NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 - Seseorang yang Mulai Penting

Malam harinya.

Mansion keluarga de Arther tetap terasa sunyi seperti biasa.

Leon duduk di balkon kamarnya sambil membaca beberapa dokumen keluarga yang tadi diberikan ayahnya. Tentang wilayah bisnis, tentang pengiriman ilegal, tentang konflik dengan keluarga Moretti.

Semakin lama membaca, semakin sesak dadanya terasa. Ia membenci semua ini.

Bunyi notifikasi ponsel tiba-tiba memecah kesunyian. Leon sedikit mengernyit. Jarang ada orang yang menghubunginya secara pribadi.

Saat melihat layar ponselnya, tatapannya berhenti sesaat.

Rachael Velencia

Leon menatap nama itu cukup lama sebelum membuka pesannya.

"Latihan basket besok... kamu bakal ikut juga kan?"

Entah kenapa sudut bibir Leon sedikit terangkat. Pesan itu sederhana, tetapi cukup membuat pikirannya yang penuh tekanan terasa lebih ringan.

Leon mengetik balasan singkat. "Iya."

Tak lama kemudian balasan masuk lagi.

Baiklah, Jangan terlalu serius besok. Aku nggak mau dipermalukan di hari pertama latihan besok.

Leon terkekeh kecil samar. Kalau Axel melihat ini, sepupunya pasti langsung heboh.

Leon akhirnya mengetik lagi. "Kalau kamu memang pernah ikut tim basket, seharusnya kamu bisa bertahan."

Beberapa detik kemudian balasan dari Rachael.

"Kedengarannya sangat menantang."

Untuk pertama kalinya malam itu, Leon benar-benar tersenyum kecil.

Namun senyum itu perlahan menghilang saat suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya.

“Masuk.”

Seorang pria berpakaian hitam masuk sambil sedikit membungkuk. “Tuan muda, Bos besar meminta Anda turun sekarang.”

Ekspresi Leon langsung kembali dingin. “Ada apa?”

“Pertemuan keluarga.”

Leon mematikan layar ponselnya pelan. Kenyataan kembali menariknya masuk ke dunia gelap itu.

Ruang pertemuan keluarga terasa lebih tegang dari biasanya malam itu.

Beberapa pria dewasa duduk mengelilingi meja panjang dengan wajah serius.

Begitu Leon masuk, semua orang langsung diam.

Arthur de Arther duduk di kursi utama sambil menatap putranya. “Kau datang.”

Leon duduk tanpa banyak bicara.

Salah satu pria segera membuka map berisi beberapa foto. Foto seseorang. Leon langsung mengenalinya. Anggota keluarga Moretti, musuh keluarga de Arther.

“Mereka mulai bergerak mendekati area sekolah mu”

Tatapan Leon langsung berubah dingin. “Apa maksudnya?”

Arthur menyandarkan tubuhnya pelan. “Mungkin kebetulan.”

“Tapi mungkin juga bukan,” sambung pria lain, sekertaris Arthur.

Suasana ruangan mendadak terasa berat.

Leon mengepalkan tangan samar di bawah meja.

Sekolah, tempat satu-satunya yang masih terasa sedikit normal baginya. Dan sekarang dunia mafia mulai mendekatinya ke sana.

Arthur memperhatikan perubahan kecil di wajah putranya. “Kau terlihat khawatir.”

Leon langsung kembali memasang ekspresi datar.

“Aku hanya tidak suka mereka menyentuh area sekolah.”

Arthur tersenyum tipis. “Atau ada alasan lain?”

Leon diam.

Dan diamnya sudah cukup menjadi jawaban bagi Arthur. Tatapan ayahnya perlahan berubah lebih tajam. Untuk pertama kalinya Arthur mulai benar-benar curiga bahwa seseorang telah menjadi kelemahan putra keduanya.

Setelah itu Leon memilih kembali ke kamarnya.

Arthur menyuruh orangnya untuk menyelidiki Leon di sekolah besok, sekalian mengawasi musuhnya.

...----------------...

Paginya suasana sekolah jauh lebih ramai dari biasanya.

Beberapa murid membawa bola basket, sebagian lagi sibuk membicarakan latihan gabungan sore nanti.

Di koridor kelas XI-A, suara obrolan terdengar hampir di setiap sudut.

Namun begitu Leon memasuki kelas, suasana otomatis sedikit menurun. Tatapan beberapa murid langsung mengarah padanya sebelum buru-buru memalingkan wajah.

Leon sudah terlalu terbiasa dengan hal itu. Ia berjalan menuju bangku belakang dekat jendela seperti biasa. Dan seperti biasa juga Rachael sudah lebih dulu datang.

Gadis itu sedang menulis sesuatu di buku catatannya sambil sesekali memainkan pulpen di jarinya.

Cahaya matahari pagi masuk lewat jendela, membuat rambut cokelat gelapnya terlihat lebih lembut.

Leon berhenti beberapa detik memperhatikannya.

Entah sejak kapan dirinya mulai mencari sosok Rachael setiap datang ke sekolah.

"Pagi." Leon menyapa duluan.

Rachael langsung menoleh lalu tersenyum kecil.

"Iya, Pagi."

Leon duduk di kursinya sambil meletakkan tas.

Tatapan Rachael turun ke arah wajah Leon beberapa saat sebelum mengernyit samar. "Kamu kurang tidur lagi ya?"

Leon sedikit menoleh. "Keliatan begitu?"

"Iya, sedikit."

Padahal sebenarnya cukup jelas. Mata Leon terlihat lebih lelah dari biasanya.

Semalaman ia hampir tidak tidur karena pertemuan keluarga tadi malam terus terngiang di kepalanya.

Terutama bagian tentang keluarga Moretti yang mulai mendekati area sekolah.

Ia yakin itu bukan suatu kebetulan. Dan itu berarti—Rachael bisa ikut terseret.

"Kamu sakit? Kenapa melamun?" tanya Rachael lagi.

Leon menggeleng kecil. "Cuma banyak urusan."

Rachael memperhatikannya beberapa detik sebelum membuka tasnya. Ia mengeluarkan kopi kaleng dingin lalu meletakkannya di meja Leon. "Nih."

Leon sedikit terdiam. "Kenapa membawa minuman lagi?"

Rachael terkekeh kecil. "Karena memang selalu bawa, aku tidak mau mengantri di kantin, makanya membawa minuman dan ada makanan juga kau mau? Kamu kelihatannya benar-benar butuh itu."

Leon menatap kopi kaleng tersebut cukup lama.

Hal-hal kecil seperti ini seharusnya terasa biasa saja.

Tetapi bagi Leon perhatian kecil dari Rachael justru terasa terlalu berarti.

Dan itu berbahaya. Karena semakin penting seseorang baginya, semakin besar kemungkinan orang itu akan dijadikan target.

Leon akhirnya membuka kopi itu pelan. "Terima kasih."

Rachael tersenyum kecil. "Sama-sama. Kalau mau permen aku juga ada"

suasana hati Leon sedikit membaik hanya karena senyum itu.

Jam pelajaran berjalan cukup cepat hingga akhirnya bel istirahat berbunyi.

Sebagian besar murid langsung keluar kelas dengan ribut seperti biasa.

Namun Leon tetap duduk di tempatnya sambil membaca buku.

Rachael yang sejak tadi memperhatikan akhirnya bertanya, "Kamu nggak pernah bosan baca terus?"

Leon membalik halaman bukunya pelan. "Aku lebih suka tenang."

"Kamu memang suka tempat sepi ya."

Leon sedikit tersenyum samar. "Dan kamu terlalu banyak bicara."

Rachael langsung memprotes. "Aku nggak sebanyak itu."

Leon akhirnya menoleh penuh. "Yakin?"

Rachael langsung terdiam beberapa detik sebelum tertawa kecil. "Oke, mungkin sedikit."

Suasana di sekitar mereka terasa nyaman. Sampai Leon hampir lupa bahwa dirinya tidak seharusnya menikmati semua ini.

Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari luar kelas. Beberapa murid berlari kecil di koridor sambil berbisik heboh.

"Itu anak sekolah sebelah kan?"

"Kenapa mereka datang ke sini?"

"Serem banget..."

Leon langsung mengangkat pandangan. Tatapannya berubah dingin seketika.

Langkah kaki terdengar mendekat ke arah kelas mereka. Dan beberapa detik kemudian tiga laki-laki asing berdiri di depan pintu kelas. Mereka jelas bukan murid sekolah ini seragam mereka berbeda.

Tatapan mereka juga terlihat tidak ramah. Suasana kelas langsung menjadi hening.

Salah satu laki-laki itu menyeringai kecil saat melihat Leon. "Akhirnya ketemu juga."

Tatapan Leon langsung tajam. Rachael yang duduk di sebelahnya bisa merasakan perubahan aura itu secara jelas. Dingin.

"Ada perlu apa?" tanya Leon tenang.

Laki-laki itu berjalan masuk beberapa langkah. "Kami cuma mau ngobrol."

Axel yang baru kembali ke kelas langsung menghela napas pelan saat melihat situasi. "Ah sial..."

Tatapan Leon tidak lepas dari ketiga orang itu. "Kalian dari Moretti?"

Senyum laki-laki tadi melebar sedikit. "Putra kedua memang pintar."

Suasana kelas langsung berubah tegang. Beberapa murid bahkan mulai mundur pelan karena takut.

Rachael yang mendengar nama itu langsung teringat cerita yang pernah ia dengar.

Keluarga Moretti. Musuh keluarga de Arther.

Laki-laki itu melirik sekeliling kelas sebelum kembali menatap Leon. "Bos kami cuma penasaran."

"Penasaran apa?"

"Gimana rasanya sekolah normal buat anak mafia sepertimu."

Tatapan Leon berubah semakin dingin. Namun ekspresinya tetap tenang. "Apa keluarga Moretti sekarang terlalu miskin sampai harus kirim anak kecil buat bicara?"

Axel langsung menutup wajahnya pelan. "Wah, tamat deh..."

Senyum laki-laki tadi menghilang. Suasana mendadak terasa jauh lebih berbahaya.

Namun Leon tetap duduk santai di kursinya. Seolah tidak sedikit pun merasa terancam.

Dan justru itu yang membuat ketiga orang tersebut terlihat kesal. Salah satu dari mereka tiba-tiba melirik ke arah Rachael. Tatapannya berhenti beberapa detik. "Pacarmu?"

Jantung Leon langsung terasa berhenti sesaat.

Rachael membeku sejenak.

Sementara suasana kelas berubah sangat sunyi.

Tatapan Leon perlahan berubah gelap. Untuk pertama kalinya sejak mereka datang, emosi di wajah Leon benar-benar terlihat jelas.

Dan itu membuat Axel langsung sadar situasi ini mulai berbahaya.

Tatapannya berhenti beberapa detik sebelum menyeringai tipis. “Ohh... jadi ini pacarnya putra kedua de Arther?”

Beberapa murid saling menatap tegang.

Axel yang berdiri dekat pintu langsung menghela napas pelan. “Sial... Gimana tuh...”

Namun sebelum Leon sempat mengatakan apapun, Rachael lebih dulu berdiri dari kursinya.

“Bukan.” Nada suaranya tegas.

Bahkan membuat beberapa murid terkejut.

Rachael menatap laki-laki itu tanpa sedikit pun terlihat takut. “Aku bukan pacarnya.” Ekspresinya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah tajam.

Berbeda dari biasanya.

Leon sedikit mengangkat pandangan. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari Rachael.

Bukan gadis lembut dan tenang yang selalu tersenyum kecil di kelas. Melainkan seseorang yang berani berdiri di tengah situasi menekan tanpa gentar sedikit pun.

Laki-laki dari keluarga Moretti tadi tertawa kecil. “Galak juga.”

“Aku cuma nggak suka orang asing bikin keributan di kelas, sangat tidak sopan.” jawab Rachael dingin.

Beberapa murid mulai saling berbisik pelan. Karena biasanya tidak ada yang berani bicara seperti itu saat suasana sudah setegang ini.

Namun Rachael tetap berdiri tegak. Meski sebenarnya dadanya mulai terasa sesak.

Keramaian, tatapan terlalu banyak orang.

Suara gaduh bercampur bisikan di sekitar kelas perlahan membuat kepalanya terasa penuh.

Jarinya bergerak kecil tanpa sadar, berusaha menenangkan diri. Dalam hatinya Rachael, "Duh Gusti... Ada-ada saja, untung saja sudah potong kuku."

Kebiasaan yang selalu muncul saat dirinya mulai kehilangan fokus.

Namun Rachael cepat-cepat menyembunyikan tangannya di balik meja. Tidak boleh ada yang sadar.

Tidak boleh ada yang tahu.

Sejak kecil, Rachael selalu berusaha terlihat “normal”. Menahan emosinya, mengatur nada bicara.

Menyembunyikan rasa marah yang kadang muncul terlalu cepat. Dan yang paling melelahkan... menyembunyikan dirinya sendiri.

Tatapan Leon perlahan turun ke arah tangan Rachael yang mengepal pelan. Mata Leon sedikit menyipit samar. Ia menyadari sesuatu, Rachael sedang tidak nyaman.

Namun gadis itu tetap memaksakan diri terlihat tenang.

Laki-laki Moretti tadi kembali menatap Leon sambil menyeringai tipis. “Kalau bukan pacar, kenapa dia duduk berduaan terus sama lo?”

Belum sempat Rachael menjawab—

Leon akhirnya berdiri pelan dari kursinya. Dan suasana kelas langsung terasa lebih dingin. “Apa keluarga Moretti sekarang kerjaannya cuma ganggu orang di sekolah?” Nada suaranya tenang.

Tetapi justru itu yang membuat suasana terasa menekan.

Laki-laki tadi tersenyum miring. “Kami cuma penasaran.”

Leon melangkah satu langkah maju. “Kalau rasa penasaran kalian selesai, keluar.”

Tatapan mereka saling bertemu tajam. Beberapa detik yang terasa sangat lama.

Sampai akhirnya salah satu dari mereka tertawa kecil lalu menepuk bahu temannya. “Sudahlah.”

Tatapannya kembali ke arah Rachael sebentar. “Hati-hati dekat sama dia.”

Kalimat itu terdengar seperti ancaman tipis. Namun Rachael membalas tatapannya tanpa mundur sedikit pun.

Ketiga laki-laki itu akhirnya pergi meninggalkan kelas. Begitu mereka menghilang dari koridor—suasana kelas langsung ramai oleh bisikan.

“Gila serem banget...”

“Rachael berani juga.”

“Tadi Leon beneran marah ya?”

Namun Rachael tidak mendengar sebagian besar suara itu. Kepalanya terasa penuh. Terlalu ramai dan berisik.

Leon yang masih berdiri memperhatikannya diam-diam. Dan tanpa sadar untuk pertama kalinya, Leon mulai merasa bahwa Rachael juga menyimpan sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!