NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LAKI - LAKI YANG TAK PERNAH PERGI

Nayaka hanya terdiam. Matanya menatap Mira dengan sorot yang sulit diartikan—antara rasa bersalah, ketakutan, dan ketidakberdayaan yang selama sepuluh tahun ini selalu menjadi tembok di antara mereka. Ia melihat Mira berdiri, namun kakinya seolah terpaku ke lantai marmer yang dingin. Ia ingin mengejar, namun tatapan tajam sang ibu yang seolah menghunus jantungnya membuat lidahnya kembali kelu.

"Kalo kamu nggak kejar aku sekarang, kita benar-benar berhenti di sini," batin Mira menjerit.

Ia sengaja melangkah pelan, memberikan Nayaka waktu beberapa detik yang krusial untuk membuat keputusan terbesar dalam hidupnya. Satu langkah... dua langkah... Mira masih berharap ada tangan yang menahan lengannya. Namun, yang terdengar justru suara ibunda Nayaka yang kembali memuji-muji Azzura, seolah kepergian Mira bukanlah hal yang berarti.

Dan benar saja. Pria itu tetap di tempatnya.

Nayaka lebih memilih tunduk pada kenyamanan dan rasa takutnya kepada orang tua daripada memperjuangkan wanita yang katanya ia cintai selama satu dekade. Harapan Mira pupus total. Rasa sesak yang sejak tadi menghimpit dadanya mendadak berubah menjadi kehampaan yang luar biasa.

Mira keluar dari pintu besar itu tanpa menoleh lagi. Sinar matahari pagi yang cerah terasa menyakitkan di matanya yang mulai basah. Ia berjalan menuju gerbang, melewati mobil Nayaka yang kini terasa seperti monumen kegagalan cinta mereka.

Ia merogoh ponsel di dalam tasnya dengan tangan bergetar, lalu menekan sebuah nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.

"Halo, Mas Danang..." suara Mira pecah. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. "Jemput Mira, Mas... Mira mau pulang."

Di seberang telepon, tidak ada bentakan. Hanya ada suara berat Danang yang terdengar begitu protektif dan penuh kasih sayang.

"Tunggu di sana, Dek. Jangan gerak. Mas sampai dalam lima menit."

Mira duduk di pinggir jalan, sedikit jauh dari rumah megah itu. Ia tidak peduli lagi dengan penampilannya. Sepuluh tahunnya baru saja mati di ruang tamu itu, dibunuh oleh diamnya seorang laki-laki yang tidak punya pendirian. Kini ia sadar, perlindungan yang sesungguhnya bukan ada pada Nayaka, melainkan pada rumah tempat empat kakak laki-lakinya sedang menantinya dengan tangan terbuka.

Mobil hitam Danang berhenti dengan derit ban yang halus namun tegas tepat di depan Mira. Pintu terbuka, dan Danang keluar dengan langkah lebar. Wajahnya yang tadi pagi penuh amarah, kini mendadak tenang—sebuah ketenangan yang justru jauh lebih mengintimidasi.

Ia melihat adiknya. Hijab Mira sedikit miring, wajahnya pucat, dan matanya merah karena tangis yang dipaksakan berhenti. Mira berdiri mematung sambil menatap rumah megah di belakangnya—rumah yang baru saja menjadi kuburan bagi mimpinya selama sepuluh tahun.

Danang tidak memaki. Ia tidak mengeluarkan kalimat "Kan sudah Mas bilang" atau "Laki-laki itu memang sampah". Ia hanya diam.

Dengan gerakan lembut yang jarang ia tunjukkan, Danang melepas jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Mira yang bergetar. Ia menuntun adiknya masuk ke dalam mobil, seolah Mira adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja jika tersentuh kasar.

Sepanjang perjalanan pulang, kabin mobil itu senyap. Danang fokus pada jalanan, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme teratur. Ia tidak bertanya apa yang terjadi di dalam sana. Ia tidak bertanya mengapa Mira keluar sendirian tanpa Nayaka.

Danang tahu adiknya butuh ruang. Ia tahu bahwa saat ini, logika tidak akan masuk ke telinga Mira yang sedang berdenging karena rasa sakit. Ia membiarkan Mira menatap kosong ke arah jendela, membiarkan adiknya menerima kenyataan pahit bahwa sepuluh tahunnya telah menguap begitu saja.

Saat mobil memasuki halaman rumah mereka, Danang mematikan mesin. Ia menoleh ke arah Mira, menatap adiknya dengan sorot mata seorang pelindung yang paling setia.

"Dek," panggil Danang rendah.

Mira menoleh pelan, air matanya kembali menggenang.

"Mas nggak akan tanya apa-apa. Mas nggak akan marah sama kamu," ucap Danang sambil mengusap kepala Mira dengan tangan kasarnya. "Tapi satu hal yang harus kamu tahu... mulai detik ini, nggak akan ada lagi nama itu di rumah kita. Kamu aman di sini."

Di depan pintu rumah, Ayah, Ibu, dan ketiga kakak laki-laki Mira yang lain sudah berdiri menunggu. Mereka semua diam, tidak ada yang berani bersuara. Mereka hanya membuka jalan saat Danang merangkul pundak Mira dan membawanya masuk ke dalam rumah.

Malam itu, rumah keluarga Mira menjadi benteng yang paling kokoh. Sementara di tempat lain, Nayaka mungkin sedang menyesali diamnya, namun di sini, diamnya Danang adalah bentuk kasih sayang yang paling dalam bagi Mira.

Mira menatap deretan mobil yang terparkir rapi di halaman rumah mereka dengan bingung. Air matanya yang tadi sempat mengering kini kembali menggenang, namun bukan karena sedih, melainkan karena rasa haru yang mendalam. Ia menyadari satu hal: Mas Danang memang sudah menyiapkan segalanya. Kakaknya itu seolah sudah tahu bahwa hari ini akan menjadi hari paling hancur bagi Mira, dan ia tidak ingin adiknya menghadapi kehancuran itu sendirian.

"Ada apa, Mas?" tanya Mira lirih, suaranya masih parau.

Danang mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke arah Mira dengan senyum tipis yang menenangkan. "Ini kan hari libur. Mas Darma, Mas Danu, sama Damar semuanya ke sini sama anak istrinya. Mereka mau makan-makan di rumah Ayah."

Mira terdiam. Ia tahu ini bukan sekadar acara makan-makan biasa. Kakak-kakaknya yang biasanya sibuk dengan pekerjaan dan keluarga masing-masing tidak mungkin berkumpul selengkap ini secara mendadak jika tidak ada alasan kuat. Mereka berkumpul untuknya. Mereka ada di sana untuk menjadi benteng bagi adik bungsu mereka yang baru saja kehilangan sepuluh tahun hidupnya.

Begitu pintu mobil dibuka, suasana riuh suara anak-anak kecil terdengar dari arah teras. Mas Darma, kakak tertua, langsung berdiri dari kursi rotannya saat melihat Mira turun.

"Dek, sini. Masakan Ibu sudah siap, kamu belum makan siang kan?" sapa Mas Darma dengan nada yang sangat santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tidak bertanya mengapa mata Mira sembap atau di mana Nayaka.

Istri-istri mereka, kakak ipar Mira, segera menghampiri dan merangkul pundak Mira. Mereka tidak memberikan tatapan kasihan yang menyebalkan, melainkan senyuman hangat yang tulus.

"Ayo masuk, Mir. Anak-anak dari tadi nanyain tantenya terus," ucap istri Mas Danu sambil menuntun Mira masuk ke dalam rumah.

Di dalam, rumah terasa sangat hidup. Aroma masakan Ibu memenuhi ruangan, tawa keponakan-keponakan Mira memenuhi udara, dan kehadiran keempat kakak laki-lakinya—Darma, Danang, Danu, dan Damar—membuat Mira merasa dikelilingi oleh perlindungan yang tak tertembus.

Danang berdiri di ambang pintu, menatap adik perempuannya yang mulai dikelilingi oleh keluarga besar mereka. Ia menghela napas lega. Ia tahu luka Mira sangat dalam, tapi ia juga tahu bahwa di rumah ini, dengan cinta dari empat laki-laki yang benar-benar menjaganya, Mira akan baik-baik saja.

Malam itu, tidak ada satu pun orang yang menyebut nama Nayaka. Seolah-olah pria itu memang benar-benar sudah dihapus dari sejarah keluarga mereka. Di meja makan yang penuh sesak itu, Mira akhirnya menyadari bahwa meskipun ia kehilangan satu cinta yang ia perjuangkan selama sepuluh tahun, ia tetap memiliki cinta yang jauh lebih besar dan nyata yang tidak akan pernah meninggalkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!