Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana
Malam Gala Amal Kerajaan di Istana Buckingham adalah puncak kemegahan yang tak tertandingi. Lampu kristal raksasa menyinari Ballroom Agung, dinding emas, lukisan bernilai triliunan, dan ratusan tamu undangan paling berpengaruh di dunia berbaur dalam keanggunan tertinggi.
Alex dan Aulia melangkah masuk beriringan. Malam ini, Aulia mengenakan gaun satin gading rancangannya sendiri dengan bordir benang emas motif bunga mawar Inggris simbol penghormatan cerdas pada tuan rumah. Di lehernya, Alex memakaikan kalung The Golden Vine, koleksi pribadi berlian langka bernilai lebih dari 50 juta dolar. Sementara Alex tampak mematikan dalam jas tuxedo hitam klasik, aura dominannya menekan seluruh ruangan.
Begitu mereka tiba, pengawal kerajaan langsung memandu mereka menuju meja kehormatan di dekat takhta. Sang Raja dan Ratu sendiri menyambut mereka dengan hangat sesuatu yang jarang diberikan kepada tamu asing.
“Nona Aulia, karya Anda luar biasa. Gabungan budaya Timur dan Barat yang mempesona,” puji Sang Ratu lembut saat bersalaman. “Dan Tuan Surya… kedermawanan serta pengaruh Anda sangat kami butuhkan untuk amal kemanusiaan kami.”
Aulia membungkuk sopan namun percaya diri, bahasa Inggrisnya fasih. “Terima kasih Yang Mulia. Bagi saya, keindahan dan kebaikan hati adalah bahasa universal tanpa batas negara.”
Jawaban cerdas dan tulus itu membuat Raja dan Ratu tersenyum tulus, sedangkan Alex menatap Aulia dengan rasa bangga meluap. Wanita kecilnya baru saja memenangkan hati penguasa Inggris hanya dalam dua kalimat.
Namun, tidak semua orang senang. Dari sudut ruangan, Putri Amelia, keponakan Raja yang terkenal sombong, cantik namun berhati racun, menatap Aulia dengan api kebencian menyala di matanya. Sudah lama ia mengejar Alex, terobsesi pada kekayaan dan ketampanan pria itu. Melihat Alex menatap Aulia seolah wanita itu satu-satunya makhluk hidup di bumi, membuat egonya hancur lebur.
“Gadis kampung beruntung,” desis Amelia pelan, otaknya mulai menyusun rencana kotor. “Aku akan pastikan malam ini jadi malam terakhirmu bersinar.”
Saat acara puncak dimulai pelelangan barang berharga untuk amal Amelia maju ke tengah panggung, memegang mikrofon dengan senyum manis yang palsu.
“Malam ini kita punya tamu spesial, desainer jenius dari Asia,” ucap Amelia lantang, menunjuk Aulia. “Kita semua tahu gaun-gaunnya indah. Tapi, saya penasaran… apakah kehebatannya hanya saat ada waktu lama? Atau dia benar-benar jenius sejati? Saya usulkan tantangan kecil yang seru: Di sini, sekarang, berikan dia kain, gunting, dan jarum. Buatkan satu karya indah hanya dalam 15 menit! Jika berhasil, saya akan sumbang 10 Juta Poundsterling. Jika gagal… hmm, dia harus akui dia hanya peniru biasa. Bagaimana?”
Ruangan hening. Tantangan itu tidak adil, mustahil, dan memalukan. Itu jebakan murni. Semua mata beralih ke Aulia. Alex langsung memancarkan aura membunuh, tangannya mengepal hendak menolak mentah-mentah.
Tapi Aulia menahan lengan Alex. Ia menatap Amelia tenang, lalu tersenyum senyum serigala kecil yang siap bertarung. Ia mengerti: Menolak berarti takut. Menerima berarti pertarungan hidup-mati.
“Aku terima,” jawab Aulia tegas, suaranya jernih. “Dan sebagai tambahan taruhan, Putri Amelia… jika aku berhasil, Anda yang akan sumbang 20 Juta Pound, dan Anda akan meminta maaf di depan semua orang karena meremehkan martabat seni dan orang lain. Setuju?”
Wajah Amelia memucat, tapi karena sudah dikeroyok situasi, ia terpaksa mengangguk kaku. “S-setuju!”
Meja kerja dadakan disiapkan. Kain sutra putih polos, gunting, jarum, benang, dan sedikit manik disediakan. Waktu dimulai.
15 Menit.
Aulia tidak panik. Napasnya tenang, matanya tajam. Ini adalah dunianya. Tangan halusnya bergerak secepat kilat memotong, melipat, menjahit, melilit. Ia tidak membuat gaun utuh. Ia menciptakan Karya Seni Tubuh.
Alex berdiri di samping meja, menatap setiap gerakan Aulia dengan fokus mutlak. Ia tahu, momen ini bukan soal kain. Ini soal membuktikan harga diri. Dan jika Aulia kalah… Alex sudah berjanji dalam hati akan menghancurkan seluruh garis keturunan keluarga Amelia sampai ke akar paling bawah.
Detik terakhir berlalu. Aulia mengangkat karyanya: Sebuah Cape Bahu elegan, ringan, dengan lipatan asimetris artistik dan sulaman motif mahkota yang terbentuk dari teknik jahitan kilat yang rumit. Simpel, megah, dan penuh makna.
Aulia mengenakannya sendiri di atas gaunnya. Seketika, penampilannya berubah dari cantik biasa menjadi MAHKOTA HIDUP.
Sorak sorai meledak. Bahkan Sang Raja dan Ratu berdiri bertepuk tangan takjub. Itu keajaiban, kecepatan dan kreativitas di luar nalar manusia biasa.
Amelia gemetar ketakutan, ingin kabur tapi terjepit pandangan semua orang.
“Maafkan saya… saya… saya minta maaf,” desis Amelia pelan, wajahnya merah padam menahan sakit hati, menyerahkan cek 20 Juta Pound yang membuat iri seluruh hadirin.
Aulia tersenyum anggun, menerima cek itu lalu menyerahkannya langsung ke Ratu. “Ini dari kami semua, Yang Mulia. Demi kemanusiaan.”
Saat kembali ke sisi Alex, pria itu langsung menarik pinggang Aulia erat ke tubuhnya, menatapnya dengan tatapan penuh api, rasa bangga, dan nafsu mengagumkan yang meluap. Ia mencium pelipis Aulia di depan semua orang tindakan berani yang melanggar protokol, tapi tak ada yang berani protes.
“Kau baru saja menjatuhkan seorang Putri dan menaklukkan sebuah Kerajaan hanya dengan gunting dan jarum, Sayang,” bisik Alex parau, suaranya berat penuh kekaguman. “Kau tahu apa artinya ini? Mulai malam ini, namamu terukir dalam sejarah Inggris. Dan siapa pun yang berani menyakiti kamu… sedang menandatangani surat kematian mereka sendiri oleh tanganku.”
Namun, di balik kemenangan manis itu, Amelia menatap mereka dari kejauhan dengan tatapan dendam membara, meremas tangannya sendiri hingga kuku menancap daging. Ia tidak akan berhenti. Perang baru saja dimulai.
Alex menyadari hal itu. Ia menatap balik Amelia dengan tatapan kosong, dingin, dan mengerikan sebuah peringatan terakhir: Lancarkan satu trik kotor lagi, dan aku pastikan kau mati perlahan dalam neraka paling gelap.
Malam itu berakhir dengan kemenangan gemilang. Bisnis Surya Corp di Eropa resmi terkunci abadi, koneksi kerajaan aman, dan nama Aulia melambung lebih tinggi dari bintang. Tapi Alex tahu, jalan ke depan makin berbahaya. Musuh kini bukan hanya mafia jalanan, tapi bangsawan berbisa yang bermain kotor di balik layar.
Tapi menatap wajah Aulia yang bersinar penuh percaya diri di pelukannya, Alex tidak peduli. Selama tangan mereka saling menggenggam, mereka adalah pasangan tak terkalahkan Raja Mafia dan Ratu Seni, menaklukkan dunia bersama-sama menuju akhir bahagia mereka.