NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Gempar di Gedung Dekanat

Mobil SUV hitam yang tampak elegan itu meluncur tenang melewati gerbang utama kampus, seolah tak peduli dengan kerumunan mahasiswa yang biasanya memadati area pejalan kaki.

Sesuai ucapannya, Renard tak sedikit pun mengurangi kecepatan hingga kendaraan itu terparkir sempurna di area VIP, tepat di depan lobi gedung dekanat.

Kehadiran mobil mewah berpelat nomor khusus tersebut sontak mencuri perhatian. Beberapa mahasiswa yang tengah bersantai di selasar seketika bungkam, mata mereka terpaku penuh rasa ingin tahu pada sosok penting yang akan muncul dari sana.

Mesin pun mati. Bukannya membiarkan Arumi turun sendiri, Renard justru melepas sabuk pengamannya lebih dulu. Ia melangkah keluar dari kursi kemudi, lalu berjalan memutari kap mobil dengan langkah tegap yang memancarkan wibawa. Pria itu membukakan pintu penumpang dan mengulurkan tangannya yang besar.

Arumi sempat tertegun menatap uluran tangan itu, merasa ragu. Namun, ketika menangkap tatapan tajam Renard yang seolah menuntut kerja sama, Arumi akhirnya menyambut jemari itu dan melangkah turun.

Begitu Arumi berdiri tegak, Renard tidak langsung melepaskan genggamannya. Pria itu justru melingkarkan lengannya di pinggang Arumi, merengkuhnya posesif dan menarik tubuh istrinya agar semakin merapat.

Arumi sempat mematung kaku karena sentuhan mendadak itu, tetapi aroma kayu cendana yang menenangkan dari tubuh Renard perlahan membuat napasnya kembali teratur.

"T-Tuan... ini berlebihan," bisik Arumi di tengah keramaian lobi, berusaha tetap tersenyum meski batinnya merasa canggung.

"Berhentilah memanggilku 'Tuan' di depan umum, Arumi. Jangan membuatku terlihat seperti bos mafia yang sedang menculik mahasiswi," desis Renard tepat di telinga Arumi, suaranya pelan namun penuh penekanan. "Tersenyumlah dan berjalan dengan dagu tegak. Tunjukkan bahwa Nyonya Wijaya tidak pantas dikasihani oleh siapa pun."

Keduanya pun melangkah masuk ke lobi gedung dekanat, menciptakan keheningan mendadak di sekeliling mereka. Penampilan Renard dengan kemeja kasual biru dongker, dipadukan dengan aura dingin dan garis rahang yang tegas, membuatnya tampak seperti sosok yang baru saja keluar dari sampul majalah bisnis.

Di ujung koridor, Citra berdiri mematung. Map berisi berkas yudisium yang ia pegang nyaris saja jatuh ke lantai. Sahabat Arumi itu hanya bisa melongo, matanya menatap bergantian antara Arumi dan pria jangkung yang tengah merangkul pinggang sahabatnya itu.

"Arumi...?" panggil Citra dengan suara bergetar, seolah tak percaya. "I-ini... ini si... 'fasilitas lungsuran' yang kamu ceritakan kemarin?"

Arumi tersenyum kikuk. Ia baru saja hendak memberikan penjelasan logis yang sudah ia susun di kepala sejak semalam, tetapi Renard sudah lebih dulu memotong.

Pria itu menatap Citra dengan pandangan datar yang menilai, lalu mengulurkan tangannya yang bebas dengan sikap profesional. "Saya Renard Wijaya, suami Arumi. Maaf jika Arumi belum sempat memperkenalkan saya secara resmi karena jadwal pekerjaan saya yang cukup padat."

Citra menyambut jabatan tangan itu dengan tangan yang gemetar. "S-suami? Arumi... kamu benar-benar sudah menikah?! Dan suamimu... CEO Wijaya Group?!" Citra memekik tertahan, matanya membelalak saat menyadari siapa pria di hadapannya.

Belum sempat Arumi menenangkan sahabatnya yang nyaris pingsan itu, sebuah tawa sumbang yang melengking terdengar dari arah tangga. Vina, mahasiswi kelas sebelah yang selama ini selalu iri dengan prestasi Arumi, menghampiri mereka dengan tatapan sinis.

"Wah, pantesan ya belakangan ini Arumi sok sibuk dan susah dihubungi buat kerja kelompok," sindir Vina sambil melipat tangan di dada.

Ia memandang Renard dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu tersenyum meremehkan. "Aku dengar dari grup angkatan, keluargamu lagi bangkrut parah, Mi. Ternyata jalan pintasnya cari sugar daddy yang bisa melunasi utang-utang bapakmu, ya?"

Udara di lobi mendadak terasa membeku. Arumi menggigit bibir bawahnya, tangannya tanpa sadar mengepal menahan rasa malu dan amarah yang mulai membuncah.

Namun, sebelum Arumi sempat membalas, rengkuhan tangan Renard di pinggangnya semakin mengerat. Pria itu maju setengah langkah, menjadikan tubuh tegapnya sebagai pelindung di depan Arumi.

Sepasang mata elang Renard menatap Vina dengan aura intimidasi yang mematikan, persis seperti saat ia menghadapi Paman Hendra beberapa waktu lalu.

"Saya sarankan Anda memilih kata-kata dengan lebih bijak, Nona," ucap Renard. Suara baritonnya terdengar tenang, tetapi menyimpan ancaman yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri.

Renard menyunggingkan senyum tipis—senyuman miring yang sama sekali tidak ramah. "Istri saya tidak membutuhkan 'jalan pintas' karena ia sudah memiliki segalanya sejak ia menerima pinangan saya. Dan jika saya mendengar satu lagi gosip murahan soal nama baik keluarga istri saya dari siapa pun di kampus ini, saya pastikan tim legal perusahaan saya akan melayangkan tuntutan pencemaran nama baik sebelum jam makan siang hari ini. Apakah itu cukup jelas?"

Wajah Vina seketika pucat pasi, segala kesombongannya menguap begitu saja. Mahasiswi itu buru-buru menunduk, menggumamkan maaf yang tidak jelas, lalu berbalik dan lari menaiki tangga.

Setelah suasana kembali tenang, Renard menoleh ke arah Arumi dan perlahan melepaskan rangkulannya. Ekspresi wajahnya kembali kaku, lalu ia berdeham cukup keras.

"Aku harus pergi ke lokasi proyek sekarang. Jadwalku tertunda lima belas menit hanya karena drama tidak penting ini," ketus Renard sembari merapikan kerah kemejanya dengan gerakan yang tampak sedikit kikuk.

Ia merogoh saku, mengeluarkan sebuah black card tanpa limit, lalu menyelipkannya ke dalam saku blus Arumi. "Kabari asistenku kalau urusanmu sudah selesai, dia yang akan menjemputmu. Pakai kartu itu jika ingin mentraktir temanmu makan siang. Jangan sampai orang mengira aku menelantarkan istriku."

Arumi menatap kartu hitam di sakunya, lalu beralih menatap suaminya. Ia tahu betul bahwa alasan 'drama tidak penting' atau 'menjaga citra' hanyalah cara sang miliarder untuk menutupi perhatiannya.

"Terima kasih atas perlindungannya... Suamiku," bisik Arumi pelan, sengaja menekan kata terakhir dengan nada manis yang menggoda.

Ternyata dugaannya benar. Sesaat sebelum Renard berbalik menuju mobil, Arumi berhasil memenangkan perdebatan pagi itu. Ia melihat semburat merah padam yang menjalar cepat, membakar kedua daun telinga pria beraura dingin tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!