Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Jaringan Bayangan Dan Sang Pelindung Rahasia
Aku berbalik perlahan, menahan napas, dan memastikan sepatuku tidak menimbulkan bunyi sedikit pun di atas batu jalanan yang lembap. Naskah "The Xianzhou Alliance: Bayangan Pohon Keabadian" kudekap erat-erat hingga buku-buku jariku memutih. Tuan Danton adalah pria yang baik, tapi dia hanyalah warga sipil biasa. Di bawah tekanan Familia sekelas Hermes, pertahanannya untuk bungkam hanyalah masalah waktu.
Jalur distribusi utamaku telah terputus.
Malam harinya, aku duduk bersila di atas lantai kayu kamarku, menatap naskah tebal itu dengan perasaan campur aduk. Cerita ini harus keluar. Bukan hanya karena aku butuh uang untuk bertahan hidup, tapi karena aku tahu, jika aku berhenti sekarang, desas-desus tentang ramalan Dungeon itu akan semakin liar. Aku harus merilis klimaks tragedi Baiheng agar penduduk Orario sadar betapa absurd dan fiktifnya kisah ini. Kebangkitan orang mati adalah kemustahilan yang mutlak di dunia ini.
Namun, bagaimana caranya? Menyerahkannya ke percetakan lain sama saja dengan menyerahkan leherku pada pisau Guillotine. Asfi pasti sudah menyebar mata-mata di seluruh distrik perbelanjaan.
Otakku berputar cepat, menggali ingatan dari kehidupan masa laluku. Di duniaku dulu, penulis tidak selalu bergantung pada satu penerbit besar atau toko buku fisik. Ada cara lain. Sebuah sistem di mana penulis merilis karyanya secara berkala, bab demi bab, langsung kepada pembaca setianya yang bersedia menyokong dana sebagai patron atau pelindung.
Jika aku tidak bisa menjual buku fisik secara terang-terangan dan utuh, aku akan memecahnya dan menggunakan jalur bawah tanah. Sistem berlangganan rahasia.
Keesokan paginya, aku menyamar. Aku mengenakan jubah abu-abu kusam, mengoleskan sedikit jelaga di pipi, dan berjalan menuju Jalan Daedalus—daerah kumuh yang menyerupai labirin tempat hukum Guild memudar dan transaksi gelap merajalela. Di sinilah Item Drop ilegal dijual dan informasi rahasia diperdagangkan.
Tujuanku adalah sebuah bar bawah tanah bernama The Rusty Coin.
Udara di dalam bar itu berbau ale murah dan keringat. Aku mengabaikan tatapan mematikan dari beberapa petualang berwajah beringas dan langsung menuju meja bartender—seorang pria kekar bermata satu yang konon merupakan mantan petualang Level 4 dan kini menjadi salah satu makelar informasi terpercaya di dunia bawah.
"Aku tidak mencari minuman," kataku pelan, mencondongkan tubuh ke depan dan meletakkan sepuluh keping emas di atas meja kayu yang lengket. "Aku mencari jalur distribusi khusus. Bersih, anonim, dan tidak tersentuh oleh kepakan sayap burung hantu."
Pria bermata satu itu melirik kepingan emas tersebut, lalu menatapku dengan senyum miring. "Burung hantu itu suka bertengger di mana-mana, Nak. Apa yang ingin kau distribusikan? Senjata ilegal? Bubuk mesiu seludupan? Atau peta rahasia lantai bawah?"
"Cerita," jawabku singkat.
Aku mengeluarkan satu bundel kecil berisi tiga bab pertama dari naskah terbaruku. Bukan buku penuh, melainkan hanya fragmennya.
"Aku akan merilisnya sedikit demi sedikit, setiap minggu," jelasku. "Kau akan menyalinnya dengan jaringanmu dan menjualnya secara eksklusif kepada mereka yang berani membayar biaya langganan bulanan untuk menjadi patron karyaku. Kau ambil dua puluh persen dari setiap Valis yang masuk. Tidak ada nama. Tidak ada pertemuan fisik setelah ini. Aku akan mengirimkan kelanjutannya melalui titik jatuh (drop point) acak yang hanya kita berdua yang tahu."
Sang bartender mengambil naskah itu dengan wajah setengah meremehkan. Matanya yang tersisa menyapu paragraf pertama.
Tiba-tiba, tangannya berhenti di udara. Dia membaca ulang paragraf itu, lalu menatapku dengan mata terbelalak, menyadari apa yang sedang ia pegang.
"Demi para Dewa..." bisiknya parau. "Kau... kau si Anonym. Orang sinting yang sedang dicari oleh Asfi Al Andromeda dan setengah dari petinggi Guild."
"Dua puluh lima persen," tawarku, menaikkan bayarannya dengan suara datar, meski jantungku berdetak secepat kelinci yang dikejar minotaur. "Dan rahasiaku aman bersamamu."
Pria itu terkekeh pelan, sebuah tawa serak yang terdengar mengancam sekaligus penuh rasa lapar. "Tiga puluh persen. Dan aku akan mengurus seluruh jaringan distribusinya. Para bangsawan bosan dan petualang kelas atas di Orario akan rela membayar biaya langganan berapa pun untuk mendapatkan kelanjutan kisah Kuintet Awan Tinggi lebih dulu dari yang lain."
Aku mengangguk setuju. Kesepakatan tercapai.
Sistem patron bayangan ini memberiku keamanan finansial yang jauh lebih besar tanpa harus mempertaruhkan nyawaku berdiri di depan publik. Bab demi bab, kisah pertempuran melawan monster Abundance dan tragedi kelam Dan Feng mulai menyebar seperti wabah di Orario, dibaca secara eksklusif di balik pintu-pintu tertutup oleh para pelanggan rahasiaku.
Namun, di dunia ini, setiap solusi selalu melahirkan masalah baru.
Dengan menyembunyikan diriku di dunia bawah, aku memang berhasil membuat langkah Hermes tertinggal. Tapi di saat yang sama, tulisan berdarah tentang obsesi dan keabadian yang kutulis diam-diam telah menarik perhatian sosok yang jauh lebih menakutkan. Seseorang yang menguasai keindahan dan hasrat terdalam di Orario.
Malam itu, di titik jatuh naskah terbaruku, aku tidak menemukan kantong uang dari sang bartender. Sebagai gantinya, tergeletak setangkai mawar perak dan sebuah cermin kecil yang memantulkan tatapan tajam sepasang mata berwarna perak keunguan. Mata milik Sang Dewi Kecantikan, Freya