Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Bayangan di Pelataran
"Baik guru, murid mengerti." Jawab Huang.
Tetua Mo mengangguk pelan, lalu mengibaskan lengannya dengan malas seolah mengusir lalat yang mengganggu waktu minumnya.
"Pergilah berlatih, pastikan kau memahaminya sebelum kompetisi dimulai."
Huang menangkup kedua tangannya. "Murid tidak akan mengecewakan guru."
Setelah mengatakan itu Huang berjalan ke samping kediaman Tetua Mo. Tanah di sana penuh bekas retakan pedang dan lubang kecil akibat tekanan energi spiritual. Huang duduk bersila di atas batu datar, lalu membuka kitab Teknik Pedang Gravitasi sekali lagi. Matanya bergerak perlahan membaca setiap kalimat dan pola energi di dalamnya dengan sangat teliti.
Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Huang akhirnya menutup kitab coklat itu perlahan, lalu berdiri sambil menggenggam pedang kayunya. Huang menarik nafas panjang, lalu mulai mengayunkan pedangnya.
Ayunan pertama tidak menghasilkan apa pun selain hembusan angin biasa. Huang tidak menyerah. Dia terus mengulang gerakan demi gerakan sambil mengingat pola energi spiritual yang tercatat di kitab. Pedang kayu itu menebas ke samping, menusuk ke depan, lalu berputar membentuk lengkungan tajam. Keringat mulai mengalir di dahinya.
Hari demi hari berlalu.
Seminggu kemudian, saat Huang kembali mengayunkan pedangnya ke arah pohon kecil setinggi lutut, sesuatu akhirnya berubah. Energi spiritual di sekitar pedang tiba tiba menekan turun dengan berat mengerikan. Pohon kecil itu langsung melengkung hingga menempel ke tanah, lalu patah dengan suara retak pelan.
Huang tertegun melihatnya. Dia bisa merasakan sesuatu menekan area di depan pedangnya. Bukan angin... bukan pula tenaga biasa. Rasanya seperti tanah dan langit tiba tiba menjadi berat.
Tetua Mo yang sedang minum arak di kejauhan membuka satu matanya. "Lumayan. Akhirnya kau tidak sepenuhnya bodoh."
Huang segera menangkup kedua tangannya. "Terima kasih atas bimbingannya guru."
Tetua Mo mendecak lidah. "Jangan berterima kasih terlalu cepat. Teknik itu baru kulit luarnya saja."
Setelah itu Huang kembali berlatih lebih keras lagi. Dia terus mengulang teknik tersebut sampai tubuhnya nyaris mati rasa. Kadang saat gagal mengendalikan gravitasi, tekanan justru berbalik menghantam dirinya sendiri hingga tubuhnya jatuh menghantam tanah. Namun Huang tidak berhenti. Setiap kali jatuh dia bangkit kembali sambil menggenggam pedangnya erat.
Dua minggu kemudian, gerakan Huang sudah jauh berbeda dibanding sebelumnya. Saat pedangnya bergerak, tekanan gravitasi langsung menyebar ke sekitar lawan. Batu kecil di tanah retak, rerumputan membungkuk, bahkan udara terasa berat.
Tetua Mo akhirnya duduk tegak untuk pertama kalinya dalam beberapa hari. Matanya memandang Huang cukup lama sebelum terkekeh pelan.
"Monster tekun..." gumamnya.
Huang sendiri tidak mendengar itu. Dia masih fokus mengayunkan pedangnya berkali kali. Gerakannya menjadi semakin tajam, cepat, dan sederhana. Tidak ada gerakan berlebihan. Semua serangan dilakukan untuk membunuh lawan secepat mungkin.
Yang membuat Tetua Mo lebih terkejut adalah perkembangan kultivasi Huang. Dalam dua minggu terakhir, Huang akhirnya berhasil mencapai Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung. Padahal sebagian besar waktunya dihabiskan untuk latihan pedang dan menahan tekanan gelang berat itu. Bakat Huang sebenarnya biasa saja, bahkan bisa dikatakan rendah dibanding murid elit sekte lain. Namun ketekunan dan pemahamannya benar benar mengerikan.
Dua hari sebelum kompetisi dimulai, Huang akhirnya menghentikan latihan panjangnya. Nafasnya berat, namun matanya jauh lebih tajam dibanding dua bulan lalu.
Tetua Mo mengangguk puas sambil menatap Huang dari dipan kayunya. "Bagus. Sekarang kau benar benar berubah."
Huang menangkup kedua tangannya. "Ini semua berkat guru."
Tetua Mo hanya tersenyum tipis, lalu matanya berpindah ke gelang besi di tangan dan kaki Huang. "Gelang itu jangan dilepas sampai kau benar benar tertekan."
Huang mengernyit pelan. "Maksud guru?"
Tetua Mo mendecak lidah. "Anak ini masih bodoh sekali."
Huang hanya diam mendengarkan.
Tetua Mo lalu mengeluarkan sebuah kantung penyimpanan kecil dari lengan bajunya. "Di dalam ada empat puluh batu roh tingkat rendah. Itu jatahmu sebagai murid luar selama dua bulan."
Mata Huang sedikit bergerak. Empat puluh batu roh tingkat rendah bukan jumlah kecil untuk dirinya sekarang.
Tetua Mo lalu melanjutkan tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Tapi ini menjadi milikku."
Huang berkedip pelan.
"Selama dua bulan ini kau tinggal di sini, makan di sini, dan aku melatihmu susah payah," lanjut Tetua Mo sambil minum araknya lagi. "Ini balasan yang tidak setimpal sebenarnya, tapi lumayan daripada tidak sama sekali."
Huang segera menangkup kedua tangannya. "Maaf jika murid tidak bisa membayar lebih."
Tetua Mo mengibaskan lengannya malas. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan."
Huang hanya mengangguk. Sekarang seluruh batu roh tingkat rendah miliknya sudah habis total, semuanya habis untuk kultivasi.
Tetua Mo kembali berbicara, kali ini nada suaranya lebih dingin. "Pergi sana mendaftarkan diri untuk kompetisi."
Huang mengangguk pelan.
"Tapi ingat Huang..." Mata Tetua Mo tiba tiba menjadi tajam seperti pedang tua berkarat. "Jangan jadi pengecut seperti sebelumnya. Jika orang menindasmu, bersikap tegaslah, selagi kekuatannya setara denganmu."
Huang terdiam mendengar itu.
"Seperti yang kukatakan," lanjut Tetua Mo sambil menunjuk dada Huang dengan kendi araknya, "kau harus bisa memahami kondisi dan situasimu."
Huang akhirnya mengangguk. "Baik guru... aku sudah jauh berubah dari dua bulan yang lalu."
Tetua Mo tersenyum tipis. "Itu yang kuinginkan. Sekarang pergi."
Huang menangkup kedua tangannya lalu meninggalkan kediaman Tetua Mo. Langkahnya terasa berat akibat gelang besi, namun gerakannya tetap stabil. Setelah berjalan cukup lama akhirnya dia kembali memasuki wilayah Sekte Yunwu.
Pelataran sekte terlihat ramai. Banyak murid luar berkumpul di berbagai tempat sambil membicarakan kompetisi yang akan segera dimulai. Ada yang sedang berlatih teknik, ada pula yang sibuk membentuk kelompok kecil untuk mencari informasi lawan.
Saat Huang lewat, beberapa murid langsung menyipitkan mata. Bisikan pelan mulai terdengar.
"Itu Huang..."
"Murid Tetua Mo yang gila itu..."
"Aku dengar dia baru masuk dua bulan."
"Kenapa auranya terasa berbeda..."
Huang mendengar semuanya, namun ekspresinya tetap dingin dan tenang. Dia berjalan lurus tanpa memedulikan siapa pun. Dua bulan latihan brutal bersama Tetua Mo membuat pikirannya jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.
Di kejauhan Lan Dong berdiri bersama dua rekannya. Wajahnya langsung muram saat melihat Huang. Dia berbisik pelan pada salah satu rekannya, lalu rekannya segera pergi ke arah lain dengan cepat.
Huang tidak menyadarinya sama sekali. Fokusnya hanya ingin menyelesaikan pendaftaran kompetisi.
Beberapa saat kemudian dia sampai di aula pendaftaran murid luar. Antrian cukup panjang. Banyak murid luar dengan kultivasi Ranah Fana Tahap Akhir hingga Kesempurnaan Agung datang untuk mencatat nama mereka.
Huang berdiri dengan tenang menunggu gilirannya. Gelang berat di tangan dan kakinya membuat banyak murid diam diam melirik aneh ke arahnya. Mereka tidak tahu mengapa Huang memakai benda seberat itu bahkan saat berjalan di sekte.
Setelah antrian perlahan berkurang, akhirnya giliran Huang tiba.
Tetua pencatat di depan meja mengangkat kepalanya malas. "Nama."
"Huang."
"Kultivasi."
"Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung."
Tetua itu akhirnya mengangkat alisnya sedikit. Dia menatap Huang beberapa saat sebelum mencatat namanya ke dalam gulungan bambu.
"Sudah. Berikutnya."
Huang menangkup kedua tangannya sopan lalu berbalik pergi. Langkahnya tenang saat meninggalkan aula pendaftaran. Dia berniat kembali ke kediamannya untuk beristirahat dan menenangkan pikirannya sebelum kompetisi dimulai.
Namun saat baru beberapa langkah meninggalkan aula, suara langkah cepat tiba tiba terdengar dari belakang.