NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Di Balik Air Terjun Atau?

Zhao Fei dan Liu Xue berdiri di dekat gemuruh air terjun raksasa yang dahsyat. Sebelum melangkah lebih jauh, Zhao Fei sempat berpaling ke arah beberapa warga desa yang sejak tadi setia bertindak sebagai pemandu jalan. Demi keselamatan jiwa mereka sendiri, dia meminta para warga untuk segera pulang menuju kawasan pemukiman bawah. Medan di depan dipenuhi oleh ketidakpastian yang berbahaya bagi kalangan manusia fana. Setelah para pemandu berjalan menjauh menembus vegetasi hutan, hanya tersisa dia dan Liu Xue yang kini bersiap untuk menembus dinding air raksasa yang membentang di hadapan mereka.

Mereka berdua melompat dengan lincah, mengerahkan sedikit energi meringankan tubuh untuk menembus tirai air yang menderu deras hingga tiba di dalam sebuah gua tersembunyi. Suasana di dalam gua itu sendiri terbilang lembab dan tentu saja gelap. Ruangan luas itu hanya mengandalkan pantulan sinar matahari yang samar-samar menembus ketebalan air terjun di luar. Adapun langkah kaki mereka menimbulkan suara gemercik setiap kali menginjak lantai batu yang basah.

Liu Xue mencoba memfokuskan indra spiritualnya ke segala penjuru, namun dia tidak mampu mendeteksi adanya getaran energi kehidupan atau hawa keberadaan musuh. Zhao Fei sendiri pada awalnya juga tidak merasakan adanya keanehan murni di sekitar tempat mereka berdiri. Kendati demikian, dia memiliki keyakinan mutlak bahwa artefak peta pelacak dari Alam Dewa yang tersimpan di dalam sakunya tidak mungkin memberikan informasi keliru. Titik merah terang pada perkamen itu dengan jelas menandakan bahwa lokasi pusat racun berada tepat di dalam ruangan ini.

Langkah kaki mereka terpaksa terhenti saat berhadapan dengan sebuah dinding batu raksasa yang padat di ujung gua. Tempat ini merupakan sebuah jalan buntu tanpa adanya celah pintu rahasia ataupun lorong tersembunyi yang bisa dilewati. Liu Xue mulai didera rasa sangsi, lalu memalingkan wajahnya menatap Zhao Fei. “Mungkin titik pusat dari sumber pencemaran itu berada di koordinat yang berbeda. Sebaiknya kita segera berbalik dan mencari di area lain sebelum hari menjadi gelap.”

Tapi Zhao Fei memilih untuk tidak terburu-buru menyetujui ajakan mundur itu. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia menolak mentah-mentah asumsi bahwa kompas spiritualnya telah salah mendeteksi target. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Taktik apa yang sebenarnya sedang diterapkan oleh musuh? Pikiran matangnya segera bekerja dengan kecepatan tinggi, menghubungkan situasi ganjil ini dengan berbagai pengalaman tempur yang pernah dia lalui di Alam Dewa selama ribuan tahun. Tiba-tiba, sepasang matanya terbuka lebar saat sebuah kesimpulan radikal melintas di benaknya.

Hal itu merupakan satu-satunya penjelasan yang paling masuk akal untuk memecahkan misteri jalan buntu ini. Dia bersuara lirih, berbicara pada dirinya sendiri, “Seorang penyihir yang memiliki kapasitas ilmu untuk melakukan perubahan wujud, ya?”

Liu Xue menoleh dengan dipenuhi kebingungan. “Apa yang sedang kau bicarakan?”

Zhao Fei tidak memberikan jawaban vokal untuk menanggapi kebingungan rekan satu divisinya itu. Tangan kanannya bergerak cepat menarik bilah pedang Pemutus Awan keluar dari sarungnya. Senjata pusaka itu memancarkan kilatan biru yang seketika menghapus kegelapan gua. “Target buruan kita sejak awal sudah berada di tempat ini,” cetus Zhao Fei dengan penuh keyakinan. “Dia hanya sedang memanipulasi pandangan kita dengan bersembunyi memakai wujud lain.”

Dia segera mengalirkan sisa energi qi yang tersisa di dalam meridian tubuhnya menuju ke arah bilah Pemutus Awan. Seketika itu pula, untaian petir biru murni mulai menyambar-nyambar dengan liar di sekitar bilah pedang, lalu menjalar cepat memenuhi permukaan dinding batu, langit-langit gua, hingga lantai yang basah. Zhao Fei harus mengontrol aliran listrik itu dengan tingkat kewaspadaan tinggi agar tidak sampai mengenai posisi berdiri Liu Xue, sebuah usaha yang teramat berat bagi kapasitas fisiknya yang masih berada di ranah rendah. Kulit wajah pemuda itu berubah menjadi sangat pucat, dengan butiran keringat yang mengalir deras di sekitar pelipisnya.

Tak lama kemudian, jeritan melengking yang sangat tajam mendadak terdengar di dalam ruangan gua. Segumpal asap hitam pekat tampak mengepul keluar dari salah satu kelelawar yang sejak tadi bergantungan dan menempel di langit-langit batu gua.

Kelelawar itu mendadak membesar dengan sangat cepat, diselimuti kegelapan pekat sebelum akhirnya bertransformasi membentuk raga seorang wanita dewasa yang mengenakan jubah serba hitam. Wanita itu tampak meniup-niup permukaan punggung tangannya yang mengalami luka gosong akibat sengatan petir murni. Sementara wajahnya merah padam, menahan amarah yang luar biasa besar ke arah kedua utusan.

“Para cecunguk dari Sekte Garuda Putih,” umpat wanita berjubah hitam itu. “Berani-beraninya kalian datang ke tempat ini dan mengganggu waktu istirahatku!”

Liu Xue memperlihatkan senyuman menantang di wajahnya, sama sekali tidak gentar melihat kemunculan sang musuh. “Kami hanya sedang menuntaskan sebuah tugas pembersihan yang didelegasikan oleh pihak sekte, kau tidak keberatan, kan?”

Penyihir itu membalas ucapan dengan senyuman dingin yang sarat akan aroma kematian. Tangan kanannya terangkat tinggi ke udara, menyebabkan jubah hitamnya melambai liar akibat hempasan energi spiritual yang pekat. Dari balik lipatan lengan bajunya yang longgar, ratusan ekor kelelawar bayangan yang bermata merah mendadak menyembur keluar dalam jumlah yang sangat banyak. Makhluk-makhluk kegelapan itu melesat cepat, mengarah lurus menuju posisi berdiri Zhao Fei dan Liu Xue dengan tingkat kecepatan yang luar biasa ekstrem.

Zhao Fei mendecak kesal dalam hati saat menyadari bahwa pasokan energi qi di dalam tubuh mudanya telah terkuras hampir habis akibat serangan petir massal tadi. Bilah Pemutus Awan memang masih berada di genggamannya, namun fisiknya tidak lagi memadai untuk menahan gempuran dalam skala sebesar itu.

Melihat situasi kritis tersebut, Liu Xue segera melangkah ke depan tubuh Zhao Fei. Kedua belah telapak tangan gadis itu merapat dengan sangat kokoh, memicu kemunculan cahaya keemasan yang terang berkumpul di antara sela-sela jemari tangannya.

“Cahaya Pemusnah!” seru Liu Xue dengan lantang.

Energi keemasan itu meledak dengan sangat dahsyat, menyebar ke segala arah memenuhi seluruh sudut ruangan gua layaknya pancaran mentari siang. Setiap kelelawar bayangan yang terkena sentuhan radiasi cahaya murni itu seketika lenyap menguap menjadi ketiadaan dalam hitungan detik. Sang penyihir wanita mendadak terpojok di sudut gua dengan kulit wajah yang berubah menjadi sangat pucat. “Kurang ajar!” umpatnya dengan geram. “Ternyata kalian tidak bisa dianggap remeh sebagai sekelompok anak kemarin sore yang mudah dihancurkan!”

Penyihir wanita itu menolak untuk menyerahkan diri begitu saja kepada sepasang pendekar muda. Dia mengikrarkan namanya sebagai Miao Yu, seorang utusan khusus yang dikirim secara rahasia oleh pihak Sekte Ular Berbisa dengan misi utama untuk meracuni aliran Sungai Naga Hijau. Agenda keji itu diterapkan guna melemahkan ketahanan fisik para warga desa, menyulut kemarahan publik terhadap kinerja Sekte Garuda Putih, serta merusak stabilitas keamanan di sepanjang jalur perbatasan. “Aku tidak akan pernah sudi untuk menderita kekalahan di tangan bocah-bocah ingusan seperti kalian!” teriak Miao Yu dengan penuh histeria.

Sebilah sabit panjang bermata melengkung mendadak muncul di dalam genggaman tangan kanan penyihir wanita itu. Bilah senjata itu memancarkan kilauan warna keunguan yang pekat, sebuah tanda nyata adanya kandungan racun spiritual yang sangat mematikan pada logamnya.

Zhao Fei segera melesat maju ke depan dengan pedang Pemutus Awan yang tergenggam mantap di tangan kanannya. Pertempuran jarak dekat kembali pecah di dalam ruangan gua yang lembab. Ukuran sabit milik Miao Yu yang terbilang panjang sebenarnya sangat ideal untuk melancarkan serangan jarak jauh, namun Zhao Fei berhasil mengeksploitasi kondisi medan pertempuran dengan sangat cerdik. Ruangan gua yang sempit dan dipenuhi tonjolan batu stalaktit membuat pergerakan sabit panjang itu menjadi terhambat dan tidak bisa diayunkan secara leluasa.

Zhao Fei terus memberikan tekanan bertubi-tubi tanpa memberikan ruang bagi lawan untuk memulihkan posisi. Ukuran pedangnya yang lebih pendek justru memberikan keuntungan taktis untuk bergerak lincah di ruang terbatas. Setiap tebasan kilat serta tusukan presisi yang dia lancarkan selalu mengarah tepat pada titik celah pertahanan Miao Yu yang terbuka. Dalam sebuah pergerakan kilat yang sangat tak terduga, bilah Pemutus Awan berhasil menembus dalam, menusuk tepat di bagian perut penyihir itu.

Langsung saja, Miao Yu terhuyung ke belakang dengan langkah kaki yang limbung, sementara darah segar mulai mengalir deras dari bekas luka tusukan di perutnya. Kendati kematian telah berada di ambang mata, sebuah senyuman aneh yang memadukan rasa kemenangan serta keputusasaan justru terukir di sudut bibirnya.

“Long Wei... akan segera mengerahkan pasukannya untuk menyerang tempat ini,” ujar Miao Yu, berbicara dengan penuh susah payah. “Perdamaian di dunia ini tidak akan pernah ada, dan hal itu tidak akan pernah terwujud sampai kapan pun.”

Wanita itu pun hanyut dalam tawa yang semakin lama semakin mengecil volumenya sebelum sang penyihir mulai hancur berderai menjadi tumpukan abu, terbang terbawa oleh embusan angin kencang yang bertiup dari arah luar air terjun. Zhao Fei bersama Liu Xue hanya bisa berdiri menatap lenyapnya musuh mereka.

Liu Xue memalingkan kepalanya, menatap lurus ke arah sepasang mata Zhao Fei dengan dipenuhi oleh keseriusan. “Long Wei. Wanita itu sempat melontarkan nama putra mahkota Sekte Naga Hitam sebelum tubuhnya hancur.”

Zhao Fei mengaggukkan kepala sedikit demi memberikan isyarat setuju. “Aku mendengar penuturan itu dengan jelas.” Hal itu merupakan sebuah peringatan berharga dari seorang musuh yang sedang berada dalam kondisi sekarat, sebuah pesan yang sama sekali tidak memiliki kelayakan untuk diabaikan begitu saja.

“Kita harus kembali menuju pusat sekte untuk melaporkan seluruh temuan penting ini kepada kakekmu setelah kita ceritakan ini ke warga desa,” ajak Zhao Fei dengan tenang sembari mengambil sabit bekas penyihir tadi.

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!