Di dunia di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, di mana kemampuan dan kekuasaan menjadi ukuran keberhasilan, ada seorang pemuda yang namanya perlahan mulai menancapkan akarnya dan menimbulkan getaran di seluruh wilayah. Dia adalah Xiao Xuan—pria yang tenang, penuh perhitungan, dengan tatapan mata yang tajam yang bisa menilai setiap situasi dalam sekejap, namun menyimpan kelembutan dan perlindungan yang hanya terlihat bagi orang-orang yang dia sayangi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29.Sandiwara Luka Jiwa dan Panen Berdarah Dingin
Aroma mistis dari riak waktu yang terserap perlahan memudar di sekitar keheningan paviliun batin Xiao Xuan. Namun, sensasi sepasang mata yang terus menusuk punggungnya dari barisan belakang membuat kesadaran dewasanya yang tajam merasa terusik. Tatapan itu terlalu pekat, sarat akan muatan emosi yang tidak wajar untuk ukuran seorang remaja asing.
"Sistem, apa yang sedang dimainkan oleh bocah di belakang itu? Mengapa intuisiku menangkap sinyal distorsi yang begitu mengganggu dari arahnya?" tanya Xiao Xuan lewat transmisi batin, suaranya mengalun dingin, menuntut kepastian taktis.
Di dalam ceruk jiwanya, pendaran giok kuno milik sistem berputar dengan ritme yang ceria, memancarkan riak cahaya keemasan yang berkilauan nakal.
[ **Sistem Penjahat Takdir:** *Ding! 🤭 🦊 Oh, Tuan Rumahku yang tampan namun pencemas, Anda tidak perlu mengerutkan kening begitu dalam. Ingat fragmen ingatan palsu yang sengaja kusuntikkan ke dalam kepalanya setahun lalu? Saat ini, garis waktu masa depannya telah menyatu secara radikal dengan ilusi menakutkan tentang eksistensi Anda sebagai 'Kaisar Naga' penguasa kosmis. Dia tidak sedang berniat menyerang; dia hanya sedang terpesona sekaligus ketakutan setengah mati melihat 'legenda hidup' berada tepat di depan matanya!* ]
Mendengar konfirmasi tersebut, sudut bibir Xiao Xuan terangkat, membentuk seulas senyum sinis yang teramat tipis. Pola pikirnya yang anti-naif dan penuh perhitungan matang segera berputar, menangkap sebuah peluang emas untuk membalikkan keadaan.
"Memodifikasi ingatan dengan umpan seperti itu... tindakan yang sangat rapi," batin Xiao Xuan, beralih mode menjadi penuh kepura-puraan yang anggun. "Jika dia begitu gemar menatap bayangan masa lalu, mari kita beri dia sebuah pertunjukan pembuka yang tidak akan pernah dilupakannya."
Di barisan belakang, atmosfer semakin bergejolak tidak nyaman.
"Hei, Nie Li! Demi leluhur klanmu, hentikan tatapan menjijikkan itu!" bisik Lu Piao kasar, wajahnya memerah menahan malu sekaligus panik. Di matanya, Nie Li tampak laksana pemuda mesum yang kehilangan kesadaran diri, menatap punggung Xiao Xuan tanpa berkedip sejak kelas dimulai. "Mau seberapa sering pun aku mengingatkanmu, kau benar-benar tidak tahu kapan harus menarik diri, ya?"
Intensitas tatapan Nie Li yang begitu telanjang tidak hanya mengganggu Lu Piao. Riak kegelisahan itu merambat hingga ke barisan depan. Guru Shen Xiu di podium, Xiao Ning'er yang duduk tenang, hingga Shen Yue, semuanya mulai menyadari kejanggalan tersebut. Bahkan Ye Ziyun dan Shen Qingqiu dua gadis yang memiliki kedekatan tak kasat mata dengan Xiao Xuan mulai merasa risi. Mereka berpura-pura mengabaikannya demi menjaga ketenangan meditasi Xiao Xuan, namun kebebalan Nie Li yang tidak tahu tempat akhirnya memicu batas kesabaran mereka.
*Sret!*
Shen Qingqiu dan Ye Ziyun menoleh serentak, melemparkan tatapan mata yang teramat tajam dan mengintimidasi ke arah Nie Li. Jemari Shen Qingqiu bahkan telah meraba hulu belati di balik jubah kultivasinya, siap mengambil tindakan fisik demi melindungi ketenangan pria yang dikaguminya.
Melihat situasi kelas yang mulai kehilangan kendali arah, Guru Shen Xiu mendengus dingin. Tanpa memedulikan Xiao Xuan yang tampak masih tenggelam dalam keheningan batin, jemarinya menjentikkan sebutir kapur tulis spiritual. Kapur itu melesat laksana anak panah, pecah tepat di depan wajah Nie Li, menyemburkan debu putih yang mengepul.
"Nie Li! Katakan pada saya, kelakuan tidak beradab apa yang sedang kamu pamerkan di dalam aula saya?!" bentak Guru Shen Xiu dengan ekspresi muram yang menakutkan.
"Aku... ini..." Nie Li tersedak debu, lidahnya mendadak kelu. Kedewasaan jiwanya sebagai pengembara waktu runtuh seketika di hadapan realitas tubuh remajanya. Bagaimana mungkin dia menjelaskan kepada seisi kelas bahwa dia sedang menganalisis sosok misterius sang Kaisar Naga dari masa depan? Alasan itu hanya akan membuatnya terdengar gila atau mesum.
Melihat Nie Li yang tergagap dengan wajah bodoh, gelombang kemarahan dari para murid klan bangsawan tidak lagi terbendung.
"Kau berani melakukan tindakan kurang ajar tapi pengecut untuk mengakuinya? Sungguh aib bagi akademi!" Shen Yue berdiri dari bangkunya, wajahnya memerah penuh amarah tiruan yang manipulatif. Di matanya, Xiao Xuan adalah pelindung finansial yang telah memperlakukan adiknya dengan sangat baik. Menyerang Nie Li di momen ini adalah investasi kesetiaan yang sempurna.
"Guru! Saya ingin melaporkan kelakuan menyimpang Nie Li. Sejak awal kelas dimulai, matanya terus berpindah secara mesum antara Tuan Muda Xiao Xuan, Nona Ye Ziyun, dan Nona Shen Qingqiu. Tindakannya jelas sengaja dirancang untuk merusak fokus meditasi spiritual Tuan Muda Xiao!"
"Nie Li... apakah kesaksian Shen Yue benar adanya?" Guru Shen Xiu melangkah turun dari podium, kilatan sedingin es terpancar dari sepasang matanya. Baginya, mengusik aset berharga sekelas Xiao Xuan adalah tiket mutlak untuk diusir dari kota.
"Guru Shen Xiu, ini adalah kesalahpahaman besar. Kenyataannya tidak seperti yang kalian semua lihat..." Nie Li mencoba membela diri, menyusun kalimat taktis.
"Apakah kamu ingin mengatakan bahwa seluruh mata di dalam kelas ini telah bersekongkol untuk memfitnah seonggok sampah sepertimu?" potong Guru Shen Xiu kasar, suaranya meninggi, memotong kalimat sang protagonis tanpa ampun. "Nie Li, seorang murid dari keluarga kelas bawah Tanda Surgawi, dengan bakat Lautan Jiwa Merah yang paling hina, dan Kekuatan Jiwa yang bahkan tidak menyentuh angka 5... Apakah kau sedang berasumsi bahwa kapasitas mental kami semua lebih rendah dari makhluk lemah sepertimu?!"
Tepat ketika Nie Li membuka mulutnya untuk mengeluarkan argumen hukum alam yang lebih matang, sebuah anomali spiritual meledak di barisan tengah.
*Pfff-tt!*
Suara semburan napas yang berat terdengar, disusul dengan cipratan darah spiritual yang kental dari bibir Xiao Xuan. Tubuh tegap pemuda berjubah hitam itu mendadak limbung, bersandar kaku pada meja kayu. Wajahnya yang semula tampan kini bertransformasi menjadi sepucat kain kafan, sementara aliran aura ungu di sekelilingnya bergolak liar tak beraturan—menampilkan indikasi visual yang teramat presisi dari seorang kultivator yang menderita *Penyimpangan Qi (Deviasi Kultivasi)* akibat intervensi mental eksternal yang kasar.
"Kakak Xuan-er! Apakah Anda baik-baik saja?!"
Jeritan panik yang keluar dari bibir Ye Ziyun seketika memutus seluruh fokus aula kelas. Dalam satu kedipan mata, seluruh atensi dan simpati massal beralih sepenuhnya pada Xiao Xuan, sementara badai kemarahan yang sesungguhnya kini meledak ke arah Nie Li.
"Nie Li! Lihat hasil dari kebebalan mesummu!" Shen Yue berteriak, memanfaatkan momentum psikologis massa dengan teramat cerdas. "Hari ini, di depan puluhan saksi mata yang sah, kamu telah terbukti secara sah menyabotase kultivasi Tuan Muda Xiao Xuan hingga terluka dalam! Jangan pernah bermimpi untuk bisa lolos dari hukum akademik!"
"Benar! Seret bajingan kecil itu ke hadapan Dekan dan Wakil Dekan!" koor para murid jelata yang merasa hak belajar gratis mereka terancam jika penyokong utama mereka terluka.
Nie Li hanya bisa berdiri terpaku dengan tatapan tidak percaya. Jiwa tuanya mendeteksi ada sesuatu yang teramat janggal dari kalkulasi luka Xiao Xuan, namun di hadapan amukan massa, logikanya tidak lagi memiliki panggung.
Tanpa memberi kesempatan kedua bagi Nie Li untuk menarik napas, Shen Yue melesat maju, menggunakan dorongan energi fisiknya untuk mencengkeram jubah Nie Li dan melemparkannya keluar melewati pintu kayu aula hingga tersungkur di atas tanah berbatu.
Di sisi lain kelas, Ye Ziyun dan Shen Qingqiu dengan wajah yang dipenuhi kecemasan mendalam segera memapah tubuh Xiao Xuan yang tampak lemas. Dengan penuh kelembutan, kedua gadis itu membawa sang pemuda klan Xiao menuju ruang perawatan khusus, meninggalkan aula yang kini dipenuhi kutukan terhadap nama Nie Li.
Namun, di balik kelopak matanya yang terpejam rapat dalam dekapan hangat kedua gadis itu, kesadaran batin Xiao Xuan justru sedang merayakan kemenangan senyap yang teramat manis. Rangkaian notifikasi gaib bernada riang terus berdentang bertubi-tubi di dalam kepalanya, memecah keheningan spiritual dengan begitu indah.
[ **Sistem Penjahat Takdir:** *Ding! 🎭 🎰 Selamat kepada Tuan Rumah yang memiliki bakat akting tingkat dewa karena berhasil merancang skenario jebakan psikologis tingkat tinggi terhadap Nie Li! Hadiah: 200.000 Poin Penjahat murni telah ditambahkan ke dalam inventaris!* ]
[ **Sistem Penjahat Takdir:** *Ding! 🥀 🩸 Selamat atas keberhasilan Anda memanipulasi emosi hingga memicu niat membunuh yang murni dari Ye Ziyun terhadap sang protagonis! Hadiah bonus kosmis: 1.000.000 Poin Penjahat berhasil diamankan!* ]
[ **Sistem Penjahat Takdir:** *Ding! 📉 🚯 Selamat karena telah meruntuhkan reputasi sosial dan menurunkan tingkat kesukaan seluruh murid Kelas Prajurit Pemula terhadap Nie Li hingga ke titik nadir! Hadiah: 300.000 Poin Penjahat tambahan! Total keuntungan bersih pagi ini: 1.500.000 Poin Penjahat! Jalur kekayaan Anda telah terbuka kembali, Tuan Rumah! 🎉 💸* ]
Mendengarkan rentetan angka yang kembali terisi di saldo jiwanya, ditambah dengan aroma harum tubuh dan perhatian lembut dari dua gadis bangsawan yang sedang sibuk mengusap keningnya dengan saputangan sutra, Xiao Xuan mengulas senyum kepuasan yang tersembunyi di balik topeng lukanya.
Inilah esensi sejati dari kehidupan seorang penjahat kelas tertinggi yang penuh perhitungan matang memenangkan pertempuran tanpa perlu mengotori tangan, dan menikmati hasil rampasan takdir dalam kenyamanan absolut. Di luar sana, jaring permainan baru saja dimulai, dan Nie Li telah melangkah masuk ke dalam jebakan pertamanya.