NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Dokter 8 Detik

Klinik Aditya Medika, Tebet. Jam 15.40.

Antrean sudah 60 orang. Panas jam 3 sore membuat kipas angin satu-satunya di klinik seperti tidak ada gunanya. Mbak Sari bagi nomor antrean sampai jarinya keriting. Pasien duduk lesehan di teras, sebagian payungan, sebagian ngipas pakai kardus.

Di dalam, Alvian Wira lagi periksa pasien nomor 41. Buruh bangunan, namanya Bang Rohim, 38 tahun. Kurus, kulit kebakar matahari, batuk kering 3 minggu. Bajunya robek di pundak, ada debu semen.

"Batuk sudah berapa lama, Bang?" tanya Alvian sambil pasang stetoskop 75 ribuan di leher.

"Tiga minggu, Dok. Makin malem makin jadi. Keringet dingin juga. Badan kurus padahal makan banyak," jawab Bang Rohim. Napasnya pendek.

Alvian berdiri, "Buka bajunya, Bang. Saya dengerin paru."

Bang Rohim buka kaos. Saat itu tulang iga-nya kelihatan jelas. Alvian menempelkan stetoskop di apeks kanan atas. Dua detik, pindah ke basal. Dua detik, ketuk perkusi punggung. Dua detik, palpasi kelenjar leher. Lalu dua detik lagi, total 8 detik.

"Bang Rohim," Alvian lepas stetoskop. "Ini kemungkinan TBC nih. Paru kanan atas bunyinya ronki basah kasar. BB turun, keringat malam. Abang harus cek dahak ke rumah sakit besok. Saya akan buatkan rujukan. Gratis. Obatnya 6 bulan, jangan sampai putus."

Bang Rohim melongo. "TBC, Dok? Tapi saya masih kuat kerja."

"Justru itu, Bang. TBC kuat-kuat bahaya. Bisa tular ke anak istri. Nanti saya kasih masker." Alvian menulis rujukan di kertas HVS bekas, cap jempol. "Ini suratnya. Bilang dari Dokter Alvian. Minta cek BTA."

Di pojok, ada anak magang keperawatan yang lagi nunggu kakaknya berobat. Namanya Dinda. Iseng, dia rekam pakai HP lalu meng-uploadnya ke TikTok dengan caption "Dokter detektif. 8 detik langsung tau TBC. Dokter Dewa Tebet #fyp #kesehatan".

Alvian tidak tahu apa-apa. Dia hanya lanjut periksa pasien 42.

Jam 19.00. RS Sentral Nusantara. Ruang Dokter Jantung.

Clarissa Amartya baru saja selesai visite. Membuka ponsel, niatnya mau order gofood tetapi teralihkan dengan notifikasi TikTok dari akun gosip @dokterupdate. 500K views. Videonya Alvian.

Jemarinya tanpa sadar meng-klik notifikasi itu, dan muka Alvian langsung menjadi fokus utama dalam video tersebut. "Tahu TBC-Hanya perlu 8 detik.".

Clarissa mengerutkan kening, kemudian membuka komentar yang amat sangat beragam isinya.

"Gila. Dokter Dewa beneran."

"8 detik? Dokter gue aja dengerin jantung 5 menit masih bingung."

"Sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Di IGD Rumah Sakit Sentral. Dia memang punya kemampuan."

"Temanku dinas di IGD Rumah Sakit Sentral. Katanya, dia itu suaminya dr. Clarissa Sp.JP."

"Dok Clara galak, suaminya baik banget."

Clarissa yang membaca komentar-komentar ini membuang nafas pelan. Sangat pelan, itu tanda marah level maksimum.

"dr. Maya," panggil Clarissa. Koas yang lagi jaga ikut nengok. "Tolong ambilkan saya kopi. Hitam, tanpa gula."

Maya tertegun sejenak sebelum mengangguk. Dia pergi ke pantri, tapi pikirannya was-was memikirkan dr. Clarissa yang biasanya tidak suka pahit tiba-tiba meminta kopi hitam tanpa gula.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang membuatnya kesal?"

__

Di sisi lain. Dampak dari video viral 8 detik yang sudah menyebar ke seantero kota, grup WA IDI (Ikatan Dokter Indonesia) wilayah Jakarta Selatan meledak.

Dokter Tono, seorang dokter senior mengirim pesan panjang dengan tautan video viral tersebut.

"Video dr. Alvian Wira diagnosis TBC 8 detik sudah 1M views. Ini seratus persen malpraktik. Edukasi sesat, bisa menciptakan kegaduhan jika tidak segera ditindaklanjuti. Mohon MKEK bertindak."

Dokter lain ikut mengirim pesan yang kebanyakan setuju dengan pendapat Dokter Tono.

"Setuju. Tindakannya ini merusak citra dokter. Kesannya dokter bisa main tebak setiap penyakit hanya dalam delapan detik."

"Dia suaminya dr. Clarissa, kan? Menantu dr. Hendra? Apa mereka tidak membina menantu atau suaminya?"

Clarissa membaca pesan dalam grup obrolan dan jari telunjuknya mengetuk meja. Sekali, dua kali, tiga kali.

Dia membuka kontak "Alvian Wira Klinik", mulai mengetik pesan. "Alvian Wira ...."

Baru mengetik nama Clarissa menghapusnya. Dia ganti, "Ke rumah. Sekarang ...." Tapi satu detik kemudian pesan itu dihapus kembali, menggantinya lagi, "Jangan pulang ke rumah saya malam ini." Kirim.

Begitu terkirim pesan itu langsung centang biru dua. Satu balasan datang, tapi hanya emoji dengan wajah sedih.

Clarissa melihatnya, langsung melempar ponsel ke ujung kasur.

Jam 21.30, Rumah Pondok Indah.

Alvian baru sampai di rumah. Dia membuka pintu pelan, mengendap-endap sampai ke dapur. Terlihat di meja makan ada piring tertutup tudung saji. Dia buka, isinya nasi putih, ayam goreng, lalu lalapan. Masih hangat. Senyum Alvian mengembang. "Bilangnya jangan pulang, tapi masih menyisihkan makanan."

Dari tangga, suara Clarissa turun terdengar. Alvian mendongak, menemukan Clarissa masih mengenakan jas putih, belum ganti. Rambut diikat, kacamata baca, wajah datar.

"Kamu," kata Clarissa. Satu kata, tapi beratnya 10 kg.

Alvian berhenti mengunyah. "Malam, Istri. Makasih masakannya. Enak."

"Video itu apa?" Clarissa menaruh ponselnya di meja. Layar menyala, video 8 detik di-loop.

"Oh," Alvian menelan. "Pasien Bang Rohim. Suspek TBC. Aku rujuk dia, kenapa?"

"Kamu diagnosa TBC 8 detik," Clarissa melipat tangan, menatap dengan serius. "Kamu pikir kamu siapa? Dokter Dewa? Bisa vonis orang pakai ketukan?"

Alvian diam sebentar, lalu tersenyum. "Aku nggak vonis. Aku bilang suspek. Itu bedanya langit dan bumi. Vonis itu kalau aku kasih OAT langsung. Tapi ini aku rujuk, protap."

Clarissa diam. Dia mengambil kembali ponselnya, menatap video itu. "Besok IDI akan panggil kamu untuk sidang! Kalau SIP kamu dicabut, kamu tidak akan bisa membuka klinik."

"Sidangnya jam 9 pagi. Di Dinkes, jangan sampai terlambat."

Alvian tidak langsung menjawab. Matanya menatap Clarissa, bertanya "Apa kamu juga akan datang?"

"Ya, tapi sebagai saksi ahli. Kamu berangkat sendiri, aku juga akan pergi sendiri." Clarissa berbalik, naik tangga. Di anak tangga ketiga dia sempat berhenti tetapi tidak menoleh. "Nasi itu, bukan aku yang masak. Jadi jangan terlalu banyak berpikir."

"Siap, Istri," sahut Alvian. Tapi dia tahu itu bohong karena ART sudah pulang jam 5 sore. Bahkan jika bukan dia yang memasaknya, setidaknya masih dia yang memanaskannya.

___

Di kamar, Clarissa masuk lalu membanting pintu. Dia kembali membuka ponselnya, melihat video 8 detik dan terus memutarnya berulang kali.

Perhatiannya sekarang tidak pada benar atau salah video itu, tapi kecepatan tangan Alvian ketika melakukan perkusi. Begitu cepat dan presisi. Tidak ada ragu, membuatnya tak bisa percaya.

Jam 23.00, Alvian mengirim pesan, "Istri, besok aku pake baju apa untuk sidang? Yang bikin kamu nggak malu. TTD Suami Bingung."

Dibaca, tidak dibalas. Tapi keesokan paginya, di depan kamar tamu ada setelan kemeja putih baru, merk Hugo Boss, ukuran L. Di atasnya juga sticky note, tulisan tangan Clarissa. "Pakai ini. Jangan buat malu. -C"

Alvian pegang kemeja itu. Menciumnya, "Bau Istri." Lalu tertawa sendiri.

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!