NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Ketua Dewan Siswa

Aula pertemuan lantai atas yang biasanya menjadi ruang steril bagi para instruktur, hari ini dipenuhi oleh aura yang sangat berbeda. Sepuluh siswa kelas Alpha dikumpulkan dalam posisi berdiri tegak, membentuk barisan rapi. Di depan mereka, berdiri seorang pemuda dengan seragam putih bersih yang memancarkan wibawa bukan instruktur, melainkan rekan mereka sendiri.

Leonard Arkana Hartono.

Ia adalah Ketua Dewan Siswa Elite, posisi yang konon diberikan langsung oleh direktur akademi. Leonard berdiri di belakang podium, tangannya terlipat di depan dada dengan gerakan yang sangat terkontrol. Ia tidak menunjukkan kesombongan yang vulgar, melainkan ketenangan yang jauh lebih menakutkan bagi mereka yang mengerti posisinya.

"Selamat datang, rekan-rekan," suara Leonard halus, nyaris selembut bisikan, namun mampu memotong riuh rendah atmosfer aula hingga hening total. "Dewan Siswa Elite bukanlah entitas yang baru. Kami adalah perpanjangan tangan dari algoritma, memastikan bahwa setiap potensi yang kalian bawa dapat dioptimalkan atau dipangkas jika memang tidak sesuai dengan ritme sistem."

Leonard berjalan keluar dari balik podium, matanya menyapu wajah setiap siswa satu per satu. Ia berhenti sejenak di depan Nabila, menatapnya dengan tatapan yang seolah bisa menelanjangi rasa takut sang gadis, sebelum akhirnya beralih ke arah Atharva.

"Kalian mungkin bertanya apa wewenang kami," lanjut Leonard. "Kami memiliki mandat penuh untuk memberikan rekomendasi. Penghargaan bagi mereka yang membawa kemajuan bagi Nexus, dan hukuman bagi mereka yang... menjadi residu."

Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sangat sopan, namun setiap kata yang keluar dari mulut Leonard terasa seperti sebuah vonis yang telah dikunci. Ia memberikan penekanan khusus pada kata 'residu', membuat setiap siswa di kelas Alpha merasakan hawa dingin yang menjalar di punggung mereka.

"Jika Dewan Siswa Elite menyarankan eliminasi, tidak ada satu pun instruktur yang akan menentang," tambahnya dengan senyum tipis. "Jadi, saya harap kita bisa bekerja sama dengan... efisien."

Atharva mengamati setiap gerak-gerik Leonard. Ia memperhatikan bagaimana posisi kaki Leonard saat berdiri, sudut kepalanya saat berbicara, bahkan cara ia mengatur napas. Namun, ada satu hal yang membuat Atharva tidak bisa mengalihkan pandangan: saat Leonard menatapnya, tidak ada kesan bahwa mereka baru bertemu di akademi ini.

Itu bukan tatapan seorang ketua senior kepada junior yang asing. Itu adalah tatapan seorang penjaga yang sudah menghafal setiap pola pergerakan Atharva.

"Atharva," panggil Leonard tiba-tiba. Ia melangkah mendekati Atharva tanpa ragu, masuk ke dalam ruang personalnya. "Saya telah melihat laporan latihanmu di simulator. Sangat menarik. Mengingatkan saya pada... seseorang yang dulu pernah menduduki posisi yang sama sepertimu, namun berakhir dengan catatan yang sangat berantakan."

Atharva tidak mundur. Ia membalas tatapan Leonard dengan sorot yang sama tenangnya. "Jika maksud Anda Alvaro, sebaiknya Anda bicara langsung, Ketua."

Suasana aula mendadak tegang. Nama itu seperti duri yang membuat seluruh anggota Dewan Siswa di belakang Leonard menegakkan posisi mereka secara serentak.

Namun, Leonard justru tertawa kecil. Suaranya terdengar sangat bersahabat, namun di baliknya, Atharva menangkap ancaman yang nyata. "Alvaro? Sebuah nama yang sudah lama tidak terdengar. Kamu terlalu banyak mengonsumsi data yang salah, Atharva. Hati-hati, rasa ingin tahu yang berlebihan adalah cara tercepat untuk membuat namamu muncul di daftar residu kami."

Leonard menepuk bahu Atharva dua kali tepukan yang sangat mirip dengan cara siswa senior menepuk bahu Dimas di koridor beberapa hari lalu.

"Selamat datang di kelas Alpha. Saya akan mengawasimu dengan sangat... sangat ketat," ucap Leonard pelan, tepat di samping telinga Atharva, sebelum ia berbalik dan memberi isyarat kepada anggota Dewan Siswa lainnya untuk membubarkan pertemuan.

Saat Leonard menjauh, Atharva merasakan sesuatu yang dingin terselip di balik kerah almamaternya. Ia segera merogohnya dengan gerakan yang tidak mencolok. Sebuah kepingan memori mikro, sangat kecil, hasil selipan tangan Leonard saat menepuk bahunya tadi.

Atharva terdiam. Mengapa ketua dewan itu orang yang jelas-jelas menjadi kaki tangan sistem memberikannya sesuatu secara sembunyi-sembunyi? Permainan ini ternyata jauh lebih berlapis daripada yang ia bayangkan, dan ia baru saja mendapatkan kunci pertama dari orang yang seharusnya menjadi musuh terbesarnya.

...****************...

Atharva menyimpan kepingan memori itu ke dalam saku bagian dalam almamaternya dengan gerakan secepat kilat, tepat saat Leonard sudah berjarak beberapa meter di depannya. Ia harus tetap terlihat tenang, tidak peduli seberapa kencang detak jantungnya menghantam dinding dadanya saat ini.

Leonard tidak menoleh lagi. Ia dan rombongan Dewan Siswa Elite berjalan meninggalkan aula dengan langkah yang teratur, meninggalkan aroma logam dan disinfektan yang khas di udara.

Begitu pintu aula tertutup rapat, Keisya mendekat, suaranya nyaris berupa hembusan napas. "Apa yang dia berikan padamu?"

Atharva tidak segera menjawab. Ia menatap ke sekeliling; aula sudah kosong, namun ia tahu sensor kamera di sudut langit-langit masih aktif. Ia memberi isyarat dengan matanya agar mereka bergerak keluar. Begitu mereka sampai di koridor yang sepi, Atharva menyandarkan tubuhnya ke dinding, memastikan tidak ada sensor audio yang tersembunyi di balik panel dinding.

"Dia memberikan ini," jawab Atharva pelan, mengeluarkan kepingan memori mikro itu dari sakunya dan menunjukkannya di antara ibu jari dan telunjuknya.

Farel yang baru saja menyusul segera mengeluarkan alat pemindai kecil dari saku celananya. Dengan gerakan gesit, ia menyambungkan kepingan itu ke interface portabelnya. Layar kecil di tangan Farel memancarkan cahaya biru redup yang memantul di wajah mereka.

"Ini terenkripsi dengan protokol militer," bisik Farel, jemarinya menari-nari di atas layar virtual. "Tunggu... kodenya... ini menggunakan algoritma yang sama dengan akses tingkat tinggi di ruang arsip semalam."

"Leonard?" Nabila, yang baru saja bergabung dengan wajah pucat, tampak tak percaya. "Ketua Dewan Siswa memberikan data tingkat tinggi kepada kita? Dia mencoba menjebak kita agar melakukan pelanggaran integritas lagi, bukan?"

Atharva menatap kepingan memori itu dengan dahi berkerut. "Mungkin. Atau mungkin, dia sedang mengirim pesan."

Farel berhasil memecahkan lapisan pertama enkripsi, dan sebuah file video pendek muncul di layar. Video itu tidak menampilkan wajah, hanya rekaman sudut pandang orang pertama seorang murid yang sedang berlari di koridor timur, tempat yang sama yang didatangi Atharva dan Celine sebelumnya. Video itu berakhir dengan sebuah koordinat digital yang berkedip: Sector 9-G, Level Bawah Tanah.

"Sektor 9-G?" Nareswara, yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. "Itu area pembuangan limbah nuklir dan pusat pendingin utama sekolah. Tidak ada siapa pun yang diizinkan ke sana."

"Leonard tahu kita masuk ke koridor timur tadi," gumam Atharva, menyadari sesuatu. "Dia tahu kita melanggar aturan. Jika dia ingin kita dihukum, dia bisa saja melaporkan kita langsung ke Profesor Adrian dan kita akan dieliminasi saat itu juga."

"Tapi dia tidak melakukannya," timpal Keisya, matanya menatap tajam ke arah kepingan memori tersebut. "Dia justru memberikan kita petunjuk lebih jauh. Seolah-olah dia ingin kita melihat apa yang disembunyikan sistem, tapi dia sendiri tidak bisa melakukannya karena dia terus-menerus dipantau."

Atharva menyadari ironi yang kejam. Ketua Dewan Siswa Elite, posisi yang seharusnya menjadi anjing penjaga sistem, justru bertindak sebagai agen ganda atau mungkin, dia sedang memanipulasi mereka untuk melakukan pekerjaan kotor yang terlalu berbahaya baginya.

"Kita tidak punya pilihan," kata Atharva setelah hening sejenak. "Papan peringkat akan diperbarui dalam beberapa jam. Jika kita ingin bertahan dan jika kita ingin tahu kebenaran tentang Alvaro dan apa yang sebenarnya terjadi di akademi ini kita harus mengikuti koordinat ini."

"Sektor 9-G itu jebakan kematian," sahut Dimas cemas.

"Semuanya di akademi ini adalah jebakan," potong Atharva dingin, memasukkan kembali kepingan memori ke dalam sakunya. "Perbedaannya adalah, apakah kita akan menunggu untuk terjepit di dalamnya, atau kita yang menentukan arah jebakan itu sendiri."

Ia menatap teman-temannya satu per satu. Kepercayaan mereka masih rapuh, dan ketakutan akan eliminasi selalu membayangi. Namun, di mata mereka, Atharva melihat kilatan api yang sama dengan yang dirasakannya. Hari ini, mereka bukan lagi sekadar sepuluh siswa yang bersaing di kelas Alpha. Mereka telah resmi menjadi ancaman bagi struktur yang membangun mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!