NovelToon NovelToon
Kuali Penelan Bintang

Kuali Penelan Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Starlope

Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.

Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.

Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sumsum Es Beracun

Malam kembali turun menutupi Gunung Qingyun. Suhu udara anjlok tajam, memaksa para pelayan fana meringkuk di bawah selimut tipis mereka, berdoa agar bisa melihat matahari esok pagi. Namun, bagi Lin Ye, kegelapan malam adalah jubah pelindungnya.

Tepat saat lonceng tengah malam dari Puncak Utama bergema pelan di kejauhan, pintu gubuk Lin Ye terbuka tanpa suara. Sesosok bayangan melesat keluar dengan kecepatan yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia biasa.

Lin Ye bergerak menembus bayang-bayang pepohonan pinus yang tertutup salju. Langkah kakinya seringan kucing liar, nyaris tidak meninggalkan jejak yang berarti di atas salju yang mengeras. Kekuatan fisik Alam Pengumpulan Qi Tingkat Keempat tidak hanya memberinya tenaga badak, tetapi juga kelincahan dan kendali otot yang mutlak. Matanya yang tajam mengawasi jalur perondaan murid luar yang bertugas malam itu.

Tujuannya hanya satu: Gua Tambang Es di tebing utara.

Siang tadi, ia hanya berani menyerap hawa dingin beracun dari bagian depan gua agar tidak memicu kecurigaan. Tapi malam ini, tidak ada pengawas, tidak ada sesama pelayan, dan tidak ada batasan.

Ketika Lin Ye tiba di mulut gua, hawa dingin yang menyengat langsung menerpa wajahnya. Gua itu gelap gulita, tampak seperti mulut monster raksasa yang siap menelan siapa saja yang berani masuk. Lin Ye tidak ragu sedikit pun. Ia melangkah masuk, membiarkan kegelapan menelannya perlahan.

Semakin dalam ia berjalan, lorong gua semakin menyempit dan dipenuhi oleh stalaktit es yang tajam. Suhu di sini jauh melampaui batas toleransi manusia fana. Bahkan kultivator Pengumpulan Qi Tingkat Kelima akan membutuhkan pil penahan dingin dan memutar Qi perlindungan mereka secara maksimal untuk bisa bertahan hidup di area ini.

Udara dipenuhi dengan kabut putih kebiruan. Ini bukan sekadar kabut dingin, melainkan bentuk fisik dari Racun Es Spiritual. Jika terhirup oleh manusia biasa, paru-paru mereka akan membeku dan hancur menjadi serpihan es dalam hitungan tarikan napas.

Lin Ye berhenti di kedalaman sekitar dua ratus tombak dari mulut gua. Ia duduk bersila di atas lantai es yang licin dan sekeras baja.

Sudah cukup dalam. Mari kita mulai perjamuannya.

Ia memejamkan mata dan memandu Sutra Kekosongan Penelan Bintang. Seketika, Kuali Bintang mini di Dantian-nya berputar ganas. Jika sebelumnya saat menyerap Racun Api Belerang, pusarannya terasa memanas, kini kuali itu memancarkan daya tarik yang rakus, bagai pusaran air di samudra es.

Wusss!

Kabut putih kebiruan di sekitarnya seketika bergerak kacau. Hawa beracun itu tersedot masuk melalui hidung, mulut, dan pori-pori kulit Lin Ye.

Rasa sakit yang luar biasa kembali menyergapnya, namun kali ini berbeda. Jika racun api terasa seperti direbus hidup-hidup, racun es ini terasa seperti jutaan jarum tak terlihat ditusukkan ke seluruh tulang dan sumsumnya secara bersamaan. Darahnya melambat, nyaris berhenti mengalir. Kulitnya memutih pucat, dan lapisan es tipis mulai terbentuk di sekujur tubuhnya.

Namun, Kuali Penelan Bintang tidak membiarkan inangnya mati. Cahaya ungu gelap meledak dari dalam kuali, menyelimuti es spiritual yang masuk, menghancurkan sifat membekukannya, lalu menggilingnya menjadi sari pati energi kehidupan yang murni dan sejuk.

Sari pati sejuk ini kemudian dialirkan untuk berbenturan dengan sisa-sisa hawa panas dari Pil Limbah yang sebelumnya menetap di dalam daging dan tulangnya. Panas dan dingin bertabrakan di dalam dagingnya, menciptakan proses penempaan yang paling sempurna. Seperti pandai besi yang membakar pedang di tungku api lalu mencelupkannya ke dalam air es berulang kali, otot, jaringan, dan tulang Lin Ye ditempa menjadi semakin kuat, padat, dan liat.

Dua jam berlalu. Kabut Racun Es Spiritual di sekitar Lin Ye telah menipis secara drastis.

Krek!

Lapisan es di tubuh Lin Ye retak dan hancur saat ia merenggangkan ototnya. Ia membuka mata dan menghela napas panjang. Uap putih tebal keluar dari mulutnya, namun ia tidak lagi merasa kedinginan.

"Energi es ini mengukuhkan fondasiku, tapi tidak cukup padat untuk mendorongku ke Tingkat Kelima," gumam Lin Ye. "Aku butuh sesuatu yang lebih kuat."

Ia berdiri dan mengambil sebuah beliung penambang yang tertinggal di dinding gua. Lin Ye memutuskan untuk masuk lebih dalam lagi. Daerah ini adalah wilayah terlarang yang bahkan belum dipetakan sepenuhnya oleh sekte luar.

Lima puluh tombak kemudian, langkah Lin Ye terhenti. Di depannya, lorong buntu. Namun, bukan jalan buntu itu yang menarik perhatiannya, melainkan sebuah bongkahan es seukuran kepalan tangan orang dewasa yang tertanam di dinding batu di ujung lorong.

Bongkahan es itu tidak berwarna putih atau biru, melainkan hitam pekat. Ada cairan kental yang mengalir lambat di dalam bongkahan es tersebut, memancarkan hawa dingin yang sangat tajam hingga membuat batu di sekitarnya retak-retak.

Mata Lin Ye menyipit. Ingatan tentang kitab herbal dan material kuno yang pernah ia baca secara sembunyi-sembunyi di masa lalu berkelebat di benaknya.

"Sumsum Es Hitam Beracun..." napas Lin Ye tercekat.

Ini adalah material spiritual tingkat tinggi. Biasanya, ini digunakan oleh kultivator beraliran Yin atau racun di Alam Pembentukan Fondasi untuk mematikan meridian lawan. Setetes saja cairan itu mengenai kulit kultivator Pengumpulan Qi, mereka akan berubah menjadi patung es dalam sekejap. Bagi sekte luar, benda ini adalah harta karun sekaligus kutukan.

Getaran lapar yang maha dahsyat tiba-tiba meledak dari dalam Dantian Lin Ye. Kuali Penelan Bintang bergetar hebat, nyaris tak terkendali. Ia menginginkan benda itu!

Tanpa pikir panjang, Lin Ye mengayunkan beliungnya sekuat tenaga, menggunakan kekuatan penuh dari Tingkat Keempat Alam Pengumpulan Qi.

Trang! Beliung besi itu langsung patah menjadi dua saat menghantam dinding es di sekitar Sumsum Es Hitam tersebut.

Lin Ye mendecakkan lidah. Ia membuang gagang beliung yang patah, lalu mendekati dinding itu. Ia memusatkan energi fisiknya ke tangan kanannya, membuat jari-jarinya sekeras besi. Ia menusukkan tangannya langsung ke dinding es di sekeliling bongkahan itu dan menggalinya dengan tangan kosong.

Jari-jarinya berdarah, terkoyak oleh tajamnya serpihan es purba, namun luka itu membeku sebelum darahnya sempat menetes. Akhirnya, dengan satu tarikan keras, ia berhasil mencabut Sumsum Es Hitam Beracun itu dari dinding.

Begitu benda itu berada di telapak tangannya, rasa dingin yang mematikan langsung menjalar ke lengannya. Lengan kanan Lin Ye seketika kehilangan rasa dan berubah warna menjadi ungu kehitaman akibat radang beku ekstrem tingkat dewa.

Makan! geram Lin Ye di dalam hati.

Alih-alih menyerapnya perlahan, Kuali Penelan Bintang memancarkan hisapan brutal yang langsung menyedot inti energi dari bongkahan es hitam itu melalui telapak tangan Lin Ye.

BLAAARRR!

Ledakan energi Yin yang maha dahsyat meledak di dalam tubuhnya. Lin Ye memuntahkan seteguk darah yang langsung membeku menjadi kristal merah di udara sebelum menyentuh tanah. Ia jatuh berlutut, kedua tangannya mencengkeram dadanya.

Tubuhnya bergetar hebat tak terkendali. Ini terlalu kuat! Jika racun api dari Pil Limbah adalah batu bara, maka Sumsum Es Hitam ini adalah bongkahan gunung es murni. Kuali Bintang berputar dengan kecepatan luar biasa, mengeluarkan cahaya ungu kosmik yang terang benderang di dalam Dantian-nya, berusaha mati-matian menggiling energi Yin beracun yang mengamuk untuk membekukan organ jantung Lin Ye.

Darah dari hidung, mata, dan telinga Lin Ye mulai mengalir lambat, hampir membeku. Ia menggigit bibirnya, mempertahankan tekadnya agar tidak dilahap oleh kegelapan. Ia memandu hawa murni yang berhasil diolah kuali untuk membentengi jantung dan otaknya.

Pertarungan antara penempaan dan kehancuran berlangsung selama hampir tiga jam. Di luar, fajar mulai menyingsing, namun di dalam gua, Lin Ye masih bertarung melawan maut.

Perlahan-lahan, getaran di tubuhnya mereda. Warna ungu kehitaman di lengan kanannya memudar, digantikan oleh warna kulit yang sehat dengan rona perunggu samar. Bongkahan Sumsum Es Hitam di tangannya telah hancur menjadi debu putih tak berguna.

Lin Ye membuka matanya secara perlahan. Saat kelopak matanya terbuka, ada kilatan cahaya biru sedingin es yang berkedip bersamaan dengan cahaya ungu sebelum menghilang ke dalam pupil hitamnya yang pekat.

Ia berdiri perlahan. Terdengar suara rentetan tulang berderak layaknya kacang yang disangrai.

Lin Ye mengepalkan tangan kanannya, lalu melepaskan satu pukulan ringan ke udara kosong.

Wusss—Krak!

Udara di depan tinjunya beriak, dan embun beku seketika terbentuk dari ketiadaan, membekukan uap air di lintasan pukulannya.

"Puncak Alam Pengumpulan Qi Tingkat Keempat... dan setengah langkah menuju Tingkat Kelima," bisik Lin Ye, takjub dengan kekuatan barunya. "Lebih dari itu, pukulan fisikku sekarang membawa hawa dingin dari Sumsum Es Beracun. Jika tinjuku mengenai tubuh kultivator Tingkat Keempat biasa, Qi pertahanan mereka akan melambat drastis."

Sebuah senyum tipis, dingin, dan mematikan terbentuk di sudut bibirnya. Ia membersihkan sisa darah beku dari wajah dan pakaiannya, lalu mengambil keranjang penambang, memenuhinya dengan bongkahan es biasa dengan mudah, dan bergegas keluar gua sebelum fajar benar-benar menyingsing.

Keesokan paginya, di pelataran distribusi tugas.

Pengawas Zhao sedang memeriksa daftar pelayan sambil minum teh hangat. Di sampingnya, beberapa murid sekte luar tingkat rendah berdiri berkelompok, bertukar kabar burung.

Dari kejauhan, Wang Hao berjalan menghampiri dengan wajah muram. Tangan kanannya terbalut kain putih bersih. Tamparan kemarin nyaris membuat tulang tangannya retak. Ia sudah minum pil penyembuh semalaman, tapi rasa sakit dan malunya tidak hilang. Terutama karena Su Yue melihat semuanya.

"Kakak Senior Wang, tanganku gatal pagi ini. Ada yang bisa kubantu?" sapa seorang murid luar bermuka tikus bernama Li Mang, mencoba mencari muka.

Wang Hao melirik Li Mang. Tiba-tiba, matanya menangkap sosok kurus berpakaian abu-abu lusuh yang sedang berjalan memanggul keranjang es besar menuju paviliun penyimpanan. Itu adalah Lin Ye.

Amarah Wang Hao kembali mendidih. "Lihat sampah itu?" tunjuk Wang Hao menggunakan dagunya. "Aku tidak peduli bagaimana caranya dia bisa selamat dari tungku beracun, atau kenapa tulangnya sekeras batu. Aku ingin dia menderita hari ini. Patahkan kakinya secara diam-diam. Buat seolah-olah terjadi kecelakaan di tambang batu."

Li Mang tersenyum licik, memamerkan giginya yang kuning. "Serahkan padaku, Kakak Senior. Seekor semut tidak akan tahu siapa yang menginjaknya."

Sementara itu, Lin Ye yang sedang memanggul keranjang es, menajamkan pendengarannya. Panca inderanya telah berkembang pesat setelah menembus Tingkat Keempat. Di tengah bisingnya pelataran luar, ia berhasil menangkap lamat-lamat perintah Wang Hao kepada Li Mang.

Lin Ye tidak menoleh. Ia hanya menundukkan kepalanya seperti pelayan patuh pada umumnya dan terus berjalan menuju area gudang es.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, mata Lin Ye sedingin Sumsum Es Hitam yang baru saja ia telan.

Kalian ingin bermain 'kecelakaan'? pikir Lin Ye. Bagus. Kebetulan sekali, aku baru saja membutuhkan samsak daging untuk menguji kekuatan baruku.

1
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor menarik ceritanya semoga sampai tamat ceritanya
Aman Wijaya
lanjut terus gaaas njeduk Thor semangat
Aman Wijaya
jadilah kuat su Yue
Imam Abiyu Dzaky
teruss lanjutkan
Andira
mmm
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Wy Pereret
lanjut
SENJA
waaah
Andira
👍
Aman Wijaya
markotop top top lanjut terus
Aman Wijaya
gaaas terus Thor semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab su Yue
Aman Wijaya
mantab Lin Ye
Aman Wijaya
lanjut terus Thor tambah lagi updatenya 💪💪💪
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Aman Wijaya
mantab Thor semangat semangat
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
top top markotop lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus semangat semangat terus Thor
Aman Wijaya
gaaas njeduk Thor lanjut terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!