Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Pengakuan di Bawah Lilin L'Arpège
Kiandra meremas ujung gaun pendek biru gelapnya yang berbahan sutra halus. Duduk di kursi belakang taksi online yang melaju membelah jalanan Paris, ia merasa seolah-olah jantungnya sedang melakukan maraton di dalam rongga dada.
Gaun itu memeluk tubuhnya dengan pas, menonjolkan lekuk pinggangnya yang ramping, namun rasa sesak yang ia rasakan bukan karena pakaian itu—melainkan karena pria yang duduk tepat di sebelahnya.
Enzo Romano menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi, menatap jalanan Paris yang mulai temaram melalui jendela. Cahaya lampu jalanan yang kuning keemasan sesekali menyapu wajahnya, menonjolkan rahang tegas dan hidung mancungnya yang sempurna.
Malam ini, Enzo tampil sangat berbeda. Tidak ada apron, tidak ada seragam Chef yang kaku. Ia hanya mengenakan kemeja putih lengan pendek yang pas di tubuh atletisnya, dipadukan dengan celana chinos krem yang memberikan kesan santai namun sangat maskulin.
Kiandra melirik Enzo diam-diam dari sudut matanya. Ia terpesona oleh kesederhanaan penampilan pria itu. Bagaimana bisa seseorang terlihat begitu mengintimidasi sekaligus memikat hanya dengan kemeja putih biasa?
"Kenapa, Piccola? Apa ketampananku membuat kamu tidak bisa berpaling?"
Suara bariton Enzo yang berat dan dalam memecah keheningan, membuat Kiandra tersentak. Ia segera membuang muka dengan cepat, berpura-pura menatap jendela luar yang mulai basah oleh embun tipis.
"Jangan kepedean," ketus Kiandra, meski pipinya mulai memanas. "Aku hanya sedang berpikir apakah kehadiranmu akan membantu."
Enzo terkekeh rendah, sebuah suara yang bergetar di udara. Pria itu tidak menjawab, ia justru mengetuk layar ponselnya dan memberikan instruksi pelan kepada sopir taksi dalam bahasa Prancis yang sangat fasih.
"Tolong berhenti di depan persimpangan Boulevard Saint-Germain."
Kiandra mengernyitkan dahi, menatap Enzo dengan tatapan bingung yang bercampur panik. "Kenapa berhenti di sini? Restorannya kan masih beberapa blok lagi, Enzo."
Taksi melambat dan akhirnya berhenti di tepi trotoar yang mulai ramai oleh pejalan kaki. Enzo membuka pintu mobil, bersiap untuk turun.
"Aku ada urusan mendadak sebentar," ucap Enzo santai. "Kamu pergi duluan ke L'Arpège."
"Kamu bercanda, kan?" Kiandra refleks menahan lengan kemeja Enzo, matanya memancarkan ketakutan nyata. "Bagaimana kalau kamu sengaja mengerjaiku dan tidak datang? Aku tidak mau berduaan dengan Blake!"
Enzo menatap tangan mungil Kiandra di lengannya, lalu beralih menatap mata cokelat gelap gadis itu. Ia menepuk punggung tangan Kiandra dengan lembut, sebuah sentuhan singkat yang terasa sangat menenangkan.
"Aku sudah janji, Piccola. Dan jika aku berjanji, aku pasti akan menepatinya," bisik Enzo dengan mata hazel yang berkilat meyakinkan.
Enzo turun dari taksi dan menutup pintu dengan pelan. Kiandra hanya bisa menatap punggung lebar pria itu yang melangkah cepat menembus kerumunan sebelum akhirnya menghilang. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi taksi, meremas jemarinya yang mendadak terasa dingin.
"Sialan. Kalau dia benar-benar tidak datang\, aku akan mencincangnya jadi *tartare* besok pagi\," gerutu Kiandra dalam hati.
***
L'Arpège menyambut Kiandra dengan konsep minimalis modern yang sangat elegan. Cahaya lilin yang lembut menari-nari di atas meja pualam, menciptakan suasana yang sangat intim dan mahal. Pelayan menyapa Kiandra dengan hormat, dan begitu nama Blake Harrington disebut, ia langsung dituntun menuju meja sudut yang telah dipesan khusus.
Kiandra duduk dengan canggung\, merasa gaun birunya mendadak terasa terlalu sederhana di tempat semewah ini. Ia segera mengirim pesan singkat kepada Blake: *'Aku sudah tiba di meja.'*
Balasan datang dalam hitungan detik: *'Aku juga baru sampai\, sedang berjalan masuk.'*
Tak lama kemudian, siluet tegap Blake Harrington muncul. Ia melangkah anggun mendekati meja, membawa buket mawar kuning yang sangat indah. Senyum porselennya yang sempurna terpampang jelas.
"Selamat malam, Kiandra. Kamu terlihat sangat menawan dengan gaun biru itu," ucap Blake, suaranya jernih dengan aksen British yang kental.
Kiandra memaksa senyum termanis yang ia miliki, meski hatinya terasa hambar. "Terima kasih, Blake. Bunganya sangat cantik."
Blake duduk di hadapan Kiandra, menatapnya dengan mata biru es yang penuh percaya diri. "Maaf membuatmu menunggu. Apa kamu sudah memesan minuman?"
Kiandra menggeleng pelan\, meletakkan buket bunga di kursi kosong di sebelahnya. Pelayan datang membawa menu\, namun seperti biasa\, Blake langsung mengambil alih. Ia memesan *Homard à la cardamome* dan *Selle d'agneau*\, mengabaikan menu di tangan Kiandra seolah pendapat gadis itu tidak penting.
Begitu pelayan pergi, Blake mencondongkan tubuhnya. Ia meraih telapak tangan Kiandra di atas meja pualam. Kiandra terkejut, mencoba menarik tangannya secara halus, namun cengkeraman Blake cukup erat dan posesif.
"Kiandra, aku tidak suka membuang waktu," ucap Blake, suaranya merendah penuh intensitas. "Aku ingin kamu menjadi pasanganku secara resmi. Aku bisa memberikan apa pun yang kamu inginkan di Paris ini."
Dada Kiandra menyempit karena panik. Matanya melirik cemas ke arah pintu masuk restoran. *Enzo\, di mana kamu?!* teriaknya dalam hati.
"Kenapa diam? Apa ada hal lain yang sedang mengganggu pikiranmu malam ini?" tanya Blake, matanya menyipit penuh selidik.
Kiandra menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa. Ia tidak bisa terus-terusan menjadi 'anak baik' yang penurut.
"Maaf, Blake. Aku... aku benar-benar tidak bisa menerima perasaanmu," ucap Kiandra tegas.
Rahang Blake mengencang seketika. Tatapannya yang tadi memuja kini berubah menjadi tidak percaya yang menuntut. "Kenapa? Apa kamu sudah memiliki kekasih?"
"Tidak... aku tidak memiliki kekasih, aku masih sendiri," jawab Kiandra jujur.
"Lalu apa yang membuatmu ragu? Apa aku kurang cukup untukmu?" Blake bertanya dengan ego aristokrat yang mulai terluka.
"Aku hanya... aku merasa kita tidak cocok, Blake. Aku menyukai pria lain."
"Menyukai pria lain?" Blake mendengus sinis. "Siapa pria itu? Siapa yang berani bersaing denganku?"
Tepat saat itu, pintu masuk restoran terbuka lebar. Sebuah siluet tinggi besar yang sangat berwibawa melangkah masuk. Seluruh perhatian pengunjung restoran seolah tersedot ke arah pria itu.
Enzo Romano.
Ia tidak lagi mengenakan kemeja putih santainya. Kini, ia mengenakan setelan jas hitam mewah yang membalut bahu lebarnya dengan sangat sempurna. Rambutnya tertata rapi, dan aura otoritasnya terpancar begitu pekat. Ia terlihat seperti seorang bangsawan Italia yang baru saja turun dari singgasananya.
Kiandra tercengang. Matanya terkunci pada sosok Enzo yang terlihat sangat tampan dan tak tersentuh. Ternyata itu alasan dia berhenti di jalan tadi—untuk berganti pakaian.
Blake menyadari perubahan ekspresi Kiandra. Dahinya berkerut dalam. "Kiandra?"
Kiandra tersenyum bahagia, sebuah senyum tulus yang tidak pernah ia berikan pada Blake. "Ah... maaf, Blake. Aku tidak bisa karena aku sudah menyukai pria itu."
"Siapa?" Blake menoleh mengikuti arah pandangan Kiandra, dan matanya langsung membelalak saat melihat Enzo Romano berjalan mantap mendekati meja mereka. "Chef Romano?"
Enzo tiba di samping meja. Tanpa menunggu undangan, ia menarik kursi kosong di sebelah Kiandra dan duduk dengan keanggunan seorang penguasa yang tenang. Ia melonggarkan satu kancing jasnya, lalu menatap Blake dengan tatapan hazel yang dingin dan meremehkan.
"Maaf aku terlambat, Piccola," ucap Enzo, suaranya berat dan sangat posesif. Ia menoleh ke arah Blake, lalu menyunggingkan senyum miring yang mematikan.
"Jadi, ada pembahasan apa sampai namaku disebut?"