NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Setelah Bram selesai, ruangan sunyi.

Surya berkata pelan, “Dia bilang akan datang ketika Reza merasa paling aman?”

Bram mengangguk.

“Iya, Pak.”

Reza tertawa dingin, mencoba terlihat tidak takut.

“Kalau dia berani datang ke rumah ini, aku akan—”

“Diam,” kata Surya.

Reza membeku.

Surya menatap anaknya dengan mata tajam.

“Kesombonganmu sudah cukup membuat situasi menjadi buruk. Mulai sekarang, kau tidak bergerak tanpa perintahku.”

“Pa, dia mempermalukan aku!”

“Dan kalau kau terus bodoh, dia akan menguburmu.”

Reza terdiam.

Ucapan itu keluar dari mulut Surya dengan nada datar, tetapi justru karena itu terasa lebih menekan. Untuk pertama kalinya, Reza melihat bahwa ayahnya tidak menganggap Raka sebagai gangguan kecil.

Surya menganggap Raka sebagai ancaman nyata.

Hei Yan kembali memandang luka di tangannya.

“Raka tidak akan mudah dipancing lagi dengan cara yang sama. Ia sudah memahami pola kalian.”

Surya bertanya, “Apa saranmu?”

Hei Yan tersenyum.

“Berhenti menyerangnya dari luar.”

Bram mengangkat wajah dengan bingung.

Reza bertanya, “Maksudmu?”

“Cari sesuatu yang ia belum pahami. Masa lalunya. Kamar kontrakannya. Orang-orang yang pernah dekat dengannya. Tempat ia biasa bekerja. Semua jejak manusiawinya.”

Surya mengangguk pelan.

“Kau ingin menemukan kelemahannya.”

“Bukan hanya kelemahan,” jawab Hei Yan. “Aku ingin tahu kenapa takhta memilih tubuh itu.”

Ruangan kembali hening.

Surya menatap Bram.

“Kau tahu tempat tinggal Raka?”

Bram ragu.

“Tahu, Pak. Kontrakan kecil di gang pinggir kota.”

“Awasi. Jangan sentuh dulu.”

Bram langsung mengangguk cepat.

“Baik, Pak.”

Hei Yan menoleh kepadanya.

“Jangan kirim orang kasar. Kirim mata yang tidak mencolok. Pedagang, tukang parkir, anak kecil jalanan, siapa pun yang tidak memancing amarahnya.”

Bram mengangguk lagi.

“Iya.”

Surya menatap salah satu pelayan yang berdiri di luar pintu.

“Panggil Hendra Wiranata besok pagi. Katakan aku ingin bertemu.”

Reza mengangkat alis.

“Keluarga Wiranata?”

Surya mengangguk.

“Kalau Raka mulai menjadi masalah yang tidak bisa disentuh dengan kekerasan, kita gunakan jalur lain.”

Hei Yan tersenyum.

“Hukum manusia?”

Surya menjawab tenang.

“Hukum, surat, tuduhan, berita, polisi, dan izin. Manusia tidak selalu perlu dipukul untuk dijatuhkan. Kadang cukup dibuat terlihat bersalah.”

Bram merasa dadanya tidak nyaman.

Ia tidak tahu kenapa, tetapi ia merasa rencana seperti itu justru lebih berbahaya.

Raka mungkin bisa menahan diri saat dirinya diserang.

Tapi jika orang-orang Mahendra mencoba menjebaknya dengan cara kotor, jika mereka menyeret nama orang biasa, jika mereka membuat seseorang tidak bersalah menjadi korban…

Bram tidak yakin Raka akan memberi peringatan lagi.

Hei Yan sepertinya memahami hal yang sama, tetapi makhluk itu justru terlihat senang.

“Bagus,” ucap Hei Yan. “Buat dia bergerak lebih jauh. Buat dia menunjukkan lebih banyak kekuatan.”

Surya menatapnya.

“Kau ingin dia semakin marah?”

“Aku ingin melihat batasnya.”

Hei Yan menatap luka emas di telapak tangannya.

“Semakin banyak ia menghukum, semakin jelas takhta di dalam tubuhnya. Dan semakin jelas takhta itu…”

Senyumnya melebar.

“…semakin mudah bagiku menemukan cara untuk mencabutnya.”

Bram merasakan bulu kuduknya berdiri.

Mencabut takhta dari Raka.

Kalimat itu terdengar seperti orang bodoh yang ingin mencuri petir dari langit.

Namun ia tidak berani berkata apa-apa.

Di sisi lain Pontianak, Raka tiba di depan kamar kontrakannya.

Gang kecil itu sepi. Beberapa rumah sudah gelap. Hanya ada satu lampu jalan yang menyala redup di ujung gang. Seekor kucing tidur di dekat tumpukan kardus. Dari kejauhan, suara televisi warga terdengar samar.

Raka berdiri beberapa detik di depan pintu kamarnya.

Setelah malam panjang itu, tempat sempit ini seharusnya terasa seperti tempat pulang.

Namun entah kenapa, sekarang kamar itu terasa terlalu kecil.

Bukan karena ukurannya berubah.

Tapi karena sesuatu di dalam diri Raka mulai terlalu besar untuk dikurung oleh dinding lembap dan atap rendah.

Ia membuka pintu.

Kamar itu masih sama.

Kasur tipis.

Meja kecil.

Kipas angin tua.

Beberapa pakaian yang belum dilipat.

Gelas bekas kopi.

Tidak ada yang berubah.

Namun Mata Dewa melihat sesuatu yang sebelumnya tidak ia sadari.

Di sudut kamar, tepat di bawah lantai dekat dinding, ada garis emas samar yang sangat tipis. Hampir tidak terlihat. Seperti bekas tulisan kuno yang terkubur di bawah semen.

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!