. Diameternya sekitar tiga langkah orang dewasa.
“Peraturannya mudah,” katanya. “Kita berdiri di dalam. Masing-masing membuat satu bentuk bayangan. Bayangan boleh mendorong, menahan, atau menghalangi, tetapi tidak boleh melukai.”
“Aku tidak bisa membuat bayangan,” kata Aelora.
“Kau memakai nama Vesperion.”
“Nama tidak langsung mengajariku sihir.”
Ryn tampak tidak menyangka jawaban itu.
Nira duduk di pagar batu sambil memeluk lutut. “Aku sudah bilang dia baru datang.”
“Kalau begitu gunakan sihir manusia,” kata Ryn. “Rune, angin, cahaya. Apa pun.”
Aelora memandang tangannya.
Ia mengetahui banyak mantra dari kehidupan sebelumnya. Masalahnya, tubuhnya sekarang tidak cukup kuat. Percikan api sederhana saja gagal di Hutan Hitam.
“Aku belum pernah berlatih.”
“Berarti mudah bagiku.”
“Ryn,” tegur salah satu penjaga.
Anak itu masuk ke lingkaran. “Kalau dia mau berhenti, dia bisa bilang.”
Aelora menyerahkan Piko kepada Nira, lalu berdiri di sisi berlawanan.
“Jangan lempar bonekaku.”
“Aku bukan kau,” kata Nira.
Ryn mengangkat tangan kanan. Bayangannya memanjang di lantai, kemudian memisahkan diri dari kakinya. Dalam beberapa detik, bayangan itu membentuk seekor serigala kecil.
Bentuknya belum sempurna. Salah satu telinganya lebih besar, ekornya terlalu panjang, tetapi tetap terlihat hidup. Serigala itu mengitari Ryn sambil menggeram pelan.
Beberapa prajurit yang berlatih mulai mendekat untuk menonton.
Ryn terlihat puas. “Sekarang giliranmu.”
Aelora menarik napas.
Ia mencoba mengingat pelajaran pertama Kael pada kehidupan lama: sihir bukan soal memaksa kekuatan keluar. Rasakan terlebih dahulu apa yang ada di sekitarmu.
Namun saat itu Aelora sudah berusia dua belas tahun.
Sekarang jalur sihirnya bahkan belum terbuka penuh.
Ia menatap bayangannya sendiri. Bentuk kecil itu jatuh di belakang kaki, tipis karena cahaya siang Nocthara.
Aelora memusatkan perhatian.
Tidak terjadi apa-apa.
Ryn menunggu, lalu berkata, “Kau boleh menyerah.”
“Aku sedang mencoba.”
“Sudah lama.”
“Baru beberapa detik.”
“Cukup untuk orang yang bisa.”
Nira mengambil batu kecil dan melemparkannya ke arah Ryn. Batu itu tidak mengenai, tetapi cukup membuatnya menoleh.
“Jangan ganggu.”
“Aku hanya membantu.”
“Dengan melempar batu?”
“Itu cara terbaik membantumu diam.”
Aelora menutup mata.
Ia tidak mencari Umbra. Bagian itu belum dikenalnya. Ia mencari rasa hangat yang pernah muncul saat tanda di pergelangan bereaksi terhadap sentuhan Kael.
Ada sesuatu di dalam tubuhnya.
Kecil dan jauh, seperti cahaya lilin di ujung lorong.
Aelora mencoba mendekat.
Tanda pada pergelangan tangan menghangat.
Bayangannya bergerak.
Bukan membentuk binatang. Hanya bergeser sedikit, lalu memanjang sampai menyentuh ujung sepatu Ryn.
Anak laki-laki itu mengerutkan dahi.
“Itu saja?”
Aelora membuka mata.
Serigala bayangan Ryn menerjang.
Ia refleks mundur. Ujung sandalnya hampir menyentuh garis lingkaran, tetapi Aelora berhasil menjaga keseimbangan.
Serigala tersebut berputar dan menyerang lagi.
Tidak ada cakar atau gigi sungguhan. Namun setiap kali menyentuh tubuhnya, bayangan itu memberi tekanan seperti dorongan tangan.
Aelora mengangkat kedua lengan untuk melindungi wajah.
“Berhenti kalau tidak bisa,” kata Ryn.
“Aku bisa.”
“Kaumu bahkan belum membuat bentuk.”
Aelora mencoba menarik bayangannya sendiri. Bentuk itu bergerak lambat, menempel di lantai seperti kain basah.
Serigala Ryn menyambar dari samping.
Aelora menghindar, tetapi kaki kanannya tidak cukup kuat. Nyeri menjalar dari pergelangan sampai lutut. Ia terhuyung dan satu tangannya menyentuh tanah.
Nira berdiri. “Sudah. Dia masih terluka.”
“Aku belum keluar lingkaran,” kata Aelora.
“Karena tanganmu menahan tubuh.”
Ryn menurunkan tangannya sedikit. Serigalanya ikut berhenti.
Wajahnya tidak lagi terlihat puas.
“Kau bisa berhenti,” katanya.
Aelora mengangkat kepala. “Kau ingin menang atau merasa kasihan?”
“Aku tidak merasa kasihan.”
“Kalau begitu lanjut.”
Ryn mengatupkan rahang dan menggerakkan dua jari.
Serigala bayangan maju lagi, kali ini lebih lambat. Ia mendorong bahu Aelora, mungkin hanya cukup untuk membuatnya mundur satu langkah.
Namun saat bayangan itu menyentuhnya, tanda di pergelangan Aelora menyala.
Cahaya putih menembus lengan bajunya.
Serigala Ryn mengeluarkan suara seperti hewan sungguhan yang terluka.
Bentuknya pecah.
Ryn tersentak dan memegang sisi kiri tubuhnya.
Aelora melihat wajahnya berubah pucat.
“Ryn?”
“Aku tidak apa-apa.”
Ia mencoba membentuk serigala lagi, tetapi bayangannya hanya berkedut di lantai. Tangan kirinya menekan bagian bawah tulang rusuk.
Nira melompat turun dari pagar. “Lukamu sakit lagi?”
“Diam.”
“Luka apa?” tanya Aelora.
Ryn tidak menjawab.
Nira mendekat, tetapi Ryn mundur. Gerakan itu membuatnya meringis.
“Dia terluka waktu latihan musim dingin,” kata Nira. “Tabib bilang sudah sembuh, tapi setiap pakai sihir besar selalu sakit.”
“Aku tidak memakai sihir besar.”
“Kau selalu bilang begitu.”
Ryn menatap para prajurit yang mulai berkumpul. Rasa malu terlihat jelas di wajahnya.
“Aku masih bisa lanjut.”
Ia mengangkat tangan lagi.
Bayangan di lantai memaksa diri membentuk serigala. Kali ini bentuknya goyah. Tubuhnya retak-retak seperti kaca hitam.
Aelora merasakan sesuatu yang salah.
Retakan pada bayangan itu tidak berasal dari kurangnya tenaga. Ada garis asing di dalamnya—cahaya tipis berwarna emas yang melilit bentuk serigala seperti benang.
Bukan sihir Ryn.
Kutukan.
“Berhenti,” kata Aelora.
“Kau takut kalah?”
“Bukan. Ada sesuatu di bayanganmu.”
Ryn tersenyum mengejek, tetapi wajahnya semakin pucat. “Alasan buruk.”
Serigala itu melompat.
Di tengah udara, bentuknya berubah.
Mulutnya terbuka lebih lebar daripada seharusnya. Benang emas keluar dari retakan tubuhnya dan melilit leher Ryn.
Anak laki-laki itu tercekik.
Para penjaga langsung masuk ke arena.
Salah satu mencoba memotong benang dengan pedang, tetapi bilahnya terpental. Penjaga lain menarik Ryn dari belakang, namun serigala bayangan ikut menempel pada tubuhnya.
“Jangan sentuh kutukannya!” teriak salah seorang prajurit.
Ryn jatuh berlutut. Wajahnya mulai membiru.
Nira memanggil Eirna dengan panik.
Aelora tidak sempat berpikir.
Ia masuk lebih dekat dan memegang tangan Ryn.
Cahaya putih keluar dari pergelangannya.
Ryn berusaha menarik tangan. “Jangan—”
“Aku tidak akan menyakitimu.”
“Kau bahkan tidak tahu apa yang kau lakukan.”
“Itu benar.”
“Lalu kenapa—”
“Karena kau tidak bisa bernapas.”
Aelora menutup mata.
Ia tidak mengucapkan mantra. Tidak ada kata yang terasa tepat. Ia hanya memikirkan hal sederhana: benang emas itu tidak seharusnya berada di sana.
Panas mengalir dari dadanya ke telapak tangan.
Tanda sayap di pergelangan terbuka.
Cahaya putih menyusuri lengan Ryn, masuk ke bawah kulit, lalu mencapai luka lama di sisi tubuhnya.
Ryn menjerit.
Aelora hampir melepaskan tangan, tetapi anak itu justru menggenggam jemarinya lebih erat.
Di bawah pakaian Ryn, sesuatu menyala.
Garis-garis emas muncul di sepanjang tulang rusuk, membentuk simbol matahari kecil yang telah ditanam jauh di dalam luka. Simbol itu berdenyut sekali, lalu mencoba merambat ke jantung.
Aelora mengenalinya.
Segel Gereja Fajar.
Seseorang pernah melukai Ryn menggunakan sihir suci dan membiarkan kutukan tetap hidup di dalam tubuhnya.
“Jangan bergerak,” bisik Aelora.
Ia menarik cahaya keluar.
Bukan dengan tangan, melainkan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah ada duri tertanam di dalam daging Ryn, dan Aelora sedang memegang ujungnya.
Kutukan itu melawan.
Benang emas mencambuk pergelangan Aelora. Kulitnya terasa terbakar, tetapi ia tidak melepaskan.
Sedikit demi sedikit, simbol matahari keluar dari luka Ryn.
Cahaya di sekitarnya tidak hangat. Warnanya memang emas, tetapi rasanya dingin dan kosong.
Ketika simbol terakhir terangkat dari tubuh Ryn, Aelora menutup tangannya.
Cahaya putih menelannya.
Segel Gereja Fajar pecah menjadi debu.
Serigala bayangan Ryn jatuh ke lantai dan berubah menjadi asap biasa.
Ryn menarik napas panjang.
Warna kembali ke wajahnya.
Aelora membuka mata. Dunia di sekelilingnya bergoyang sedikit, tetapi ia masih berdiri.
“Coba bernapas,” katanya.
Ryn menarik napas lagi, lebih dalam.
Tangannya menyentuh sisi tubuh.
Rasa sakit yang selama ini tinggal di sana telah hilang.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.
Aelora melepaskan tangannya. “Aku tidak tahu.”
“Tidak mungkin.”
“Aku memang tidak tahu.”
Nira berlutut di samping Ryn. “Masih sakit?”
Ryn menggeleng perlahan.
Salah seorang penjaga menarik pakaian di sisi tubuhnya sedikit untuk memeriksa luka lama.
Bekasnya masih ada, tetapi garis hitam yang selama ini mengelilingi luka telah menghilang. Kulit di sana tampak sehat untuk pertama kalinya sejak musim dingin lalu.
Para prajurit mulai berbisik.
Aelora mundur satu langkah. Kepalanya terasa ringan.
Ryn menatapnya dengan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi mengejek. Tidak juga ramah.
Lebih seperti takut karena baru menyadari bahwa Aelora bukan anak biasa.
“Siapa yang melukaimu?” tanya Aelora.
Ryn menunduk pada bekas luka.
“Aku tidak tahu. Waktu itu seseorang menyerang rombongan kami di perbatasan.”
“Cahayanya berasal dari Gereja Fajar.”
“Itu tidak mungkin. Ayah bilang kami diserang iblis liar.”
Aelora hendak menjawab, tetapi suara langkah cepat terdengar dari arah istana.
Eirna datang lebih dulu. Kael menyusul di belakangnya bersama Orin.
Begitu melihat Aelora berdiri di tengah lingkaran latihan, wajah Kael berubah.
“Aku meninggalkanmu kurang dari satu jam.”
Aelora mencoba tersenyum. “Aku tidak keluar istana.”
“Itu bukan pembelaan.”
Eirna sudah berlutut di depan Ryn. Ia memeriksa napas, mata, dan luka di sisi tubuhnya. Ketika melihat kulit yang sudah bersih, tangannya berhenti.
“Siapa yang menyembuhkannya?”
Semua orang memandang Aelora.
Aelora mengangkat satu tangan kecil.
“Aku tidak sengaja.”
Kael menatap cahaya yang masih tersisa pada ujung jarinya.
Kemudian pandangannya turun ke debu emas di lantai.
Wajahnya menjadi serius.
Eirna mengambil sedikit debu menggunakan botol kaca. Begitu masuk, serpihan emas itu membentuk lambang matahari kecil.
“Ini bukan sisa luka biasa,” katanya.
Ryn menatap botol tersebut. “Apa itu?”
Eirna berdiri dan menunjukkan lambang di dalamnya kepada Kael.
“Segel pelacak.”
Kael memandang Ryn. “Sudah berapa lama luka itu ada?”
“Hampir satu tahun.”
“Berarti selama satu tahun,” kata Eirna, “seseorang dari Gereja Fajar bisa melihat tempat-tempat yang didatangi Ryn.”
Halaman latihan mendadak sunyi.
Ryn terlihat lebih pucat daripada saat kutukan mencekiknya.
“Aku sering berada di ruang dewan,” katanya. “Ayah membawaku ke pertemuan klan.”
Kael menutup jemarinya di sekitar botol.
“Itulah sebabnya mereka mengetahui jalur dalam istana.”
Aelora melihat kembali ke arah lorong lama.
Maura berkata seseorang yang mengambilnya masih berada di dalam istana.
Sekarang mereka menemukan seorang anak bangsawan yang tanpa sadar membawa mata Gereja Fajar ke mana pun ia pergi.
Ryn mengangkat wajah kepada Aelora.
“Kenapa kau menolongku?”
Aelora tidak perlu berpikir lama.
“Karena kau tidak bisa bernapas.”
“Tapi aku menantangmu.”
“Itu cuma permainan.”
“Aku tidak menyukaimu.”
Aelora mengangkat bahu. “Kau boleh tetap tidak suka setelah sembuh.”
Nira tertawa kecil.
Ryn tidak ikut tertawa. Ia masih memandang Aelora, seakan jawaban sederhana itu jauh lebih sulit dipahami daripada sihir apa pun.
Kael berjalan mendekat dan memeriksa pergelangan Aelora.
“Kau terluka?”
“Hanya panas sedikit.”
“Aku sudah bilang jangan memakai sihir.”
“Kau tidak pernah bilang begitu.”
Kael berhenti.
Aelora menunggu.
“Mulai sekarang,” katanya, “jangan memakai sihir tanpa Eirna.”
“Itu tidak adil.”
“Tubuhmu hampir pingsan setelah setiap penggunaan.”
“Aku belum pingsan.”
Begitu selesai bicara, pandangannya menggelap.
Kael menangkapnya sebelum lututnya menyentuh lantai.
Aelora masih sadar, tetapi wajahnya menempel pada bahu Kael dan tubuhnya terlalu lemas untuk bergerak.
“Aku cuma sedikit pusing,” gumamnya.
“Alasan yang luar biasa.”
Ryn berdiri dengan bantuan Nira. Saat Kael hendak membawa Aelora pergi, ia memanggil dari belakang.
“Yang Mulia.”
Kael menoleh.
Ryn memandang debu kutukan di dalam botol Eirna, kemudian Aelora yang berada dalam pelukan sang raja.
“Siapa pun yang menanam segel itu mungkin tahu Putri sudah menemukannya.”
Kael menatap lambang matahari yang terus berputar di dalam botol.
“Ya.”
Di tempat yang jauh dari halaman latihan, di balik salah satu dinding tua Istana Bulan Merah, sebuah cermin yang sudah lama tidak digunakan retak dari tengah.
Seseorang berdiri di depannya.
Wajahnya tertutup tudung, tetapi di telapak tangannya terdapat luka berbentuk matahari yang baru saja padam.
“Anak itu dapat memurnikan segel tanpa mantra,” katanya.
Dari dalam cermin, suara perempuan menjawab,
“Kalau begitu jangan biarkan dia menyentuh luka yang lain.”