Setiap tahun selalu saja para pembantu yang masih perawan akan meninggal dunia, namun mereka tidak ada yang sadar dengan hal itu
Hingga akhir nya Dila datang ke rumah itu untuk mencari tahu tentang keberadaan sang adik yang hilang entah ke mana, dan tempat terakhir dia kerja adalah rumah keluarga Susanto.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Dapat mangsa
''Hai.'' Susanto melambaikan tangan pada seorang gadis yang baru saja pulang dari sawah.
''Ya, ada perlu bantuan apa ya?'' Ana bertanya dengan sopan.
''Aku kebetulan sedang mencari orang yang bernama Purnama, Apa kamu tahu ya rumah dia?'' Susanto bertanya sembari memperhatikan gadis ini dari ujung kepala hingga ujung kaki.
''Oh rumah Mbak Pur saya tahu sih.'' Ana mengangguk dengan sopan karena dia berpikir bahwa Susanto jauh lebih tua bila dibanding dengan dirinya.
''Bagus, aku dapat mangsa seperti ini dan kelihatan sekali bahwa dia masih perawan.'' Susanto merasa sangat puas karena dia berhasil mendapatkan mangsa.
''Em apa kamu bisa mengantarkan saya?'' Susanto meminta dengan nada yang begitu sopan sekali.
Karena Ana memperhatikan bahwa Susanto memang adalah orang kota dan tidak tahu kemungkinan besar rumah Purnama, maka gadis ini akhirnya setuju Untuk mengantarkan pria tersebut dan dia sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya saat ini sedang dalam bahaya besar karena mengantarkan pria penganut pesugihan.
Susanto memang berniat untuk mencari rumah Purnama tapi kalau ada mangsa seperti ini maka tidak masalah bila tidak bertemu dengan Purnama hari ini, yang penting soal tumbal bisa teratasi dengan cepat dan dia bisa santai kembali ketika nanti para tumbal sudah berhasil dia kumpulkan dalam waktu setahun dan dirinya siap menikmati harta.
Ini emang niat dia ketika datang ke desa ini akan terus berkeliling untuk mencari keberadaan para gadis perawan, namun sampai besok ini malah dia tertarik dengan keberadaan Purnama sehingga ingin mencari tahu lebih lanjut sehingga Susanto tidak pernah bisa diam anteng di rumah akibat rasa penasaran yang begitu tinggi.
Purnama menjadi orang yang membuat Susanto penasaran setengah mati sehingga pria itu terus berusaha keras untuk mencari keberadaan nya, terlebih lagi dia juga sudah mengetahui di mana letak Desa Pandan Arum itu sehingga merasa lebih mudah bila nanti ingin mencari purnama dan dia ingin menjadi teman dekat wanita itu.
Di pikiran Susanto tentu dia bisa nanti meminta bantuan dari Purnama ketika sudah bersangkutan dengan hargai seperti itu, namun dia tidak pernah mengetahui bahwa Purnama adalah manusia yang bisa membuat pesugihan yang telah dianut itu menjadi hancur berantakan, terlebih lagi dia juga tidak mendengarkan apa yang telah dipesan oleh Dina.
Dina sudah memberikan peringatan karena sebelumnya pesugihan milik orang tua mereka menjadi tidak terkendali setelah Purnama turun tangan, Dina tidak mau bila hal itu terjadi lagi kepada keluarga dia yang sekarang namun mau bagaimana karena Susanto tetap keras kepala dan justru ingin mendatangi maut itu sendiri tanpa maut yang mencari keberadaan dia.
''Eh itu ada hutan tapi terlihat sangat bersih ya.'' Susanto berkata kepada anak yang sedang berjalan di sebelah dia.
''Iya, banyak orang menggembala di sana tapi kalau sudah sore begini mereka pasti pulang.'' jawab Ana.
''Boleh tidak ambilkan aku foto di dalam hutan itu? biar jadi kenang-kenangan nanti kalau sudah pulang ke kota.'' pinta Susanto karena dia akan melancarkan aksi ini.
''Tapi rumah Mbak Purnama masih jauh dan kalau kita masuk dulu ke hutan itu maka nanti bisa malam sampai ke rumah Mbak Purnama.'' Ana agak Bimbang.
''Oh kamu ada pekerjaan lain sehingga tidak bisa ya?'' Susanto bertanya dengan suara memelas.
''Saya masih mau jualan juga nanti malam.'' ujar Ana karena dia memang adalah anak orang tidak punya.
''Kalau begitu biar aku nanti membeli dagangan kamu jadi kamu tidak perlu berjualan lagi, tapi tolong ambilkan aku foto sekali saja di itu yang agak tinggi.'' Susanto agak memaksa agar Ana merasa iba.
Ana yang mendengar hal itu menjadi tertarik dan dia merasa lebih baik bila dia menerima tawaran ini dan segera Ana mengantarkan Susanto masuk ke dalam hutan itu untuk mengambil foto, tanpa dia ketahui bahwa ini adalah titik dari permasalahan yang akan membuat dirinya menjadi tidak bisa melihat dunia ini lagi.
Buuaaaak.
''Hahaaaa akhirnya aku mendapat mangsa juga seperti ini.'' Susanto tertawa senang dan dia segera menyeret tubuh Ana semakin masuk ke dalam hutan.
''Tau gini aku akan jalan terus di pagi hari dan sore hari agar bisa segera mencapai mangsa sesuai target.'' ujar Susanto sendirian.
Ana yang bertubuh kecil tentu saja begitu mudah untuk Susanto mengangkat dia semakin masuk ke dalam hutan, Gadis itu pingsan dan Susanto tanpa membuang waktu langsung menyayat kulit dari ujung tangan, sebab semakin cepat dia bergerak maka permasalahan ini akan segera selesai tanpa harus membuang waktu lebih lama lagi di dalam sini.
Sraaaak.
''Aaaaghhh!'' sangking sakitnya yang saat ini dia rasakan maka Ana sampai terbangun dan dia ketakutan.
''Sialan, aku lupa menutup mulut dia tadi!'' Susanto kaget dan dia menatap kanan kiri untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mendengar.
''Toloooong, huhuhuhuu sakit sekali.'' Ana sangat kesakitan karena tangan dia sebelah sudah terkelupas.
Dieeeeek.
Dieeeeek.
''Mampus kau sialan!'' Susanto menghantam dengan sangat kuat sehingga dia tidak bisa bergerak lagi.
Ana mati dalam keadaan kepala hancur karena memang Susanto tidak peduli mau hidup dan mati namun yang jelas dia akan mengambil kulit gadis perawan itu, tangan liar pria ini segera bergerak cepat untuk menyeset habis seluruh kulit yang menempel di tubuh anak sehingga dia bisa membawa kulit itu pulang dan diasingkan di dalam lemari sesuai permintaan dari iblis yang telah dia puja.
Hari juga sudah semakin malam karena menguliti tubuh manusia membutuhkan waktu yang begitu lama sekali, terlebih lagi Dia tidak memiliki teman untuk melakukan aksi tersebut sehingga Susanto sedikit merasa lelah namun dia tidak boleh menyerah, takut juga bila nanti malah sampai ketahuan dengan orang yang ada di sekitar.
''Astaga lelah sekali aku.'' Susanto mengelap keringat yang meluncur di dahi dia.
''Aih bau amis seperti ini, aku tidak boleh tercium amis karena nanti kalau pulang malah ketahuan oleh para warga.'' Susanto menatap ke sana kemari dan dia segera mengeluarkan ponsel.
''Kemana ini Dina, dia juga harus membantu aku agar tidak ada yang mengetahui kalau aku telah membunuh warga sini.'' Susanto segera menghubungi sang istri.
Dina memang sedang bersantai di rumah sendirian karena dia semakin banyak merenung ketika tiba di desa ini, kadang pula Susanto merasa muak dengan segala tingkah laku Dina yang menurutnya tidak ada keharmonisan atau bahkan rasa hangat kepada sang suami, bahkan ketika berhubungan suami istri dia juga tidak menunjukkan rasa gairah sehingga membuat Susanto semakin menjaga jarak.
Selamat pagi, jangan lupa like dan komentar nya ya.
knp Bu Yuni asal tuduh aja padahal ga ada bukti😒 jln satu2nya datangkan purnama sang ratu ular👍