NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Berondong

Terjerat Pesona Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Obsesi / Enemy to Lovers
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘

Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Suasana ruko jastip lantai satu kembali ke ritme operasionalnya yang sibuk setelah drama badai cemburu di lantai dua mereda. Haura duduk di balik meja kerja utamanya, tampak luar biasa fokus menatap layar laptop. Jari-jarinya bergerak taktis di atas keyboard, mengetik pesan formal dalam bahasa Inggris untuk memeriksa status pesanan dengan beberapa butik berkredibilitas tinggi di Eropa. Sebagai Ratu Jastip, ia harus memastikan barang-barang mewah pesanan kliennya—mulai dari tas desainer terbaru hingga produk perawatan kulit premium—dikirimkan melalui jalur logistik yang aman dan tepat waktu.

Meskipun matanya lurus menatap barisan angka dan nomor resi internasional, sesekali jemari tangan kirinya bergerak tanpa sadar, menyentuh bibirnya yang masih terasa sedikit hangat dan sensitif. Topeng profesionalnya terpasang sempurna, seolah ciuman brutal di balik sekat kaca buram tadi tidak pernah terjadi.

Sementara itu, beberapa meter di hadapannya, tiga anak muda yang menjadi urat nadi operasional ruko sedang berkumpul di sekitar meja packing besar. Marco, Kevin, dan Arlo tampak sibuk melilitkan selotip bening ke kardus-kardus tebal. Mereka juga bersiap mengangkat beberapa karung paket berukuran besar jika mobil ekspedisi lokal datang untuk menjemput barang sore ini.

Arlo, yang sejak semalam memegang kartu as terbesar dalam sejarah ruko, terus-menerus melirik ke arah Marco dengan cengiran jail yang tidak bisa ditahan. Ia menyenggol lengan Marco yang sedang menempelkan stiker alamat pengiriman dengan kasar.

"Co," bisik Arlo, suaranya sengaja direndahkan agar tidak terdengar sampai ke meja Haura. "Lo apain Tante gue lagi tadi di atas? Lo ituin lagi, ya?"

Marco tidak langsung menjawab. Ia menarik selotip dengan sentakan kuat hingga menimbulkan suara desingan nyaring yang memotong keheningan ruko. Wajah tampannya tampak sangat tenang, namun sudut bibirnya yang berkedut menahan senyum tipis menunjukkan bahwa suasana hatinya sedang berada di atas awan.

Kevin, yang dari tadi fokus memotong sisa bubble wrap, langsung mendongak dengan kening berkerut penasaran. Telinga gosipnya menangkap sinyal mencurigakan dari kalimat Arlo. "Ituin apa, Ar? Lo berdua lagi ngerahasiain apa sih dari gue?" tanya Kevin, menatap bergantian antara Arlo yang bermuka penuh kemenangan dan Marco yang bersikap sok acuh.

"Itu loh, Vin! Masa lo gak tahu sih? Tadi di lantai dua, si Marco sama Tante gue kan—"

"Berisik lo, Ar!" potong Marco cepat, suaranya terdengar berat dan tegas. Ia melemparkan gulungan selotip ke atas meja packing tepat di depan dada Arlo untuk membungkam mulut sepupunya itu. "Kerjain tuh kardus di depan lo, jangan banyak bacot biar kita semua bisa pulang cepat sore ini."

Arlo refleks menangkap gulungan selotip itu sambil terbahak pelan, tidak merasa terintimidasi sama sekali oleh gertakan Marco. "Ciye... panik dia, Vin! Hahaha! Tembok kaca lantai dua itu emang buram, Co, tapi gaung suara lo berdua di atas tadi nyaris bikin gue yang di toilet lantai bawah mau jantungan."

Kevin semakin melebarkan matanya, beralih menatap Marco dengan pandangan menyelidik yang luar biasa detail. Ia memperhatikan bagaimana kancing kemeja atas Marco yang sedikit berantakan dan sisa-sisa rona merah samar di leher temannya itu. "Wah, gila... lo beneran ada apa-apa sama Tante Haura, Co?! Jangan bilang gosip di grup angkatan kita kemarin itu beneran?!"

Marco mengembuskan napas pendek dari hidungnya, mengambil kembali pisau cutter untuk merapikan pinggiran kardus. "Gue nggak suka berbagi urusan pribadi gue ke publik. Kerjain bagian lo, Vin."

"Dih, ya deh! Yang habis dapet asupan dari Tante girang mah beda ya, auranya langsung cerah merona begitu," ledek Arlo dengan nada berbisik yang sangat menyebalkan, sengaja menggunakan istilah 'Tante girang' untuk memprovokasi Marco.

Mendengar frasa itu, gerakan tangan Marco yang sedang memegang cutter langsung terhenti seketika. Ia menegakkan tubuh jangkungnya, menatap Arlo dengan sepasang mata cokelat gelap yang mendadak menajam, kehilangan seluruh rasa jenakanya.

"Jaga mulut lo, Arlo," desis Marco, suaranya sangat rendah, dingin, dan penuh penekanan yang membuat bulu kuduk Arlo meremang seketika. "Jangan pernah lo sebut dia dengan panggilan sampah kayak gitu lagi di depan gue. Sekali lagi gue denger kata itu keluar dari mulut lo, gue pastiin komisi jastip lo bulan ini habis buat bayar biaya rumah sakit."

Arlo langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, memasang wajah defensif yang buru-buru meminta maaf. "Oke, oke! Ampun, Bos! Gue cuma bercanda, sumpah! Mulut gue emang agak kurang disaring kalau lagi nemu bahan ceng-cengan. Jangan diseriusin lah, Co."

Kevin menggeleng-gelengkan kepalanya melihat interaksi kedua temannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Marco, berbicara dengan nada yang jauh lebih serius kali ini. "Tapi serius, Co. Lo nekat banget. Tante Haura itu adiknya Pak Elang Widjaja, orang paling terpandang di lingkaran bisnis bokap lo. Kalau bokap lo atau Pak Anggara sampai tahu lo berdua main gila di ruko ini... tamat riwayat kuliah kita semua, Co."

Marco kembali melanjutkan pekerjaannya, melilitkan tali pengikat ke karung besar di bawah meja dengan sentakan kuat yang menunjukkan keteguhan hatinya. "Gue udah bilang sama bokap gue semalam. Dan gue nggak peduli apa kata mereka."

DEG. Kevin dan Arlo serempak menghentikan seluruh aktivitas tangan mereka. Keduanya menatap Marco dengan mulut yang sedikit terbuka, bener-bener syok mendengar pengakuan santai dari mulut mahasiswa baru berumur dua puluh tahun itu.

"Lo... lo udah bilang ke Om Andi?!" tanya Kevin memastikan, suaranya hampir memekik jika tidak buru-buru ia bekap sendiri. "Gila lo, Marco! Lo bener-bener cegil versi cowok! Nyali lo terbuat dari apa sih?!"

"Nyali seorang predator yang tahu apa yang dia mau," sahut Marco dingin tanpa menoleh, menarik ujung tali pengikat dengan kekuatan penuh hingga berbunyi kencang.

Dari arah meja utama, Haura yang sejak tadi merasa telinganya panas karena sayup-sayup mendengar bisikan ketiga anak muda itu akhirnya berdehem sangat keras.

Ehem!

"Kalian bertiga! Itu paket tujuan Surabaya dan Medan kenapa belum ditimbang juga?! Malah asyik bergosip di depan barang orang! Kerjain sekarang atau saya potong jam magang kalian!" seru Haura dengan suara baritonnya yang tegas, melemparkan tatapan mematikan dari balik layar laptopnya.

"Siap, Tante Bos!" sahut Arlo paling kencang, langsung pura-pura sibuk mengangkat timbangan digital ke atas meja.

Marco perlahan mendongak, menatap lurus ke arah Haura yang kini sedang berpura-pura kembali sibuk dengan urusan toko Eropanya. Ketika mata mereka tidak sengaja beradu selama dua detik, Marco sengaja menjilat bibir bawahnya sendiri dengan gerakan yang sangat lambat—sebuah kode rahasia yang bener-bener intim, mengingatkan Haura pada sisa rasa manis ciuman mereka di lantai dua tadi.

Haura yang melihat gerakan provokatif itu langsung memalingkan wajahnya ke arah jendela samping ruko, tangannya gemetar di atas mouse sementara wajahnya kembali memerah sempurna. Di seberang ruangan, Marco hanya tersenyum miring penuh kemenangan, melanjutkan kegiatannya mengangkat karung logistik dengan energi yang mendadak terisi penuh. Rasa cemburunya pagi tadi mungkin telah usai, namun hasratnya untuk sepenuhnya memiliki sang Ratu Jastip baru saja dimulai.

1
apiii
yg sabar ya mar🥹
apiii
ditunggu bucinya tante haura🤣
apiii
manis bngt sihh berondongnya mau satu kaya marco bolehhh🤣
apiii
jangan pindah lapak🥲 thor soalnya cuma cerita dari novel author yg paling aku tunggu🥹
Penulis GenZ: nggak pindah lapak kak cuma aku nulis juga cerita disana hehe. yang disini tetep aku tamatin kok tenang aja ya😍
total 1 replies
apiii
kenapa sih itu mbah" ga bisa berkaca dari kejadian si cegill
Penulis GenZ: mbah² bgt nih kak🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya up lagi❤️
apiii
semangat cogill🤣
apiii
emng bener berondong lebih menarik buktinya si haura sampai nggak berkutik🤣
apiii
sangat bagus alur ceritanya tidak membosankan dan membuat pembaca jadi penasaran
Indra P.
lannjutttt thorrr...
semangattt
apiii
semangat ya thor aku suka bangt semua novel yg author tulis
Penulis GenZ: jadi terharu mau nangis 🥺
total 1 replies
apiii
ngga kak asik bngt loh alur ceritanya aja bagus dan ya emg sekarang lagi musim kakak" pacaran sama berondong🤣
apiii
emng berondong itu bikin mabok kepayang🤣
apiii
berondong kesayangan🥲
apiii
mulai terpikat pesona berondong🤣
apiii
kayanya lucu klo mereka tbtb nikah🤭
apiii
jodohin haura sama si berondong tengil itu🤣
apiii
semangat up nya thor❤️
apiii
thor kenapa haura ketemu tua bangt🥲
Penulis GenZ: apanya yang tua🤣🤣
total 1 replies
English Lesson
menarik💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!