Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06 (Rahasia yang Tak Sengaja Terdengar)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Suasana Elvéra Atelier pagi itu cukup ramai, beberapa pegawai sibuk membawa kain, mencatat pesanan pelanggan, hingga membantu proses fitting gaun pengantin yang sejak kemarin sudah dijadwalkan. Elvara Naomi Wijaya berdiri di depan seorang pelanggan wanita sambil merapikan detail veil putih panjang yang menjuntai indah hingga lantai.
“Bagian pinggangnya udah pas, Kak?” tanyanya lembut. Wanita itu langsung tersenyum puas sambil menatap pantulan dirinya di cermin besar.
“Cantik banget… serius, ini lebih bagus dari ekspektasi saya.”
Elvara tersenyum kecil. “Nanti detail payet bagian belakang masih ditambah sedikit biar lebih elegan.”
Nayla yang berdiri di dekat meja kasir langsung berbisik kagum pada salah satu pegawai. “Kalau lagi kerja begini, aura Kak El langsung beda ya.”
“Iya… cantik banget.” Elvara sendiri berusaha fokus penuh pada pekerjaannya.
Karena hanya saat seperti ini pikirannya bisa sedikit tenang.
Ting.
Pintu butik tiba-tiba terbuka. dan sosok pria tinggi dengan kemeja hitam sederhana masuk sambil melepas sunglasses-nya perlahan.
Kael Sebastian Pranata.
Salah satu pegawai langsung terlihat salah tingkah melihat ketampanan pria itu. “Selamat datang, Kak.”
Kael tersenyum tipis lalu matanya langsung mencari satu sosok di dalam butik.
Dan seperti biasa…
Tatapannya berhenti tepat pada Elvara. Wanita itu yang menyadari kedatangannya sedikit terkejut.
“Kael?”
Kael berjalan mendekat sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Ganggu nggak?”
Elvara menggeleng kecil. “Tumben ke sini.”
Kael melirik sekeliling butik beberapa detik sebelum akhirnya menjawab santai— “Mau pesan jas.”
Nayla langsung menaikkan alis curiga sambil menahan senyum. “Wih… jas buat apa nih?”
Kael terkekeh kecil. “Acara perusahaan.”
Elvara akhirnya ikut tersenyum tipis. “Mau model kayak gimana?”
“Sesuai rekomendasi kamu aja.”
Jawaban itu terdengar biasa, Namun cara Kael menatap Elvara membuat Nayla langsung sadar ada sesuatu yang berbeda dari pria itu.
Dan Elvara yang merasa suasana mulai aneh buru-buru mengambil buku desain.
“Oke, nanti aku bantu pilih kainnya.”
…
Beberapa saat kemudian, Kael berdiri di area fitting sambil mencoba beberapa sampel kain jas.
“El, menurut kamu warna charcoal bagus nggak?” tanyanya sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
“Bagus.” Elvara mengangguk kecil. “Cocok sama kamu.” Kael tersenyum tipis mendengar itu, Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya perlahan berubah serius.
“El”
“Hm?” Kael terdiam sesaat seolah sedang berpikir, Lalu akhirnya berkata pelan— “Kalau suatu hari nanti… Arsen nyakitin kamu lebih jauh…”
Elvara langsung menoleh bingung, Kael menghela nafas pelan sebelum melanjutkan ucapannya. “Jangan tetap bertahan cuma karena kamu terlalu cinta sama dia.”
Jantung Elvara langsung berdegup aneh. “Kamu ngomong apa sih?”
Kael memalingkan wajah sambil tertawa kecil hambar.
“Semalam…” suaranya merendah, “aku nggak sengaja dengar pembicaraan Arsen sama Vivian.”
Elvara langsung menegang. Matanya membesar pelan menatap Kael, Tanpa sadar, wanita itu segera menarik lengan Kael menjauh dari area fitting agar para pegawai dan pelanggan tidak mendengar pembicaraan mereka.
Mereka berhenti di sudut butik yang lebih sepi, dekat ruang desain pribadi milik Elvara.
“Apa maksud kamu?” tanya Elvara pelan namun terdengar panik. “Semalam Arsen sama Vivian ketemu?”
Kael terdiam beberapa detik, Lalu akhirnya mengangguk kecil.
“Terus kamu dengar pembicaraan mereka?” suara Elvara mulai melemah. “Apa yang mereka bicarakan?”
Kael mengusap tengkuknya pelan.
Ia sebenarnya ragu harus mengatakan ini atau tidak, namun setelah melihat sendiri bagaimana hancurnya ekspresi Elvara beberapa hari terakhir… ia tidak tega terus membiarkan wanita itu hidup dalam ketidaktahuan.
“Aku semalam ada meeting di hotel yang sama,” ucap Kael perlahan. “Pas mau keluar ballroom… aku nggak sengaja lihat mereka bicara berdua.”
Jantung Elvara mulai berdegup semakin cepat, tangannya terasa dingin.
“Aku nggak dengar semuanya,” lanjut Kael hati-hati. “Tapi Vivian minta balikan sama Arsen.”
Sunyi.
Elvara langsung membeku, Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya keras sampai sulit bernapas.
“Dan…” Kael menatapnya dengan sorot khawatir, “Arsen nggak nolak.” Mata Elvara perlahan memerah.
Namun ia masih mencoba bertahan. “A-apa maksudnya nggak nolak?”
Kael mengepalkan tangannya pelan. “Arsen bilang… kasih dia waktu.”
Kalimat itu langsung menghancurkan sisa ketenangan Elvara, Wanita itu mundur satu langkah sambil menahan napasnya yang mulai tidak beraturan.
Dadanya terasa sakit, sangat sakit.
Ia bahkan sempat berharap semua kecurigaannya selama ini hanya ketakutan berlebihan.
Namun sekarang…
Suaminya sendiri justru memberi harapan pada mantan kekasihnya, Kael langsung menahan bahu Elvara saat wanita itu hampir kehilangan keseimbangan.
Namun Elvara buru-buru melepaskan tangannya pelan, Ia tertawa kecil.
Tawa yang terdengar jauh lebih menyedihkan daripada tangisan. “Lucu ya…” bisiknya lirih. “Aku mati-matian mempertahankan rumah tangga ini sendirian.”
Kael menatapnya dengan rahang mengeras.
“Sedangkan dia…” suara Elvara mulai bergetar, “lagi mikirin buat balik ke cinta pertamanya.”
Elvara langsung menunduk sambil mengusap cepat air matanya yang hampir jatuh, Ia berusaha menarik napas panjang meski dadanya terasa sesak.
“El…” panggil Kael pelan penuh khawatir.
Namun Elvara buru-buru menggeleng. “Aku nggak apa-apa.”
Itu bohong, dan Kael tahu jelas itu bohong.
Wanita itu langsung berjalan cepat keluar dari ruang desain, membuat beberapa pegawai yang sedang bekerja menoleh bingung. “Kak El?” panggil Nayla heran.
Elvara mencoba tersenyum kecil meski wajahnya terlihat pucat. “Aku keluar dulu.”
“Hah? Tapi fitting jam tiga—”
“Tolong handle dulu ya, Nay.”
Nayla langsung mengernyit khawatir melihat mata Elvara yang merah. “Kamu nangis?”
“Nanti aku jelasin.”
Setelah mengatakan itu, Elvara segera mengambil tas dan kunci mobilnya dengan tangan sedikit gemetar.
Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Semua sikap Arsen sejak pagi tadi tiba-tiba terasa masuk akal, Tatapan dinginnya. Jawabannya yang acuh, dan cara pria itu terus menghindari pembicaraan tentang Vivian.
Ternyata semalam…
Arsen memang bertemu wanita itu. Bahkan mendengar permintaan untuk kembali bersama. dan yang paling menyakitkan— Arsen tidak langsung menolak.
Elvara menggenggam stir mobilnya kuat sesaat setelah masuk ke dalam kendaraan.
Dadanya terasa sakit sampai sulit bernapas. “Aku harus ketemu dia…” bisiknya lirih. Ia ingin mendengar semuanya langsung dari Arsen.
Karena kalau tidak…
Ia merasa dirinya benar-benar akan hancur oleh prasangka dan rasa takutnya sendiri.
Sementara itu, Kael masih berdiri diam di dalam butik sambil menatap pintu yang baru saja ditutup Elvara.
Rahang pria itu mengeras pelan. Entah kenapa, perasaannya mulai tidak tenang.l, Karena dari ekspresi Elvara tadi…
Ia tahu wanita itu sedang berada di titik paling rapuhnya, Mobil Elvara melaju cukup cepat membelah jalanan kota siang itu. Tangannya menggenggam stir erat sementara pikirannya terus dipenuhi ucapan Kael tadi: “Arsen bilang… kasih dia waktu.”
Kalimat itu terus berputar di kepalanya tanpa henti, Dadanya terasa sesak. Matanya bahkan mulai panas lagi meski ia sudah berusaha menahan diri sejak keluar dari butik.
Tak lama kemudian, mobil Elvara akhirnya berhenti di depan gedung Mahardika Group. Beberapa karyawan langsung mengenali mobil dan sosoknya begitu ia turun.
“Selamat siang, Bu Elvara.” Elvara hanya mengangguk kecil sambil berjalan cepat memasuki lobby utama.
Aura dingin dan elegan yang biasanya selalu melekat pada dirinya hari ini terlihat berantakan, Bahkan langkahnya tampak tergesa-gesa. Beberapa staf mulai saling melirik bingung.
“Bukan nya Bu El jarang ke kantor?”
“Kayaknya lagi ada masalah…” Namun Elvara tidak peduli, Pikirannya hanya fokus pada satu orang.
Arsen.
“Tolong jangan bilang dia lagi sama Vivian…” bisiknya pelan.
Ia langsung masuk ke lift khusus menuju lantai atas tempat ruang kerja Arsen berada.
Dan semakin lift bergerak naik…
Semakin keras jantungnya berdetak.
Ding.
Pintu lift terbuka perlahan, Sekretaris Celine yang sedang membawa beberapa dokumen langsung sedikit terkejut melihat Elvara datang tiba-tiba.
“Bu Elvara?”
“Arsen ada di dalam?”
Celine terlihat ragu beberapa detik, dan keraguan kecil itu justru membuat hati Elvara semakin tidak tenang.
“Pak Arsen masih meeting, Bu.”
“Sama siapa!?”
Pertanyaan itu keluar terlalu cepat, Celine langsung terdiam.
Namun sebelum sekretaris itu sempat menjawab— Suara tawa kecil wanita terdengar samar dari dalam ruang kerja Arsen yang pintunya belum tertutup rapat sepenuhnya.
Tubuh Elvara langsung membeku, Karena ia mengenali suara itu— Vivian.
Bersambung…..