NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 07 // MBKCM

​Ketegangan yang tercipta di antara Ardan dan Kiana bagaikan benang tak kasat mata yang merentang kencang di tengah ruangan Butik Elegance. Di belakang tubuh tegap Ardan, Bimo yang tadinya berkerut bingung mendadak memicingkan matanya. Dia menatap lekat-lekat wajah pucat Kiana yang berdiri kaku di barisan pelayan.

​Detik berikutnya, ingatan Bimo langsung kembali. Otaknya yang encer seketika memproses siluet tubuh, bentuk wajah, dan mata indah gadis yang beberapa hari lalu keluar dari kursi belakang mobil bosnya dengan kondisi berantakan.

"​Oh, wanita ini wanita yang sama yang waktu itu aku lihat!" batin Bimo, matanya melotot kecil menahan syok. Dia melirik bosnya, lalu melirik Kiana bergantian. Dalam hati Bimo mengatakan, "Wah, akan terjadi drama baru sepertinya. Jadi dia kerja di sini? Takdir macam apa ini?"

​Sementara itu, keheningan Kiana yang terlalu lama mulai memancing kegelisahan orang lain. Bu Ambar, sang manajer, menyadari ada yang tidak beres dengan sikap anak buahnya. Wajah Kiana yang biasanya ramah kini tampak sangat kaku dan datar tanpa ekspresi. Bu Ambar segera mengkode Kiana dengan deheman kecil dan kedipan mata yang tajam, memberi isyarat agar gadis itu segera memberikan senyuman terbaiknya.

"Ekhhm.."

​Saskia yang berdiri tepat di sebelah Kiana juga bisa merasakan hawa dingin yang menjalar dari tubuh sahabatnya. Menyadari Kiana seperti kehilangan jiwanya, Saskia menyenggol sedikit tanpa terlihat siapapun, menyadarkan Kiana sebelum dia kena masalah nanti oleh amukan Bu Ambar setelah rombongan besar ini pergi.

​Plak.

​Senggolan pelan di siku itu berhasil menarik Kiana kembali ke realitas. Kesadarannya tersentak. Kiana langsung mengesampingkan perasaan pribadinya kembali ke profesional. Dia membuang jauh-asap ketakutan dan rasa terhina yang sempat menguasai dadanya. Menarik napas dalam-dalam, Kiana mengulas senyum yang biasanya dia berikan untuk pelanggan, sebuah senyuman manis, ramah, namun memiliki batasan formalitas yang jelas.

​Ardan juga langsung kembali ke kesadarannya setelah melihat perubahan ekspresi Kiana. Dia tahu, bertingkah aneh di depan jajaran direksi dan bawahannya hanya akan menimbulkan gosip yang tidak diinginkan. Ardan melangkah masuk lebih dalam ke area tengah butik, melepaskan tatapan intensnya dari Kiana demi menjaga wibawa.

​Dia kembali ke hal yang profesional, pura-pura meneliti jajaran barang-barang mahal yang terpajang di manekin dan rak. meski sebenarnya dia masih ingin menatap Kiana lebih lama. Rasa penasaran dan dorongan aneh di dalam dadanya mendadak bergejolak kembali hanya dengan melihat wajah gadis itu.

​"Saya dengar butik ini menjadi nomor satu di Royal Plaza ini dalam hal penjualan gaun formal," buka Ardan, suaranya yang bariton terdengar bergema di dalam ruangan yang kedap suara itu.

​Bu Ambar langsung menjawabnya dengan sangat ramah dan antusias, wajahnya berbinar bangga karena performa tokonya diakui langsung oleh sang pemilik gedung.

​"Benar sekali, Pak Ardan. Kami semua di sini selalu menyajikan produk-produk yang selalu up to date, mengikuti tren mode Paris dan Milan," ujar Bu Ambar penuh percaya diri. "Dan satu hal yang pasti, kami mengusahakan pelayanan terbaik untuk setiap pelanggan yang datang. Kami tidak pernah membeda-bedakan konsumen."

​Ardan mengangguk samar, membelakangi barisan pelayan. "Pelayanan terbaik seperti apa?"

​Mendapat pertanyaan pancingan itu, Bu Ambar langsung melihat ini sebagai peluang emas untuk memamerkan aset terbaiknya. Dia berbalik dan menatap barisan pelayan dengan senyum lebar.

​"Kiana, tolong maju ke depan," panggil Bu Ambar. Dia kemudian kembali menatap Ardan. "Ini Kiana Mahira, Pak. Dia adalah salah satu staf senior kami yang menjadi pelayan dengan rating terbaik tahun ini berdasarkan ulasan langsung dari para member VIP kami. Kiana sangat lihai dalam merekomendasikan gaya yang cocok untuk pelanggan."

​Mendengar namanya dipanggil untuk maju, Kiana merasa jantungnya seolah berhenti berdetak seketika. Namun, tidak ada jalan untuk mundur. Dengan langkah yang diatur seanggun mungkin, Kiana maju tiga langkah ke depan, berdiri tepat di samping Bu Ambar, yang berarti jaraknya kini hanya terpaut satu meter dari posisi berdiri Ardan.

​Kiana sangat diuji karena harus berhadapan langsung dengan Ardan. Seluruh tubuhnya menegang, namun wajahnya dipaksa untuk tetap tenang dan tersenyum profesional.

​"Selamat siang, Pak Ardan Arkatama. Sebuah kehormatan bagi kami menerima kunjungan Anda hari ini," ucap Kiana, suaranya terdengar merdu dan stabil, meskipun di dalam hatinya dia sedang menjerit ketakutan kalau-kalau pria ini akan membongkar aib mereka atau memecatnya saat ini juga.

​Ardan membalikkan tubuhnya perlahan, menatap langsung ke arah Kiana yang kini berdiri sangat dekat di depannya. Jarak mereka yang dekat membuat Ardan kembali mencium aroma manis yang kali ini tidak bercampur alkohol. Aroma bunga yang murni, lembut, dan menenangkan. Aroma yang sama yang melekat erat di jas hitam yang sengaja dia simpan di kamarnya.

​Mata elang Ardan menyusuri penampilan Kiana dari atas ke bawah. Penampilan rapi Kiana kali ini membuatnya terlihat begitu cantik meski tidak mengenakan baju mahal. Seragam butik yang sederhana itu justru membingkai lekuk tubuhnya dengan sangat pas. Rambutnya yang disanggul rapi memperlihatkan leher jenjangnya yang bersih, membuat ingatan tentang betapa nikmatnya rasa gadis ini beberapa malam lalu kembali terngiang.

​Ardan merasa otaknya sudah tidak waras. Bagaimana bisa dia memikirkan hal kotor di tengah inspeksi resmi perusahaan seperti ini? Dia mengepalkan tangannya di dalam saku celana, mencoba menekan gairah mendadak yang tidak tahu diri itu. Pria dingin itu berdehem pendek untuk menetralkan suaranya.

​"Pertahankan kinerja kalian," ujar Ardan akhirnya, memutus kontak mata sepihak karena tidak kuat menahan gejolak di dalam dirinya jika terus menatap mata indah Kiana. Dia segera menyudahi sesi kunjungan di Butik Elegance dengan mengatakan, "Terima kasih untuk kerjasamanya membuat Royal Plaza semakin dikenal publik. Saya harap performa ini tidak menurun di kuartal berikutnya."

​Bu Ambar membungkuk dalam, wajahnya sangat puas. "Tentu, Pak Ardan. Terima kasih banyak atas apresiasi Anda."

​Ardan membalikkan badannya dengan tegas, memberi isyarat kepada Bimo dan rombongan direksi. "Kita lanjutkan ke area departemen store."

​"Baik, Pak," sahut Bimo cepat. Sebelum melangkah pergi mengikuti Ardan, Bimo sempat melirik Kiana sekali lagi dengan tatapan penuh arti yang membuat Kiana semakin salah tingkah.

​Ardan dan rombongan pamit untuk menuju tempat lainnya di sana. Langkah kaki mereka perlahan menjauh, keluar dari pintu kaca Butik Elegance, menyisakan embusan napas lega yang serempak dari para karyawan, terutama Kiana yang mendadak merasa seluruh persendian kakinya lemas seperti jeli.

​Bu Ambar langsung berbalik dengan wajah berseri-seri. "Bagus sekali kerja kalian hari ini! Terutama kamu, Kiana. Senyummu tadi sangat bagus. Sekarang, kembali ke pos masing-masing."

​"Baik, Bu," jawab Kiana lirih.

​Begitu Bu Ambar kembali masuk ke ruangannya, Saskia langsung menyergap lengan Kiana dan menariknya ke sudut rak gaun paling belakang, jauh dari jangkauan CCTV dan pelayan lainnya. Saskia berbisik pada Kiana saat menunduk, wajahnya dipenuhi rasa penasaran yang sudah mencapai ubun-ubun.

​"Kiana! Demi apa pun, kamu berutang penjelasan padaku." bisik Saskia dengan mata melotot, suaranya ditekan sekecil mungkin namun penuh penekanan. "Tadi itu... tatapan Pak Ardan ke kamu itu gak biasa banget! Dan kamu... kamu langsung syok sampai kaku begitu pas melihat dia pertama kali! Jangan bilang... jangan bilang mas bidadari yang kamu maksud malam itu... dia?!"

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!