Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 JALAN-JALAN
Matahari mulai condong ke barat saat Abdul memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Setelah puas menikmati tidur siang yang cukup menyegarkan tubuh, ia merasa perlu melonggarkan otot-ototnya di luar atmosfer Gang Seng yang padat dan pengap. Dengan mengenakan celana jeans santai dan kaus oblong hitam, Abdul melangkah melewati teras rumahnya yang kini sudah mulai sepi dari aktivitas menjahit. Di sana, Rian dan Jaka sedang sibuk merapikan sisa-sisa benang kain untuk menutup jam kerja mereka hari itu.
"Aku jalan-jalan sore bentar ya, Yan, Jak. Kalau kalian mau langsung pulang, kunci aja pintu pagarnya," pamit Abdul sambil memegang handphone barunya yang sengaja ia bawa untuk jalan-jalan.
"Siap, Dul! Santai aja, biar kami yang beresin semuanya di sini," sahut Jaka dari atas teras sambil terus menggulung sisa kain.
Abdul berjalan kaki menyusuri jalan kelurahan dengan santai, menikmati embusan angin sore yang perlahan mengusir sisa rasa kantuknya. Sesekali ia mengangkat handphone barunya untuk memotret pemandangan langit sore yang mulai memerah atau sekadar memotret aktivitas warga di pinggir jalan raya, menguji kualitas kamera ponselnya yang ternyata sangat jernih.
Langkah kakinya terus membawa Abdul berjalan menjauh dari pusat keramaian Gang Seng, menyusuri trotoar jalan utama yang sebagian besar kondisinya sudah rusak dan berlubang karena jarang tersentuh perbaikan.
Saat sedang asyik memotret objek di pinggir jalan, tiba-tiba sebuah suara motor tua yang berisik berhenti tepat di sampingnya. Abdul menoleh dan mendapati Pak Bambang, salah satu warga senior Gang Seng yang terkenal suka mengobrol, sedang mematikan mesin motor bebeknya yang berasap.
"Eh, Abdul! Lagi ngapain sore-sore jalan kaki di batas kelurahan gini, Dul? Tumben bener gak Rebahan aja dirumah, hehehe?" Pak Bambang sambil tertawa dan membuka kaca helmnya yang sudah buram.
Abdul tersenyum sopan lalu menurunkan handphonenya.
"Iya, Pak Bambang. Ini aku lagi nyari angin segar aja sambil nyoba-nyoba kamera HP baru. Biar gak penat di dalam kamar terus."
Pak Bambang melirik handphone baru di tangan Abdul dengan mata yang sedikit menyipit penuh rasa penasaran.
"Wah, HP baru toh? Keren bener layarnya bening banget. Oh iya, aku denger dari Bu RT katanya usaha jahit di teras rumah kamu rame ya sekarang? Sampai bisa ngajak si Rian sama Jaka kerja segala. Hebat kamu, Dul, diem-diem jadi bos muda."
Abdul hanya tertawa kecil, mencoba merendah agar tidak memancing obrolan yang terlalu mendalam tentang keuangan rumah tangganya.
"Ah, biasa aja, Pak. Itu cuma usaha kecil-kecilan buat nyambung hidup aja, kebetulan dapet modal titipan dari kenalan lama. Daripada nganggur setelah di-PHK kemarin, mending buat kesibukan yang menghasilkan."
"Ya baguslah kalau begitu, yang penting halal dan berkah buat keluarga," kata Pak Bambang sambil bersiap menyalakan kembali motornya. "Ya sudah, aku duluan ya, Dul. Mau beli umpan pancing dulu ke depan. Hati-hati jalannya, sore gini daerah sini agak sepi."
"Iya, Pak Bambang. Mari, silakan," jawab Abdul sambil mengangguk.
Setelah motor Pak Bambang berlalu dengan suara knalpot yang bising, Abdul melanjutkan langkah kakinya hingga sampai di area batas kelurahan yang suasananya jauh lebih sepi dan dikelilingi oleh beberapa lahan kosong yang ditumbuhi ilalang tinggi. Saat sedang melihat-lihat sekitar, pandangan Abdul terhenti pada sebuah bangunan tua satu lantai yang letaknya agak menjorok ke dalam dari jalan raya. Di bagian depan halaman bangunan tersebut, terdapat sebuah papan kayu kusam yang catnya sudah memprihatinkan bertuliskan nama: "Panti Asuhan Harapan Bunda".
Abdul menurunkan handphonenya lalu menatap bangunan tua itu dengan seksama dari luar pagar. Kondisi fisik panti asuhan tersebut benar-benar sangat menyedihkan dan langsung memicu rasa prihatin di hatinya.
Atap gentengnya terlihat banyak yang melorot dan pecah-pecah, bahkan sebagian besar area atap di sisi kiri bangunan terpaksa ditutup menggunakan terpal plastik biru berukuran besar yang diikat seadanya dengan tali rafia agar air hujan tidak langsung bocor ke dalam ruangan. Cat dindingnya yang semula berwarna putih kini telah berubah menjadi abu-abu kusam berlapis jamur karena rembesan air yang konstan setiap kali musim hujan tiba.
Di halaman samping yang gersang dan ditumbuhi rumput liar yang tak terurus, Abdul melihat beberapa anak kecil berusia sekitar lima hingga sepuluh tahun sedang duduk diam di atas tikar anyaman yang sudah robek di berbagai sisi.
Tidak ada tawa ceria, mainan, atau permainan interaktif yang biasa dilakukan oleh anak-anak seusia mereka di tempat lain. Wajah-wajah mungil itu tampak murung dan lesu, seolah menyimpan beban berat di usia yang masih sangat muda. Pakaian yang mereka kenakan pun terlihat sangat kusam, penuh dengan tambalan kain di sana-sini, dan beberapa di antaranya tampak kekecilan di tubuh mereka yang kurus.
"Kasihan banget mereka". Gumam Abdul.
Abdul berjalan perlahan mendekati pagar pembatas panti yang terbuat dari besi tua berkarat untuk melihat lebih jelas. Dari jarak dekat itu, matanya menangkap pemandangan di dalam ruang makan panti yang jendelanya terbuka lebar tanpa adanya gorden penutup.
Di atas meja kayu panjang yang permukaannya sudah lapuk dimakan usia, tampak semangkuk besar nasi putih yang hanya ditemani oleh beberapa piring kecil berisi kecap manis dan semangkuk kuah bening tanpa potongan daging atau sayur. Anak-anak panti itu terlihat sedang mengantre dengan sangat tertib, memegang piring plastik mereka masing-masing untuk mendapatkan jatah makan sore yang sangat minimalis tersebut.
Melihat pemandangan nyata di depan matanya, dada Abdul seketika terasa sangat sesak seolah dihantam benda tumpul. Sebuah gelombang rasa iba dan keprihatinan yang teramat sangat langsung menghantam lubuk hatinya yang paling dalam, mengingatkan dirinya pada masa-masa sulit saat keluarganya pernah menahan lapar karena tidak punya uang.
Di tengah rasa ibanya, pandangan Abdul beralih ke gambar raksasa di ujung jalan yang memajang foto seseorang dengan senyum lebar dan slogan "Peduli Sesama". Abdul mendengus muak dan tersenyum sinis melihat bagaimana para orang yang ada di gambar itu bisa pamer kemewahan, sementara anak-anak yatim di dekat mereka harus makan nasi kuah kecap.
Abdul mengepalkan tangannya di dalam saku celana dengan erat. Muncul dorongan kuat di dalam dirinya untuk melakukan sesuatu bagi panti asuhan ini tanpa perlu berharap pada kepedulian para orang-orang itu yang terkesan buta dengan kondisi di sekitar mereka.