Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.1
Kedatangan kereta kuda Keluarga Wang rupanya telah memicu kewaspadaan tingkat tinggi. Patriark Keluarga Suci, Shen Hong, yang dikenal memiliki watak yang tajam dan penuh intrik, secara pribadi telah berdiri di depan pintu gerbang utama bersama jajaran pengawal berbaju zirah lengkap untuk menyambut mereka.
Begitu Xiao Xuan turun dari kereta dengan pembawaan yang tenang, dingin, dan matang, Shen Hong segera menyatukan kedua tangannya, memberikan penghormatan diplomatik yang teramat pas. Ia tidak berani meremehkan, sebab eksistensi militer dan kekuatan tersembunyi Keluarga Wang berada di tingkat yang mampu mengguncang keseimbangan kota jika tersulut konflik.
Setelah basa-basi diplomatik yang diisi oleh kalimat-kalimat penuh subteks yang tajam, Shen Hong yang telah menangkap maksud kedatangan Xiao Xuan tidak memilih untuk mempersulit keadaan. Dengan senyum tipis yang menyembunyikan motif aslinya, ia mengarahkan rombongan tersebut menuju Lapangan Seni Bela Diri utama Keluarga Suci.
Saat ini, atmosfer di sekitar lapangan terbuka itu telah dipenuhi oleh deru suara gaduh dari ratusan murid muda Keluarga Suci yang berkumpul di tribun. Kabar mengenai Tuan Muda Keluarga Wang yang datang dengan angkuh untuk menantang faksi mereka telah membakar ego darah muda mereka.
"Memangnya dia siapa? Bukankah dia hanya seorang pemuda necis yang berlindung di balik nama besar faksi?" sebuah suara cicitan tajam bernada sinis mendadak memotong keriuhan tepat saat langkah kaki Xiao Xuan menapak di atas panggung batu pertarungan.
Xiao Xuan menghentikan langkahnya perlahan. Dengan ketenangan seorang pria dewasa yang tak mudah terprovokasi oleh kalimat dangkal, ia memutar tubuhnya seirama dengan kibasan jubah jurnalisnya, mengarahkan tatapan matanya yang tajam dan menyipit ke arah sumber suara.
Di sudut tribun yang agak teduh, berdiri seorang gadis muda yang berhasil menghentikan detak napas sebagian orang yang melihatnya. Gadis itu memiliki sepasang mata yang jernih namun sedingin telaga purba di malam hari, dengan bibir merah muda yang lembut namun terkatup rapat membentuk garis ketat yang angkuh. Hidungnya yang mungil dan halus berpadu sempurna dengan garis rahangnya yang anggun, melambangkan kecantikan murni yang luar biasa namun sarat akan jarak yang sengaja dibangun. Kulitnya yang begitu putih bersih seolah tampak rapuh di bawah terpaan sinar matahari pagi.
"Ah, mohon maklum, Tuan Muda Xiao," sela Shen Hong yang berdiri di sisi lapangan, tawa kecilnya terdengar agak canggung namun menyimpan gurat kebanggaan. "Gadis keras kepala itu adalah cucu perempuanku, Shen Qingqiu. Aku terlalu memanjakannya sejak kecil hingga tuturnya sering kali melompati batas etika. Kuharap Tuan Muda Xiao yang berjiwa besar tidak memasukkannya ke dalam hati."
"Senior Shen terlalu sungkan," sahut Xiao Xuan, suaranya terdengar datar namun halus, memancarkan kedewasaan yang kontras. "Aku tidak akan menurunkan derajat pemikiranku hanya untuk mempermasalahkan kalimat spontan dari Nona Qingqiu."
Mendengar dirinya dibicarakan seolah ia hanyalah bocah kecil yang tak berarti, sepasang mata jernih Shen Qingqiu menyala oleh kobaran api amarah. Ia melompati pembatas tribun dengan gerakan yang anggun bagai burung walet, mendarat di atas panggung batu tepat beberapa langkah di hadapan Xiao Xuan.
"Kau, yang bermarga Xiao! Jangan terlalu percaya diri dengan keangkuhan jubahmu itu! Akulah yang akan menjadi lawan pertamamu dan memastikan kesombonganmu hancur di atas panggung ini!" seru Shen Qingqiu lantang, jemarinya yang lentik langsung menarik sebilah pedang tipis dari balik pinggangnya.
"Pertandingan... dimulai!" seru wasit lapangan menggelegar.
Begitu aba-aba selesai dikumandangkan, Shen Qingqiu tidak membuang sedetik pun waktu. Ia menghentakkan kakinya, melepaskan gelombang Kekuatan Jiwa yang langsung memicu penurunan suhu di sekitar panggung. Riak energinya bergolak, memanifestasikan kekuatan **Peringkat Perunggu Bintang 2**.
Xiao Xuan sedikit mengangkat sebelah alisnya dalam keheningan. Sudut pandang dewasanya yang mengingat dengan baik detail plot sejarah dunia ini tahu betul bahwa dalam linimasa asli, nama Shen Qingqiu tidak pernah muncul ke permukaan. *Sebuah mutiara tersembunyi dari Keluarga Suci... Menarik,* batin Xiao Xuan, merasakan seulas selera humor tipisnya menggelitik isi kepalanya.
*Sring! Sring!*
Mata pedang Shen Qingqiu bergerak cepat seumpama jalinan benang perak, mengincar beberapa titik vital di pundak Xiao Xuan. Namun, menghadapi serangan yang bagi ukuran murid biasa sudah teramat mematikan itu, Xiao Xuan hanya menggeser tipis kaki belakangnya. Tubuh tegapnya bergerak dengan efisiensi gerakan yang luar biasa, membiarkan mata pedang gadis itu melesat hanya seujung rambut dari permukaan zirah hitamnya tanpa pernah menyentuh kain jubahnya sedikit pun.
Setelah melewati belasan pertukaran jurus di mana Shen Qingqiu mulai kehabisan napas dan frustrasi karena serangannya selalu membentur udara kosong, Xiao Xuan memutuskan untuk sedikit menguji ketahanan mental sang gadis.
"Aku menyarankan padamu, Nona Qingqiu," tutur Xiao Xuan dengan nada suara yang tenang, bersandar santai pada satu kakinya saat menghindari tebasan horizontal. "Kurangi sedikit temperamen berapimu itu. Jika seorang gadis selalu memasang wajah garang di setiap pertemuan, aku khawatir kelak tidak akan ada pria di Kota Glory yang memiliki nyali cukup besar untuk meminangmu masuk ke dalam rumahnya."
"Kau... Tutup mulutmu, bajingan?!" pekik Shen Qingqiu, wajah cantiknya yang putih bersih seketika merona merah padam akibat campuran rasa malu dan amarah yang meledak-ledak.
Kehilangan kendali atas logika bertarungnya, gadis itu melakukan pergerakan nekat. Ia menjatuhkan pedangnya, melesat maju dan langsung mencengkeram lengan kanan Xiao Xuan yang kokoh, lalu menggunakan deretan gigi putihnya yang rapi untuk menggigit pergelangan tangan sang pemuda dengan sekuat tenaga.
Xiao Xuan merasakan sensasi tajam dan sedikit perih yang menggelitik di lengannya. *Apakah gadis dari faksi terhormat ini sebenarnya memiliki darah keturunan serigala pelacak?* batinnya heran, menggelengkan kepala melihat tindakan anti-mainstream dari sang lawan.
Sebelum Xiao Xuan sempat menarik lengannya keluar dari gigitan tersebut, Shen Qingqiu memanfaatkan berat tubuhnya, memutar pinggulnya dengan maksud mendorong tubuh tegap Xiao Xuan agar terlempar keluar dari batas panggung batu. Namun, insting tempur Xiao Xuan yang telah terasah tajam tentu tidak membiarkan dirinya dipermalukan oleh trik fisik tingkat rendah.
Alih-alih bertahan tegak, Xiao Xuan justru sengaja melonggarkan tumpuan kakinya. Tangan kirinya bergerak secepat kilat, melingkari pinggang ramping Shen Qingqiu yang halus, lalu membalikkan posisi tubuh mereka di udara dengan memanfaatkan momentum jatuhnya gadis itu.
*Bruk!*
Suara benturan tubuh yang meredam di atas lantai panggung batu bergema pelan. Debu-debu halus berterbangan di sekeliling mereka seiring dengan mendadak heningnya seluruh tribun penonton.
Di tengah panggung, Shen Qingqiu mendapati dirinya terlentang di atas batu dengan kedua pergelangan tangannya telah dikunci rapat di atas kepala oleh cengkeraman jemari Xiao Xuan yang sekeras jepitan baja. Di atasnya, tubuh tegap Xiao Xuan menindihnya dengan jarak yang teramat dekat, hingga embusan napas hangat pria itu bisa dirasakan dengan jelas di permukaan kulit lehernya yang sensitif. Sepasang mata elang Xiao Xuan menatap lurus ke dalam manik matanya yang bergetar hebat, memancarkan keheningan yang mengintimidasi sekaligus pesona dewasa yang tak terbantahkan. Kedua manusia muda itu kini terjebak dalam posisi pergumulan jarak dekat yang teramat intim, memicu riak kepanikan dan berbagai ekspresi tak terbaca dari ratusan mata yang menonton di bawah panggung.