NovelToon NovelToon
Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Dokter Hewan Mencuri Hati CEO Agribisnis Dengan Sapi Wagyu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.

Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.

Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Ruang Spasial

Bukan kegelapan yang menyambutnya, melainkan langit keemasan di atas hamparan rumput yang sangat hijau.

Saskia mengerjapkan matanya. Sekali. Dua kali. Lalu ia bangkit perlahan, dan menyadari sesuatu yang tidak masuk akal sama sekali.

Tubuhnya terasa ringan.

Tidak ada lagi rasa perih di lambung. Tidak ada lagi denyut pusing di pelipis yang sejak ia membuka mata di tubuh ini selalu jadi teman setianya.

Tidak ada sesak di dada. Jantungnya berdetak tenang, teratur, seperti metronom yang akhirnya menemukan ritmenya setelah bertahun-tahun.

Ia mengangkat kedua tangannya ke depan wajah. Jemari yang sama. Kurus, pucat, dengan pembuluh darah kebiruan yang masih tembus di bawah kulit transparan. Tapi ketika ia mengepalkannya, ada kekuatan disana. Bukan kekuatan besar. Tapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa di tempat ini, tubuhnya tidak lagi sekarat.

"Apa ini?"

Suaranya menggema. Tidak keras, tapi terpantul pelan seperti berbicara di dalam gua kecil.

Saskia menoleh ke sekelilingnya. Tempat ini bukan dunia yang ia kenal.

Langit di atasnya berwarna emas muda, seperti senja abadi yang tidak pernah berubah menjadi malam. Tidak ada matahari, tidak ada bulan, tidak ada awan. Hanya hamparan cahaya keemasan yang lembut, cukup terang untuk melihat segalanya tapi tidak menyilaukan mata.

Di bawah kakinya, rumput hijau membentang. Bukan rumput liar seperti di pekarangan kandangnya. Ini rumput yang subur, tebal, setiap helainya berdiri tegak dengan warna hijau zamrud yang tidak mungkin ia temukan di padang rumput Malang Selatan yang kering kerontang.

"Seratus meter persegi," gumam Saskia. Matanya memperkirakan luas area ini. "Mungkin sedikit lebih."

Ia berjalan perlahan. Telapak kaki telanjangnya tidak merasakan duri atau batu. Hanya rumbut lembut yang seperti beludru. Udara disini bersih, segar, dengan kelembaban yang pas. Tidak ada bau kotoran sapi. Tidak ada bau amonia. Tidak ada bau jerami busuk.

Di tengah-tengah area itu, ada sebuah batu besar berwarna abu-abu gelap. Permukaannya tidak rata, penuh dengan lumut kuno yang tumbuh di celah-celahnya. Di atas batu itu, ada sesuatu yang berkilau.

Air.

Sebuah mata air kecil berdiameter tidak lebih dari tiga puluh sentimeter, tersembunyi di cekungan alami batu besar itu. Airnya jernih sekali, lebih jernih dari air mineral kemasan yang biasa ia minum di laboratorium dulu.

Warnanya tidak biru, tidak hijau, tidak putih. Bening sempurna, tapi ketika cahaya keemasan langit menyentuh permukaannya, ada kilau keperakan yang bergerak lembut.

Saskia mendekat. Langkahnya hati-hati, bukan karena takut, tapi karena nalurinya sebagai ilmuwan yang menemukan spesimen baru.

Di sisi batu, tepat di bawah lumut yang menutupi sebagian permukaannya, ada ukiran. Huruf-huruf Jawa kuno yang sudah aus termakan waktu.

Tapi Saskia bisa membacanya. Bukan karena ia pernah belajar aksara Jawa kuno. Tapi karena artinya langsung muncul di kepalanya, seperti diterjemahkan oleh sesuatu di dalam otaknya.

"Warisan Jiwa: Setiap Tetes Adalah Nyawa."

Saskia menelan ludah. Tenggorokannya yang di dunia nyata terasa kering dan perih, disini terasa normal.

"Warisan jiwa," ulangnya pelan. Jari-jarinya menyentuh permukaan batu yang dingin. "Air Suci."

Ini tempat yang muncul di dalam memorinya tadi. Memori Saskia Utami yang samar-samar, seperti mimpi yang setengah terlupakan. Tentang kakek buyut dari pihak ibu yang menemukan air ajaib di gua tersembunyi di pegunungan kapur.

Tapi ini bukan gua.

Ini adalah ruang di dalam kepalanya. Dimensi yang tidak bisa diakses oleh siapapun kecuali dirinya sendiri. Saskia tidak tahu bagaimana ia bisa yakin akan hal itu, tapi keyakinan itu mengendap di tulang sumsumnya, sedalam keyakinan bahwa ia adalah Saskia Mahendra, dokter hewan berusia 32 tahun yang mati di laboratorium.

Air itu... air itu hidup.

Saskia berlutut di depan batu. Tangannya terulur, jemarinya mendekati permukaan air yang tenang tanpa riak.

"Setiap tetes adalah nyawa," bisiknya. "Apa maksudnya? Air ini bisa menyembuhkan? Air ini bisa... menghidupkan?"

Sentuhan pertama dengan air itu membuat seluruh lengannya tersentak.

Bukan sengatan listrik. Bukan panas yang membakar. Tapi kehangatan yang menjalar, seperti aliran air hangat yang meresap ke dalam sumsum tulang. Detak jantungnya bertambah cepat. Bukan karena takut. Karena energi.

Air ini berisi sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan ilmu kedokteran hewan modern. Bukan elektrolit. Bukan mineral. Bukan vitamin. Tapi sesuatu yang lebih elemental. Sesuatu yang langsung beresonansi dengan sel-sel di tubuhnya.

Saskia membentuk kedua telapak tangannya menjadi mangkuk. Perlahan, ia menciduk air itu.

Airnya ringan. Tidak ada berat yang seharusnya ia rasakan. Seperti menciduk cahaya. Tapi ia bisa melihat air itu mengisi telapak tangannya, berkilau keperakan.

"Kalau ini benar-benar Air Suci..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Pikirannya langsung melompat ke Si Belang. Ke dua Limosin tua yang sekarat di kandangnya. Ke konjungtiva mata mereka yang pucat. Ke tulang panggul yang menonjol. Ke nafas tersengal yang berbau asam.

Kalau air ini bisa menyembuhkan...

Saskia mendekatkan air di telapak tangannya ke wajahnya. Ingin ia teliti lebih jauh. Ingin ia cium aromanya. Ingin ia pahami komposisinya.

Tapi begitu air itu mendekati hidungnya, sesuatu terjadi.

Kehangatan itu berubah menjadi panas. Mengalir dari telapak tangan, merambat ke pergelangan, ke lengan bawah, ke siku, ke bahu. Jantungnya berdebar tidak keruan. Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut kencang.

Dan kemudian hidungnya terasa basah.

Saskia menyentuh bawah hidungnya dengan ujung jari.

Merah.

Darah segar berwarna merah terang, hampir merah muda, mengalir deras dari kedua lubang hidungnya. Bukan beberapa tetes. Tapi aliran yang langsung membasahi bibirnya, dagunya, menetes ke rumput hijau di bawahnya.

"Astaga...!"

Ia mencoba menghentikan alirannya dengan menjepit hidungnya. Tapi darah terus mengalir, hangat dan kental, mengotori tangannya yang sudah mulai gemetar.

Ruang di sekelilingnya mulai bergetar. Langit keemasan berubah menjadi abu-abu. Rumput hijau memudar. Batu besar dengan mata airnya berguncang seperti terkena gempa bumi.

Saskia memejamkan mata, berusaha menahan pusing yang tiba-tiba menyerang. Darah terus mengalir dari hidungnya, tapi anehnya ia tidak merasa lemah. Tubuhnya masih terasa ringan, hanya saja ada sesuatu yang terkuras.

Sesuatu di dalam inti dirinya. Sesuatu yang lebih dalam dari darah, lebih dalam dari energi fisik, lebih dalam dari apapun yang pernah ia rasakan sebagai manusia.

Seperti ada tali tak terlihat yang menghubungkan jantungnya ke mata air itu, dan tali itu sekarang menarik sesuatu keluar dari tubuhnya.

"Sial... terlalu banyak..."

Tangannya yang penuh darah meraih batu besar itu, mencari pegangan. Tapi batu itu sudah memudar. Semua sudah memudar.

Dan kemudian semuanya lenyap.

Saskia membuka mata.

Langit-langit kandang. Genting tanah liat yang retak. Cahaya matahari siang menusuk dari sela-selanya. Bau amonia dan jerami busuk langsung menyerang rongga hidungnya dengan brutal.

Ia terbaring di atas jerami kering. Persis di tempat yang sama waktu ia jatuh pingsan tadi. Si Belang masih berdiri di sudut kandang, moncongnya menjulur ke arahnya, melenguh pelan.

"Belang..." suaranya serak. "Aku... kembali..."

Ia mencoba bangkit, dan langsung menyadari ada sesuatu yang salah.

Cairan hangat dan amis menetes deras dari hidungnya, mengotori telapak tangannya sendiri di dunia nyata.

1
4revenge
aku suka bagian ini
Lini Krisnawati
bagus
gina altira
Suka nie sama Saskia tegassss
gina altira
semangat SASKIA
gina altira
jadi Dilema ya Saskia,
sukensri hardiati
baru mulai buka mata dah banyak banget masalah saskia yg harus diurus....smangatttt....
gina altira
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!