Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.
Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Tujuh bulan berlalu seperti kilatan cahaya di atas langit Jakarta. Musim berganti, namun kesibukan di pusat kendali Menara Bratadikara tidak pernah benar-benar mereda, hanya saja fokusnya kini telah bergeser. Perubahan paling mencolok terlihat di lantai lima puluh lima. Koridor yang dulunya hanya dilewati oleh para pria berjas hitam dengan langkah kaki yang berat, kini telah dilapisi karpet tebal bertekstur lembut untuk meredam suara, memastikan ketenangan mutlak bagi sang permaisuri yang usia kandungannya telah memasuki bulan kesembilan.
Aura duduk di sofa panjang ruang kerjanya, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal empuk. Gaun hamil berbahan katun lembut berwarna hijau sage yang dikenakannya tidak lagi mampu menyembunyikan perutnya yang kini telah membulat sempurna. Di pangkuannya, sebuah sabak digital menampilkan draf laporan akhir mengenai audit tahunan yayasan filantropi Aura Kirana Foundation.
Meskipun fisiknya mulai membatasi ruang geraknya, ketajaman berpikir Aura tidak berkurang sedikit pun. Baginya, mempersiapkan kelahiran sang buah hati sama persis seperti mempersiapkan sidang hukum paling krusial dalam hidupnya: setiap detail harus presisi, tanpa ada celah untuk kesalahan sekecil apa pun.
Tok, tok, tok.
Pintu jati ruang kerja terbuka perlahan. Kenzo melangkah masuk dengan langkah kaki yang sengaja dibuat seringan mungkin, sangat kontras dengan pembawaan biasanya yang kasual dan penuh letupan energi. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah baki kayu berisi segelas susu murni hangat dan semangkuk buah beri segar.
"Selamat sore, Ibu Direktur Utama dari Segala Urusan Hukum dan Domestik," sapa Kenzo dengan nada suara yang diredam, setengah berbisik. Ia meletakkan baki tersebut di atas meja kopi di depan Aura. "Si Bos Besar sedang terjebak dalam rapat pleno terakhir dengan otoritas pelabuhan internasional di lantai bawah, jadi dia mengirim gue sebagai utusan taktis untuk memastikan target operasi—yaitu lo—tetap terhidrasi dan tidak menyentuh dokumen kasus berat."
Aura terkekeh pelan, meletakkan sabak digitalnya ke samping. "Terima kasih, Ken. Tapi kamu tidak perlu berbisik seperti itu. Anak ini belum lahir, dia tidak akan terbangun karena suara tawamu yang biasanya menggelegar."
Kenzo duduk di kursi tunggal di seberang Aura, menyilangkan kakinya santai. "Oh, lo gak tahu saja, Ra. Devan sudah mengeluarkan dekret tidak tertulis minggu lalu. Siapa pun yang membuat suara di atas enam puluh desibel di lantai ini akan langsung dimutasi ke Distrik Utara untuk menghitung kontainer kargo manual selama tiga bulan. Gue masih sayang dengan telinga dan jemari gue yang berharga ini."
Aura hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar tingkat protektif suaminya yang terkadang sudah berada di luar batas kewajaran manusia biasa. Namun, di balik senyumannya, ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Ia tahu, setiap tindakan Devan, sekonyol apa pun kedengarannya, berakar dari rasa cinta dan kecemasan yang mendalam untuk melindunginya.
"Bagaimana situasi di luar, Ken? Pakta Integrasi berjalan lancar?" tanya Aura, kembali ke mode profesionalnya secara instan.
Ekspresi Kenzo sedikit berubah, memancarkan keseriusan seorang kepala intelijen. "Sempurna, Ra. Sejak draf regulasi yang lo susun diterapkan, tidak ada satu pun faksi dari Distrik Timur atau Selatan yang berani melanggar koridor hukum. Mereka sadar bahwa sistem pengawasan digital yang kita pasang di pelabuhan terhubung langsung dengan jaringan kejaksaan. Sisa-sisa loyalis Mahendra sudah sepenuhnya bersih dari sistem. Kita benar-benar berada dalam masa damai paling absolut dalam sejarah kota ini."
Kenzo menjeda kalimatnya, matanya menatap perut membulat Aura dengan binar ketulusan. "Semua ini berkat lo. Anak ini... dia benar-benar akan lahir di atas takhta yang bersih, seperti yang Devan janjikan."
Tepat pukul lima sore, pintu penghubung privat berdenting pelan. Sosok tegap Devanandra melangkah masuk ke dalam ruangan. Setelan jas formalnya masih melekat sempurna, namun dasinya sudah dilonggarkan beberapa senti, dan dua kancing teratas kemeja putihnya telah terbuka, mencerminkan kelelahan dari rapat panjang yang baru saja ia selesaikan.
Begitu mata elang Devan menangkap sosok Aura, seluruh ketegangan di wajah kerasnya menguap begitu saja. Ia mengabaikan keberadaan Kenzo yang langsung bangkit dari kursi dengan gerakan hormat yang jenaka.
"Gue cabut dulu, Dev. Tugas logistik sore ini selesai tanpa cacat," pamit Kenzo sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Aura sebelum melangkah keluar dan menutup pintu dengan sangat rapat.
Devan berjalan mendekati sofa, langsung berlutut di lantai di samping tempat Aura duduk—sebuah posisi yang kini menjadi ritual hariannya setiap kali kembali dari dunia luar. Ia meraih tangan kanan Aura, mengecup punggung tangan itu dengan kelembutan yang dalam, lalu memindahkan telapak tangan besarnya untuk bersandar di atas perut Aura.
"Gimana hari ini, Good Girl? Dia merepotkan lo lagi?" tanya Devan, suaranya yang berat bergetar rendah penuh kehangatan.
"Dia sangat tenang sore ini, Dev. Mungkin dia tahu kalau ayahnya sedang sibuk bertarung di ruang rapat," jawab Aura sambil menyisir rambut hitam Devan yang sedikit berantakan dengan jemarinya.
Sesaat setelah kalimat itu terucap, sebuah gerakan kecil terasa dari dalam perut Aura—sebuah tendangan lembut yang tepat mengenai telapak tangan Devan yang sedang bersandar di sana. Devan tertegun, matanya melebar menatap perut Aura, lalu sebuah senyuman murni yang sangat menawan merekah di wajahnya.
"Dia bergerak, Ra," bisik Devan, ada nada ketakjuban yang kekanak-kanakan di dalam suara sang penguasa klan mafia. "Dia bener-bener denger suara gue."
"Tentu saja dia mendengar suara ayahnya," Aura menunduk, menatap wajah suaminya yang kini bersandar dengan nyaman di pangkuannya, mengabaikan statusnya sebagai pria paling ditakuti di kota ini. "Dia tahu kalau pria yang sedang memegang perut ibunya ini adalah pelindung terbaik yang pernah ada di dunia."
Devan memejamkan matanya, menikmati usapan lembut tangan Aura di kepalanya. Di tengah kesunyian sore itu, dengan detak jantung Aura yang konstan dan gerakan kecil dari benih masa depan mereka di dalam kandungan, Devan merasakan sebuah kedamaian yang tidak pernah ia bayangkan bisa ia miliki selama masa mudanya yang dipenuhi oleh darah, pengkhianatan, dan dinginnya baja senjata.
Malam harinya, sebuah makan malam keluarga kecil diadakan di ruang makan utama griya tawang. Nyonya Rahma hadir dengan senyuman teduhnya yang khas, ditemani oleh Tari yang malam itu tampak sedikit lebih tenang karena sibuk mencatat beberapa instruksi dari dokter kandungan pribadi Aura yang telah disewa khusus oleh klan.
"Semua perlengkapan di kamar bayi sudah siap, Aura," kata Nyonya Rahma sambil menyendokkan sup sayur hangat untuk putrinya. "Bram bahkan memastikan bahwa seluruh sudut furnitur di kamar itu dilapisi pelindung busa yang lembut. Ibu rasa, anakmu nanti tidak akan bisa terluka bahkan jika dia mencoba berguling di seluruh penjuru ruangan."
Aura tertawa kecil. "Itu pasti ide Devan, Bu. Dia terlalu berlebihan."
"Gak ada istilah berlebihan untuk keselamatan penerus Bratadikara, Nyonya," sahut Devan yang duduk di kepala meja, memotong daging steaknya dengan presisi yang kaku. "Setiap risiko harus ditekan hingga angka nol persen. Itu adalah hukum dasar operasi."
"Ya, ya, Tuan Besar Militer," goda Tari sambil mendengus jenaka. "Tapi jangan lupa, selain keamanan fisik, bayi juga butuh stimulasi kecerdasan. Gue udah beliin satu set buku ensiklopedia hukum anak-anak interaktif. Siapa tahu umur lima tahun dia sudah bisa mendebat draf kontrak pelabuhan lo, Dev."
"Gue gak akan terkejut kalau itu terjadi," balas Devan dengan senyuman miring khasnya, melirik Aura yang kini pipinya tampak sedikit merona karena bahagia. "Dia mewarisi gen dari ibu yang bisa membuat para bos mafia tua gemetar hanya dengan satu pasal pengecualian."
Di tengah kehangatan obrolan malam itu, Aura tiba-tiba meletakkan garpunya. Ekspresi wajahnya berubah drastis secara instan. Sebuah rasa mulas yang luar biasa hebat dan tajam mendadak mencengkeram bagian bawah perutnya, membuat napasnya tertahan selama beberapa detik.
Kring.
Gelas air di dekat tangan Aura tidak sengaja tersenggol dan terguling, menumpahkan isinya di atas meja marmer putih.
"Aura? Lo kenapa, Ra?" Tari yang duduk di sebelahnya langsung panik melihat wajah sahabatnya yang mendadak memucat dengan keringat dingin yang mulai muncul di pelipis.
Devan langsung bangkit dari kursinya dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata biasa. Dalam waktu satu detik, ia sudah berada di samping Aura, berlutut dan memegang kedua bahu istrinya dengan kepanikan yang untuk pertama kalinya dalam hidup tidak bisa ia sembunyikan di balik topeng dinginnya.
"Ra? Di mana yang sakit? Katakan sama gue," tuntut Devan, suaranya bergetar hebat.
Aura mencengkeram kemeja Devan dengan sangat kuat, kuku-kukunya memutih karena menahan rasa sakit yang datang bergelombang. "Devan... ketubanku... ketubanku pecah. Anak kita... dia mau keluar sekarang."
Suasana ruang makan seketika berubah menjadi medan operasi tingkat tinggi. Nyonya Rahma langsung mengarahkan Tari untuk mengambil tas darurat yang sudah disiapkan di dekat pintu, sementara Devan tanpa ragu sedikit pun langsung mengangkat tubuh Aura ke dalam dekapannya dengan sangat hati-hati namun penuh kekuatan.
"Bram! Siapkan lift car privat sekarang! Hubungi tim medis di lantai rumah sakit bawah tanah! Kita bergerak dalam tiga puluh detik!" teriak Devan melalui alat komunikasi nirkabel di kerah bajunya, suaranya menggema di seluruh penjuru griya tawang seperti perintah perang.
Koridor rumah sakit privat klan Bratadikara yang terletak di lantai dasar menara malam itu menjadi saksi dari runtuhnya ketenangan seorang Devanandra. Begitu tubuh Aura dipindahkan ke atas ranjang dorong menuju ruang bersalin, Devan tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Aura bahkan untuk satu detik pun.
"Gue ada di sini, Ra. Jangan takut. Gue gak akan pergi ke mana-mana," bisik Devan berulang kali di dekat telinga Aura, wajahnya dipenuhi oleh kecemasan yang teramat sangat besar saat melihat istrinya harus berjuang melawan rasa sakit yang luar biasa.
"Aku... aku gak takut, Devan... selama ada kamu," jawab Aura di antara napasnya yang memburu, mencoba memberikan kekuatan balik pada suaminya yang kini tampak jauh lebih ketakutan daripada dirinya sendiri.
Pintu ruang bersalin utama tertutup rapat, menyisakan Kenzo, Bram, Tari, dan Nyonya Rahma yang menunggu di luar koridor dengan kecemasan yang sama besar. Di dalam ruangan, lampu operasi menyala terang, menandai dimulainya pertempuran paling suci dan paling krusial di dalam hidup mereka berdua—sebuah pertempuran bukan untuk merebut wilayah atau menegakkan hukum, melainkan untuk melahirkan sebuah fajar kehidupan baru yang akan menyempurnakan eksistensi klan Bratadikara selamanya.