NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

Zara bisa merasakan ritme napas pria itu mulai memberat di kulitnya.

“Kau tahu, Zara?” suara Benedict merayap rendah.

“Hanya orang bodoh yang menunjukkan titik lemahnya pada orang lain” ucap Benedict.

Zara tidak bergerak, meski jemarinya yang memegang kain bersih terasa kaku.

“Lalu kenapa kau membiarkan ku tetap disini? Kau bisa saja mengusirku saat aku turun tadi, Tuan.”

Benedict perlahan menarik wajahnya, matanya yang gelap mengunci tatapan Zara.

“Mungkin aku hanya ingin melihat, apa kau akan tetep disini saat tahu bahwa tangan yang kau obati ini jauh lebih berbahaya daripada luka itu sendiri” kata Benendict.

Zara membalas tatapan Benendict.

“Aku pun ingin melihat siapa sebenarnya pria yang membawaku ke sini,” bisik Zara.

“Kadang kau terlihat begitu terhormat, tapi luka ini membuatku merasa sedang tinggal bersama monster” lanjut Zara.

Sebuah seringai muncul di sudut bibir Benendict. Ia melepaskan pinggang Zara, namun beralih mencengkeram lembut tengkuk gadis itu agar mata mereka tetap sejajar.

“Monster?” Benendict mengulang kata itu dengan suara rendah.

“Memang apa bedanya? Monster atau pria terhormat….keduanya sama-sama bisa membuatmu tidak bisa pergi dari sini,” lanjutnya pelan.

Zara terdiam. Ia bisa merasakan jemari Benedict yang masih berada di tengkuknya.

“Duduklah, Tuan” ucap Zara akhirnya, mencoba memutus ketegangan diantara mereka.

“Biar aku menyelesaikan ini.” lanjut Zara.

Benedict tidak membantah. Ia melepaskan cengkeramannya dan menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa. Ia membiarkan Zara berlutut di depannya, membersihkan sisa darah di lengannya.

Benendict hanya memperhatikan puncak kepala Zara, matanya yang tajam tidak sedetik pun beralih. Zara merapikan sisa kasa, lalu mendongak sedikit.

“Selesai. Cobalah untuk tidak membuat luka baru sebelum plasternya lepas,” ucap Zara.

“Istirahatlah, Tuan. Kau terlihat seperti akan pingsan jika terus duduk disini dengan wajah sekaku itu.”

Benendict hanya mendengus pelan, sebuah suara yang hampir menyerupai tawa hambar. Ia menatap lengannya yang kini bersih, lalu beralih menatap Zara dengan sorot mata yang sulit dibaca.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sinar matahari masuk melalui celah gorden besar. Zara turun dengan langkah ragu, namun aroma kopi dan roti panggang sudah memenuhi cuping hidungnya.

Ia berharap tidak bertemu siapa pun, namun harapannya pupus saat melihat Benedict sudah duduk di ujung meja panjang. Pria itu tampak sempurna dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.

“Selamat pagi, Tuan” sapa Zara pelan.

Benedict tidak mendongak dari tablet di tangannya, ia hanya mengangguk tipis.

“Duduk. Sarapanmu sudah dingin” perintah Benedict.

Zara duduk di kursi yang sedikit jauh darinya, ia mulai mengoles selai ke rotinya.

“Tanganmu…..bagaimana?” tanya Zara akhirnya.

Benedict meletakkan tabletnya, lalu melirik sekilas ke arah lengannya sebelum menatap Zara.

“Tidak mati karena infeksi, jika itu yang kau khawatirkan,” jawabnya datar.

Zara tersenyum tipis mendengar jawaban sarkastik itu.

“Siapkan dirimu. Supir akan mengantarmu sepuluh menit lagi,” ucap Benedict setelah menyesap kopinya.

“Baik, Tuan” sahut Zara.

Setelah mendengar jawaban Zara, Benendict keluar tanpa pamit.

Zara duduk di kursi belakang sedan hitam dengan nyaman. Sopir utusan Benedict tidak mengucapkan sepatah kata pun, matanya hanya lurus menatap jalan.

Begitu mobil berhenti, Zara segera turun. Senyumnya mengembang, ia menarik napas dalam, membiarkan udara pagi mengisi rongga hidungnya.

“Sedikit lagi,” gumam Zara pelan pada dirinya sendiri. Ia menaburkan tepung diatas meja dengan gerakan yang hampir seperti menari.

Satu jam kemudian, aroma mentega dan ragi yang terpanggang mulai memenuhi seluruh ruangan. Lonceng di atas pintu berdenting, menandakan kedatangan seseorang.

“Selamat pagi!.” sapa Zara ramah.

Tangannya bergerak cepat menuliskan pesanan. Rambut cokelat gelapnya ia ikat asal membuat beberapa helai rambut jatuh di sisi wajah.

“Satu latte dan dua cheese puf, ya? Segera siap, silakan ditunggu,” ucap Zara.

Dengan cekatan ia menuangkan susu hangat ke dalam cangkir berisi espresso hingga membentuk busa, lalu menata dua cheese puff di atas piring kecil.

Ia melangkah keluar dari bilik konter untuk mengantarkan pesanan.

“Ini satu latte dan dus cheese puff nya. Hati-hati, masih agak panas,” ucap Zara.

Pelanggan itu, seorang pria muda yang tengah membuka laptop, mendongak dan membalas senyuman Zara.

“Terima kasih,” ucap pria muda itu.

“Sama-sama. Selamat menikmati,”

Namun, saat ia berbalik untuk kembali ke konter, salah satu pengawal Benedict sedang memperhatikannya. Atau lebih tepatnya, mengawasi interaksinya dengan pelanggan pria tadi.

Zara menarik napas dalam, mencoba mengabaikan tatapan itu. Seorang wanita paruh baya masuk.

“Diana,” sapa Zara antusias.

“Hai, Zara” balas Diana, matanya melirik gelisah ke arah pintu.

“Sebenarnya siapa mereka? Sudah beberapa hari ini aku lihat mereka disini,” tanya Diana dengan suara pelan.

Zara mencoba mengulas senyum santai. “Keamanan baru disini.”

“Kenyamanan? Mereka lebih terlihat seperti preman.”

Zara terkekeh mendengar kejujuran Diana. Ia setuju dengan pendapat wanita paruh baya itu.

“Aku mau croissant, take away saja hari ini. Tidak nyaman melihat preman-preman itu”

“Wait a minute, Diana” jawab Zara.

Zara menghela napas panjang setelah wanita paruh baya itu keluar. Ia meletakkan lap kainnya, lalu dengan keberanian yang mendadak muncul, ia melangkah mendekati dua pria itu. Zara berdiri di tengah mereka, mendongak karena perbedaan tinggi yang cukup jauh.

“Begini, Tuan-Tuan,” ucap Zara sambil menyilangkan tangannya di dada.

“Bisa tidak, kalian sedikit bergeser dari depan pintu? Atau setidaknya cobalah tersenyum sedikit, kalian membuat pelangganku ketakutan.”

Kedua pria itu tetap diam, namun salah satunya melirik Zara dari balik kacamata hitamnya.

“Wajah kaku kalian merusak estetika tokoku,” lanjut Zara dengan kekehan kecil yang dipaksakan.

“Oh, atau kalian lapar? Mau kopi? Atau mungkin mau mencicipi croissant buatanku? Tenang saja, tidak ada racunnya” lanjut Zara.

Salah satu pengawal berdehem pelan, suaranya berat dan nyaris seperti robot.

“Kami sedang bertugas, Nona.”

Zara menghembuskan napasnya, sedikit tergelitik melihat betapa disiplinnya mereka.

“Tersenyum itu gratis, lho. Lagi pula, kalau kalian terlihat lebih ramah, mungkin Tuan Benedict tidak akan marah dan pelangganku tidak kabur.”

“Tugas kami adalah memastikan anda aman, Nona. Tuan Benedict tidak membayar kami untuk keramahan.” jawab salah satu pengawal.

“Dan jika pelanggan anda kabur karena kehadiran kami, itu lebih baik. Karena sedikit orang, lebih sedikit risiko,” lanjutnya.

Zara menutup mulutnya, ia ingin tertawa mendengar jawaban mereka yang terdengar absurd.

“Jadi…… kalian lebih suka toko ini kosong?” tanya Zara, sambil mengangkat bahu.

“Prioritas kami adalah anda, Nona” jawab pengawal itu.

Zara hanya bisa mendengus pelan, ia kembali ke konter sambil menggeleng-geleng.

“Dasar pria-pria kaku” rutuknya.

Matahari sudah tergelincir ke atas kepala. Jam makan siang adalah waktu tersibuknl baginya. Zara tengah fokus menuangkan susu ke dalam cangkir, ia ingin menciptakan pola rosette yang sempurna.

“Tutup tokomu sekarang.”

Suara bariton itu membuat Zara tersentak, tangannya sedikit goyah hingga pola susunya hancur seketika. Ia mendongak, mendapati Benedict sudah berada di balik konter.

“Tuan?” gumam Zara, “apa yang…..”

“Aku tidak suka mengulang perintah,” potong Benedict.

“Suruh mereka keluar. Kau ikut denganku” lanjut Benendict

Zara melihat pelanggannya masih menikmati roti mereka.

“Aku tidak bisa mengusir mereka begitu saja, Tuan.”

Benendict tidak menjawab. Ia memberi isyarat kecil pada pengawalnya untuk mulai mengosongkan ruangan.

Namun Zara segera meletakkan cangkir itu dengan bunyi denting yang cukup keras. Ia melipat tangah di dada, menatap Benedict lurus.

“Tidak,” ucap Zara mantap.

Alis Benendict terangkat sedikit, ia tidak terbiasa mendengar penolakan.

“Jangan membantahku!.”

“Mereka sudah membayar, Tuan Benendict. Dan mereka berhak menghabiskan makanan mereka dengan tenang,” potong Zara tanpa ragu.

Zara melirik dua pengawal yang siap bergerak mengusir pelanggannya.

“Kalau kau memang ingin aku ikut bersamamu sekarang juga, suruh orang-orangmu tetap diam di sana. Jaga pintu itu sampai pelanggan terakhir selesai makan. Jangan ada satu pun yang diusir paksa.”

Benedict terdiam sejenak, menatap wajah Zara yang tidak menunjukkan celah keraguan sedikit pun.

“Kau memintaku membiarkan pengawal terlatih ku menjaga orang-orang yang sedang mengunyah roti?” tanya Benedict, ada kilat geli yang sangat tipis di matanya.

“Why not? Anggap saja itu latihan kesabaran,” balas Zara terang, meski jantungnya berdegup kencang.

Benedict melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Zara.

“Dengar? Jangan sentuh siapapun sampai mereka selesai,” perintah Benedict.

Zara tersenyum penuh kemenangan. Ia melepas celemeknya, menggantung di balik pintu dapur.

“Kita pergi sekarang,” ucap Benedict.

Zara masuk ke dalam kabin mobil yang kedap suara. Begitu mobil mulai membelah jalanan kota, Zara menoleh ke arah Benedict yang duduk di sampingnya.

“Kemana kau akan membawaku?” tanya Zara.

Benedict menoleh sedikit. “Italia”

Zara tertegun, matanya membelalak. “Italia? Tapi aku tidak membawa paspor, tidak membawa pakaian, bahkan aku belum…..”

“Semuanya sudah diurus,” potong Benedict cepet. “Kau hanya perlu duduk manis dan diam.”

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!