Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 - ATURAN TEMBAK DI TEMPAT
Damar tersentak bangun dengan napas memburu. Jantungnya serasa dihantam palu godam.
Bukan, itu bukan karena mimpi buruk. Di atas hamparan alas kardus bekas yang lembap di sudut area parkir pusat perbelanjaan ini, sepasang matanya langsung dipaksa melek oleh suara lengkingan histeris yang membelah keheningan fajar. Langit di atas sana masih abu-abu pekat, belum ada tanda-tanda matahari akan terbit. Hanya ada pendar lamat-lamat dari lampu darurat kuning yang berkedip sekarat di antara deretan tenda kanvas dan truk-truk taktis militer.
Awalnya Damar berharap itu cuma sisa halusinasi tidurnya yang berantakan. Namun, teriakan kedua menyusul. Lebih dekat, lebih melengking, dan sarat akan keputusasaan yang murni.
"Aku nggak digigit! Sumpah, pak, aku nggak digigit!"
"Urang masih sadar! Demi Allah, aku masih manusia!"
"Tolong... jangan, pak! Tolong!"
Damar buru-buru menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa kaku dan linu di punggungnya. Di sekelilingnya, suasana kamp pengungsian langsung berubah riuh. Para penyintas mulai merangkak keluar dari robekan pintu tenda. Beberapa orang masih bermuka bantal dengan tatapan linglung, sementara yang lain langsung memasang ekspresi ketakutan yang teramat sangat.
Entah sejak kapan, semua orang yang berdesakan di zona perlindungan darurat ini seperti punya kesepakatan tidak tertulis: *kalau ada lengkingan histeris sebelum matahari terbit, itu adalah vonis mati.*
Dengan langkah setengah terseret, Damar berjalan mendekat ke arah pusat kerumunan di dekat pos barikade dalam. Puluhan pengungsi sudah berkumpul membentuk lingkaran buntu, berbisik-bisik dengan urat leher yang menegang.
Tepat di tengah lingkaran itu, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun sedang berlutut di atas beton dingin. Tubuhnya kentara sekali bergetar hebat, seperti orang yang sedang menggigil kedinginan di tengah kepungan udara panas. Wajahnya pucat pasi seputih kertas, dan seluruh kaos oblongnya basah kuyup oleh keringat dingin.
Di lengan kiri pria itu, kain lengan kemejanya sudah robek. Di baliknya, terlihat sebuah bekas luka robekan daging yang mengerikan—pinggiran lukanya sudah mulai membusuk, menampakkan warna hitam keunguan dengan urat-urat mati yang menjalar ke arah leher.
"Kapten, demi anak istri saya, saya nggak kenapa-kenapa..." pria itu meratap, air matanya membasahi pipinya yang kotor. "Aku masih sadar, pak... aku masih bisa mikir. Aku masih manusia..."
Damar merasakan dadanya mendadak sesak, seperti ada sebongkah batu yang menyumbat tenggorokannya. *“Gusti... eta mukana,”* bisik Damar lirik dalam hati. Dia tahu betul ekspresi itu. Itu adalah raut wajah dari sesosok manusia yang sadar bahwa ajalnya sudah berdiri di depan mata, dan dia juga tahu tidak akan ada satu orang pun di tempat ini yang sudi mengulurkan tangan untuk menolongnya.
Di depan pria yang meratap itu, berdirilah Kapten Rendra Mahesa.
Wajah sang komandan tetap sedingin es, seperti biasa. Kulitnya yang keras tidak menampilkan emosi sedikit pun, meskipun lingkaran hitam samar di bawah matanya mempertegas fakta yang tak bisa dibantah: sudah empat hari sejak Damar menginjakkan kaki di kamp ini, dan selama itu pula Kapten Rendra hampir tidak pernah terlihat memejamkan mata. Pria berseragam loreng itu terus-menerus bergerak bagai mesin tanpa lelah; memeriksa pos barikade, membagi jatah logistik yang kian kritis, hingga meredam histeria massa yang mulai kehilangan akal sehat.
"Kapten..." suara pria paruh baya itu makin parau, nyaris habis. "Tolong kasih saya kesempatan. Sedikit aja... aku belum berubah, pak."
Rendra tetap diam. Tidak ada jawaban, tidak ada gestur tubuh yang melunak. Moncong sepatu botnya tetap kokoh menapak di atas beton.
Lalu, drama itu selesai dalam sekejap. Pria yang berlutut itu tiba-tiba tersedak hebat. Tubuhnya melengkung kaku ke belakang sebelum akhirnya ambruk, kejang-kejang dengan liar di atas tanah. Jari-jarinya mencengkeram semen hingga kuku-kukunya berdarah.
Seketika itu juga, kerumunan warga di sekitarnya langsung mundur teratur, saling injak demi menjauh. Beberapa wanita spontan menutup mulut mereka rapat-rapat agar tidak muntah. Seorang anak kecil di barisan depan mulai menangis kencang sebelum ibunya membekap wajah anak itu ke dadanya.
Damar merasakan bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri tegak. Dia pernah melihat transformasi ini di gerbang sekolah dasar malam itu. Prosesnya selalu sama. Mengerikan, cepat, dan mutlak.
Pria di atas beton itu mendongak lambat-lambat. Namun, tatapan manusianya sudah menguap. Sepasang bola matanya telah memutih total, dipenuhi guratan merah darah yang pecah di sudut retina. Pola napasnya berubah drastis menjadi tarikan yang pendek, cepat, dan luar biasa kasar.
Dia membuka rahangnya lebar-lebar. Bukan untuk memohon lagi, melainkan mengeluarkan suara erangan parau yang berat—sebuah lengkingan lapar yang lebih mirip suara binatang buas ketimbang suara manusia.
*SREKK!*
Sebelum makhluk itu sempat menumpu kakinya untuk melompat menerjang, Kapten Rendra sudah bergerak dengan kecepatan taktis yang presisi. Pistol semi-otomatis di pinggangnya ditarik keluar. Tidak ada drama ragu-ragu, tidak ada pidato peringatan, tidak ada ruang untuk negosiasi.
*DUAR!*
Suara letusan kaliber sembilan milimeter menggema hebat, memantul kasar di dinding-dinding beton area parkir. Tubuh pria yang baru saja hendak bangkit itu langsung tersentak ke belakang. Kepalanya menghantam lantai dengan keras, dan semen di bawahnya perlahan digenangi cairan kental berwarna merah kehitaman yang pekat.
Seketika, seluruh area itu berubah menjadi sunyi senyap yang mencekam. Bahkan anak kecil yang tadi menangis histeris mendadak membisu, terintimidasi oleh bau mesiu yang menyengat udara pagi.
Kapten Rendra menurunkan senjatanya dengan gerakan dingin, memasukkannya kembali ke dalam holster di pinggang tanpa mengedipkan mata. Dia memutar tubuhnya perlahan, menatap tajam ke arah barisan pengungsi yang berdiri gemetar di sekelilingnya.
"Mulai detik ini," suara Rendra terdengar sangat rendah, namun bergaung penuh ancaman yang mutlak di telinga semua orang. "Siapa pun—tanpa pengecualian—yang mulai menunjukkan gejala klinis infeksi, akan langsung dieksekusi di tempat. Jangan menyembunyikan luka jika kalian tidak ingin membunuh orang di sebelah kalian."
Kalimat itu seperti menjatuhkan sebongkah es raksasa ke atas kepala para penyintas. Suasana kamp mendadak terasa berkali-kali lipat lebih berat.
"Tapi bagaimana kalau ternyata di luar sana pemerintah lagi bikin obatnya, Kapten?!" seorang wanita paruh baya dari barisan belakang nekat berteriak dengan suara gemetar, matanya merah menahan tangis frustrasi. "Apa kita nggak bisa nahan mereka sebentar?! Apa kita harus langsung nembakin bangsa sendiri?!"
Rendra membalikkan badannya, menatap wanita itu lurus-lurus dengan pandangan yang kosong dari harapan.
"Kalau obat itu memang ada," kata Rendra pelan, namun setiap katanya terasa menghantam telak, "kota ini tidak akan berubah menjadi kuburan massal dalam hitungan hari seperti sekarang."
Tidak ada yang berani menjawab lagi. Karena di dalam hati mereka yang paling dalam, semua orang tahu kalau ucapan sang kapten adalah kebenaran yang paling murni sekaligus paling pahit.
Sisa hari itu berjalan dengan atmosfer yang luar biasa suram. Kamp perlindungan terasa seperti penjara bawah tanah. Rumor dan kabar burung mulai menyebar layaknya kanker di antara barisan tenda pengungsian.
Ada yang berbisik kalau infeksi ini bisa menular hanya karena kulitmu terkena cipratan darah makhluk-makhluk itu. Ada juga desas-desus tentang penyintas yang masih bisa mengobrol normal selama berjam-jam sebelum mendadak menggigit leher saudaranya sendiri tanpa aba-aba. Dan yang paling membuat nyali menciut adalah kabar tentang tiga prajurit patroli malam yang tidak pernah kembali dari perimeter luar. Tidak ada yang tahu mana yang fakta dan mana yang sekadar delusi kepanikan, tapi satu hal yang pasti: ketakutan di dalam kamp ini tumbuh jauh lebih cepat daripada penyebaran virus itu sendiri.
Damar memilih untuk tidak ikut berkerumun mendengarkan gosip-gosip gila tersebut. Dia tahu, kalau dia cuma duduk diam melamun, otaknya akan langsung memutar ulang memori malam jahanam itu. Dia akan langsung teringat pada Rendi. Pada Naya.
*“Maraneh di mana ayeuna, euy? Saha nu terang maraneh geus...”* Damar buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat, memotong kalimatnya sendiri sebelum visualisasi mengerikan tentang kedua temannya melintas di kepala. (Kalian di mana sekarang, euy? Siapa tahu kalian sudah...)
Dia belum siap—dan mungkin tidak akan pernah siap—untuk menerima kemungkinan terburuk itu. Maka dari itu, sepanjang pagi hingga siang, Damar memaksa tubuhnya untuk terus bergerak. Dia menawarkan diri membantu apa saja yang bisa dikerjakan; mengangkat galon air minum, membagikan jatah biskuit darurat, hingga menyapu sampah plastik di area pengungsian. Apa saja, asal tangannya sibuk dan otaknya lelah.
Menjelang siang hari, Damar ditugaskan untuk membantu beberapa prajurit menyusun barang di gudang logistik darurat, yang sebenarnya merupakan bekas gerai swalayan besar di dalam area mal. Kondisinya mengenaskan. Rak-rak pajangan sudah roboh dan kosong melongpong karena dijarah massa di hari-hari pertama wabah. Yang tersisa kini hanyalah tumpukan kardus-kardus bantuan pangan mentah yang berhasil diselamatkan tentara dari gudang distributor pinggir kota.
Saat sedang menumpuk kardus mie instan di sudut ruangan, telinga Damar menangkap obrolan serius dua orang prajurit yang sedang menghitung lembar manifes persediaan di dekat pintu masuk.
"Jatah beras dan kornet kita tinggal bertahan berapa lama lagi untuk kapasitas pengungsi sekarang?" tanya salah satu prajurit dengan suara berbisik.
"Kalau dihitung ketat dengan porsi setengah mangkuk per orang... kita cuma punya sisa sekitar enam hari," jawab prajurit yang memegang papan jalan, suaranya terdengar frustrasi.
Gerakan tangan Damar yang hendak mengangkat kardus berikutnya langsung membeku di udara. *Enam hari?*
"Itu kalkulasi statis kalau gerbang depan dikunci mati dari pengungsi baru," tambah prajurit itu lagi sambil menghela napas panjang, terdengar bunyi ketukan bolpoin yang gelisah pada papan kayu. "Kalau Kapten Rendra terus-menerus membiarkan pengungsi baru dari zona luar masuk setiap malam? Tiga atau maksimal empat hari lagi, kita semua di sini bakal makan batu."
Damar merasakan lambungnya mendadak melilit, ada rasa mual yang aneh merayap naik ke tenggorokannya. Untuk pertama kalinya sejak kiamat ini dimulai, dia baru menyadari satu realitas baru yang tidak kalah mengerikan: makhluk-makhluk kanibal di luar pagar itu bukan satu-satunya ancaman. Kelaparan massal sedang berjalan mengintai di balik bayangan, siap mencekik mereka dari dalam.
Malam harinya, hujan turun membasahi kota. Tidak deras, hanya rintik gerimis tipis yang konstan, namun cukup untuk membuat hawa dingin menusuk tulang dan meremukkan sisa-sisa mental para pengungsi.
Sebagian besar orang memilih meringkuk di dalam kehangatan tenda yang pengap. Sebagian lain, mereka yang sudah kehilangan segalanya, hanya duduk termenung di bawah beton atap parkiran, menatap kosong ke arah kegelapan malam dengan mata kuyu.
Damar memilih berjalan menjauh dari keramaian tenda. Dia duduk sendirian di atas pembatas beton yang letaknya hanya berjarak lima meter dari pagar kawat berduri luar kompleks mal. Dari titik ini, dia bisa melihat pemandangan kota mati di kejauhan.
Gedung-gedung pencakar langit berstruktur megah itu masih berdiri tegak menantang langit, beberapa lampu jalan di persimpangan bawah bahkan masih menyala redup membelah kabut malam. Tapi semuanya terasa kosong. Tidak ada deru mesin, tidak ada klakson, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Kota ini sudah berubah menjadi monumen batu nisan raksasa bagi peradaban yang runtuh dalam semalam.
*SREKK.*
Suara gesekan kain seragam militer membuat Damar menoleh cepat. Dia agak terkejut saat mendapati Kapten Rendra melangkah mendekat dan langsung mengambil posisi duduk di atas beton yang sama, tepat di sebelahnya.
"Kamu belum tidur, anak muda?" tanya Rendra, matanya tetap menatap lurus ke arah kegelapan kota tanpa menoleh ke Damar.
Damar tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang dipaksakan. "Belum bisa, pak. Kalau merem, rasanya kuping saya masih denger suara tembakan di sekolah waktu itu."
Rendra terdiam sesaat. Pria itu meraba kantong taktis di rompinya, mengeluarkan sebotol air mineral yang masih segel, lalu menyodorkannya ke arah Damar. "Minum. Kamu kelihatan kurang cairan sejak siang tadi."
Damar menerimanya dengan agak canggung. "Terima kasih banyak, pak."
Keheningan kembali merayap di antara mereka berdua, ditemani oleh suara rintik gerimis yang mengetuk kap-kap mobil militer di dekat pos jaga.
"Pak..." Damar membuka suara setelah beberapa menit ragu, matanya menatap pendar lampu kota yang bergoyang akibat air hujan. "Menurut bapak... kota ini, atau negara kita, masih bisa diselamatkan nggak? Masih ada harapan buat balik kayak dulu?"
Kapten Rendra tidak langsung menjawab. Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam yang dingin mengisi paru-parunya yang lelah. Pandangannya menerawang jauh menembus pagar kawat silet.
"Lima hari yang lalu, saat komando distrik saya belum putus dan skuadron udara kita masih aktif melakukan patroli di atas langit..." suara Rendra terdengar sangat pelan, nyaris berbisik. "...saya masih 100% yakin kalau situasi ini bisa dikendalikan oleh negara."
Damar memutar kepalanya, menatap profil samping wajah sang kapten yang tampak lelah di bawah remang lampu darurat. "Dan sekarang?"
Kapten Rendra memalingkan wajahnya, menatap Damar. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman kecil—sebuah senyum yang tidak membawa setitik pun rasa optimis, melainkan sebuah kepasrahan yang luar biasa lelah dari seorang prajurit yang tahu batas kemampuannya.
"Sekarang? Saya sudah tidak peduli lagi dengan urusan menyelamatkan kota atau negara, Damar. Tugas saya sekarang cuma satu: memastikan sebanyak mungkin orang di dalam kamp ini bisa tetap bernapas sampai besok pagi saat matahari terbit. Sisanya? Itu urusan takdir."
Jawaban jujur tanpa pemanis itu membuat Damar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lidahnya benar-benar terkunci. Karena untuk pertama kalinya sejak dunia ini hancur, dia mendengar kejujuran yang begitu telanjang dan pahit dari mulut seorang pemegang komando tertinggi di tempat itu.
Hari-hari berikutnya berjalan merayap dengan sangat lambat, namun segalanya bergerak konstan menuju ke arah yang lebih buruk.
Jumlah pengungsi yang datang dari pinggiran distrik terus membengkak setiap malam, membuat antrean di pos pemeriksaan medis makin mengular. Seiring dengan persediaan logistik yang kian menipis ke titik kritis, ketakutan mulai mengubah karakter asli manusia di dalam kamp.
Anarki internal mulai meletup kecil. Kemarin malam, seorang pria paruh baya tertangkap basah mencuri dua kaleng kornet dari tenda logistik darurat dan nyaris dipukuli massa sebelum dilerai tentara. Tadi siang, dua kelompok pemuda berkelahi hebat memperebutkan satu botol air bersih di dekat tangki penampungan. Beberapa orang yang mentalnya sudah pecah bahkan nekat mencoba memanjat pagar luar untuk kabur, memilih menghadapi bahaya di luar daripada mati perlahan menahan lapar di dalam.
Damar menyaksikan seluruh degradasi moral itu dengan mata kepala sendiri. Dan perlahan, sebuah pemahaman baru yang teramat pahit mulai merasuk ke dalam benaknya. Kiamat ini ternyata bukan cuma tentang bagaimana mayat-mayat kaku bangun dari kubur dan mengunyah dagingmu. Kiamat yang sesungguhnya adalah momen di mana manusia mulai kehilangan empati, berhenti saling peduli, dan berhenti menjadi manusia demi ego bertahan hidup masing-masing.
Malam keempat.
Keheningan malam yang basah mendadak pecah berkeping-keping ketika suara sirine alarm darurat dari pos menara utama meraung dengan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga.
*WIIUUUUNNGG! WIIUUUUNNGG!*
"WASPADA! SEMUA PERSONEL KE POSISI TEMPUR SEKARANG!"
"SIAPKAN AMUNISI! NYALAKAN LAMPU SOROT UTAMA!"
Damar langsung melonjak berdiri dari tempat duduknya, kepalanya berputar liar. Kepanikan massal instan meledak di area pengungsian. Orang-orang sipil menjerit, berlarian tidak keruan mencoba masuk kembali ke dalam tenda atau berlindung di balik dinding bangunan mal. Di saat yang sama, puluhan prajurit berseragam loreng berlari cepat dengan senjata serbu yang sudah dikangkok penuh, mengambil posisi tiarap dan berdiri di balik benteng karung pasir pagar luar.
Lampu sorot berkekuatan tinggi bersuara dengung keras mendadak menyala dari atas atap mal, menembakkan pilar cahaya putih raksasa menyapu jalanan raya di luar batas pagar kawat berduri.
Jantung Damar berdetak dalam ritme yang tidak beraturan. *“Aing boga firasat teu ngeunah, aya naon ieu?!”* batinnya berteriak, darahnya mendadak terasa sedingin es saat dia ikut melangkah mendekati pagar pembatas untuk melihat apa yang sedang terjadi. (Gue punya firasat nggak enak, ada apa ini?!)
Begitu pilar cahaya lampu sorot itu berhenti menyapu dan mengunci posisinya di ujung jalan layang yang mengarah ke area mal, seluruh sendi lutut Damar mendadak lemas. Dia nyaris jatuh tersungkur kalau tangannya tidak cekatan mencengkeram besi tiang penyangga.
Di ujung jalan raya yang gelap itu, berdiri sebuah gerombolan massa dalam jumlah yang tidak masuk akal.
Bukan belasan. Bukan puluhan seperti yang mengejarnya di gang-gang sempit kemarin. Melainkan ratusan, mungkin ribuan sosok manusia dengan pakaian compang-camping yang memenuhi seluruh badan jalan raya sejauh mata memandang.
Mereka semua berdiri diam di bawah siraman gerimis. Tidak ada gerakan beringas, tidak ada aksi saling sikut. Mereka hanya berdiri kaku di sana, dengan kepala mendongak ganjil dan sepasang mata putih mati yang semuanya tertuju lurus ke arah pendar cahaya dari kamp perlindungan darurat ini.
"Ya Tuhan... itu apa..." bisik seorang prajurit muda di sebelah Damar, tangannya yang memegang gagang senapan laras panjang kentara sekali bergetar hebat hingga menimbulkan bunyi ketukan kecil pada karung pasir.
"Banyak banget... mereka dari mana sebanyak itu?!"
Suasana di garis depan barikade berubah menjadi super mencekam. Histeria para wanita di dalam tenda terdengar lamat-lamat di balik deru angin malam. Bahkan beberapa prajurit senior yang biasanya bermuka garang kini tampak pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi pelipis mereka. Jumlah sebesar itu... adalah sebuah gelombang kehancuran yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya selama bertugas di kota ini.
Kapten Rendra berjalan perlahan menuju baris paling depan pagar kawat berduri. Wajahnya mengeras seperti batu pahatan, rahangnya mengencang hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang. Sepasang matanya tidak berkedip sedikit pun menatap lautan monster di hadapannya.
"Kapten..." kata sersan yang memegang radio darurat dengan suara bergetar, meminta instruksi. "Jumlah mereka tidak masuk akal. Amunisi cadangan kita tidak akan cukup kalau mereka menyerbu bersamaan. Kita harus mundur ke dalam gedung atau—"
"Tahan posisi," potong Rendra singkat, suaranya terdengar sangat tajam dan mutlak.
"Tapi Kapten—"
"Saya bilang tahan posisi, Sersan! Jangan ada yang melepaskan tembakan sebelum ada perintah dari saya!"
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berani membuang napas terlalu keras. Suasana di antara barikade karung pasir itu mendadak menjelma menjadi keheningan pra-tempur yang luar biasa meneror mental.
Lalu, di ujung jalan sana, salah satu sosok kaku di barisan paling depan mulai menggeser kakinya, melangkah maju membelah genangan air hujan. Kemudian satu sosok di sebelahnya ikut melangkah. Lalu dua lagi. Lalu sepuluh lagi.
Sampai akhirnya, dalam hitungan detik, seluruh gerombolan ribuan makhluk itu mulai bergerak maju secara bersamaan. Gerakan mereka kaku dan patah-patah, namun ritme langkah kaki yang ribuan jumlahnya itu menciptakan bunyi gemuruh konstan yang menggetarkan permukaan aspal jalanan—sebuah gelombang kematian masif yang kini sedang bergerak lurus menuju ke arah mereka.
Damar merasakan tenggorokannya benar-benar kering kerontang, tidak ada sisa air ludah yang bisa dia telan. Untuk pertama kalinya sejak hari pertama dunia ini berubah menjadi neraka, dia merasakan esensi ketakutan yang paling absolut.
Karena sekarang, akal sehatnya akhirnya dipaksa melihat sebuah realitas yang tak terbantahkan: pagar kawat berduri ini tidak akan sanggup menahan beban ribuan tubuh itu. Persediaan peluru para tentara ini juga akan habis pada waktunya. Dan cepat atau lambat... zona perlindungan darurat yang mereka banggakan ini akan jatuh dan berubah menjadi ladang penjagalan berikutnya.
Kapten Rendra perlahan mengangkat senapan serbunya, menempelkan popor senjata itu ke bahu kanannya dengan kokoh. Lampu sorot di atas atap terus menyorot tajam wajah-wajah pucat tanpa nyawa milik para monster yang kini kian bergerak mendekat memotong jarak.
Dan di tengah kegelapan malam yang basah oleh gerimis, kiamat itu kembali melangkah maju, siap menelan sisa-sisa kemanusiaan yang tertinggal.