NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Hari kedua perjalanan.

Matahari pagi yang seharusnya hangat, di sini terasa pucat dan dingin, seolah sinarnya terhalang oleh kanopi pohon raksasa yang saling bertautan, membentuk langit-langit alami yang gelap dan lembap. Mobil SUV hitam itu sudah tidak bisa melaju lagi. Jalan tanah yang bergelombang, berlubang, dan penuh lumpur tebal akhirnya berakhir di depan tebing curam yang tertutup semak belukar rapat.

Mereka terpaksa turun.

Udara di sini berat, penuh uap air, bau tanah basah, daun busuk, dan aroma manis yang aneh dari tanaman merambat liar. Suasana hening. Terlalu hening. Hanya terdengar suara tetesan air dari dedaunan dan bunyi remah ranting di bawah sepatu mereka. Tidak ada burung berkicau. Hampir tidak ada suara serangga. Hutan ini terasa... kosong. Kosong dan waspada. Seolah alam sendiri tahu ada makhluk berbahaya yang sedang melintas.

"Semua turun. Tinggalkan barang yang tidak perlu. Ambil air, makanan darurat, obat-obatan, dan senjata," perintah Raga singkat dan tegas. Ia sudah berganti pakaian: celana taktis kargo, baju lengan panjang anti-gorekan, rompi pelindung ringan, dan sepatu tempur yang kokoh. Di pinggang kirinya terselip pisau kombat besar berkilau, di pinggang kanannya ada pistol semi-otomatis yang terisi penuh.

Arya juga tidak kalah siap. Selama 12 tahun kedamaian, diam-diam ia tidak melupakan masa lalunya. Ia rutin berlatih bela diri dan menembak, bersiap untuk hari seperti ini. Ia membawa ransel besar berisi perlengkapan, dan di balik jaketnya, ia menyembunyikan pistol revolver berat milik mendiang Kakek Hadi.

Naya dan Sari Dewi juga membawa ransel kecil. Naya, meski hatinya hancur, kini berjalan tegap, matanya waspada, insting bertahan hidupnya—bekas tumbuh besar di keluarga kriminal—tiba-tiba bangkit tajam. Ia berjalan di sebelah Sari Dewi, tangan kanannya selalu dekat dengan pisau lipat kecil di saku celananya.

Dan Sari Dewi... gadis itu berjalan paling tenang. Ia tidak terengah-engah meski jalannya menanjak curam dan licin. Matanya mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu yang dingin. Ia memperhatikan bentuk pohon, arah lumut di batang, jejak kaki hewan di tanah lunak. Otak analitisnya bekerja terus-menerus, memetakan lingkungan, mencari titik aman dan bahaya.

"Jangan pisah. Tetap dalam formasi," perintah Raga sambil memimpin jalan, membelah semak belukar dengan parang besarnya. "Aku di depan, Arya di belakang sebagai penjaga belakang. Naya, kamu di tengah, lindungi Sari dari sisi kanan dan kiri. Jangan sentuh tanaman yang tidak dikenal, jangan minum air sembarangan, dan jangan bersuara kecuali keadaan darurat. Hutan ini punya telinga."

"Punya telinga?" bisik Arya sinis dari belakang. "Kamu mulai percaya takhayul seperti kakekmu, Raga?"

Raga berhenti sebentar, menoleh ke belakang, matanya tajam menusuk.

"Ini bukan takhayul, Arya. Ini fakta lapangan. Wilayah ini adalah zona mati. Wilayah yang dihindari penduduk lokal selama berpuluh-puluh tahun karena banyak orang hilang misterius. Orang-orang Si Bayangan sudah menguasai wilayah ini. Mereka pasang sensor, jebakan, dan patroli siluman. Setiap suara, setiap gerakan, setiap jejak yang kalian tinggalkan... bisa jadi tiket mati kita."

Arya terdiam. Sarkasmenya mati. Ia melihat keseriusan di mata Raga. Pria ini tidak main-main.

Mereka melanjutkan perjalanan dalam keheningan yang mencekam. Jam demi jam berlalu. Matahari bergerak ke atas, lalu perlahan condong ke barat, tapi di dalam hutan, cahayanya tetap redup seperti senja abadi.

Menjelang sore, mereka sampai di sebuah lembah sempit, diapit dua bukit batu tinggi yang tertutup tanaman merambat tebal. Di tengah lembah itu mengalir sungai kecil dengan air jernih berwarna kehijauan, berbatu-batu, dan arusnya cukup deras.

"Berhenti," bisik Raga tiba-tiba, mengangkat tangan besarnya. Semua langsung membeku di tempat.

Raga berjongkok, matanya meneliti tanah berpasir di tepi sungai. Di sana, terlihat jejak kaki. Bukan jejak hewan. Jejak sepatu. Sepatu tempur. Ukuran besar, pola tapak khusus militer. Jejak itu masih basah. Baru berumur sekitar satu atau dua jam.

"Patroli," gumam Raga, wajahnya menggelap. "Mereka sudah di depan kita. Mereka berpatroli rutin. Jumlahnya sekitar 4 sampai 6 orang, berjalan beriringan, berat."

"Berarti mereka tahu kita datang?" tanya Naya pelan, tangannya mencengkeram lengan putrinya.

"Belum tentu. Tapi mereka waspada. Atau mungkin... mereka sedang menjaga sesuatu." Raga berdiri perlahan, matanya mengawasi tebing-tebing tinggi di sekeliling mereka. "Kita tidak bisa lewati jalan utama di sepanjang sungai. Terlalu terbuka, terlalu mudah terlihat dari atas. Kita harus naik tebing ini, ambil jalur tinggi, berjalan di atas punggung bukit. Lebih berat, lebih capek, tapi lebih aman dan memberi kita sudut pandang."

Mendengar itu, wajah Naya memucat. Tebing itu curam, batu-batunya licin tertutup lumut dan akar pohon.

"Itu gila, Raga. Sari belum pernah mendaki gunung seumur hidupnya! Dia baru 13 tahun!" protes Naya berbisik keras, matanya melotot tak percaya.

Raga menatap adiknya tanpa belas kasihan.

"Dan kalau kita lewat bawah, Sari akan dapat peluru di kepala sebelum dia sempat berkedip, Naya. Pilihannya cuma dua: Capek sekarang atau mati nanti. Keputusan ada di tanganmu."

Naya menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Ia benci situasi ini. Ia benci tidak berdaya. Ia benci bahwa kakak kandungnya sendiri yang membuat pilihan kejam ini. Tapi ia tahu Raga benar. Di sini, di hutan ini, logika lembut ibu tidak berlaku. Hanya ada logika predator dan mangsa.

"Oke," desis Naya akhirnya. "Kita naik."

Pendakian itu adalah siksaan murni. Tanpa alat panjat profesional, hanya mengandalkan akar pohon, retakan batu, dan kekuatan tangan. Arya naik duluan, menarik Naya dan Sari dari atas. Raga berada di bawah, mendorong dan menjaga mereka dari jatuh, tubuh besarnya bertindak sebagai penahan hidup jika ada yang terpeleset.

Keringat bercucuran, otot-otot terasa sobek, napas mereka memburu berat. Di tengah pendakian, tangan kanan Sari Dewi yang memegang akar pohon tua itu tiba-tiba tergelincir. Lumut di akar itu terlalu licin. Tubuh mungil gadis itu terpelanting mundur, melayang di udara, jatuh ke belakang menuju jurang berbatu setinggi sepuluh meter.

"SARI!!!" jerit Naya histeris, jantungnya seolah berhenti.

Dalam sepersekian detik, tangan besar, kasar, dan kuat menyambar pergelangan kaki kiri Sari Dewi dari bawah.

GREP!

Raga.

Tubuh besar Raga sendiri sempat terguncang hebat, badannya hampir tercabut dari cengkeramannya di batu, tapi otot-otot baja di lengan dan bahunya bekerja maksimal. Ia menggantung di satu tangan, sementara tangan satunya mencengkeram kaki keponakannya yang melayang di udara kosong.

Wajah Sari Dewi pucat pasi, matanya terbelalak menatap kedalaman jurang di bawah sana, angin menerpa wajahnya. Ia bisa merasakan kekuatan yang luar biasa dari cengkeraman di kakinya. Kekuatan yang tidak akan melepaskannya.

"JANGAN GERAK!" geram Raga dari bawah, suaranya rendah tapi penuh otoritas. Pembuluh darah di leher dan pelipisnya menonjol keluar, wajahnya merah padam menahan beban dua tubuh.

Dengan susah payah, sentak demi sentak, Raga mengangkat tubuh Sari Dewi ke atas, menyerahkannya ke tangan Arya yang sudah menjulur panik dari atas. Begitu Sari aman di atas tanah datar, Raga sendiri akhirnya menarik tubuh besarnya naik, melompat ke atas tebing dengan napas memburu, dada naik turun hebat, keringat deras membanjiri wajahnya.

Sari Dewi terkapar di tanah, terbatuk-batuk, kakinya terasa mati rasa karena cengkeraman kuat itu. Naya langsung merangkul putrinya erat-erat, menangis tanpa suara, memeriksa seluruh tubuh anaknya mencari luka. Arya berlutut di sebelah putrinya, wajahnya pucat ketakutan, tangannya gemetar memegang bahu Sari.

Sementara itu, Raga duduk berjongkok beberapa meter jauhnya, memunggungi mereka. Ia mengusap darah di buku jarinya yang tergores batu tajam, napasnya masih berat. Bahunya kanan—bekas luka tembakan 12 tahun lalu—terlihat menonjol dan merah meradang karena tenaga berlebih.

"Kamu gila!" bentak Arya tiba-tiba, bangkit berdiri, berjalan mendekati Raga dengan amarah meluap. Ia mencengkeram kerah jaket Raga, menariknya kasar hingga wajah mereka berhadapan. "Kamu gila?! Kamu pikir itu cara melindunginya?! Kalau kamu terpeleset, kalian berdua sudah mati!"

Raga tidak melawan. Ia membiarkan dirinya dicengkeram. Ia hanya menatap Arya dengan mata datar, dingin, dan sedikit lelah.

"Aku tahu risikonya, Arya. Aku hitung peluangnya. 90% aku bisa selamatkan dia, 10% gagal. Kalau kita lewat bawah, peluang selamatnya 0%. Itu matematika dasar. Dan..." Raga menunduk sedikit, suaranya turun jadi bisik yang hanya bisa didengar Arya, "...aku tidak akan membiarkan dia mati. Tidak di tanganku. Tidak akan pernah."

Ada sesuatu dalam nada suara itu. Sesuatu yang bukan sekadar tugas, bukan sekadar janji pada ayahnya. Ada rasa takut. Raga Wijaya, pria yang tidak punya hati, pria yang tidak takut mati, ternyata takut kalau sesuatu terjadi pada Sari Dewi.

Arya melepaskan cengkeramannya perlahan. Ia melihat ke arah tangan Raga—tangan yang baru saja menyelamatkan nyawa putrinya. Ia benci mengakuinya, tapi Raga benar. Dan Raga baru saja membuktikan, setidaknya untuk hari ini, bahwa prioritasnya sama.

"Terima kasih," gumam Arya pelan, kata yang paling berat dan pahit yang pernah keluar dari mulutnya.

Raga hanya mengangguk singkat, lalu bangkit berdiri, memunggungi mereka lagi.

"Istirahat 10 menit. Kita harus sampai di pos pengamatan sebelum gelap total. Di malam hari, hutan ini bukan tempat untuk manusia."

Saat mereka beristirahat minum air, Sari Dewi mendekati Raga. Pria itu sedang duduk bersandar pohon besar, memijat bahu kanannya yang bengkak, wajahnya meringis kesakitan yang ditahan.

Sari Dewi duduk di sebelahnya, jarak aman sekitar satu meter. Ia menatap bekas luka tembakan tua di bahu itu—bekas peluru ayahnya sendiri.

"Sakit?" tanya Sari Dewi lembut.

Raga menoleh, terkejut kedatangan gadis itu. Ia segera menutup ekspresi sakitnya, kembali pasang wajah batu.

"Tidak. Cuma pegal."

"Kamu bohong. Kamu meringis. Dan jantungmu berdetak dua kali lebih cepat dari normal," ucap Sari Dewi tenang, matanya menatap dada Raga. "Kamu cedera, Paman. Kamu menahan sakit itu demi mengangkat aku."

Raga terdiam. Ia tidak terbiasa ada orang yang peka, apalagi anak kecil, yang bisa membaca dirinya sejelas ini. Seluruh hidupnya, orang melihatnya sebagai monster, mesin pembunuh, atau ancaman. Tidak ada yang pernah peduli kalau dia sakit, kalau dia lelah, kalau dia terluka.

"Kamu berat," jawab Raga akhirnya, mencoba bercanda kering untuk mengalihkan topik.

Sari Dewi tersenyum tipis, senyum kecil yang hangat dan tulus, senyum Arya. Senyum itu menusuk langsung ke dada batu Raga, membuat jantungnya yang beku berdenyut aneh.

"Aku tahu. Makasih sudah tangkap aku, Paman Raga. Kalau bukan kamu, aku sudah jadi bubur di bawah sana," bisik Sari Dewi. Ia lalu mengeluarkan sepotong perban elastis dari ranselnya—perlengkapan medis yang ia ambil dari mobil tadi. "Sini. Biar aku balut. Ibu bilang, luka lama yang dipaksa kerja keras bakal pecah lagi. Kalau kamu sakit, siapa yang bakal tangkap aku kalau aku jatuh lagi?"

Tanpa menunggu izin, Sari Dewi maju sedikit, menarik lengan jaket Raga ke bawah, memperlihatkan otot bahu yang memar, bengkak, dan bekas luka panjang putih yang jelek. Raga kaku. Tubuhnya tegang. Ia belum pernah disentuh orang dengan niat baik selama 12 tahun. Sentuhan jari-jari kecil, halus, dan hangat di kulit kasarnya terasa aneh, nyaris menyakitkan karena begitu lembut dan asing. Tapi ia tidak menolak. Ia membiarkan gadis itu membalut bahunya dengan cekatan, rapi, dan kuat.

Di kejauhan, Naya dan Arya melihat pemandangan itu. Naya menahan napas. Ia melihat kakaknya, monster yang ia takuti, terlihat begitu... manusia. Terlihat begitu rapuh di depan anak kecil yang polos namun bijak itu.

"Mungkin..." bisik Naya pelan pada suaminya. "Mungkin Sari benar. Mungkin Raga cuma rusak, bukan jahat. Dan mungkin, satu-satunya orang yang bisa memperbaikinya... adalah dia."

Arya tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam, matanya penuh waspada, tapi juga penuh harap.

Saat senja mulai berubah menjadi malam, mereka akhirnya mencapai tujuan hari itu: Sebuah punggung bukit berbatu datar yang menghadap langsung ke arah pusat pegunungan. Dari sini, pemandangannya terbuka luas, menakjubkan sekaligus mengerikan.

Di depan mereka, menjulang megah dan menakutkan, adalah Gunung Merah.

Tinggi, puncaknya tertutup kabut hitam tebal, lereng-lerengnya berwarna merah bata kemerahan karena tanah vulkanik, dihiasi tebing-tebing terjal dan ngarai dalam. Tapi yang paling membuat darah mereka membeku bukan gunungnya.

Di lereng bawah Gunung Merah, terlihat jelas dari jarak sekitar lima kilometer, ada cahaya. Bukan cahaya bintang atau bulan. Cahaya buatan. Ribuan titik cahaya listrik, lampu sorot, dan api unggun. Terlihat struktur bangunan, pagar kawat berduri tinggi, menara pengawas, dan jalur kendaraan.

Itu bukan hutan belantara.

Itu Benteng.

Benteng raksasa yang tersembunyi di jantung hutan, sarang dari organisasi terbesar dan tergelap di dunia.

"Ya Tuhan..." bisik Arya tak percaya, matanya terbelalak melihat luasnya kompleks itu. "Itu bukan sekumpulan penjahat, Raga. Itu pasukan militer."

Raga mengangguk berat, matanya gelap penuh kebencian dan rasa takut.

"Ini baru permulaan, Arya. Yang kamu lihat di bawah sana... itu cuma pos jaga depan. Sarang utamanya ada di dalam gunung, di bawah tanah, terowongan dan gua yang membentang ratusan kilometer. Di situlah Si Bayangan bersemayam. Di situlah rahasia kita dikubur."

Raga menoleh ke arah Sari Dewi. Gadis itu berdiri di ujung batu karang, angin malam menerbangkan rambut panjangnya, matanya menatap benteng musuh itu tanpa berkedip, tanpa rasa takut. Wajahnya pucat, tapi tenang. Sangat tenang.

"Lihat itu, Sari," ucap Raga parau. "Itu tempat tujuan kita. Itu tempat di mana semua dimulai, dan tempat di mana semua harus berakhir. Masih mau lanjut? Kita masih bisa balik sekarang. Kita masih bisa lari."

Sari Dewi perlahan menoleh. Ia menatap ayahnya, ibunya, lalu menatap Raga bergantian. Ia mengangkat tangannya ke leher, meremas kalung kunci emas itu kuat-kuat. Ia ingat wajah Nenek Sari di rekaman video. Ia ingat tulisan di buku harian neneknya. Ia ingat pesan Kakek Hendrawan.

Ia tersenyum. Senyum dingin, tajam, dan penuh tekad baja.

"Tidak ada jalan pulang, Paman. Sejak aku lahir, aku sudah ada di jalan ini. Dan sekarang... aku mau ketemu orang yang mengira aku cuma kunci."

Sari Dewi berbalik, menatap benteng musuh lagi, matanya menyala dalam kegelapan malam.

"Aku mau lihat wajah orang yang selama ini menganggapku benda. Aku mau lihat apakah dia punya muka, atau dia benar-benar bayangan."

Malam itu, di atas bukit batu yang dingin, di hadapan musuh yang jumlahnya ribuan kali lipat lebih banyak dan lebih kuat, empat orang itu bersiap. Mereka bukan lagi sekadar keluarga. Mereka adalah pasukan kecil, tim taktis, dan pembawa takdir.

Di bawah sana, di dalam benteng bercahaya itu, alarm diam tiba-tiba berbunyi. Sensor gerak di pintu utama menangkap sinyal. Di ruang kendali pusat, seorang pria tua duduk di kursi roda, wajahnya tertutup bayangan topi lebar, hanya matanya yang bersinar merah mematikan di bawah cahaya monitor.

Di layar besar di depannya, gambar satelit dan sensor gerak memperlihatkan empat titik panas di bukit utara.

Pria tua itu tersenyum. Senyum yang mengerikan, penuh kemenangan dan kegembiraan sakit.

"Mereka datang..." bisik suara serak parau, seperti gesekan kertas kasar. "Permainan akhirnya dimulai. Selamat datang, Pewaris. Selamat datang, Sari Dewi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!