NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Pengorbanan di Dasar Sumur

"JANGAN, DIS!" Aku menerjang, mencengkeram tangan Disa sebelum sempat menyentuh tangan Laras.

Sosok Laras mendesis marah. Selendang merah di lehernya berkibar sendiri, memancarkan aura panas. Suhu di dasar sumur yang tadinya sedingin es, mendadak jadi panas seperti oven.

"Dia milikku!" desis Laras. Suaranya bukan lagi dari kepalaku, tapi menggema nyata di seluruh dinding sumur. "Tujuh tahun aku menunggu pengganti! Kalian tidak boleh ambil dia!"

"Dia temen gue!" bentakku, menarik Disa ke belakangku. "Dan dia gak jadi tumbal siapa-siapa!"

Andre dari atas berteriak, "BIM! TALI UDAH KEIKAT! KAMI TARIK SEKARANG!"

Tali di pinggangku menegang lagi. Tapi kali ini, bukan cuma tangan-tangan kerangka yang menahan. Kaki Disa juga. Dia tidak bergerak. Matanya kosong, menatap Laras.

"Lepasin dia, Bim," bisik Disa. Suaranya datar, seperti terhipnotis. "Ini salahku. Aku ketua KKN. Aku yang bawa kalian ke desa ini. Biar aku yang nebus."

"Nggak ada yang nebus siapa-siapa!" Aku menampar pipi Disa, keras. "Sadar, Dis! Itu setan! Dia bohong!"

Tamparanku berhasil. Mata Disa berkedip, kesadarannya kembali. Dia menatapku, lalu menatap Laras, lalu mengangguk. "Tarik, Bim!"

Aku melompat, meraih tali tambang yang menjuntai. Sambil memeluk pinggang Disa, aku berteriak, "TARIK, NDRE!"

Andre dan Siska di atas menarik sekuat tenaga. Tubuhku dan Disa terangkat pelan dari air hitam.

Laras menjerit. Jeritannya melengking, memecahkan gendang telinga. Selendang merah di lehernya memanjang, mencoba melilit kaki Disa.

Dengan sisa tenaga, aku menendang selendang itu. Bukannya putus, malah tanganku yang terasa terbakar. Selendang itu panas seperti bara api.

Di tengah kekacauan, mataku menangkap sesuatu. Petromak yang tadi padam dan jatuh ke air... apinya menyala lagi. Kecil, tapi menyala di atas permukaan air hitam.

Pak Sarmo bilang: "Api bisa mengusir mereka yang dari bawah."

Tanpa pikir panjang, aku meraih selendang merah yang masih berusaha melilit Disa. Panasnya membakar telapak tanganku sampai berasap, tapi aku tidak peduli. Dengan sekuat tenaga, aku menarik selendang itu dari leher kerangka Laras dan mencelupkannya ke api petromak.

"JANGANNN!!!" Jeritan Laras kali ini berbeda. Isinya pilu, marah, dan takut.

"BRAKKK!"

Selendang merah itu terbakar. Apinya bukan api oranye biasa, tapi api hijau kebiruan. Asapnya hitam pekat, berbau kemenyan busuk dan bangkai.

Begitu selendang itu habis jadi abu, semua kerangka di dasar sumur bergetar hebat. Satu per satu, mereka hancur menjadi debu, termasuk kerangka Laras. Jeritan tujuh suara itu berhenti bersamaan.

Sosok Laras yang melayang juga ikut hancur, tapi sebelum hilang total, dia menatapku dengan mata penuh dendam. Bibirnya bergerak, mengucapkan satu kalimat tanpa suara: "Belum selesai."

Lalu dia hilang. Gelap lagi. Tapi kali ini gelap yang biasa. Dinginnya air juga berubah jadi dingin air sumur normal.

Tali di pinggang kami ditarik lebih cepat. "GUBRAKK!"

Aku dan Disa terhempas ke bibir sumur. Kami berdua terbatuk-batuk, muntah air hitam. Seluruh tubuhku gemetar, telapak tangan melepuh.

Andre dan Siska langsung memeluk kami. "Kalian hidup! Kalian hidup!"

Pak Sarmo mendekat. Dia menatap ke dasar sumur yang sekarang sunyi. Lalu dia menatap telapak tanganku yang melepuh. Dia menghela napas panjang. "Selendangnya sudah dimusnahkan. Untuk sekarang... desa ini aman. Tapi..."

"Tapi apa, Pak?" tanyaku, masih terengah.

Pak Sarmo tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke arah posko.

Dari jendela kamar, di lantai dua posko, kami melihat Rani berdiri. Dia sudah sadar. Dia melambaikan tangan ke kami.

Dan di lehernya... melingkar selendang merah. Persis sama. Menyala. Tidak terbakar.

Darahku berdesir. Disa mencengkeram lenganku.

Misi kita belum selesai. Membakar selendang di sumur cuma memutus rantainya Laras ke dunia bawah. Tapi wujudnya... jiwanya... masih ada. Dan sekarang dia sudah memilih inang baru. Rani.

Malam itu, untuk pertama kalinya, kami berlima tidur tidak terpisah. Kami kumpul di ruang tengah posko, tidak ada yang berani merem. Karena kami tahu, perang sesungguhnya baru akan dimulai besok. Saat purnama tinggal 5 hari lagi.

Pagi harinya, Rani bangun seperti tidak terjadi apa-apa. Dia masak mie instan, ketawa-tawa, dan ngajakin kita sarapan. Normal. Terlalu normal.

"Ran, kamu inget kejadian semalem?" tanyaku hati-hati, sambil nyeruput kopi.

Rani mengerutkan dahi. "Kejadian apa? Bukannya semalem kita tidur cepet karena capek?"

Kami berlima saling pandang. Dia tidak ingat apa-apa. Ingatannya hilang dari pas dia kerasukan di posko sampai tadi pagi.

Tapi selendang merah itu masih ada di lehernya. Dia pakai itu bahkan pas mandi. Katanya, "adem aja rasanya, Bim. Kayak dipeluk mama."

Siska yang duduk di sebelahku merinding. "Itu bukan selendang biasa. Laras pindah ke badan Rani."

Disa yang tangannya diperban karena luka bakar semalam, membuka laptop. "Aku browsing semalem. Ada berita 7 tahun lalu. 'Mahasiswi KKN Hilang di Desa Larangan, Diduga Hanyut di Sungai'. Namanya Laras Sekar Ayu. Foto di berita sama persis sama yang di balai desa."

"Terus Pak Broto, mantan Kadesnya?" tanya Andre.

"Kabur ke Kalimantan. Tapi 3 tahun lalu, ada berita lagi. 'Eks Kades Ditemukan Tewas Gantung Diri di Kebun Sawit'. Di lehernya... ada lilitan kain merah." Disa menutup laptopnya pelan. "Laras nuntut balas. Satu-satu."

Artinya Pak Sarmo berikutnya? Atau kita berlima?

Siang itu, Pak Sarmo datang ke posko bawa daun-daunan dan garam kasar. "Taburin ini di tiap sudut kamar sama pintu," katanya tanpa basa-basi. "Sama ini." Dia ngasih aku sebuah keris kecil seukuran telunjuk. "Selipin di bawah bantal Rani. Kalau malam dia ngelindur lagi, bacain ini." Dia nyodorin kertas berisi tulisan Jawa kuno.

"Ini apa, Pak?" tanyaku.

"Mantra penolak. Tapi cuma ngulur waktu. Puncaknya tetap pas purnama. Sebelum itu, kita harus nemuin satu hal."

"Apa, Pak?"

"Tulang ibu jari Laras. Pas dibunuh, ibu jarinya dipotong sama Pak Broto, buat dijadiin jimat pesugihan. Jasadnya di sumur, tapi ibu jarinya dikubur di bawah pohon beringin kembar. Di tempat kalian ketemu Mbah Tirah."

Gila. Makin rumit.

Malam kedua. Tepat jam 12 malam, gamelan itu bunyi lagi. Tapi kali ini beda. Lebih cepat, lebih ramai, seperti ada yang nari di halaman.

Rani yang tadi tidur pulas, tiba-tiba duduk tegak. Matanya kebuka, tapi kosong. Dia turun dari kasur, berjalan ke pintu dengan gerakan patah-patah.

Siska langsung bangun dan menghadang. "Rani! Mau ke mana?!"

Rani tidak jawab. Dia cuma menunjuk ke luar jendela, ke arah sumur. Dengan suara yang bukan suaranya, dia bilang, "Laras manggil. Katanya... selendangnya kedinginan. Minta diangetin... di dalam sumur."

Di luar, kabut tiba-tiba tebal. Dan di tengah kabut, berdiri sosok tujuh orang. Kerangka-kerangka dari dalam sumur. Mereka berdiri melingkar mengelilingi sumur, menari mengikuti gamelan.

Purnama masih 4 hari lagi. Tapi terornya sudah dimulai..

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!